
Blamm... ctek tek...
Leon segera menutup kasar pintu kamar saat di sana hanya menyisakan dirinya dan Bianca yang masih berdiri mematung.
Leon menatap tajam pada Bianca yang juga berkecamuk dengan pikirannya sendiri, air mata masih mengalir membasahi pipinya.
Suasana kamar hening, hanya terdengar dentingan jarum jam yang sebentar lagi menunjukkan waktu tengah malam.
"Apa hubunganmu dengan pria itu?" Tanya Leon pelan yang juga berusaha mendinginkan kepalanya.
Bianca mengernyitkan dahinya, pria mana yang Leon maksud?
Bianca menoleh menatap Leon, pria itu sedang menatap tajam ke arahnya menuntut jawaban.
"Berapa banyak pria yang sudah kau goda? Pria di restaurant Alan, Peter, Alex, dan yang ini, siapa lagi?" Tanya Leon meringis mengucapkan nama-nama itu.
Bianca memutar ulang pikirannya, menimbang-nimbang sebelum menjawab.
Oh My God...! Bianca membelalakan matanya, tidak menyangka Leon bahkan masih mengingat kejadian di mana Bianca digoda pria saat pesta di restaurant Alan yang berakhir dengan diseret ke club milik Jack. Bianca bahkan tidak ingat lagi dengan wajah pria itu.
Peter, ia pernah tertarik pada pria itu, tapi hubungan mereka hanya sebatas hubungan kerja dan tidak ada apapun yang terjadi di antara mereka.
Alex, ia merasa ia sudah menyelesaikan dan memutuskan perasaan Alex yang memang menyukainya. Meskipun Bianca juga menggagumi ketampanan dan kebaikan Alex, tapi ia tidak memiliki perasaan lebih dalam pada pria itu.
Dan yang ini.... Ahh, Romy!
"Jika yang kamu maksud adalah Romy, dia adalah sepupu Lara. Ini apartemennya, dan ia hanya membantu meminjamkan kamar ini padaku sementara waktu."
"Jadi kamu akan tinggal bersamanya??" Tanya Leon menaikkan nadanya.
"Untuk sementara iya."
"Kau gila ya? Tinggal dengan sembarang pria?"
"Heyyy! Siapa yang sembarang pria? Romy adalah sepupu Lara dan aku sudah lama mengenalnya." Jawab Bianca dengan berani, ia mulai kesal karena Leon menuduh Romy yang bukan-bukan.
"Apa kau juga berencana tidur dengannya?" Tanya Leon memicingkan matanya, ia tidak suka Bianca membela Romy.
Bianca terkesiap kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan Leon. Tangannya menggepal kencang di kedua sisi tubuhnya, bibirnya bergetar marah dan matanya menatap kecewa pada Leon.
"Kau pikir aku wanita seperti apa Leon? Aku tidak sepertimu yang meniduri siapa saja yang mau kau tiduri!!"
"Kau seperti apa... jelas seperti ibumu, yang tak segan menghancurkan keluarga orang lain." Bisik Leon dengan suara dingin sambil mencengkram kedua lengan Bianca dengan kuat.
Bianca kembali dibuat remuk, ia sudah memutuskan pergi, tapi pria di depannya kembali mencarinya, ingin menyiksanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang Leon inginkan.
Lengannya terasa sakit karena dicengkram dengan kuat, tapi hatinya lebih sakit mendengar perkataan Leon.
"Lalu, apakah kau bodoh ingin menikahi anak dari orang yang kau bilang penghancur keluargamu?" Tanya Bianca dengan sorot kecewa dan suara bergetar, matanya tak terbendung meneteskan air mata.
Kali ini giliran Leon yang tersentak, ia tak bisa berkata-kata. Leon baru menyadari jika yang ia ucapkan tadi karena emosi sesaatnya sudah menyakiti dan menjadi senjata untuk dirinya sendiri.
Bianca menghempaskan kedua tangan Leon yang sudah melemah karena terdiam tak berkata.
"Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu dan aku harap kita tidak pernah bertemu lagi..." Usir Bianca dengan tegas.
"Tidak! Kau harus tetap menikah denganku...!"
"Apa yang ada dalam pikiranmu Leon? Kenapa ingin sekali aku menikah denganmu? Supaya kamu bisa menyiksaku seumur hidup? Permasalahan ini tidak akan pernah selesai dan kamu tidak akan pernah puas kan?" Tanya Bianca berang.
"Apa begitu sulit untuk menikah denganku? Aku seorang Leon Gerald Demaind! Kenapa kau susah sekali ku taklukkan, padahal dirimu bukan siapa-siapa." Lirih Leon putus asa.
Bianca menoleh menatap Leon, ada raut frustasi di wajahnya, tapi ia tahu pria itu tidak akan pernah melepaskannya.
"Akan ku atur semuanya untukmu, kau cukup ikuti saja perintahku." Jawab Leon dengan nada melembut.
"Apa??" Tanya Bianca kaget dan bingung. Pria itu ternyata menanggapi ucapannya dengan serius.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu." Bisik Leon di telinga Bianca kemudian mengecup pelan bibir wanita yang masih kaget mematung itu. Mesti kecupan itu hanya sebentar, tapi terasa hangat dan mendalam.
Leon menarik tangan Bianca keluar melewati pintu tanpa perlawanan. Alex dan Jerry masih menunggu di luar, menatap penuh tanya pada tangan Bianca yang digengam erat oleh Leon.
"Apa yang...,"
"Kami akan menikah." Jawab Leon cepat sebelum Jerry menyelesaikan pertanyaannya.
"Apa??" Tanya Alex tidak percaya karena melihat wajah Bianca yang terlihat tertekan dan sedih. Ia merasa kasihan jika Bianca harus menikah dengan terpaksa.
"Leon, apa kau..."
"Iya, aku sudah meyakininya." Jawab Leon dengan tegas, lagi dengan cepat menjawab sebelum Jerry menyelesaikan pertanyaannya seakan ia sudah tahu apa yang akan Jerry tanyakan.
Bianca menundukkan kepalanya, tangannya mengepal kesal. Ia pun ingin menikah dengan Leon, tapi bukan dengan keadaan terpaksa begini. Air matanya menetes getir, penuh kekecewaan.
"Kau ingin kita menikah...?" Tanya Bianca dengan suara lirih dan bergetar, membuat ketiga pasang mata pria di sana memperhatikannya.
"Baik..., kita menikah. Akan ku turuti kemauanmu. Kita menikah, secepatnya!" Lanjut Bianca lagi dengan penuh penekanan dan kekesalan, sorot matanya menatap tajam pada Leon, terlihat jelas penuh dengan rasa marah dan kecewa.
Leon membawa Bianca pulang ke apartemennya, tidak ada percakapan apapun yang terdengar, begitupun saat mereka sudah tiba di apartemen milik Leon, mereka masih bergelut dengan pemikiran dan perasaan masing-masing.
Bianca mematung sesaat, merasa sedih karena ia harus kembali ke apartement itu.
"Aku mau kembali ke apartement ku." Ucap Bianca membuat Leon menoleh padanya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Kita akan segera menikah, jadi kau harus tinggal di sini." Jawab Leon dengan penuh penekanan, tidak ingin di negosiasi apalagi di bantah.
"Kau selalu mengatakan menikah menikah dan menikah... Apa dirimu begitu terobsesi dengan pernikahan?"
"Aku terobsesi denganmu. Aku tidak akan biarkan orang lain memiliki mu, bahkan sehelai rambutmu pun."
"Hehh, dasar orang aneh." Jawab Bianca kesal lalu melangkah ke dalam kamar Leon di mana itu satu-satunya kamar yang bisa ia gunakan untum beristirahat.
Bianca membuka satu per satu pintu lemari, mencari sesuatu. Mengambil beberapa pakaian ganti dan masih terus membuka pintu lainnya.
"Apa yang kau cari?" Tanya Leon heran.
Bianca tidak menjawab, ia hanya mengambil sebuah selimut dan mengeluarkannya.
"Untuk apa?" Tanya Leon lagi.
"Jangan kau pikir aku bersedia tidur seranjang denganmu." Ucap Bianca lalu membawa selimut itu ke sofa ruang tamu.
Leon memijat dahinya, kesal dengan tingkah laku Bianca yang tidak juga mau kalah.
.
.
.
.
.
To be Continue~