
Seorang wanita bertubuh ramping dengan tinggi bak model international tiba di depan pintu apartemen mewah dengan menarik sebuah koper. Jarinya yang lentik sibuk memasukkan kode password ke kunci digital.
Biipp... Ia pun melangkah memasuki apartemen setelah pintu terbuka. Tampak lima pria di ruangan apartemen yang ia masuki tersentak kaget.
"Rose..." Desis Leon saat menyadari siapa wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Keempat temannya melongo melihat ke arah Leon, mempertanyakan penjelasan tentang situasi saat ini.
"Leon, My Honeeyyyy...." Wanita yang ia panggil Roseanne itu berlari memeluk Leon melepaskan kerinduannya. Jerry seketika mundur dari samping Leon dan terlihat canggung.
"The king of playboy is back...," Ucap Jack pelan. Max menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Alex segera mengambil kunci mobilnya di meja dan sambil melangkah menuju ke arah pintu ia pamit kepada teman-temannya.
"Aku rasa kita akan menggangu, lebih baik kita pulang."
"Tunggu aku Lex." Ucap Jack.
"Aku ikut kalian." Seru Max mengikuti.
"Well, sepertinya sampai di sini dulu pertemuan kita. Have fun Leon!" Ucap Jerry sambil melintasi Leon yang dirangkul erat oleh wanita berambut pirang itu.
"Nanti aku hubungi." Jawab Leon pada Jerry dengan wajah tak enak hati.
~ ~ ~
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, Leon masih terbangun dengan badan polosnya hanya tertutup selimut sambil bersender di bahu ranjangnya. Si gadis blonde, Roseanne yang biasa dipanggil Rose tertidur di sebelahnya dengan nyenyak. Mereka baru saja saling melampiaskan kebutuhan jasmani setelah terpisah selama beberapa bulan. Meski begitu, Rose dan Leon hanya menjalin hubungan tanpa status selama tiga tahun terakhir.
Rose tidak suka terikat, ia hanya mencari Leon saat ia butuh kesenangan sesaat. Sedangkan Leon, ia membenci wanita matre, dan menurutnya Rose adalah partner yang tepat karena ia tidak pernah meminta uang Leon sepersenpun seperti wanita yang pernah ia kencani sebelumnya.
Pikiran Leon berkelana memikirkan ucapan Jerry belakangan ini, Leon tidak ingin mempercayainya saat Jerry mengatakan Bianca tidaklah bersalah dan Leon sebenarnya memperdulikan gadis itu, dan sialnya perkataan itu terus membayangi pikirannya.
Awalnya ia hanya ingin mengawasi gerak-gerik Bianca, jadi ia sengaja meletakkan meja kerjanya dalam satu ruangan, tapi sekarang ia justru tidak suka jika Bianca tidak berada dalam pandangannya apalagi saat Bianca sendiri meminta dipecat, Leon merasa sangat kesal mendengarnya. Saat semua wanita berlomba-lomba mencari perhatian dan mendekatinya, justru Bianca bahkan tidak sudi bekerja bersamanya. Ia bahkan marah pada hal yang seharusnya tidak perlu ia pedulikan, seperti saat pesta Alan, ia marah hanya karena Bianca berbicara dengan pria lain.
Leon melirik ke sebelahnya memperhatikan Rose, ia berharap dengan kehadiran Rose bisa mengalihkan pikirannya dari Bianca.
~ ~ ~
"Mr. Leon, jadwal sore ini sudah dikosongkan." Lapor Calvin dengan gayanya yang tegas dan rapi.
"Baik, tolong reserved table di restaurant ini untuk dua orang." Perintah Leon sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan nama restaurant barat bintang empat pada Calvin, tapi mata Leon memperhatikan Bianca yang sibuk dengan komputernya. Entah apa yang ia pikirkan, tapi ia berharap Bianca melirik dan memperhatikan ucapannya dengan Calvin.
"Baik, saya permisi." Jawab Calvin lalu pergi meninggalkan ruangan Leon.
"Apa yang akan kau lakukan nanti malam?" Tanya Leon tiba-tiba.
"Eng, kau bertanya padaku?" Tanya Bianca kaget.
"Apa ada orang lain di ruangan ini?" Tanya Leon ketus.
"Maybe, kau bicara dengan teman tak kasat matamu." Jawab Bianca berani membuat Leon menggeram kesal.
"Tidak, aku hanya ingin tahu bagaimana kau memanfaatkan waktu istirahatmu. Lagipula, aku sudah punya acara malam ini." Jawab Leon sengaja memancing reaksi Bianca.
"Baguslah. Have fun dengan acaramu." Ucap Bianca santai.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Leon tampak sibuk dengan video call rekan kerjanya membahas pekerjaan. Sebuah ketukan mengalihkan perhatiannya dan Bianca, tampak Calvin masuk ke ruangan dengan ragu-ragu.
"Mr, Miss Rose mencari anda." Ucap Calvin pelan.
"Hmm, Jay, maaf aku ada tamu, nanti ku hubungi lagi." Ucap Leon pamit pada temannya sebelum memutuskan video call dan menyuruh Calvin mempersilahkan Rose masuk.
Rose memasuki ruangan dengan langkah yang anggun, dress merah yang ia kenakan pun sangat pendek, sengaja memperlihatkan kakinya yang jenjang. Bianca terperangah kaget melihat penampilan bule yang terlalu terbuka untuk berada di kantor itu. Leon tersenyum menyambut Rose, gadis itu memeluk dan mengecup pipi Leon dengan hangat.
"Bagaimana kau bisa meninggalkan ku tidur sendiri sayang?" Tanya Rose dengan manja.
"Aku harus pergi bekerja. Tunggu sebentar, kita akan pergi makan malam bersama."
"Baiklah, kau ku maafkan."
"Ini pakailah, jaga muka ku di depan karyawan. Ini Indonesia." Ucap Leon sambil memberikan jasnya yang terletak di kursi.
Bianca terperangah dengan sikap manis Leon pada Rose, meskipun mereka menggunakan bahasa Inggris, tapi Bianca mengerti apa yang mereka katakan. Bianca tidak menyangka Leon memiliki sisi begitu lembut dan manis pada wanita, sedangkan ia selalu mendapatkan perlakuan yang dingin dan kasar. Wajar saja, bagaimana mungkin Leon akan menggangap Bianca seorang wanita dilihat dari penampilannya yang sangat biasa saja, apalagi hubungannya dengan Leon memang tidak harmonis sejak awal.
"Bianca, tolong kau berikan pada Calvin berkas ini. Saya akan pergi sekarang." Perintah Leon dengan tegas sambil menghampiri meja Bianca.
"Baik Mr. Leon." Jawab Bianca sopan.
"Dan aku tidak kembali ke kantor lagi, tolong beritahu Calvin juga." Perintah Leon lagi sambil melihat reaksi Bianca yang tampak biasa saja mendengarnya.
Leon sengaja melingkarkan tangannya ke pinggang Roseanne saat melenggang keluar dari ruangannya. Seakan ia ingin menunjukkan pada Bianca jika ia sudah memiliki kekasih. Reaksi Bianca, jangan ditanya, ia tampak cuek dan justru bersyukur karena Leon memiliki kesibukan lain, setidaknya ia aman karena beberapa jam ke depan Leon tidak mencari masalah dengannya.
"Ahhhhh, leganyaaaa.. Akhirnya dia pergi. Aku berikan dulu data ini ke Calvin." Seru Bianca kegirangan karena ia bisa sendirian di ruangan.
Bianca mengecek kembali pekerjaannya sebelum meninggalkan kantor. Setelah ia rasa sudah beres dengan langkah riang menuju keluar dan menuju ke pusat perbelanjaan Mall yang terletak sebelahan dengan gedung kantornya. Tak lupa ia merapikan riasannya yang sudah luntur dan memoleskan lipstik pink ke bibirnya. Sesudahnya, ia menuju ke Salah satu coffee shop di Mall itu, berjalan mencari dan menghampiri seorang pria. Ya, ia memiliki janji temu dadakan dengan Alex.
"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Bianca pada Alex yang sedang berfokus pada handphonenya.
"He'ii... Tidak. Maaf aku menelfon mu tiba-tiba dan mengajakmu bertemu. Apa tadi kau sedang sibuk?" Tanya Alex ramah.
"Tidak, pekerjaan ku sudah selesai, dan lagi Leon sedang pergi, jadi tidak mengganggu sama sekali." Jawab Bianca sopan. Bianca permisi kepada Alex untuk memesan minuman dan menunggu di sisi Pick up setelah membayarnya.
Sambil menunggu minumannya disajikan, Bianca mengedarkan pandangannya ke sekeliling, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan seorang pria beralis tebal nan tampan di sebelah sisi kirinya yang juga sedang menatap ke arahnya. Bianca menoleh sekali lagi mengira dia salah mengenali seseorang. Tidak salah, itu adalah....
LEON!!!