
Uhukk... Uhukkk...
"Pelan-pelan." Calvin menyodorkan minuman pada Bianca yang masih tersedak.
"Special apanya?" Tanya Bianca memprotes di sela tersedaknya.
"Tentu saja special karena Mr. Leon yang meminta untuk satu ruangan denganmu." Jawab Calvin santai, Bianca justru tercengang kaget.
"Apa kau bilang? Jadi dia yang mengatur, bukannya karena tidak ada space kosong lagi?"
"Mana mungkin gedung sebesar ini tidak ada meja kosong lagi?" Calvin balik bertanya sebagai jawabannya.
Bianca memutar otaknya untuk berpikir, tak heran ia merasa di hari pertamanya mengantor di situ semua mata terus tertuju padanya. Bisa jadi karyawan mengira dia adalah kekasih Leon.
OMG! Bianca serasa hidupnya akan kiamat sebentar lagi. Dia berusaha menjauh dari orang-orang di Keluarga Demaind, tapi malah terus dipertemukan dan terkekang oleh mereka.
"Lalu, apa karyawan di sini mengira aku adalah somethingnya Mr. Leon?" Tanya Bianca penasaran.
"Kurang lebih gosip yang beredar seperti itu. Tapi kau tenang saja, aku tahu faktanya bukan seperti itu."
"Kau tahu aku siapa?" Tanya Bianca cemas karena selama ini dia selalu menutup dirinya sebagai anak angkat Keluarga Demaind.
"Tentu saja, Mr. Leon bilang kau adalah anak bibinya dan seorang diri, jadi keluarganya membantumu."
"Apa? Hanya itu?" Tanya Bianca kaget.
"Ada lagi?" Tanya Calvin heran.
"Ah tidak, maksudku bagus jika kau tahu aku masih saudaranya. Aku harap yang lain juga berpikir positif tentangku." Jawab Bianca canggung menutupi rahasianya.
~ ~ ~
Sudah seminggu Bianca bekerja di kantor Leon, selama seminggu pula ia menahan rasa sabarnya karena tingkah dan emosi Leon yang berubah-ubah. Kadang Leon bersikap baik, kadang sangat menyebalkan.
"Sore ini, kita pulang ke rumah. Papa mencarimu." Ucap Leon sambil mendekati meja Bianca.
"Hmm..." Jawab Bianca malas.
"Hanya hmm?" Tanya Leon heran.
"Lalu kau ingin aku menjawab apa?" Tanya Bianca mengalihkan pandangannya dari komputer untuk melihat Leon.
"Tahu dirilah sedikit, jangan Papa terus yang mencarimu."
"Tahu apa kau heh?" Tanya Bianca mulai emosi mendengar ucapan Leon yang lebih terdengar seperti menyindirnya.
"Selesaikan saja pekerjaanmu, kita akan pulang lebih awal hari ini." Jawab Leon tidak ingin ribut.
Pukul 6 sore kurang, Leon dan Bianca sudah tiba di rumah. Leon melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Bianca bergegas menuju ruang kerja Papanya.
"Pa..," Panggil Bianca pelan saat membuka pintu.
"Bianca... masuk nak." Sambut Papa sembari melepaskan kacamata dan buku yang sedang dibacanya di meja.
"Kata Kak Leon, Papa mencari ku?"
"Belakangan ini susah sekali bertemu denganmu. Begitu sibuknya kah di kantor Leon?" Tanya Papa lembut merangkul Bianca duduk di sofa ruang kerjanya.
"Lumayan Pa, lagi adaptasi di tempat baru."
"Papa senang Leon merekrut kamu, di sana, kamu bisa belajar banyak. Papa harap kamu cepat menguasainya, untuk bekal kamu kelak."
"Iya Pa."
"Sering-seringlah pulang ke sini, bareng Leon, mumpung sekantor, jadi pulang pergi bisa dari sini." Papa tersenyum berusaha membujuk Bianca. Rasa hangat berdesir mengetarkan hatinya, walaupun bukan ayah kandung, tapi ia selalu diperlakukan oleh Mr. Leo dengan baik.
"Tapi, Bianca lebih suka tinggal sendiri dan mandiri Pa."
"Papa tahu, kamu memikirkan Mama. Dia memang keras kepala. Tapi Papa yakin, suatu hari Mamamu akan mengerti dan tidak salah paham lagi."
"Nggak Pa, justru Bianca yang seharusnya sadar diri. Bianca gak seharusnya terus di sini, tinggal di rumah ini dengan nyaman. Bianca selama ini disayang sama Papa, diperlakukan dengan baik dan berkecukupan, semua udah jauh dari cukup Pa."
"Papa melakukan ini semua bukan semata-mata karena berhutang budi pada orang tua mu, tapi Papa juga menyayangimu seperti anak Papa sendiri. Bahkan jika bisa, Papa ingin kamu menjadi pasangan hidup Leon." Ucap Papa membuat Bianca terkesiap kaget.
"Papa, mana mungkin begitu? Kami saudara Pa. Dan lagi, Bianca gak pantes."
"Bianca sayang Papa, sayang banget Pa." Ucap Bianca memeluk Papa dengan erat. Papa membalas pelukan Bianca.
~ ~ ~
Calvin mengetuk pintu ruangan Leon dengan pelan sebelum mendorongnya, dengan pembawaan yang selalu terlihat tenang ia menghampiri Leon.
"Mr. Leon, saya hanya mengingatkan jangan lupa malam ini menghadiri acara ulang tahun Chef Alan." Ucap Calvin dengan tenang. Leon mendongak dan melihat ke arah Bianca.
"Pesankan pakaian untuk dia ke sini. Dia tanteku." Ucap Leon sambil menyodorkan sebuah kartu nama pada Calvin.
"Baik Mr." Jawab Calvin lalu melangkah menuju meja Bianca, Bianca pun mendongak.
"Ada apa Calv?" Tanyanya ramah, Leon mengernyitkan kening, dari nada suaranya Bianca terdengar senang berbincang dengan Calvin.
"Kau akan menemani Mr. Leon malam ini, aku akan memesankan pakaianmu, bisa kau berikan ukuranmu?"
"Aku? Menemani ke mana?" Tanya Bianca kaget.
"Tante Billa sudah tahu ukuran Bianca, kau cukup minta dia siapkan beberapa baju yang cocok."
"Baik Mr. Leon." Ucap Calvin lalu berbalik melangkah pergi dari hadapan Bianca.
"He'ii, tunggu Calv, aku harus menemani ke mana?" Tanya Bianca yang belum mendapat jawaban karena Calvin tidak menggubrisnya. Bianca berdiri dan menghampiri meja Leon.
"Boleh saya tahu, saya harus menemani anda ke mana?" Tanya Bianca dengan tegas.
"Chef Alan, kau sering memesan makan siang di restaurantnya."
"Ahhh, Alan's Kitchen?" Tebak Bianca.
"Yes. Dia mengadakan pesta karena berulang tahun hari ini."
"Lalu, kenapa kau mengajakku?"
"Kau keberatan? Sebagai asisten, aku bebas memerintahkanmu apapun." Jawab Leon dengan dingin.
"Baiklah." Jawab Bianca tidak ingin berdebat dengan Leon dan kembali ke mejanya.
Dalam waktu dua jam, Calvin kembali ke ruangan Leon dengan membawa tiga jenis gaun pesta. Calvin meletakkannya dengan hati-hati di kamar tidur pribadi milik Leon.
"Jika kau sudah selesai bersiap-siaplah." Perintah Leon pada Bianca saat menyadari hari sudah sore.
Bianca yang memang sudah menyelesaikan pekerjaannyapun bergegas masuk ke dalam kamar dan tak lupa menguncinya. Dia terlebih dahulu membasuh tubuhnya dengan air dan mencuci muka untuk menghilangkan penat dan lebih segar.
Tangannya menyentuh gaun pertama yang berwarna abu-abu, terlihat cantik dan berkilau. Bianca mencoba gaun pertama dan bercermin, ia merasa risih melihat pantulannya yang dengan jelas memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Bianca beralih ke gaun ke dua yang berwarna hitam panjang terurai, terlihat sangat elegan, tapi lebih cocok digunakan untuk pesta pernikahan. Bianca melepaskan gaun pertama dan menggantinya dengan gaun ke dua, tangannya berusaha menarik resleting yang terbuka di punggungnya.
Tokk... Tokk... Tokk...
Bianca yang terkejut spontan menoleh ke arah pintu.
Tokk...Tokk... Tokk...
Suara ketukan yang diketuk dengan tidak sabar terdengar semakin kencang.
Dukk... Dukk... Dukk...
Kali ini terdengar dipukul oleh kepalan tangan. Bianca yang masih belum menyelesaikan fitting bajunya mendadak panik, wajahnya memucat dan bingung.
.
.
.
.
.
To be Continue~