Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 69~



"Kenapa tidak masuk?" Tanya Leon yang tersenyum melihat Bianca menyandarkan kepalanya pada pintu seperti anak kecil dan mengemaskan, ingin rasanya ia memeluk istrinya itu.


Bianca menoleh kaget, lebih kaget melihat Kimora juga ada bersama dengan Leon.


"Kalian tinggal bersama?" Tanya Kimora keheranan.


"Nanti ku ceritakan, kau pulanglah ke kamarmu." Jawab Leon mendorong pundak Kimora yang menatap keheranan.


"Kak Kimora tinggal di sini?" Tanya Bianca terkejut.


"Selama ini kau tidak tahu? Sejak awal dia kembali lagi ke Indonesia, dia adalah tetanggaku."


"Kau tidak pernah mengungkitnya... Pantas saja...," Jawab Bianca tampak kesal.


"Pantas saja apa?" Tanya Leon ingin tahu dan tersenyum kecil menyadari Bianca yang memanyunkan bibir cemburu di depannya.


Bianca tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Pantas saja ia tidak bisa melepaskan Kimora, ternyata selama ini mereka selalu berdekatan dan bersama, pikir Bianca kesal.


"Lalu, kenapa kau tidak masuk?" Tanya Leon sambil membuka pintu.


"Aku malas pulang." Jawab Bianca jujur.


"Malas pulang?" Tanya Leon keheranan dan berbalik menatap Bianca keheranan.


"Yahh, aku malas bertemu denganmu." Aku Bianca dengan tatapan berani.


Leon memicingkan matanya, ada apa lagi dengan istrinya ini? Kenapa mereka sama sekali tidak bisa berbicara baik-baik.


"Ayo masuk dulu." Ajak Leon menarik tangan Bianca setengah paksa.


"Aku akan mengambil barangku dan pergi."


"Kau mau ke mana?"


"Ke manapun itu, yang pasti aku tidak ingin mengganggu malam indahmu bersama sang mantan kekasihmu." Jawab Bianca menekankan nada bicaranya.


Leon menghela nafas kesal, Bianca dan dirinya selalu salah paham. Apalagi sejak malam tidur bersama waktu itu, mereka belum berbicara dengan baik, bahkan sekarangpun masih tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang ada.


"Kenapa kau selalu mencari dan menambah masalah heh?" Tanya Leon kesal.


"Apa? Kau merasa semua masalah muncul karena aku??? Jika bukan kau yang memulai ini semua, aku yakin aku sedang baik-baik saja dan menjalani hidupku dengan bahagia." Teriak Bianca berang. Kepalanya yang baru saja ia dinginkan selama perjalanan pulang seketika menjadi panas dan beruap.


"Patuhlah sekali padaku. Apa kau tidak bisa? Kau selalu berpikir yang tidak-tidak tentangku, aku sekarang suamimu!" Tegas Leon ikut melampiaskan perasaannya.


"Heh!" Dengus Bianca kesal dan meremehkan.


"Suami? Di saat sekarang kau baru mengaku suami? Di mana suami yang ku butuhkan saat aku butuh dia untuk melindungiku?" Tanya Bianca geram membuat Leon tersentak.


Bianca mengambil beberapa barangnya dan memasukkan ke dalam tas ransel. Sekarang bukan hanya kepalanya yang panas, tapi matanya juga terasa panas dan berkaca-kaca.


Leon menangkap tangan dan tubuh Bianca, menahan untuk menghadapnya, satu tangannya mencengkram rahang istrinya.


"Jangan harap kau bisa pergi jauh dariku!!" Bisik Leon penuh penekanan dan tak ingin dibantah.


Bianca terkulai lemas ke lantai mendengarnya dan menangis tersedu.


"Kenapa kau lakukan ini padaku... Hiksss... Kenapa?" Tanya Bianca setengah berteriak marah dengan raungan tangis yang semakin menjadi-jadi.


Tangis wanita itu terdengar pilu mengiris hati Leon, tapi ia tidak akan membiarkan Bianca pergi dari sisinya. Perjuangan ia untuk menaklukkan hati wanita itu baru saja akan dimulai.


Dua orang pria tampan sedang duduk di sebuah


bangku lounge VIP Bandara yang menarik perhatian penumpang lain yang sedang beristirahat di sana. Kedua pria itu menggunakan pakaian rapi namun terlihat santai dan tentu saja enak dipandang, siapa lagi jika bukan Leon dan Calvin yang sedang menunggu waktu keberangkatan mereka ke Singapore.


Calvin sesekali melihat handphonenya dengan gusar, sedangkan Leon terlihat lebih cuek dan membaca majalah bisnis yang dipegangnya.


“Dia belum tiba juga?” Tanya Leon dingin, Calvin hanya menggelengkan kepala memberi jawaban pasrah.


“Maaf mengganggu Mr. Leon, seorang wanita Bernama Bianca Sallen mengaku bersama anda, apa boleh dipersilahkan masuk?” Tanya seorang petugas di lounge menghampiri Leon dan Calvin.


“Biarkan dia masuk.” Jawab Leon dingin, Calvin menghela nafas lega karena Bianca akhirnya tiba.


Leon tidak menoleh sedikitpun saat Bianca menghampiri mereka dengan nafas memburu dan kelelahan, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, pakaiannya pun tidak rapi bahkan terlihat apa adanya.


“Ada apa denganmu? Kenapa bisa terlambat?” Tanya Calvin heran dan cemas melihat keadaan Bianca yang kacau.


“Ada apa denganku? Seharusnya aku yang bertanya, ada apa dengan kalian? Kenapa tidak ada yang mengingatkan ku bahwa hari ini akan berangkat ke Singapore?” Protes Bianca dengan terengah-engah berusaha mengatur nafasnya.


“Bukankah kau dan Mr. Leon seharusnya berangkat bersama?”


“Kau tahu aku sementara berada di kantor Jerry, aku lupa tanggal dan jadwal keberangkatan kita, dan Boss mu itu…, sama sekali tidak mengingatkan ku bahkan pagi ini tidak membangunkan ku!” Protes Bianca menatap Leon yang tidak peduli sama sekali padanya.


Bagaimana ia tidak kesal, ia yang tidak terlibat dengan urusan pekerjaan dinas Leon justru diikutsertakan untuk berangkat bersama. Memang kesalahannya melupakan jadwal keberangkatannya karena beberapa hari yang lalu terus berada dan bekerja di kantor Jerry, tapi ia lebih marah lagi saat Leon sudah bangun pada subuh hari dan berangkat ke bandara sendiri tanpa membangunkannya. Bianca bahkan baru terbangun saat Calvin yang menelfonnya sekitar satu jaman yang lalu.


Bianca meringis kesal membayangkan apa yang baru saja ia lalui, dengan tergesa-gesa ia mencuci muka dan menggosok gigi, melewatkan mandi paginya, dengan asal mengambil beberapa pakaian kerja dan rumahan serta langsung memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Bersyukur ia masih ingat untuk mengambil paspornya.


Jarak apartemen dengan bandara yang tidak terlalu jauh, terbantu dengan jalanan pagi yang masih sepi, membuat Bianca masih bisa tiba tepat waktu di bandara, tentu saja dengan berlarian ke sana kemari secepat yang ia bisa.


“Kita pergi bekerja, bukan berlibur. Bukankah seharusnya itu tugasmu sendiri sebagai karyawan untuk datang tepat waktu? Jangan melemparkan kesalahanmu pada orang lain! Kaulah yang lupa akan jadwal dan tugasmu sendiri. Mana ada Boss yang membangunkan karyawannya? Lagipula aku lebih membutuhkan Calvin daripada dirimu.” Ucap Leon dengan dingin dan tanpa perasaan.


Bianca melongo kaget mendengarnya, sedangkan Calvin menjadi salah tingkah, Bossnya hanya memperkeruh suasana, apa memang ini kebiasaan pengantin baru? Ahh, lebih baik tidak mencampurinya.


“Jika kau lebih membutuhkan Calvin, untuk apa aku diikutsertakan? Lebih baik aku pulang sekarang.” Jawab Bianca akan berbalik pergi.


“Kau ikut perjalanan dinas ke luar negri, untuk apa? Jelas mempelajari apa yang seharusnya kau pelajari sebagai assisten. Kau pikir kantor membayar tiketmu dengan percuma? Kau bersyukur mendapat kesempatan ini.” Omel Leon ikut menaikkan nadanya.


“Setidaknya, usahaku berlari mengejar penerbangan ini adalah salah satu bentuk tanggung jawabku dalam bekerja!” Jawab Bianca geram, ingin rasanya ia menjambak rambut rapi milik Leon.


Bianca tidak bisa berucap lagi, ia merasa perjuangannya menyusul ke bandara tidaklah berarti di mata Leon. Seharusnya ia tidak ikut dan kembali tidur saja di apartemen. Rasa kecewa terasa menusuk di hatinya, memikirkan dirinya yang tidak terpandang di mata Leon sebagai seorang boss maupun suami.


“Duduklah, rapikan dirimu. Kau mau minum sesuatu?” Tanya Calvin berusaha menenangkan Bianca.


“Jus jeruk.” Jawab Bianca dengan cepat, ia butuh sesuatu rasa yang asam untuk menyirami kekecewan di hatinya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~