Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 61~



Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Di sampingnya Bianca duduk dengan wajah yang bertekuk kesal.


Pasalnya pagi tadi Leon tanpa penjelasan membangunkan dan menyuruhnya bersiap-siap serta mengganti pakaiannya dengan kemeja putih yang sama dengan Leon kenakan saat ini.


Bianca menghela nafas kesal, entah ke mana mobil melaju, ia pun tidak tahu, apalagi mobil itu melaju di jalanan yang tidak ia kenal dengan banyak gedung pencakar langit di sisi kanan dan kirinya.


Mobil itu berhenti di sebuah parkiran kantor. Terlihat tulisan Kantor Catatan Sipil. Bianca mengernyitkan keningnya, untuk apa mereka ke sana?


"Turun." Perintah Leon dengan dingin. Bianca menuruti dan mengikuti langkah Leon memasuki kantor itu. Karena masih pagi, kantor itu masih sepi, bahkan hanya ada beberapa petugas yang baru hadir.


"Selamat pagi Mr. Leon, dokumen sudah siap, anda berdua hanya perlu berfoto dan menandatanganinya." Ucap seorang pria menghampiri mereka.


Bianca menoleh ke arah suara yang tak asing itu. Matanya terbelalak lalu menundukkan kepala karena merasa malu. Pria itu adalah Calvin, tapi Calvin bersikap profesional di hadapan Leon, tidak terlihat heran kenapa Bianca juga hadir di sana.


Calvin menuntun Leon dan Bianca ke sebuah ruangan dengan latar merah, terdapat lampu sorot dan peralatan foto di sana, jelas itu adalah studio foto.


"Silahkan berdiri di sana." Pinta seorang pria sambil bersiap membidik dari lensa kameranya.


Leon menarik Bianca ke arah yang dimaksud sang kameramen.


"Apa ini?" Pikir Bianca kebingungan dengan apa yang sedang mereka lakukan.


"Pengantin wanita mohon fokus ke kamera dan senyum yang lebar keduanya... Lebih mendekat dan merapat, yakkk... Siap, satu dua tiga..." Perintah sang kameramen dengan gaya yang sudah terbiasa.


Leon menarik pinggang Bianca untuk merapatkan tubuh mereka sesuai dengan arahan, wajahnya tersenyum lebar, sedangkan Bianca memaksakan senyumnya yang terlihat sedikit kikuk.


"Kita foto sekali lagi... Santai saja mempelai wanita, jangan gugup."


Kali ini Bianca tersenyum lepas, ia hanya ingin sesi foto itu segera usai, karena sang kameramen terus menegur senyumnya yang terlihat kaku.


"Ok good, sudah selesai. Silahkan ditunggu hasilnya." Ucap kameramen menyudahi sesi foto dengan tersenyum ramah.


"Berikutnya, hanya perlu menunggu hasil foto dan menandatangani dokumen." Jelas Calvin menuntun Leon dan Bianca untuk duduk di sebuah meja bulat yang berada tak jauh dari ruang foto.


"He'ii, kenapa kau tidak menyapaku?" Tanya Bianca menghampiri Calvin yang berdiri tak jauh dari mereka, sedangkan Leon memilih duduk dan segera sibuk mengecek handphonenya.


"Good morning Mrs. Leon." Sapa Calvin tersenyum ramah.


"Hufff... enak sekali kau menyebutku seperti itu? Kenapa kau bisa di sini?" Tanya Bianca lagi.


"Sebentar lagi juga kau akan menjadi istrinya." Jawab Calvin santai.


"Kau tidak heran apa yang sebenarnya terjadi?"


"Mengenai hubungan mu dan Mr. Leon?" Tanya Calvin memastikan arah pembicaraan dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bianca.


"Sejak awal aku sudah merasa kau dan Mr. Leon memiliki something. Dan selama ini Mr. Leon juga memperlakukanmu dengan berbeda. Jadi aku sudah tidak heran atau kaget lagi." Jawab Calvin santai.


"Yah, dia memang memperlakukanku dengan berbeda, dia sering sekali menyiksaku." Keluh Bianca kesal. Calvin menggelengkan kepala halus mendengarnya.


"Itu... dia sedang menunjukkan perhatiannya padamu."


Bianca memutarkan bola matanya, perhatian apanya? Jelas-jelas Leon sering bersikap seenaknya.


Tapi Bianca merasa kagum pada Calvin, pria itu benar-benar asisten yang baik. Ia sama sekali tidak suka mencampuri pekerjaan dengan hal pribadi, pantas saja Leon sangat mengandalkannya.


"Sana duduk, dokumennya sudah siap." Tegur Calvin saat melihat seorang petugas dengan seragan kecoklatan berjalan menuju meja mereka. Biancapun mengikuti perintah Calvin dan duduk di samping Leon.


"Baiklah, saya akan bertanya beberapa hal terlebih dahulu sebelum kalian menandatangani dokumen ini. Mohon dijawab dengan jujur."


"Maaf, saya masih ada rapat penting. Bisakah kami langsung menandatanganinya?" Desak Leon terlihat tidak suka dengan petugas itu.


Mendengar ucapan Leon membuat si petugas melirik pada Calvin.


"Mohon kerjasamanya." Ucap Calvin dengan tegas dan seakan menjawab tatapan mata petugas itu bahwa mereka tidak ingin dibantah.


"Baiklah, silahkan tandatangan di sini, dan untuk anda di sini." Perintah petugas sambil. mengarahkan Leon dan Bianca.


Saat dokumen itu disodorkan di hadapan Bianca, ia ingin membaca dengan seksama sebelum menorehkan tanda tangannya.


"Kau cukup tanda tangan sekarang. Jangan mengulur waktuku." Tegur Leon.


"Tapi..., " Protes Bianca tidak terima tapi dibalas pelototan mata yang tajam oleh Leon.


"Baiklah... hufff...," Ucap Bianca mengalah. Sekilas ia hanya melihat terdapat foto dan nama lengkapnya, sepertinya itu adalah dokumen pengajuan Surat Kawin mereka.


"Tanda tangan ya tanda tangan, kenapa ketus begitu." Omel Bianca dengan suara kecil sambil. menorehkan tanda tangannya.


"Baiklahh... Dokumen ini sudah sah dan resmi. Untuk akta nikahnya bisa diambil beberapa saat lagi. Sekali lagi, saya ucapkan selamat untuk penikahan Bapak dan Ibu." Ucap si petugas kemudian berdiri dan meninggalkan mereka.


Bianca menatap kaget pada Leon yang tersenyum dengan tenang. Apa dia tidak salah dengar? Pernikahan? Akta nikah? Sah? Resmi?


"Apa yang ia katakan?" Tanya Bianca tidak percaya.


"Apa kau begitu senang sehingga ingin mendengar ucapan selamat lagi?" Sindir Leon dengan senyum menggoda.


"Ulangi apa yang ia katakan." Desak Bianca dengan serius.


"Ahh, aku akan meminta Calvin untuk mengucapkan selamat pada kita." Leon menggerakkan tangannya, menandakan ia meminta Calvin untuk memberi mereka selamat.


"Ehemm... Selamat untuk pernikahannya Mr. and Mrs. Leon Gerald Demaind. Semoga menjadi keluarga yang penuh dengan kebahagiaan." Ucap Calvin dengan tulus.


Bianca seketika berdiri dari kursinya dengan wajah tidak percaya dan kesal.


"Apa maksudmu semua ini? Kapan kita menikah?"


"He'ii istriku, kau lupa? Kau baru saja menandatangani dokumennya beberapa menit yang lalu." Jawab Leon santai.


"Kau mengecohku?"


"Kau melakukannya dengan sadar."


Bianca terkesiap, OH NO! Ia pikir yang ia tanda tangani adalah surat pengajuan untuk pernikahan mereka jadi ia tidak ragu untuk menandatanganinya, Toh mereka belum tentu menikah karena Papa dan Mama belum membicarakannya lebih lanjut.


"Aku pikir itu formulir pendaftaran menikah." Lirih Bianca masih shock.


"Bukannya sama saja, cepat atau lambat kita akan menikah dan aku lebih menyukai melakukannya dengan cepat.


"Tidak bisa! Itu tidak sah, Papa dan Mama belum menyetujuinya." Protes Bianca mencari celah.


"Aku sudah membayar lebih untuk itu. Kau pikir kenapa di kantor ini hanya ada kita saat ini?"


Bianca menoleh melihat sekelilingnya. Yang benar saja, memang hanya mereka di sana dan beberapa petugas tadi. Pasti Leon sudah menyogok petugas di sini.


"Aku tidak bersedia." Protes Bianca kesal.


"Percuma, kau sudah sah menjadi istriku dan aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Leon dengan penuh penekanan dan ikut berdiri melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan memeluknya ke dalam dekapannya.


Leon menatap kedua bola mata Bianca yang indah dengan perasaan yang luar biasa bahagia dan puas. Ia telah sah memiliki gadis di depannya itu.


Leon menurunkan kepalanya, sedikit memiringkannya dan mendekatkan bibirnya ke wajah Bianca.


"Jangan lupa siapa dirimu sekarang, My Wife." Bisik Leon pelan kemudian mengecup pelan bibir istrinya yang masih terdiam kaku tenggelam dalam kebingungannya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~