Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 44~



Leon tidak berlama-lama di apartemen Bianca, ia segera memutuskan pulang untuk mendinginkan pikiran dan perasaannya. Ia membaringkan tubuhnya dan berusaha tidur, berbolak balik di kasurnya, namun masih belum merasa nyaman. Meski badannya terasa lelah tapi pikirannya belum mengizinkannya terlelap.


Leon bangkit dan mengambil sebotol wiski di dapur, menuangkannya ke gelas dan menyesapnya dengan perasaan gusar, berharap minuman berakohol itu bisa membantunya tertidur.


Leon berhenti di gelas ketiganya, salahkan dirinya yang kuat terhadap alkohol, minuman itu belum memberikan efek apapun, yang ia rasakan hanya kembung karena minum hingga ia baru tertidur pukul 5 pagi.


~ ~ ~


Bianca memperhatikan wajahnya di cermin, memarnya sudah memudar dan membaik dengan sendirinya. Ia memoleskan lipstik berwarna ke orangean di bibir mungilnya, hari itu ia merasa lebih segar dan bersemangat karena saat terbangun ia melihat ada buah segar di mejanya.


“Pasti Leon datang semalam.” Batinnya tersenyum.


Setengah hari Bianca menunggu Leon di kantor, ia ingin mengucapkan terima kasih, namun pria itu belum datang juga. Bianca mengunjungi Calvin di ruangannya, ingin bertanya pada Calvin tentang bossnya, karena Calvin pasti serba tahu segalanya.


“Hai Calv, sedang sibuk?” Sapa Bianca saat memasuki ruangan di mana Calvin bekerja.


“Hai Bianca, sedikit sibuk karena aku masih harus buru-buru ke tempat Mr. Leon meminta tanda tangannya untuk menyelesaikan kontrak ini hari ini juga, ada apa?” Tanya Calvin yang memang terlihat sibuk dengan komputer dan dokumennya.


“Ke tempatnya? Dia tidak datang hari ini?” Tanya Bianca keheranan.


“Mr. Leon sedang sakit, jadi mau tidak mau aku harus ke apartementnya.”


“Aku bisa membantumu menemuinya…, hmm, jika kau memang sibuk dan butuh bantuan.” Tawar Bianca dengan cepat dan merasa cemas saat mendengar Leon sakit. Calvin berpikir sebentar kemudian menggangukkan kepalanya.


“Baiklah, kau tunggu aku sebentar, aku akan menyiapkan dokumennya. Tapi, apa sungguh tidak apa-apa kau membantuku?” Jawab Calvin yang merasa tak enak hati.


“Tidak apa-apa, kebetulan aku juga sedang tidak ada kerjaan. Serahkan saja padaku.” Jawab Bianca tersenyum senang.


Setelah mendapatkan dokumen yang sudah disusun rapi oleh Calvin, Bianca menuju ke apartemen Leon dengan taksi, wajahnya tersenyum membayangkan ia bisa bertemu Leon siang itu. Tak lupa Bianca sempat membeli roti yang ia beli di coffee shop sekitar kantor untuk Leon.


Ting Tong… Bianca menekan bell dengan semangat, senyum masih merekah di bibirnya.


Klekk… Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok yang ingin ia lihat. Bianca tersipu malu, pipinya merona merah melihat Leon membuka pintu sambil mengibaskan rambutnya dengan handuk, pria itu baru saja mandi dan menggunakan tank top putih, memperlihatkan lengannya yang berotot.


“Ada apa kau datang?” Tanya Leon dengan dingin. Sekilas matanya mengerjap terpesona melihat bibir Bianca yang tersenyum ceria terpoleskan lipstik yang cocok dengan warna kulitnya, membuatnya terlihat manis dan menggemaskan, gadis itu mulai berdandan...


Mendengar cara bicara Leon yang agak ketus membuat Bianca tersentak, ahh mungkin pria itu tidak dalam mood yang baik.


“Aku membantu Calvin membawakan kontrak ini untukmu.” Jawab Bianca berusaha tersenyum ceria.


“Masuklah…,” Izin Leon masih dengan nada dinginnya. Bianca melangkahkan kakinya dengan kaku mengikuti Leon memasuki apartemen itu. Kenapa kedatangannya terasa sangat mengganggu sang pemilik rumah?


"Ini untuk...," Bianca baru akan menyerahkan sebuah paper bag berisi roti yang ia bawa, tapi sebuah suara perempuan mengalihkan perhatiannya.


“Haii, Bianca, ada apa ke sini?” Sapa Kimora menyapanya dengan heran.


Bianca terkejut saat melihat ada di Kimora di sana, di dapur apartemen Leon dan sedang memasakkan makanan untuk Leon.


“Hai…, Kak Kimora,” Sapa Bianca kikuk, senyum cerianya seketika luntur dari wajah manisnya. Jantungnya berdetak cepat, dadanya dan suhu tubuhnya terasa tiba-tiba memanas.


“Aaa, aku membantu Calvin mengantarkan dokumen ini…” Lanjut Bianca menjawab dengan pelan dan tersenyum kaku sambil menunjukkan dokumen yang dipegangnya.


“Ayo ke ruang kerjaku.” Ajak Leon dengan nada dingin.


Setiba di ruang kerja, Leon secara tiba-tiba merebut dokumen tersebut dari tangan Bianca. Gadis itu kaget menerima perlakuan Leon yang terasa kasar. Ada apa dengan pria ini?


Bianca terdiam, apa Leon tidak suka ia menganggu kebersamaan Leon dan Kimora?


Apa tadi Leon baru saja mandi dan mereka baru saja……..


Kali ini mata Bianca yang terasa panas, memikirkan apa yang baru saja Leon dan Kimora mungkin lakukan.


“Calvin sedang sibuk dan aku hanya membantunya, maaf, sebelumnya tidak meminta izinmu.” Jawab Bianca pelan, entah ke mana nyalinya, kenapa ia mendadak merasa sedih dan melemah?


“Apa kau baik…,” Bianca ingin bertanya mengenai kesehatan Leon, tapi terhentikan karena teringat percuma dia bertanya, toh dia bukan siapa-siapa untuk Leon, sepertinya Bianca hanya terlalu larut dengan kebaikan Leon sebelumnya.


“Ada apa?” Tanya Leon tanpa melihatnya. Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tidak apa-apa…,” Jawab Bianca menundukkan kepalanya, matanya terasa semakin panas dan berkaca-kaca.


“Ini, sudah aku cek dan tanda tangani. Serahkan pada Calvin dengan aman, kontrak ini sangat penting, jangan sampai ada yang salah!” Perintah Leon dingin. Bianca hanya mengganguk dan segera mengambil dokumen tersebut.


“Baik, saya pamit.” Jawab Bianca dengan cepat. Dengan kepala tertunduk ia segera keluar dari ruang kerja. Ia harus cepat pergi, matanya tidak lagi sanggup menahan air yang akan segera menetes dari pelupuk matanya.


Melihat Bianca yang sudah keluar dari ruangan dan menyelesaikan urusannya, Kimora ingin mengajak gadis itu untuk makan bersama makanan yang sudah ia siapkan.


“Bianca, apa kau mau makan siang ber…sa…ma…?” Tanya Kimora dengan terputus-putus karena Bianca sudah menghilang dengan cepat, pergi dari apartemen itu dengan berlari kecil dan tanpa menoleh ke arahnya.


Leon keluar dari ruang kerjanya dengan ekspresi kesal, membuat Kimora bertanya-tanya, apa yang sudah terjadi di dalam tadi.


“Heii, apa kau memarahinya?” Tanya Kimora menyelidiki.


“Tidak, kenapa?” Jawab Leon masih dingin.


“Sepertinya dia menangis. Apa yang sudah kau lakukan?” Jawab Kimora menatap tajam pada Leon.


“Aku tidak melakukan apapun padanya.” Jawab Leon cuek. Kimora mengernyitkan keningnya, heran kenapa sikap Leon mendadak tidak peduli dengan gadis itu. Ia yakin Leon menyukai Bianca dan Jerrypun berpikir yang sama, mereka tidak mungkin salah.


“Di depan ku, kau tidak usah berpura-pura tidak peduli dengannya.”


“Siapa yang berpura-pura? Aku memang tidak peduli dengannya, dan kenapa aku harus peduli padanya?” Tanya Leon sinis.


“Kau yakin tidak peduli padanya?” Tanya Kimora dengan cepat, kaget dengan jawaban cuek yang Leon lontarkan.


“Yakin…,” Jawab mantan Kimora itu dengan tegas dan tanpa keraguan di wajahnya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~