
Leon terpaksa harus pergi keluar negri lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Sebelum keberangkatannya, Leon tak lupa menemui Bianca untuk melepaskan rindunya. Leon memeluk erat Bianca, rasanya berat bagi Leon untuk meninggalkan Bianca, karena mereka harus menjalani hubungan jarak jauh selama kurang lebih sebulan.
"Jaga dirimu baik-baik." Ucap Leon sambil mengecup mesra kening Bianca.
"Kamu juga, sesibuk apapun ingatlah untuk tidur dan makan yang cukup." Jawab Bianca lembut. Ada suatu rasa tak rela dalam hatinya melepaskan keberangkatan Leon yang akan berangkat tengah malam hari itu.
“Aku harus jalan sekarang, aku akan bertemu Jerry dan Kimora di bandara. Nanti aku akan menghubungimu.”
“Hmm… take care and safe flight.”
Setelah kepergian Leon, Bianca menatap kunci dan kartu akses apartemen milik Leon yang digengamnya.
"Ini kunci apartemenku, aku berharap kamu sudah bersedia menikahi denganku saat aku kembali." Pinta Leon dengan tulus.
Itu adalah pesan Leon sebelum ia berangkat tadi. Rasa bingung dan ragu meliputi hati Bianca. Ia belum memikirkan pernikahan, dan merasa belum siap menikah dengan Leon. Apalagi hubungan antara dirinya dan Leon terdahulu adalah kakak dan adik angkat, terlebih lagi mereka terpaksa menikah karena kehamilannya.
Ahh, teringat dengan kehamilannya, Bianca berniat mengecek kandungannya dalam berapa hari ke depan karena selama ini ia sama sekali belum pernah mengecek pertumbuhan bayinya. Anehnya, ia sudah tidak pernah mual lagi ataupun mengalami morning sickness seperti yang biasa dialami wanita hamil muda.
“Selama kamu baik-baik saja, Mami juga akan senang.” Ucap Bianca mengelus-elus perutnya.
~ ~ ~
Pagi yang indah untuk memulai aktifitas, Bianca terbangun dan merasa sedikit nyeri pada perut bawahnya, serasa ada sesuatu yang hangat mengalir turun. Rasa panik menyerangnya, ia bergegas menuju ke kamar mandi dan membuka celananya.
“Akhhhh… apa ini? Kenapa berdarah? Apa aku keguguran??” Histeris Bianca dengan panik.
Tak menunggu lama dan tanpa mandi, Bianca bergegas mengganti bajunya dan mengambil tasnya, menaiki taksi dan menuju rumah sakit terdekat.
Rasa panik dan bersalah bergumul di hati dan pikirannya, ia berusaha menelfon Leon beberapa kali tapi tidak diangkat. Air mata Bianca menetes karena panik dan cemas.
“Ada apa Non?” Tanya sang supir taksi yang ikut panik melihat Bianca menangis.
“Tolong cepat Pak, saya pendarahan, takut keguguran.” Jawab Bianca di sela isak tangisnya.
“Baik Non, yang kuat Non, saya akan cepat.” Jawab supir itu dan menambah kecepatannya.
Setiba di rumah sakit, Bianca bergegas berjalan menuju UGD dan mencari suster yang berjaga di sana.
“Suss tolong suss..” Tangis Bianca panik.
“Ada apa Bu? Apa yang sakit?” Tanya suster dengan sigap melihat Bianca memegang perutnya.
“Saya pendarahan sus…” Lanjut Bianca dan seketika suster yang lain menarik kursi roda dan membawanya ke salah satu bilik ranjang. Suster yang lainnya segera menghubungi dokter dari poli kandungan.
Tak butuh waktu lama, seorang dokter wanita menghampiri Bianca dan langsung menarik alat USG yang sudah diambil oleh suster, memoleskan gel khusus dan mulai menggerakkan alatnya ke perut bagian bawah Bianca. Dokter itu mengernyit dan tampak serius.
“Hmm…, kita cek sekali lagi sus.” Perintah dokter itu dan mengambil tissue menghapus gel di alat dan perut Bianca.
“Ada apa Dok? Bagaimana dengan bayinya?” Tanya Bianca panik dan menangis.
“Tenang ya buu, ini saya periksa lebih lanjut.” Jawab Dokter itu dengan tenang.
Dokter yang memiliki name tag bertuliskan Donna itu kembali memoles dan menggerakkan alat ke perut Bianca, dari atas, samping kanan kiri dan bawah. Dia melakukannya berkali-kali dan dengan perlahan.
“Maaf Bu…, apa ibu membawa hasil pemeriksaan USG sebelumnya?”
Bianca menggelengkan kepalanya.
“Tidak, saya belum pernah mengecek kandungan saya sebelumnya.” Jawab Bianca cemas, ada apa ini? Apa janinya mengalami masalah? Kenapa dokternya tidak segera melakukan tindakan dan menyuntikkan obat untuk menghentikan pendarahannya???
“Hmm, sepertinya ada kesalahpahaman. Maaf sebelumnya, dari pemeriksaan ini, anda tidak sedang hamil. Dan saat ini anda bukan pendarahan tapi sedang menstruasi.” Jawab Dokter Donna dengan hati-hati takut menyinggung perasaan pasien wanita di hadapannya itu.
Bianca terkesiap kaget. Dia tidak hamil? Jadi, waktu itu dia muntah-muntah karena… ?
“Mungkin sebelumnya anda mengecek testpack, dan ada kesalahan sehingga menyebabkan munculnya dua garis yang mengira ibu sudah hamil.”
“Tidak, saya telat menstruasi hampir dua bulan dan tiba-tiba saya mual saat mencium dan memakan udang, jadi mengira saya sudah…,”
“Apa dokter yakin saya tidak hamil??” Tanya Bianca memastikan.
“Yakin Bu, anda juga bisa merasakannya pendarahan yang anda alami adalah menstruasi atau pendarahan karena hamil.”
Bianca terdiam dan mencoba merasakan nyeri perut yang ia alami, memang benar nyeri itu serasa seperti nyeri bulanan yang biasa ia rasakan. Tangis Bianca terhenti dengan sendirinya. Pikirannya bingung, seharusnya ia merasa lega ia tidak hamil, tapi kenapa ia justru merasa kecewa.
Bianca pulang ke apartemen dengan perasaan malu, ternyata selama ini dia tidak hamil. Salahkan dirinya kenapa tidak mau mengecek ke dokter malam itu saat Jerry dan Alex memaksanya ke rumah sakit, sehingga membuat permasalahan menjadi begitu runyam dan panjang.
Bianca menggigit bibir bawahnya, bingung bagaimana harus memberitahu Leon dan Papanya, jika ia tidaklah hamil. Bagaimana ia harus menghadapi Leon dan Papa yang sudah ribut dan bertengkar karena mengira ia hamil anak Leon.
“Bagaimana dengan baby kita?” Tanya Leon dengan semangat melalui panggilan video, ia terlihat sedang di suatu ruang kantor dengan latar berwarna putih.
Bianca tersenyum sendu melihat wajah Leon di layar handphonenya. Ia bingung bagaimana ia harus memberitahu pria itu mengenai kejadian tadi pagi.
“Apa kau masih bekerja?” Tanya Bianca sambil melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 sore, itu berarti sudah pukul 9 malam di sana.
“Yahh, sebentar lagi akan rapat. Aku mencuri waktu karena takut kamu sudah tidur nanti.”
“Semalam ini?” Tanya Bianca heran.
“Mr. Zen besok akan berangkat, terpaksa kami rapat dan bertemu malam begini.” Jelas Leon dengan sabar.
“Leon...” Panggil Bianca lembut.
“Yaaa? Apa kau rindu aku?” Tanya Leon dengan sorot mata penuh rindu. Bianca tersenyum dan menggeleng.
“Aku ingin bertanya.”
“Tanyakan saja... Apa?”
“Bagaimana jika aku tidak hamil? Apa…, kamu tetap akan menikahi ku?” Tanya Bianca pelan. Berharap harap cemas menanti jawaban Leon.
“Bianca, aku sangat ingin memilikimu. Kehamilanmu hanyalah jalan yang lebih cepat untuk membuat ku bisa memiliki dan menikahimu.” Jawab Leon terdengar tulus.
Bianca tersenyum senang mendengarnya, ada suatu rasa lega, seharusnya Leon tidak akan kecewa jika ia memberitahunya kalau ia sebenarnya tidaklah hamil.
“Leon, sebenarnya aku tidaklah…,”
“Leoonnn, Mr. Zen sudah tiba.” Panggil Jerry di sebrang sana, membuat pembicaraan Bianca terputus.
“Ahh maaf Bianca, aku harus segera bergegas. Nanti ku hubungi lagi jika kami sudah selesai.” Jawab Leon kemudian segera mematikan panggilan videonya.
Bianca terdiam, baru saja ia memberanikan diri mengatakan kebenaran, tapi kesempatan itu malah hilang begitu saja.
Hubungan jarak jauh itu terasa tidak menyenangkan, perbedaan waktu dan kesibukan mereka masing-masing membuat komunukasi mereka tersendat. Leon bangun saat Bianca sudah tertidur, sebaliknya pun begitu. Saat Bianca punya waktu kosong, justru Leon yang selalu sibuk dan sulit dihubungi. Bianca akhirnya mengurungkan niatnya untuk memberitahu Leon saat pria itu sudah kembali, lagipula lebih leluasa saat berbicara langsung.
Aku bisa pulang besok. Miss you so much…
-Leon-
Bianca tersenyum menerima pesan itu. Akhirnya, tak terasa, tiga minggu berlalu dan Leon akan kembali besok. Selama ini Bianca menghargai setiap usaha dan perilaku Leon yang berubah lembut dan sabar padanya, seperti pribadi yang lain. Wanita itu bahkan tidak terbiasa dengan semua perubahan Leon. Ia rasa sudah saatnya pula ia menjawab isi hati Leon.
.
.
.
.
.
To Be Continue~