Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 63~



Bianca sedang duduk menunggu gilirannya. Setelah makan siang, Bianca terpaksa segera menuju sebuah salon karena Calvin sudah memesan jasa kecantikan untuk mendandaninya.


"Hai, kau pasti wanita yang dipesan Calvin untuk kami rias." Sapa seorang pria yang berjalan melenggak lenggok menghampiri Bianca.


"Ahh yaa..," Jawab Bianca tersenyum ramah.


"Ayukkk cinnn ikut akuu." Ajak pria itu lembut. Bianca mengikuti arahan pria gemulai itu untuk memasuki sebuah ruang rias berukuran sedang dengan satu kaca besar di sana. Tampak jelas itu adalah ruangan pribadi khusus tamu VIP.


"Kita pilih gaunnya dulu ya ciin.." Ujar pria itu kemudian dengan gesit memilih beberapa gaun yang bergantungan di rak di sisi kanan mereka.


"Kulitmu putih, tapi tubuhnya tidak tinggi, tapi juga cukup berisi hmm...," Ucap pria itu berterus terang menilai bentuk tubuh Bianca.


"Ini... Coba yang ini dulu."


Bianca melotot saat pria itu mengulurkan sebuah dress ketat berwarna hitam tanpa lengan. Apa ia akan pergi ke club dan menggoda om-om, yang benar saja?


"Maaf..., tapi aku akan menghadiri pesta ulang tahun, bukan ke club malam." Tolak Bianca.


"Ya ampyunn cinnn... ini pasti karena aku terlalu bersemangat... Errrr..." Jawab pria itu dengan auman kecil.


Bianca mulai tampak kesal, dia hanya mengandalkan kepercayaannya pada Calvin bahwa assisten andalan Leon itu tidak mungkin salah memilih penata rias.


Bianca menatap takjub pada pantulan cermin, ia bahkan tidak percaya yang di hadapan dia adalah dirinya sendiri.


"Hmm... Namamu?"


"Joycellin..., call me Joy." Sambung pria itu lagi.


"Joy..., ini cantik sekali." Puji Bianca dengan mata berbinar saat pria gemulai itu menyudahi sentuhan akhir pada lipstik di bibirnya.


Saat ini Bianca sudah menggunakan gaun pesta, rambut sudah tertata rapi dan wajahnya pun sudah dipoles dengan sempurna.


"Benarkan, aku sudah bilang akan membuatmu menjadi cantik...," Ucap Joy puas dengan hasil karyanya.


Bianca memutar-mutar badannya, bawahan gaun panjang itu terlihat indah seakan ikut menari saat ia bergerak.


"Terima kasih..., aku bahkan sempat ragu kenapa Calvin memilihmu, ternyata... ini luar biasa." Puji Bianca puas dan takjub.


"Ahhh aku jadi malu...," Jawab Joy senang.


***


Leon dan Calvin berjalan bersampingan memasuki ballroom acara ulang tahun diadakan. Kedua pria itu tentu saja langsung menarik perhatian, selain terkenal dengan di dunia bisnis, tentu saja mereka lebih terkenal karena memiliki paras yang tampan.


"Haii Leon, Calv, kalian datang tepat waktu, Tuan Darwin tidak suka orang yang telat" Sapa Jerry yang juga menghadiri pesta itu.


"Tentu saja...," Jawab Leon yakin kemudian melihat jam tangannya. Waktu tersisa hanya beberapa menit lagi menuju pukul 7 malam. Ia melihat sekelilingnya, para pelayan di acara itu sudah menyiapkan hidangan dan pintu ballroom akan segera di tutup.


"Di mana dia?" Tanya Leon pada Calvin gusar.


"Baru saja saya memastikan, Bianca sudah dalam perjalanan ke sini, seharusnya sebentar lagi ia tiba." Jawab Calvin yang juga merasa gusar karena Bianca datang terlambat.


Bianca turun dari sebuah taksi, dengan langkah setengah berlari ia menuju lift.


Sudah pukul 7, pesta pasti sudah dimulai. Bianca menggigit bibirnya, panik karena kedatangannya yang terlambat.


Sebelumnya Calvin sudah memberitahunya, Tuan Darwin tidak suka orang terlambat dan pintu ruangan akan ditutup tepat pukul 7.


Hellooo..., Ini pesta, bukan jam masuk kerja, kenapa ia harus terburu-buru dan lagi ia sudah berdandan bersusah payah, apa mungkin ia membiarkan usahanya sia-sia?


Krekk... Krekk...


Pintu ballroom sudah ditutup dari luar.


"Maaf Mr. Leon." Calvin menundukkan kepalanya mendengar Leon menghela nafas kesal.


"Bukan salahmu, mungkin dia memang tidak berniat datang." Ucap Leon kesal.


"Para hadirin yang terhormat, acara akan segera dimulai. Tanpa berbasa basi, mari kita sambut pemilik acara malam ini... Tuan Darwin Wilson untuk menaiki panggung megah ini...," Ucap pembawa acara dengan antusias dan diiringi dengan tepuk tangan para tamu undangan.


Seorang pria berumur 55 tahun itu naik ke atas panggung bersama dengan seorang wanita muda yang masih terlihat berusia 25 hingga 30 tahun yang terlihat seperti anaknya.


"Terima kasih sudah menghadiri acara ini, saya sangat menghargai saudara sekalian yang sudah meluangkan waktu. Nikmati hidangan yang sudah disediakan dan enjoy the party...," Ucap Tuan Darwin tersenyum bahagia.


Seorang pelayan membawakan dua gelas sampanye ke atas panggung dan juga membagikannya kepada para tamu yang sudah duduk rapi di meja.


"Mari bersulang.... Cheeerssss..." Teriaknya lagi dan disambut riuh meriah dari para tamu undangan.


Tuan Darwin menuruni panggung menuju mejanya, wanita yang tadi ikut naik bersamanya berjalan menghampiri meja di sebelah mereka.


"Mr. Leon, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk hadir."


"Kursi ini kosong, boleh saya duduk di sini?" Tanya wanita yang Leon panggil Madeline itu dengan sopan.


"Hmm...," Jawab Leon ragu-ragu.


Suasana di luar, dijaga ketat oleh beberapa penjaga keamanan, beberapa tamu undangan yang terlambat tidak bisa masuk terlihat berbalik dan pergi meninggalkan pesta.


Bianca yang juga berdiri di sana terlihat putus asa, apa yang harus ia lakukan, mencoba masuk atau tetap menunggu di sana.


Bianca melihat beberapa tamu yang memaksa masuk, tapi tidak diberikan kesempatan.


"Pesta macam apa ini?" Umpat Bianca kesal.


Beberapa orang dari dalam ada yang keluar untuk menuju ke kamar kecil. Bianca berpikir bagaimana jika ia ikut menyelinap?


Bianca mengikuti salah seorang tamu yang baru saja kembali dari kamar kecil, berusaha berjalan mendekati orang itu.


Setttt... Tangannya ditarik oleh salah satu penjaga.


"Anda tidak diperbolehkan masuk karena anda terlambat." Tegur penjaga itu menghalanginya.


Bianca membelalakan mata, bagaimana ia bisa tahu? Bianca menatap beberapa tamu yang keluar, mereka menggunakan jam gelang yang sama dan menunjukkannya pada para penjaga pintu, sepertinya itu adalah souvenir dan juga tanda kehadiran dan Bianca tidak memilikinya.


"Saya rekan pesta Mr. Leon Gerald Demaind. Kamu tahu? Saya mohon, izinkan saya masuk." Ucap Bianca memohon dengan wajah memelas.


"Maaf, tidak bisa. Kami hanya menaati peraturan." Jawab penjaga itu dengan tegas.


"Bahkan Tuhan pun memberi kesempatan pada orang yang salah, apa anda tidak bisa memberi saya kesempatan juga?" Bujuk Bianca lagi. Penjaga itu menggelengkan kepalanya dengan tegas.


"Hmm, biarkan dia masuk..," Ucap seorang pria dari belakang mereka, membuat Bianca menoleh dan menatap kaget dengan sosok pria yang terlihat sudah berusia 30 tahunan itu dengan sedikit brewok rapi di rahangnya.


"Tapi Tuan...,"


"Tidak apa-apa... Dia menjadi partner saya malam ini." Jawab pria itu lagi dengan yakin, semakin membuat Bianca melotot tak percaya.


"Baiklah...," Ucap penjaga itu dan memberikan Bianca sebuah jam gelang berwarna pink yang hampie senada dengan gaun rosegoldnya.


"Mari masuk bersama...," Ajak pria itu.


"Terima kasih tapi siapa anda?" Tanya Bianca polos dan bertanya-tanya siapa pria yang sangat dihormati penjaga di depan tadi hingga berhasil membawanya masuk, ia yakin pria itu bukan sembarang orang.


"Anda tidak mengenal saya?" Tanya pria itu memicingkan mata, Bianca menggelengkan kepalanya polos.


"Hehehe..., namamu....," Tanya pria itu mengulurkan tangannya.


"Bianca." Jawab Bianca membalas uluran tangan pria itu.


Settt.. Dengan cepat pria itu menarik tangan Bianca melingkari lengannya.


"Apa yang kau lakukan?" Protes Bianca menarik tangannya tapi ditahan oleh pria yang bahkan belum ia tahu namanya.


Krekkk... Pintu terbuka lebar di hadapan mereka dan pria itu setengah menahan dan menarik tangan Bianca untuk memasuki ballroom.


"Masuk dan tersenyumlah." Bisik pria itu sambil tersenyum ke para tamu yang melihat kehadiran mereka.


Bianca mengikuti arahan itu, ia tersenyum dengan canggung saat para tamu menatap kaget ke arah mereka.


Bianca merasakan kakinya kaku dan badannya menegang, bagaimana tidak, mereka seketika menjadi pusat perhatian, apa karena datang terlambat? Apakah akan ada hukuman?


"Tuan Darwin Wilson Junior akhirnya tiba, mari kita sambut dengan meriah." Ucap pembawa acara mengajak pada tamu bertepuk tangan.


Bianca melotot kaget pada pria di sampingnya yang sibuk tersenyum dan melambaikan tangan pada sekelilingnya.


Dia adalah anak Tuan Darwin Wilson?


Bianca serasa ingin lenyap saat itu juga, ia akan semakin menjadi pusat perhatian, Bianca menatap sekelilingnya,mencari tempat duduk seseorang yang sedang menatapnya kaget dan tajam.


Jelas Leon kaget dengan kehadiran Bianca memasuki ruangan bersama dengan Darwin **. Bukan hanya Leon, Calvin dan Jerry sama kagetnya, menatap padanya dengan penuh tanda tanya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~