Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 14~



Suara hingar binar musik di Club menggema semakin kencang diiringi suara teriakan pengunjung yang sangat menikmati permainan sang DJ. Tapi berbeda dengan suasana di ruang VVIP lantai dua, tampak tiga pria sedang duduk dalam diam. Jack dan Max mengamati Leon dengan cemas, pria berambut hitam gelap dengan alis tebal itu tak henti meneguk alkohol hingga botol ketiga.


"Jack, kau tadi bilang gadis itu adik Leon, apa maksudmu?" Bisik Max pada Jack dengan hati-hati.


"Iyah, dia adik angkatnya." Jawab Jack balas berbisik.


"Mana mungkin, Leon tidak pernah mengatakannya. Apa yang Alex katakan waktu itu benar kalau Leon punya adik?" Tanya Max dengan nada sedikit meninggi.


"Mana ku tahu. Jika kau tak percaya, kita tunggu Jerry Choi saja. Dia tahu segalanya."


"Maksudmu?"


"Sttsss...Nanti saja." Omel Jack pada Max sambil menunjuk Leon yang menatap tajam pada mereka. Percuma saja mereka berbisik karena Leon masih bisa mendengarkannya.


Tak selang berapa lama, akhirnya Jerry Choi tiba setelah Jack menghubunginya karena kehilangan ide dan cara menghentikan Leon yang minum seperti orang gila tanpa henti.


"Ada apa ini?" Tanya Jerry yang masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa membuat Jack dan Max bernafas lega dan segera menghampirinya.


"Akhirnya kau datang juga Choi. Leon sedari tadi minum tanpa henti, kau hentikanlah dia." Jawab Jack.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi di telefon kau bilang ada keributan."


"Tadi Leon datang dengan menyeret adik angkatnya. Ntah apa yang terjadi, tapi Leon marah besar pada Bianca."


"Lalu mana Bianca?"


"Alex membawanya."


"Jerry, apa benar Bianca adik angkat Leon?" Tanya Max dengan setengah berbisik.


"Sudah ku bilang dia adik angkatnya, kau sungguh tak percaya padaku??" Ucap Jack kesal pada Max.


"Iya, dia adik angkatnya." Jawab Jerry tegas.


"Apa? Dari mana kau tahu Jack? Apa hanya aku yang tak tahu?" Protes Max yang kali ini percaya setelah mendengar jawaban Jerry.


"Kau tahu dari mana Jack? Leon belum mabuk, tidak mungkin dia sengaja mengatakannya." Jerry menatap Jack dengan penuh tanda tanya. Jack terlihat salah tingkah dan mengalihkan tatapannya melihat sekeliling.


"Akan ku katakan, tapi kau jangan marah." Mohon Jack pada Jerry, Jerry pun hanya mengangkat kepalanya seakan meminta Jack meneruskan penjelasannya.


"Kau ingat saat kau bertemu dengan suruhanmu di sini?" Tanya Jack, Jerrypun menggangukan kepalanya.


"Aku tak sengaja mendengar obrolan kalian dan dia memberimu dokumen tentang adik angkat Leon. Aku penasaran dan mencari kesempatan membuka dokumen itu saat kau lengah." Jelas Jack dengan jujur. Jerry menghela nafas kasar.


"Salah diriku terlalu ceroboh. Apa kau memberi tahu orang lain?"


"Tentu saja tidak." Jawab Jack dengan cepat.


"Baguslah, sekarang kalian sudah tahu, aku harap kalian bisa menjaga rahasia ini, setidaknya sampai keluarga Leon yang membuka sendiri hal ini ke publik." Jawab Jerry dengan bijak.


"Lalu bagaimana dengan Leon? Dia paling menurut padamu, kau uruslah dia."


Jerry menghampiri Leon yang hanya diam dan memandangi gelasnya, wajahnya terlihat marah tapi setidaknya tidak semarah sebelumnya, sepertinya emosinya sudah mulai menurun.


"Leon, mari kita bicara. Apa yang masalahmu hingga kau marah seperti ini?" Tanya Jerry pelan. Leon menggelengkan kepalanya kecewa.


"Dia sama seperti ibunya, mendekati semua pria. Apa dia tidak punya harga diri sebagai wanita? Heh?" Ucap Leon dengan nada tinggi, tangannya mencengkram gelas dengan kencang.


Jerry melihat Jack dan Max yang tampak bingung harus berbuat apa, Jerrypun kemudian melihat situasi lantai satu yang terdengar kian ramai melalui kaca besar di hadapannya.


"Kau harus menjernihkan pikiranmu. Lebih baik kita ke apartemen mu. Ayo!" Ajak Jerry sambil menepuk lengan Leon pelan.


Akhirnya Leon tiba di apartemennya dengan bantuan Jack sebagai sopir pengganti di mobilnya, sedangkan Max dan Jerry mengikuti dengan mobil masing-masing.


"Jadi, kau bisa cerita sekarang?" Tanya Jerry membuka suara setelah tiba di apartemen Leon.


"Kami sedang menghadiri pesta salah satu kolega ku, dan aku melihat dia bersama pria saat di sana."


"APA?" Tanya Jack, Max dan Jerry bersamaan dengan heran.


"Dia berciuman dengan pria itu?" Tebak Max, lagi, Leon menggeleng.


"Dia bermesra-mesraan?" Tebak Max cepat.


"Aku tidak tahu." Jawab Leon membuat ketiga temannya berkerut kening heran.


"Leon, bisa kau jelaskan lebih detail?" Desak Jerry mulai tidak sabaran.


"Dia berbincang dengan pria lain dan saling tersenyum satu sama lain."


"Lalu, apa lagi yang mereka lakukan?"


"Aku tidak tahu." Jawab Leon dingin.


"He'ii, kau pikir kami menemani mu hanya untuk mendapatkan jawaban tidak tahu, tidak tahu??! Sudah cukup kau menutupi dari kami tentang adik angkatmu, sekarang kau tak juga terbuka pada kami." Ucap Jack yang mulai kesal pada Leon.


"Jack tenang, jangan memancing emosinya." Tegur Jerry.


"Tapi Jack benar, kita berteman sudah lama, apa kau tidak percaya pada kami?" Sambung Max yang juga kecewa dengan sikap Leon.


"Leon tidak bermaksud menutupi dari kalian, itu keputusan keluarga mereka untuk menutupi dari publik termasuk kita. Awalnya aku juga sama seperti kalian, tidak tahu apapun mengenai hal ini. Leon memberitahuku sepulang dari Amerika, hanya karena dia butuh bantuan orang ku menyelediki tentang Bianca. Kalian jangan salah paham padanya." Bela Jerry dengan bijak.


"Jadi, kau marah pada Bianca hanya karena dia bersama pria lain? Bukankah itu normal, lagipula dia memang cantik, wajar jika ada yang mengejarnya." Timpal Jack dengan santai.


"Dia juga pernah berkencan buta dengan Alex." Timpal Leon masih dengan tatapan dinginnya. Jerry, Jack dan Max terperangah dengan pernyataan Leon.


"Alex? Kapan, kapan?" Tanya Jack penasaran.


"Tunggu, wajahnya memang tak asing, coba aku ingat.... hmmmm... Cafeeee!!! Yahh, Cafee terakhir Alex berkencan karena dijodohkan." Seru Max yang memang memiliki ingatan lebih tajam.


"Tapi namanya bukan Bianca, aku ingat Alex bilang namanyaaa....."


"Lara." Jawab Max lagi.


"Ahh betul, kau memang pintar bro."


"Jadi, dia berbohong tentang identitasnya? Apa Alex sudah tahu?" Tanya Jerry yang dijawab temannya dengan gelenggan kepala.


"Minta Alex ke sini. Coba telfon dia." Seru Jack pada Max. Dengan cepat Max menghubungi Alex dan memintanya datang ke apartemen Leon.


Sembari menunggu Alex, Jack dan Max sibuk menonton TV, sedangkan Leon dan Jerry memilih menghirup udara segar di balkon.


"Kau peduli padanya." Ucap Jerry dengan tenang. Leon menghisap rokoknya dengan tenang sebelum menjawab.


"Aku peduli pada keluargaku. Papa akan sangat kecewa saat tahu dia bukan wanita baik-baik."


"Maka kau sedang melindunginya."


"Melindungi? Aku bahkan tak peduli jika dia tidur dengan pria tadi." Jawab Leon kembali emosi dan kesal. Jerry tersenyum meremehkan.


"Kenapa kau tersenyum? Kau tak percaya padaku?"


"Hal tadi saja sudah membuatmu marah seperti ini, apalagi jika dia benar memiliki sesuatu dengan pria lain, aku berani bertaruh kau akan menghancurkan hidup pria itu." Jawab Jerry dengan santai walaupun ia tahu jawabannya justru membuat Leon semakin kesal.


.


.


.


.


.


To be Continue~