
Bianca membawa beberapa kantong plastik, ia baru saja kembali dari supermarket setelah membeli beberapa keperluannya. Ia menaiki lift menuju lantai di mana ia tinggal sekarang. Setibanya di depan kamar, Bianca membuka pintu dengan tenang meskipun tangannya terasa berat karena barang yang ia bawa.
Kleekkkk…
Bianca memicingkan matanya, menatap heran kamar yang baru saja akan ia masuki. Ruangan kamar itu gelap gulita. Bianca meletakkan barang yang ia bawa ke lantai dan mencari tombol saklar.
Cetek… Lampu menyala dengan terang benderang. ruangan itu tampak kosong, hanya ia seorang.
Bianca pun melangkah masuk, tak lupa mengunci pintu dan menggotong barang belanjanya ke meja dapur. Kamar yang ia tinggali sekarang lebih luas daripada kamarnya yang dulu, dengan 2 kamar tidur dan terdapat 1 ruang tamu.
Bianca membongkar barang belanjaannya, memasukan beberapa makanan dingin ke dalam kulkas, ia sudah membeli persediaan paling tidak untuk satu minggu ke depan.
Seselesainya, Bianca berjalan menuju ke salah satu kamar tidur, ia berniat mandi dan menyegarkan badannya yang terasa lelah. Di tangannya memegang erat sebuah kantong putih kecil yang bertuliskan salah satu nama apotik yang tadi baru saja ia beli.
Klekk… Cetek…
Kali ini mata Bianca dibuat terbelalak. Di hadapannya kini sudah berdiri beberapa pria yang ia kenal.
“Romy?? Apa yang mereka lakukan padamu?” Tanya Bianca kaget saat melihat wajah Romy sudah memar di satu sisi wajah.
Pria itu bahkan sedang berlutut di lantai kamar. Romy tampak ketakutan dan pasrah, wajar saja, ia sedang dikelilingi oleh Leon, Alex, Jerry beserta satu orang suruhan Jerry yang memiliki tubuh kekar.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Protes Bianca kesal.
Leon melangkah dengan cepat, sorot matanya tajam dan dingin, jelas ia sedang menahan marah. Leon mengengam tangan Bianca, dengan kasar menarik wanita itu ke dekapannya.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Terlebih dengan lelaki ini.” Teriak Leon marah.
Bianca meringis, menahan pergelangannya yang dicengkram kuat dan kupingnya yang pengang mendapat teriakan dari Leon.
“Leon, jangan emosi dulu.” Tegur Jerry.
“Percuma, dia sedang melampiaskan kekesalannya karena baru saja dicampakkan. Kau lihat sendiri korbannya.” Bisik Alex pada Jerry dan menunjuk pada Romy yang menjadi korban tinju Leon.
Sebelumnya, saat tiba di apartement itu, Leon tidak melihat Bianca dan langsung menghajar Romy yang berada di ruangan itu. Jadilah Romy yang tidak tahu apa-apa menjadi korban kekerasan Leon. Jika bukan karena dihalang oleh Alex dan Jerry, mungkin Romy sudah tidak sadarkan diri.
“Lepaskan, sakitt…,” Berontak Bianca berusaha memutar dan melepaskan pergelangan tangannya.
“Katakan dulu, kenapa kau kabur? Hehh???” Bentak Leon semakin mengencangkan cengkramannya.
“Sakit Leon… Lepaskan…, sakitttttt…” Bianca masih berusaha memberontak, membuat perhatian Leon teralihkan dengan kantong putih yang digenggam Bianca. Leon merebut kantong itu dengan mudah dan membukanya.
“Kembalikan…” Protes Bianca berusaha merebut tapi tentu saja tidak berhasil.
Tiba-tiba rahang Leon mengeras, matanya melotot tajam dan marah, terlihat kekecewaan mendalam di matanya, lebih dari sebelumnya. Bianca menciut melihat Leon menatapnya seperti itu.
“Tidak cukup kau kabur dan masih ada ini???” Tanya Leon murka dan melemparkan beberapa strips obat putih dari kantong itu.
Bianca bergidik takut, menelan ludahnya kasar. Ia belum pernah melihat Leon semarah ini. Alex memungut strips obat yang dilempar Leon dan memberikannya pada Jerry, kedua pria itu saling menatap penuh arti.
“Leon, bicarakan baik-baik, kau menakutinya.” Tegur Jerry dengan tegas.
“Benar Leon, jangan memaksanya.” Timpal Alex yang kasihan melihat Bianca terlihat pucat dan akan menangis.
“JAWAB AKUUUUU!!” Teriak Leon dan menguncangkan tubuh Bianca kasar, tanpa memperdulikan ucapan kedua temannya.
Bianca menutup matanya rapat, rasa takutnya bertambah dengan rasa kecewa, ia tidak suka Leon berteriak seperti itu padanya, ia merasa tersakiti. Air mata perlahan menetes dari sela matanya.
“Lalu aku harus bagaimana…??” Tanya Bianca dengan suara bergetar dan pelan.
"Menikah denganku." Jawab Leon dingin dan tegas.
“Apa kamu begitu tidak sudi denganku, bahkan tidak bersedia hamil anakku?” Tanya Leon dengan nada penuh kekecewaan.
Bianca menarik nafas panjang dan menghelanya, memberikan sedikit ketenangan di rongga dadanya.
"Aku bagaimana bisa sudi? Jika aku hanya dijadikan alat permainanmu, alat untuk membalas dendammu. Kau sudah berhasil Leon... Berhasil membalas semuanya, aku sudah hancur... Perasaan dan tubuhku sudah kau hancurkan semuanya."
"Aku sudah bilang, yang kau dengar hanyalah akal-akalan ku saja. Mama tidak merestui kita, aku terpaksa menggunakan cara itu." Desak Leon.
"Hehehe.. ," Bianca tertawa mengejek mendengar ucapan Leon.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Leon kesal.
"Menurutmu? Aku tidak bisa bercermin dan melihat siapa diriku?? Mana mungkin kamu mau dengan tulus menikahiku Leon?? Kamu hanya memaksakan diri mendekatiku demi keinginan tidak masuk akalmu itu."
Wajah Leon kembali menunjukkan aura dingin dan sadisnya. Ia mulai merasa lelah karena sulit menaklukkan Bianca.
"Lalu, apa kau pikir aku akan tidur denganmu jika tidak ada perasaan?"
"Kalian pria, bukannya selalu senang akan hal itu dan bisa melakukannya dengan ada atau tidak ada perasaan?" Bianca bertanya balik dan kali ini menatap kecewa pada Leon.
Leon meringis kesal, mengacak kepalanya, membuat rambutnya berantakan namun masih terlihat tampan.
"Jadi, kau pikir aku bisa tidur dengan wanita manapun?" Tanya Leon dengan suara rendah dan hampir seperti berdesis.
"Bukankah begitu?" Tanya Bianca dengan berani.
"KALIAN KELUAR!!!" Perintah Leon pada yang lain.
Seorang pria bertubuh kekar yang sedari tadi menjaga Romy untuk tidak kabur segera membawa Romy keluar dari ruangan itu.
Alex melihat Jerry, sorot matanya jelas merasa kasihan pada Bianca, apalagi ia masih memiliki sisa perasaan pada wanita malang itu.
Jerry melangkah mendekati Leon, menepuk pelan bahu pria yang sudah ia anggap saudara sendiri itu.
"Berpikirlah sebelum bertindak. Ini tidak menyelasaikan masalah. Beri diri kalian masing-masing waktu untuk berpikir jernih." Nasihat Jerry berusaha menenangkan Leon.
“Leon, apa yang akan kau lakukan? Jangan menyakitinya...," Alex pun ikut buka suara.
Leon menepis tepukkan Jerry, membuat Jerry berkerut, Leon sedang mengabaikan nasihatnya.
"Kita keluarlah...," Ucap Jerry pada Alex, menunjukkan tatapan bahwa lebih baik mereka mengikuti apa yang Leon katakan.
Blammmm... ctek tek... Pintu ditutup Leon dengan kencang dan dikunci dari dalam.
"Apa Bianca akan baik-baik saja?" Tanya Alex dengan cemas pada Jerry.
Jerry menggelengkan kepalanya, "Kali ini tergantung bagaimana cara Bianca menghadapi Leon." Jawabnya pasrah.
.
.
.
.
.
To Be Continue~