Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 27~



"Argghh lepaskan, ini panas.. ahhh!!" Berontak Bianca berusaha mendorong Leon yang berusaha memapahnya.


"Shiiittt, apa yang sudah mereka berikan pada bocah ini?" Geram Leon kesal, ia dengan cekatan langsung menggendong Bianca dan melemparkannya ke dalam mobil.


Bianca terus mengerang kepanasan dan berusaha membuka bajunya. Leon yang kewalahan akhirnya membawa Bianca ke apartemennya yang memiliki rute lebih dekat dibandingkan dengan apartemen Bianca.


Cciittttt... Ban mobil berdecit dengan nyaring saat Leon memarkirkan mobilnya dengan cepat dan gesit. Wanita di sebelahnya sudah hampir melepaskan semua pakaiannya. Tank topnya bahkan sudah terangkat setengah.


"Airrrr.. panas... airrr... aku butuh airrrr... arghh ini panas sekali..." Hanya itu dari tadi erangan yang Bianca ucapkan.


Keputusan Leon membawa Bianca ke apartemennya adalah langkah yang tepat, karena ia bisa membawa gadis mabuk itu dengan lift VIP tanpa perlu bertemu dengan orang lain.


Leon membungkus tubuh Bianca dengan jaket dan menggendong kencang gadis kepanasan yang terus meronta itu. Setibanya di kamar, ia melemparkan Bianca di kasur dengan kasar.


"Ahh.. merepotkan sekali! Kenapa dia bisa semabuk ini?!" Kesal Leon diikuti dengan suara panggilan dari handphonenya.


"Hallo Jerry Choi, ada apa? Yaaa, aku membawa Bianca ke apartemenku, dia mabuk tidak karuan." Jawab Leon yang menerima telfon dari Jerry.


"Syukurlah ia bersama mu, lebih baik kau cepat mencari cara mengendalikannya. Dia bukan hanya mabuk, Jack mengatakan ia juga menaruh sedikit dosis obat ke minuman itu." Peringat Jerry yang ikut cemas.


"Obat?" Tanya Leon heran.


"Kau jangan marah dulu. Jack pikir, ia bisa membantu Alex untuk 'bersatu' dengan Bianca." Mendengar Jerry menekankan kata bersatu membuat Leon mengernyit kebingungan.


"Maksudmu?"


"Kenapa kau LEMOT SEKALI hari ini Leonnnn!!!! Haruskah ku katakan dengan jelas? Bianca meminum obat perangs*ng!!!!???" Teriak Jerry di sebrang sana yang mendadak kesal dengan Leon yang mendadak sama sekali tidak paham dengan kode dan maksudnya.


Leon menggeram kesal. Berani-beraninya temannya menjebak Bianca untuk tidur dengan Alex. Itu tidak akan terjadi!


Leon kembali menggendong Bianca ke kamar mandi dan meletakkannya ke dalam bathup, ia dengan cepat menyalakan shower air dingin dan sengaja menyirami cacing kepanasan yang terus bergeliat tanpa henti.


Setelah hampir 20 menit, usaha Leon berhasil, Bianca terlihat lebih stabil dan tenang, gadis itu kini tertidur dan pingsan di bathup.


"Bagaimana sekarang?" Leon kebingungan saat melihat baju Bianca yang sudah basah kuyup. Ia pun membuka tanktop dan rok Bianca sambil menahan gejolak dalam dirinya. Dengan handuk besar membaluti tubuh putih yang terlihat menggoda di matanya.


"Dalam*nnya masih basah. Aku bukan tipe pria yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan pada gadis tidak sadar seperti ini. Tapi..., nanti dia sakit." Batin Leon kebingungan. Akhirnya tangannya menyusup ke dalam handuk dan melepaskan dalaman basah yang tersisa dengan mata yang mencuri-curi lihat.


Pertahanan Leon belum usai, ia masih harus menggantikan pakaian gadis itu. Leon mendudukan Bianca di kasur, membiarkan gadis itu bersandar padanya, tangannya sibuk berusaha memasukkan lengan baju ke tubuh Bianca.


"Engghhh, panas..." Erang Bianca tiba-tiba tersadar.


"Nanti akan dingin, pakai baju dulu." Jawab Leon tenang. Satu tangan Bianca menggapai ke atas, menyentuh wajah Leon, mengusapnya dengan lembut dan menarik wajah itu dengan cepat.


Ccuupppp...


"Hey, sadarlah, apa yang kau lakukan? Apa kau tahu siapa aku?" Leon mendorong Bianca yang tiba-tiba mengecupnya. Ia tidak ingin menolak, tapi gadis itu sedang mabuk.


Bianca dengan mata linglung menatap Leon. Kali ini kedua tangannya merangkul leher Leon. Dengan suara sedikit berbisik ia menjawab, "Kau... Leon Gerald Demaind."


Mendengar nama lengkapnya disebut, sebuah senyum menyeringgai di bibir Leon.


"Kau sadar rupanya. Baiklah, kau yang menyerahkan dirimu padaku, aku tidak akan menolaknya." Tangan Leon dengan cepat menarik wajah Bianca dan membalas kecupan tadi dengan agresif. Tangan satunya memeluk pinggang gadis itu, mendekap dan mengencangkan pelukan agar tidak lepas.


Ciuman kaku Bianca berusaha mengimbangi Leon yang sangat lihai memainkan iramanya. Leon melucuti satu per satu pakaiannya, membuka balutan handuk Bianca dengan lembut.


Pria itu dibuat terpesona dengan keindahan dan kemulusan tubuh gadis yang terbaring di bawahnya. Ia pun mengecap dan menyentuh tiap titik yang membuat Bianca menikmati dan serasa melayang. Bianca tidak lagi terkendali, bahkan ia menginginkan lebih. Melihat Bianca menikmati permainannya, membuat Leon merasa puas, tidak peduli entah itu karena pengaruh obat atau memang Bianca sendiri yang menginginkannya.


Leon terkulai di samping Bianca, ia baru saja menuntaskan nafs*nya, tersenyum dengan lebar dengan perasaan puas dan lega sekaligus. Leon mengelus wajah Bianca yang pingsan di sebelahnya, gadis itu kini adalah wanitanya.




Waktu menunjukkan pukul 4 pagi hari, mata Bianca mengerjap dengan pelan, ia berusaha menggerakkan dirinya, rasa perih menjalar di bawahnya.



"Ahhh, sakit, apa ini? Kepalaku juga sakit sekali." Ucapnya pelan. Bianca melihat sekeliling dan sebelahnya. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, ia dapat melihat dengan jelas wajah Leon yang tertidur pulas di sebelahnya.



Panas matahari mulai menembus kaca yang tertutup gorden, lama kelamaan terasa menusuk kulit tubuh Leon yang tidak menggunakan pelapis.


Leon bangun dari tidur nyenyaknya. Matanya menyipit saat menyadari gadis semalam tidak lagi di sisinya.



Leon segera menggunakan piyama tidurnya, berjalan mencari ke seluruh ruangan di apartemennya, nihil. Gadis itu sudah pergi saat ia masih tertidur. Rahang Leon mengeras, tangannya menggepal kesal.



"Dia pikir dia siapa, pergi begitu saja tanpa izinku?" Geram Leon merasa tidak dihargai.



Sedangkan di apartemen Bianca...



"Ahhh, apa yang ku lakukan semalam? Aku hanya ingat aku minum dengan Lara dan Alex. Kenapa aku bisa berakhir di apartemen Leon dan bahkan kami.... arrghhhh... Si\*l! Si\*l!!" Jerit Bianca marah. Otaknya berusaha mengulang kembali kenangan semalam, samar-samar ia ingat kejadian di mana ia menyentuh dan mencium Leon, bahkan kedua tangannya merangkul leher Leon dengan kencang tak ingin melepaskan pria itu.



"Ini pasti karena aku terlalu mabuk. Ahh, Bianca, kamu gawattt..!! Bagaimana sekarang, aku sudah hilang kesucian dan bagaimana jika aku hamil? Tidak, Leon pasti menggunakan pengaman, ia tidak mungkin tidak memikirkan hal itu, ia sering melakukannya dengan wanita lain, dan tidak pernah dengar ada yang hamil karenanya. Seharusnya aku pun begitu kan. Arghh, pikiranku kacau sekarang..!" Oceh Bianca mengacak-acak rambutnya.



Kepanikan Bianca bertambah saat tiba-tiba panggilan masuk di handphonenya, tertera nama si pemanggil... LEON!


.


.


.


.


.


To be Continue~