
Leon melototi Bianca yang mengebrak mejanya, sikap lancang Bianca membuat Leon merasa tak dihormati. Bianca bahkan balas memelototinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Leon geram.
"Kauuu! Tanya pada dirimu, apa yang kau lakukan? Kau bertindak sesuka mu. Kau pikir aku mainanmu hah?"
"Aku sudah berinvestasi pada perusahaanmu dan sesuai kesepakatan kau jadi asisten ku! Aku berhak memutuskan dirimu, selaku bawahanku untuk bekerja di mana pun aku mau dan melakukan apa yang ku perintahkan. I'm your Boss NOW!" Ucap Leon tegas.
Bianca terdiam, memang benar Leon adalah atasan yang seharusnya dia hormati.
"Jika kau tidak suka, silahkan serahkan surat pengunduran dirimu."
Bianca terperangah, Leon benar-benar tegas, dia seharusnya berpikir panjang sebelum bertindak. Bianca bingung harus menjawab apa, tapi dirinya masih diliputi gengsi dan rasa kesal. Dia berbalik akan melangkah pergi tapi terhenti lagi saat mendengar apa yang diucapkan oleh Leon.
"Dengan syarat denda dua bulan gaji."
"Apa? Tidak ada dalam kontrak kerja ku harus membayar denda, apalagi sebanyak itu." Protes Bianca kaget.
"Di perusahaan ini ada, dan kau bekerja untuk ku saat ini." Jawab Leon tegas, Bianca mengigit bibir bawahnya panik, lagi-lagi ia kalah telak, bagaimanapun posisinya memang kalah.
"Bagaimana? Saya beri waktu sepuluh, hmm.. No,No! Lima, ya lima detik untuk memutuskan."
"Bagaimana aku memutuskan dalam lima detik?" Protes Bianca kesal.
"Satu...," Ucap Leon sambil berhitung dengan jarinya. Bianca panik harus menjawab apa, tentu saja tidak mungkin dia rela dikenakan denda gaji 2 bulan.
"Dua..., Tiga..., Tiga setengah..., "
"Ahhh, iya iya. Baiklah, aku akan tetap jadi asisten dan bekerja dengan baik menuruti mu." Putus Bianca dengan tergesa-gesa.
"Apakah kau yakin? Masih ada satu setengah detik jika kau berubah pikiran."
"Tidak, aku yakin. Jadi apa yang harus kulakukan sekarang? Menunggumu bekerja? Mempersiapkan data?" Bianca langsung merubah sikapnya menjadi penurut. Leon tersenyum puas, ancamannya berhasil.
"Hmm, kau kerjakan saja pekerjaanmu seperti biasa. Aku harus menghubungi Calvin untuk memantau pekerjaan di lapangan." Jawab Leon sambil duduk kembali ke kursinya dan fokus pada laptopnya, sesekali gerakannya berpindah pada komputer yang terletak di sisi kanannya, dia terlihat benar-benar sibuk dan serius.
Bianca sudah menunggu selama satu jam lebih, sambil mengerjakan pekerjaannya dan sesekali melihat Leon yang sibuk mondar mandir sambil menelfon Calvin, sepertinya ada masalah serius, dia jadi merasa bersalah karena dirinya Leon tidak bisa ikut ke lapangan.
"Mr. Leon..." Panggil Bianca pelan dan sopan, Leon mendongakkan kepalanya dengan sebelah alis terangkat bingung mendengar Bianca memanggilnya dengan sopan.
"Ada apa?"
"Saya lihat anda sibuk, apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak, ini bukan pekerjaanmu, kau tidak akan mengerti." Jawab Leon seakan meremehkan, Bianca berusaha bersabar.
"Lalu, apakah saya menggangu, jika iya, saya akan keluar dan bekerja di ruang tamu di depan."
"Aku bisa mengusirmu jika merasa kau sudah menggangu." Jawab Leon membuat Bianca mencebik kesal dan berjalan menuju sofa dengan menghentakkan kaki.
Leon yang menyadari hanya menggelengkan kepalanya. Bianca kembali duduk di sofa dan mengerjakan pekerjaannya hingga langit sore mulai menggelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Leon baru saja menyelesaikan pekerjaannya, menyandarkan badannya ke kursi dan menghela nafas.
Matanya menyipit saat menyadari Bianca masih di ruangannya, tertidur pulas dalam posisi duduk dengan tangan memeluk tas ranselnya. Leon melangkah menuju sofa, matanya meneliti detail wajah Bianca yang tampak polos dan cantik bahkan saat tertidur.
"He'ii.. bangun, sudah malam." Leon menggoyangkan pelan bahu Bianca, tapi gadis itu tidak terusik sedikitpun.
"Bangun, heiiii.... Bangunnn....!!" Teriak Leon lebih kencang membuat Bianca terbangun dengan sedikit linglung.
"Maaf Mr. Leon. Saya lancang tertidur." Ucap Bianca sambil menundukkan kepalanya. Tangannya saling bertautan mengenggam satu sama lain, bersiap-siap menerima omelan dari atasannya.
"Tidak apa. Ini sudah bukan jam kerja. Ayo, kita pulang." Jawaban tenang dari Leon membuat Bianca menghela nafas lega.
Bianca bergegas membereskan tas dan barang-barangnya, menyesuaikan langkahnya dengan Leon keluar dari ruangan dan menyusuri kantor yang sudah sepi, hanya tersisa beberapa karyawan lembur. Mereka memberi hormat dan salam saat melihat Leon melintas tapi setelah itu langsung berbisik-bisik membicarakan Bianca yang sudah berjam-jam berada di dalam ruangan Leon.
Leon dan Bianca tiba di depan lift VIP, suasana gedung yang sepi membuat Bianca merasa tidak nyaman apalagi hanya berdua dengan Leon. Dia berpikir untuk menaiki lift karyawan.
"Hmm, saya permisi naik lift di sana Mr. Leon. Selamat malam." Pamit Bianca sopan dan langsung berbalik.
"Siapa yang memberimu izin?" Suara tegas itu terdengar sedikit marah. Bianca berbalik dan melihat Leon menatapnya dengan garang.
"Masuk." Tegas Leon menunjuk pada pintu lift VIP yang terbuka. Bianca pun menurut, tidak ingin berdebat dan mencari masalah. Leon menekan tombol lift ke basement dan Bianca menekan tombol ke lobby.
"Ikut denganku, kita pulang ke rumah." Ucap Leon penuh penegasan. Bianca menoleh, kali ini wajahnya menunjukkan penolakan.
"Tidak." Jawab Bianca cepat.
"Tidak?" Tanya Leon memastikan. Bianca berpikir cepat mencari alasan yang bisa ia gunakan. Dia tahu, Leon akan memaksakan kehendaknya.
"Hmm, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya, apalagi saya akan sibuk mempersiapkan perpindahan saya. Mohon Mr. Leon mengerti." Jawab Bianca sopan.
"Ok, kita makan malam dulu."
"Hah?" Ucap Bianca spontan karena kaget.
"Apa kau punya masalah dengan telingamu?" Sindir Leon. Bianca menggeleng kepalanya cepat.
Lift sudah tiba di Basement, Bianca dengan pelan dan ragu mengikuti langkah Leon menuju di mana mobilnya terparkir. Dia ternganga saat melihat Leon membuka pintu sebuah mobil mewah berwarna biru muda mengkilat keluaran limited edition yang ia ketahui seharga 3 Milyar. Dia tahu keluarga Demaind kaya raya, tapi dia sendiri tidak pernah melihat isi koleksi garasi keluarga itu.
Bianca ragu memasuki mobil itu, rasanya dia tidak percaya diri harus duduk semobil dengan Leon apalagi dengan mobil semewah itu. Leon membuka jendela kaca bagian penumpang dan melihat ke arah Bianca.
"Apa yang kau tunggu? Jangan bilang kau berharap aku membukakan pintu untuk mu karena itu tidak akan mungkin." Ucap Leon terus terang. Bianca mencebik kesal dan membuka pintu mobil dengan ogah-ogahan.
"Siapa yang memintamu membukakan pintu? Dasar sombong." Gerutu Bianca dengan suara kecil sambil masuk ke dalam mobil, namun masih terdengar oleh Leon.
"Bicaralah dengan jelas dan tatap mata orangnya saat bicara." Tegur Leon sambil menyalakan mesin mobil.
Bianca terkesiap, ternyata Leon mendengar apa yang dikatakannya. Bianca beringsut menjauh sambil memeluk tas ranselnya saat melihat Leon tiba-tiba mencondongkan badan mendekat ke arahnya.
"Kau mau apa?" Tanya Bianca panik. Leon tersenyum kecut, membuat Bianca bergidik ngeri dan semakin menjauhkan badannya hingga menempel ke kaca mobil.
.
.
.
.
.
To be Continue~