
Bianca menundukkan kepalanya, air matanya perlahan menetes. Ia merasa gagal melindungi anaknya sendiri.
"Ma..., maafkan aku... Hikss...," Isak Bianca.
"Aku... sungguh... maaaffff...hikss.. hikss...,"
"Jangan menangis, salahku tidak menjagamu." Leon memeluk Bianca dan menepuk pelan punggungnya.
"Ke depannya, aku mohon kerjasamamu untuk menjaganya dengan lebih baik dan bijak. Jangan biarkan dia terluka lagi, dia sudah cukup menderita." Ucap Leon menenangkan.
Bianca mendorong pelan tubuh Leon, menatap kaget dan bingung pada wajah Leon yang hanya beberapa centi di depannya.
"Maksudmu...?"
"Dia pejuang hebat. Terima kasih kalian sudah bertahan..." Lanjut Leon tersenyum tulus.
"Dia... dia masih ada?" Tanya Bianca mengerjapkan matanya kaget dan takjub, dengan spontan tangannya menyentuh perutnya, ingin merasakan langsung makhluk kecil yang hidup di rahimnya.
Leon menganggukkan kepalanya, tersenyum bahagia. Meski sempat kecewa, tapi sekarang ia sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan kedua yang adalah suatu hal luar biasa terjadi dalam hidupnya.
"Kalian berdua berhasil melewati masa kritis, yang menurut dokter kemungkinannya sangatlah kecil, tapi itu terjadi... Kau tidak tahu betapa kacau dan gilanya aku memikirkan kalian selama beberapa jam terakhir...,"
"Jadi..., ku mohon, nanti jangan begini lagi. Aku... aku tidak sanggup kehilangan kalian." Leon menitikkan air matanya. Baru kali ini pula Bianca melihat Leon menangis.
Melihat sisi lain dari Leon, membuat hati Bianca melunak dan luluh. Leon masih meneteskan air matanya, terlihat jelas begitu takut kehilangan.
Bianca menyentuh wajah Leon dengan kedua tangannya, jarinya mengusap lembut air mata yang keluar dari pria yang biasa semena-mena padanya itu.
"Kalau begitu, mulai sekarang..., kau bantu aku menjaganya...," Pinta Bianca tersenyum manis dengan mata berkaca-kaca.
Permintaan Bianca barusan tentu saja disambut dengan senang hati oleh Leon, pria itu tersenyum menyanggupi.
"Tentu saja."
"Jangan kencang-kencang, masih sakit...," Rintih Bianca meringis saat Leon mengeratkan pelukannya.
"Maaf...," Ucap Leon lalu tersenyum dan mengecup kening istrinya.
Dibalik pintu kamar, Papa dan Tante Bella sedang berdiri, terharu menyaksikan ketulusan anak mereka yang belum pernah mereka lihat selama ini.
Sebagai orang tua, mereka tentu pernah merasakan perjuangan untuk saling menyingkirkan ego dan kepentingan masing-masing demi anak mereka, dan itu yang sedang Leon lakukan sekarang, terlebih lagi Leon telah merasa gagal menjaga istrinya sendiri.
"Kau lihatkan..., anak kita sungguh mencintai Bianca. Apa kau masih tega memisahkan mereka?" Tanya Papa pada Mama.
Tante Bella menggeleng halus.
"Aku sadar aku salah..., aku juga orang tua, terlebih seorang wanita, pernah hamil, melahirkan dan menjadi seorang ibu. Seharusnya saat tersulit, aku mendukungnya...,"
"Sudah ratusan bahkan ribuan kali ku katakan, dia bukan anak ku. Sungguh, aku mengangkatnya karena berhutang budi pada orang tuanya, kau juga tahu kan...,"
"Aku tahu, tapi kesalahpahaman itu telah membuat hatiku terlalu cemburu. Tidak suka perhatian dan kasih sayangmu terbagi untuk orang lain...,"
"Jika tidak mencintaimu, aku sudah pasti sudah lama menceraikanmu Bella...," Ucap Papa bersungguh-sungguh.
Tante Bella menunduk malu, air matanya menetes semakin deras. Ia akhirnya bisa melepaskan kesalahpahaman dan kebenciannya pada Bianca setelah melihat Leon yang terpuruk selama masa kritis Bianca semalam.
Tante Bella menangis deras di pelukan Papa, melepaskan semua buruk sangkanya dan ikhlas menerima kenyataan di hadapannya.
"Aku akan belajar kembali menjadi istri yang baik, ibu yang baik, dan juga ibu mertua yang baik..." Ucap Tante Bella pada Papa.
"Kamu selalu yang terbaik Bella....," Puji Papa memeluk erat istrinya yang selama ini selalu dingin dan tidak akur dengannya.
***
Leon sedang menyuapi Bianca apel yang sudah ia potong kecil-kecil dan tipis, ia benar-benar memanjakan istrinya yang sedang dirawat itu.
"Aaaaaa....," Ucap Leon pada Bianca.
Biancapun membuka mulutnya dan menerima suapan Leon.
"Good...," Ucap Leon senang, mengusap kepala Bianca dan memperlakukannya seperti anak kecil.
"Apa Leon juga terbentur kemarin? Kenapa dia begitu...??" Tanya Jack pada Jerry.
Jerry terkekeh, diikuti oleh Kimora.
"Dia sedang bucin..., jangan mengganggunya."
"Aku pun kaget melihatnya, dulu dia tidak begini." Sambung Kimora.
"Pacar dan istri berbeda, tidak bisa disamakan...," Sambung Max.
Klekkk...
"Maaf, kami terlambat..." Alex datang dengan terburu-buru bersama dengan Lara yang mengikuti di belakangnya.
"Bianca, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Lara yang cemas menghampiri Bianca dan Leon yang masih sibuk mengupas dan menyuapi buah.
"Jauh lebih baik... sudah tidak apa-apa..., duduklah..." Jawab Bianca yang senang melihat kedatangan Lara, menarik teman baiknya yang sudah lama tak ia jumpai untuk duduk di tepi ranjang.
"Apa kalian bersama?" Tanya Jack menatap curiga pada Alex dan Lara.
"Apa??" Tanya Alex pura-pura tidak paham.
"Apa kalian berkencan di belakang kami?" Tanya Jack lagi memperjelas pertanyaannya.
Alex dan Lara saling melirik satu sama lain, bertukar lirikan mata dan memberikan kode.
"Sungguh??? Sekian lama tidak bertemu, ternyata kalian semua sibuk mencari pasangan. Yang satu sudah menikah diam-diam, yang satu sudah berpacaran, dan yang satu ini juga berkencan.. ckckck..," Ucap Max.
"Siapa yang menikah dan berpacaran??" Tanya Alex kaget.
Jack memoncongkan bibirnya, menunjuk ke arah Leon-Bianca dan Jerry-Kimora.
"Apa??"
"Kalian sudah menikah???" Tanya Lara pada Bianca yang dari tadi tersenyum malu.
"Kapan? Kenapa aku tidak tahu?" Protes Alex.
"Aku pun baru tahu. Aku sempat mengira kabar dia menikah di berita hanya akal-akalan dia saja." Sambung Max.
"Lalu kalian?" Tanya Alex melihat Jerry dan Kimora bergantian.
"Ehemm... yaa begitulah...," Jawab Jerry tersenyum malu ke arah Kimora yang juga tersipu.
"Apa mereka benar berpacaran?" Tanya Bianca pada Leon, Leon mengangkat bahunya, tidak peduli jika mantan dan teman baiknya berpacaran atau tidak, perhatiannya sekarang hanya tertuju pada Bianca.
"Aku tidak tahu dan tidak peduli, hanya kau yang ku pedulikan sekarang...," Jawab Leon membuat semua yang mendengarnya berdecih sebal, Bianca menepuk pelan tangan Leon, wajahnya merona malu.
"Kita lebih baik segera pulang, aku akan muntah sebentar lagi...," Seru Jack disambut tawa yang lain.
"Lalu kau dan Alex...???" Tanya Bianca menyenggol pelan pada Lara, menyipitkan matanya memperhatikan wajah Lara yang berseri ceria, tampak jelas sedang berbunga-bunga.
"Jadi hanya sisa kita berdua yang jomblo??" Tanya Jack pada Max yang menghela nafas sedih mendengarnya.
"Ayo kita segera cari pasangan...," Ajak Max merangkul Jack.
Badai akhirnya berlalu, Bianca sudah ikhlas dan siap menyongsong kebahagiaannya yang selama ini tertunda. Setelah apa yang dialaminya, melihat kecemasan dan perhatian Leon yang tulus, membuatnya bertekad memberi kesempatan kedua untuk hubungannya dengan Leon.
.
.
.
.
.
To Be Continue~