Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 16~



Leon tampak kaget saat mendengar Bianca pindah, mukanya tampak gusar dan marah.


"Sial! Bisa pindah ke mana dia, hah!" Umpat Leon dengan nada tinggi.


"Hmm.. Tadi dia bersikeras pindah ke kursi kosong yang ada di depan." Jawab Calvin berusaha menjelaskan sebelum atasannya bertambah marah.


"Apa?? Kau bicaralah yang jelas! Pindah kantor atau pindah tempat duduk?" Omel Leon tidak sabaran.


"Pindah tempat duduk di depan." Jawab Calvin dengan cepat sambil menunjuk ke luar ruangan Leon.


"Panggilkan dia!" Perintah Leon. Calvinpun keluar menemui Bianca dan tak lama kembali ke ruangan Leon.


"Mana dia?" Tanya Leon saat melihat Calvin kembali seorang diri.


"Dia menyampaikan hanya akan menemui anda jika itu mengenai pekerjaan Mister."


"Apa?? Lancang sekali dia! Katakan padanya jika tidak menemui saya segera, maka akan saya pecat!" Ucap Leon kesal. Calvin kembali menemui Bianca dan kembali ke ruangan Leon. Lagi, ia kembali seorang diri. Leon mendonggakkan kepalanya melihat Calvin dengan raut wajah bertanya.


"Maaf Mister, Bianca mengatakan anda pecat saja dia karena itu memang keinginannya." Ucap Calvin sambil saling melipatkan kedua tangan ke depan perut.


"Apa?" Tanya Leon tidak menyangka dan segera melangkah keluar dari ruangannya berniat mencari sosok Bianca yang sudah merusak mood awal pekannya. Leon mengedarkan pandangannya sekeliling dan menemukan sosok Bianca di sudut kiri ruangan sedang duduk dan sibuk mengoperasikan komputernya. Karyawan lain menundukkan kepala memberi hormat saat Leon melewati mereka. Perhatian Leon terpusatkan pada Bianca, matanya menajam dengan aura dingin yang tegas.


Tuk... Tuk... Tuk...


Leon mengetuk meja Bianca untuk mendapatkan perhatian gadis itu, Bianca menoleh ke sisi kirinya. Leon berdiri menjulang di hadapannya, meskipun kakak angkatnya itu tampak keren dengan jas hitamnya tapi Bianca malah membuang muka dan tidak peduli.


"He'ii! Aku perlu bicara denganmu." Ucap Leon kesal.


"Bicara saja, aku mendengarkan." Jawab Bianca santai.


"Di mana sopan santunmu? Ikut aku!" Leon melangkah dua langkah dan menyadari Bianca sama sekali tidak berungit dari tempat duduknya. Ia berbalik dan mencengkram tangan Bianca dengan kuat, membuat Bianca tak kuasa menahan dan melepaskan cengkraman Leon. Leon menarik Bianca ke ruangannya, membuat karyawan lain yang juga menyaksikannya terkesiap kaget dan bergosip yang bukan-bukan. Calvin berusaha bersikap professional dengan meminta karyawan lain untuk tenang dan tidak berspekulasi berlebihan meskipun ia sendiri bingung apa yang terjadi di antara Bossnya dan Bianca.


"Aku bilang lepaskann!!!" Teriak Bianca saat Leon menarik masuk dirinya ke dalam ruangan. Leon melepaskan tangan Bianca dengan kasar, membuat gadis itu meringis kesal.


"Apa maumu?" Tanya Bianca sinis.


"Seharusnya aku yang tanya, apa maumu?" Gertak Leon balik. Bianca yang kesal memilih berbalik dan melangkah pergi dari ruangan itu, tapi dengan cepat pula Leon menangkap tangannya.


"Kenapa kau pindah keluar? Siapa yang memberi perintah?"


"Aku yang memberi perintah sendiri, di luar lebih nyaman daripada di ruangan ini." Jawab Bianca sinis.


"Kau mau aku pecat?" Ancam Leon tegas.


"Silahkan, aku menantikannya." Jawab Bianca tersenyum senang. Leon menampilkan senyum liciknya, membuat Bianca bergidik melihatnya.


"Tidak semudah itu adikku. Dan..., aku tidak akan pernah memecatmu. Jadi, percuma kau melakukan apapun untuk menghindariku." Jawab Leon tersenyum puas. Bianca melotot tajam ke arah Leon, lelaki itu benar-benar berkuasa atas dirinya.


~ ~ ~


"Ahhh... Sial sial sial!!!" Gerutu Bianca kesal. Saat ini ia sudah kembali duduk di tempat lamanya, kembali satu ruangan dengan Leon. Ia tak berdaya menuruti perintah Leon karena percuma saja ia melawan, tetap saja ia tertindas. Leon tersenyum puas di mejanya mendengar umpatan kekesalan Bianca. Rasa lega menyeruak di hatinya karena gadis itu sudah berada dalam jangkauannya.


Hari ini Leon terlihat sibuk, tampak ia sedang rapat dengan Calvin dan karyawan lainnya di ruang meeting. Waktupun akan segera menunjukkan jam makan siang, Bianca mengirimkan pesan kepada Calvin membicarakan menu makan siang bossnya. Meskipun Bianca masih sangat kesal dengan Leon, tapi ia tetap bersikap professional dengan bertanggung jawab atas pekerjaannya.


"Hmm, mereka sudah memesan makan siang. Syukurlah, hari ini aku bisa makan dengan tenang tanpa gangguan.. hihi." Tawa Bianca dengan senang


Bianca baru saja melangkahkan kakinya memasuki kantin perusahaan saat tiba-tiba handphonenya bergetar kencang, tertera nama Calvin di layar handphonenya. Biancapun segera mengangkat panggilan itu.


"Ya Calv, ada apa? Aku sedang di kantin, apa kau perlu ku belikan sesuatu? APA?! Baiklah, sekarang aku akan naik." Bianca menutup telfonnya, Calvin memintanya untuk kembali ke kantor, tentu saja atas perintah Leon.


Leon memperhatikan Bianca yang baru kembali dari kantin dengan tergesa-gesa dan nafas memburu.


"Kau dikejar setan?" Tanya Leon sinis yang sedang duduk di sofa berlipatkan tangan di dadanya.


"Ya, setannya itu kau!" Jawab Bianca lantang. Leon mendelik menatap Bianca tak suka.


"Calv bilang kau minta aku kembali secepatnya, sedangkan kau tahu ini jam istirahat dan lift penuh dengan karyawan, aku terpaksa menaiki tangga beberapa lantai." Jawab Bianca dengan berani. Kini ia merasa tidak perlu menjaga sopan santunnya lagi karena selalu diperlakukan seenaknya oleh Leon.


"Makanlah, itu punyamu." Tunjuk Leon ke arah meja di depannya. Biancapun berjalan untuk mengambil sekotak makanan di atas meja dan berbalik melangkah pergi.


"Makanlah di sini." Ucap Leon membuat langkah Bianca terhenti.


"Apa?" Tanya Bianca kaget.


"Kau tidak dengar atau pura-pura tidak dengar?" Jawab Leon dengan mendengus kesal.


"Aku tidak dengar dan tidak mau dengar. Jika dengarpun aku akan pura-pura tidak dengar!" Jawab Bianca dengan lantang lalu membalikkan badannya berniat duduk di mejanya.


"He'ii, aku bilang duduk dan makan di sini!" Perintah Leon dengan setengah berteriak membuat Bianca kaget. Bianca membalikkan badannya menghadap Leon, ia memperhatikan Leon yang tampak dingin dan kesal. Akhirnya Bianca memilih berdamai dengan keadaan, ia duduk di sofa dan membuka kotak makannya. Leonpun membuka miliknya dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Tanpa Bianca sadari, Leon menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya.


"Kau berhutang minta maaf padaku." Ucap Bianca di tengah makan siangnya.


"Dan kau tidak akan pernah mendengarkan kata maaf dariku." Jawab Leon angkuh, Bianca melotot kaget mendengar jawaban Leon yang penuh dengan keyakinan itu.


"Jika begitu, setelah tiga bulan masa percobaan, aku mohon keluarkan aku." Ucap Bianca setengah putus asa.


"Hmm, kita lihat saja nanti." Jawaban Leon yang tidak peduli membuat Bianca semakin kesal. Percuma saja ia bicara dengan Leon baik-baik jika ia selalu diperlakukan semena-mena olehnya. Bianca menutup makanan yang masih tersisa setengah dan beranjak dari duduknya. Tanpa Leon duga, Bianca melemparkan makanan itu ke tong sampah.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" Tanya Leon kaget dan setengah berteriak.


"Saya sudah kenyang dan lagi tidak ingin makan makanan pemberianmu. Saya permisi." Jawab Bianca lalu melangkah keluar dari ruangan Leon.


"Arghhh! Berani-beraninya dia!!" Umpat Leon yang marah dengan sikap Bianca.


.


.


.


.


.


To be Continue~