
Setelah Leon dan Alex pergi, Lara mengeluarkan handphonenya dan mencari nama Romy di contactnya dan menekan tombol menghubungi.
"Hallo, bagaimana keadaan di sana?" Tanya Lara saat telfon itu terhubung.
"Di sini sini semua baik-baik saja." Jawab sebuah suara cowok yang dipanggil Romy.
"Ahh, baiklah, terima kasih. Aku tutup dulu kalau begitu." Jawab Lara tersenyum lega dan mematikan telfonnya.
Sedangkan di luar rumah Lara, Leon dan Alex masih kebingungan.
“Dia tidak ada di sini.”
“Apa kamu tahu tempat lain yang mungkin dia kunjungi?” Tanya Alex.
Leon menggelengkan kepalanya, ia baru sadar ia sama sekali tidak tahu apapun tentang Bianca.
Handphone Leon bergetar dan ia segera mengecek panggilan yang masuk, ia segera menekan tombol hijau saat melihat nama Jerry yang tertera di sana.
“Hallo, bagaimana Jerry?” Tanya Leon cemas dan mulai kehilangan kesabaran, tak lupa Leon menekan tombol loudspeaker supaya Alex bisa ikut mendengarkan.
“Maaf Leon, kami belum mendapatkan info dan jejak apapun, tapi yang pasti Bianca kami bisa memastikan kalau Bianca belum pergi keluar dari kota ini.” Jawab Jerry di sebrang sana.
“Baguslah, bantu aku cek semua hotel dan penginapan. Aku dan Alex baru saja memeriksa di rumah teman baiknya. Aku juga yakin ia belum pergi jauh dari sini. Ia tidak mungkin berani meninggalkan Papa.” Jawab Leon yakin.
“Tentu saja, kami sudah melakukannya sedari tadi. Semoga segera mendapatkan hasil yang baik. Aku tutup dulu karena masih menyetir.”
“Baik, terima kasih Jerry.” Ucap Leon penuh rasa syukur karena ia memiliki teman seperti Jerry yang bisa diandalkan dalam segala hal.
"Kita berpisah di sini, aku akan mencari di sekitar sini, kau pulanglah."
"Baik, hubungi aku jika ada kabar. Aku juga akan mencari seiring perjalanan pulang." Jawab Alex.
"Thanks." Ucap Leon yang merasa sangat terbantu dengan pertolongan Alex dan Jerry.
Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan sesekali mampir ke hotel dan penginapan di sepanjang jalan yang ia lewati untuk menanyai kemungkinan adanya kehadiran Bianca di sana.
Hasil berkeliling selama hampir dua jam dan tidak mendapatkan hasil apapun membuat Leon mulai merasa resah dan gelisah, hasil yang ia inginkan belum juga ada.
Leon membanting kencang pintu mobilnya saat ia mulai merasa putus asa. Ke mana Bianca bisa pergi dan menghilang, wanita itu tidak punya banyak teman, ke mana ia bisa bersembunyi?
Handphone Leon berdering dengan kencang, lagi tertera nama Jerry, Leon berharap itu adalah kabar baik.
“Hallo, bagaimana Jerry?” Tanya Leon tidak sabar.
“Kamu beruntung Leon, barusan orang ku berhasil menemui sopir taksi yang menjemput Bianca dari apartemennya. Ia mau bekerja sama untuk memberitahu di mana ia mengantar Bianca.”
“Cepat, katakan di mana.” Desak Leon pada Jerry.
“Aku sudah mencocokkan alamat dan info yang kami dapatkan dari keterangan sopir taksi itu. Biqnca diantar ke rumah Lara.” Jawab Jerry dengan yakin.
Mendengar jawaban Jerry, Leon segera mematikan telfonnya dan memutar balik mobilnya, menyusuri jalanan malam yang masih ramai namun sudah tidak sepadat jam pulang kerja.
Ban mobil berdecit dengan kencang berhenti tepat di perkarangan rumah Lara. Leon berlari dan mengetuk pintu rumah dengan terburu-buru.
“Ada apa?” Tak menunggu lama, seseorang muncul membukakan pintu rumah.
“Maaf tante, saya mencari Lara.” Ucap Leon saat melihat yang membukakan pintu adalah ibu Lara. Wanita separuh baya itu menatap heran pada Leon, bukannya pria itu baru berapa jam yang lalu pergi dari rumah mereka, kenapa kembali lagi?
“Hmm, tunggu sebentar, duduklah di dalam.” Jawab Ibu Lara dengan nada kurang nyaman karena mengingat ini sudah larut malam.
Leon duduk dengan perasaan tidak tenang, ia mengusap-usap kedua telapak tangannya, berharap dengan cemas dan melihat sekeliling rumah itu, sekali lagi meneliti keberadaan di mana Bianca bersembunyi.
Lara menuruni tangga dengan cepat saat mendengar Leon kembali ke rumahnya, wajah wanita itu terlihat gusar.
“Di mana Bianca?” Tanya Leon dengan cepat tanpa basa basi.
“Bukankah sudah ku katakan, ia tidak ada di sini.” Jawab Lara dengan lantang.
“Aku tidak percaya.” Jawab Leon tegas dan mulai tidak sabar.
“Terserah kau percaya atau tidak, yang pasti dan jelas ia tidak ada di sini.” Jawab Lara lagi.
Leon menyipitkan matanya, menatap tajam pada Lara, kesal karena gadis itu bertahan untuk menutup mulutnya. Tiba-tiba Leon tersenyum sinis, membuat Lara merasakan bulu kuduknya meremang, ia tidak bisa main-main dengan pria di hadapannya ini.
“Mendengar teman baikmu hilang, kau justru tidak terlihat cemas. Apa ini menunjukkan kau bukanlah teman yang baik? Atau……, karena kau sudah tahu di mana keberadaannya?” Tanya Leon menyelidiki.
Lara yang mulai merasa panik tanpa sadar mundur satu langkah, seakan menghindari pertanyaan Leon barusan.
“Ehemmm…, aku tentu saja cemas, tapi aku percaya Bianca baik-baik saja, dan dia pergi pasti karena tidak betah dengan keluarga kalian. Kenapa kau masih mencarinya? Biarkan saja dia pergi dan punya kehidupannya sendiri.” Jawab Lara menaikkan nadanya untuk menutupi kegugupannya.
“Jangan mengulur waktuku, katakan di mana dia?” Tanya Leon dengan nada tajam.
“Sudah berapa kali aku katakan aku tidak tahu di mana dia.” Jawab Lara tegas.
Drttt… Drtttt… Panggilan telfon dari Jerry kembali mengalihkan perhatian Leon.
“Ya Jerry.” Jawab Leon cepat.
“Hmm, Baiklah. Terima kasih Jerry, aku akan segera ke sana.” Ucap Leon mengakhiri telfonnya dan menatap tajam pada Lara.
“Kau yakin, kau tidak tahu di mana Bianca berada?” Tanya Leon sudah menurunkan nada suaranya.
“Hehhh! Aku tidak tahu Leon!” Jawab Lara kesal.
“Baiklah, jangan salahkan kami mendobrak pintu dan merusak apartemenmu yang bernomor 612.” Jawab Leon tersenyum puas dan segera berbalik melangkah keluar dari rumah itu, meninggalkan Lara yang tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa... Apa yang baru saja ia katakan? Apa dia sudah menemukan di mana Bianca?" Ucap Lara seakan baru tersadarkan. Ia mengeluarkan handphonenya dan segera menekan nama Romy pada layar.
Panggilan itu terus berbunyi, tapi belum juga diangkat. Lara menekan panggilan ulang, raut wajah frustasi terlihat jelas padanya karena tidak juga terhubung dengan Romy.
"Hallo, Lara." Jawab suara pria di sebrang sana, akhirnya telfonnya diangkat juga setelah panggilan ketiga kalinya.
"Romyyyy, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lara panik.
"Tenang, Romy baik-baik saja." Jawab suara pria di sebrang dengan tenang.
Tunggu... Suara ini, seperti suara seseorang yang dia kenal.
"Alex?!!" Teriak Lara semakin panik saat menyadari suara siapa itu.
"Ya, ini aku Alex...," Jawab si penerima telfon dengan tenang.
.
.
.
.
.
To Be Continue~