
Bianca terbangun sendirian keesokan harinya. Ia melihat sekelilingnya, Leon sudah pergi dari kamarnya. Sudah ada sarapan di meja, pasti Leon yang sudah menyediakannya.
Hari itu badan Bianca sudah jauh lebih baik, hanya terasa sedikit nyeri dan lemas. Bianca menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya. Matanya mengernyit heran saat melihat bercak kecokelatan di celananya.
"Ahh, mungkin efek nyeri perut kemarin, dokter sudah bilang, aku memakan obatnya terlalu banyak." Batin Bianca berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Bianca tidak menghiraukannya dan melanjutkan aktifitasnya seperti biasa, tohh, ia merasa tidak sesakit kemarin.
Baru saja handphone Bianca berdering dengan kencang, Papa menelfonnya.
"Ya Pa..," Panggil Bianca berusaha ceria.
"Bianca, sudah sarapan?" Tanya Papa lembut seperti biasa.
"Ini baru mau, Papa udah ke kantor?"
"Ini lagi di jalan. Bianca... Sabtu ini luangkan waktu ya..," Ajak Papa berharap. Bianca terdiam sesaat, apa Papa mau mengajaknya pulang ke rumah?
"Ada apa Pa?" Tanya Bianca sebelum memutuskan.
"Teman Papa ulang tahun, Papa mau kamu hadir juga. Bisa kan nak?"
"Bianca gak punya partner Pa." Tolak Bianca halus dan jujur, nyatanya dia memang tidak punya partner untuk diajak. Papa pasti pergi dengan Mama, dan lagi, mana mungkin pergi bersama, terlalu berisiko untuk dijadikan gosip oleh orang lain.
"Kamu tenang aja, urusan partner, Papa sudah meminta tolong Jerry Choi, dia juga teman Leon, untuk menjemput dan membawamu ke pesta."
"Tapi Pa.., Bianca gak pantes dan untuk apa hadir di sana?" Tolak Bianca lagi.
"Ada orang yang mau Papa kenalkan ke kamu di pesta itu. Kamu tenang saja, Jerry juga orang baik, bisa dipercaya dan diandalkan. Papa minta kali ini kamu turuti Papa ya...," Bujuk Papa terdengar antusias. Bianca akhirnya terpaksa mengiyakan permintaan Papanya.
Bianca memutuskan untuk masuk bekerja, ia tidak ingin gajinya terus terpotong karena terlalu sering tidak masuk bekerja.
Setiba di kantor, beruntungnya ia tidak perlu bertemu Leon selama beberapa hari, karena pria itu ternyata sudah dalam perjalanan berangkat ke luar kota, jadi Bianca bisa istirahat dan malas-malasan di kantornya sembari memulihkan kesehatannya.
~ ~ ~
Malam minggu pun tiba, Bianca sedang berada di Butik Tante Billa. Bianca meminjam satu stel gaun pesta berwarna plum yang terbuka di salah satu sisi bahunya, panjang gaun selutut itu juga membentuk belahan tinggi pada satu sisi paha kirinya, mengekspos dengan jelas betapa putih dan mulusnya kulit Bianca. Tante Billa membantu Bianca merias wajah dan rambutnya.
Dandanan wajahnya natural dengan warna lipstik pink kemerahan, rambutnya yang dijepit setengah membuatnya terlihat manis.
Sesuai janji temu yang sudah di atur Papanya, Jerry menjemput Bianca di butik itu. Bianca bergegas keluar saat menyadari mobil Jerry sudah tiba.
"Hallo Bianca, kita sudah pernah bertemu, tapi belum pernah berkenalan secara langsung. Aku Jerry Choi." Sapa Jerry yang keluar dari mobil untuk menyapa Bianca. Pria itu terlihat selalu rapi, dan sekarang ia tampak semakin tampan dengan stelan kemeja pestanya yang berwarna hitam.
"Yaa.. salam kenal. Kita berangkat sekarang?" Jawab Bianca tersenyum sopan.
Jerry membawa Bianca ke sebuah hotel mewah, puluhan papan bunga berjejer dan banner terpasang di lobbynya, tertulis dengan jelas SELAMAT ULANG TAHUN BAPAK WIYAJA, melihat dari ramainya tamu dan ucapan yang terpajang, Bianca bisa menebak yang berulang tahun bukanlah orang sembarangan, pasti salah satu orang kaya dan pemilik perusahaan besar.
Jerry menghampiri Bianca setelah menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir velvet.
"Ayo masuk," Ajak Jerry dan menunjukkan barcode bukti undangannya kepada petugas yang menjaga di lobby. Bianca yang melihat penjagaan ketat, sekarang mengerti kenapa Papa meminta ia datang bersama Jerry. Tidak sembarang orang mendapat undangan dan bisa masuk ke acara itu.
Mereka masih harus naik lift menuju lantai 8 menuju ballroom yang diantarkan oleh petugas hotel. Mata Bianca terperangah melihat kemewahan di depan matanya. Dekorasi berwarna biru dengan hiasan bunga asli yang segar menghiasi seluruh ruangan ballroom yang muat diisi seribu orang itu.
"Wahhhh... Mewah sekali...," Puji Bianca takjub. Jerry terkekeh mendengarnya.
"Iya, Bapak Wijaya senang memanjakan istrinya, kebetulan mereka juga merayakan hari pernikahan hari ini dan dia ingin memberi surprise pada istrinya dengan pesta ini."
"Ya Tuhan..., aku mimpi apa bisa datang dan hadir di pesta seperti ini." Batin Bianca senang.
"Itu Mr. Leo dan Mrs. Bella." Tunjuk Jerry, Bianca mengalihkan pandangannya pada dua orang tua angkatnya yang sedang asyik berbincang dengan tamu lainnya. Ibu angkatnya terlihat cantik dengan gaun panjang berwarna silver, terpadu sempurna dengan riasan dan dandanannya yang mewah, menunjukkan ia adalah orang 'berkelas'.
"Tunggu di sini ya." Ucap Jerry menghampiri Mr. Leo dan menyapanya, tak lama Jerry kembali bersama dengan Papa menemui Bianca.
“Bianca, kamu sudah datang nak.., cantik sekaliii… ahh, andai kamu juga bisa menjadi menantu Papa…,” Puji Papa dengan senang. Bianca tersenyum mendengar pujian Papanya, hari ini memang penampilannya berbeda dengan biasanya karena baju dan riasan yang dirias Tante Billa membuat dandanannya tampak lebih berani dan cantik.
“Oh ya, ayo ikut Papa, ada yang mau Papa kenalin ke kamu…,” Lanjut Papa dan menarik tangan Bianca diikuti oleh Jerry dari kejauhan, mereka menghampiri sekumpulan orang yang sedang asyik berbincang dan bersalaman.
“Pak Wijaya…, perkenalkan ini keponakan saya.” Ucap Papa menghampiri pria yang terlihat hampir seumuran dengannya. Pria itu terlihat sedang bersama pasangannya, mereka terlihat berbahagia karena senyumnya terus merekah tanpa lelah.
“Bianca, ayo, ucapin selamat, ini Pak Wijaya dan istrinya, yang hari ini berulang tahun dan merayakan hari pernikahannya yang ke 25 tahun.”
Bianca mengulurkan tangannya dan tersenyum sopan, “Selamat ulang tahun dan hari pernikahan Pak, Bu, semoga diberkati umur panjang dan kebahagiaan selalu bersama keluarga tercinta.” Ucap Bianca dengan tulus dan berani. Pak Wijaya tersenyum senang mendengarnya, ia menepuk-nepuk tangan Bianca yang masih di jabatnya.
“Senang sekali mengenalmu nak, siapa namamu?”
“Bianca Pak.” Jawab Bianca sopan.
“Sayang, Darren mana?” Tanya Pak Wijaya pada istrinya.
“Tadi dia bilang sebentar lagi turun…, Ahh, itu dia, sudah datang.” Tunjuk Istrinya pada seorang pria yang terlihat masih muda dan berwajah cukup tampan.
“Paman, Bibi, maaf menunggu lama.” Sapa pria yang bernama Darren itu tersenyum ramah dan sopan.
“Darren, kenalkan, ini Bianca, keponakan Pak Leo.” Darren tersenyum ramah, menggangukkan kepalanya dan saat mendonggakkan kepala, terlihat jelas ia memperhatikan Bianca dari bawah ke atas. Bianca yang sadar dengan tingkah aneh Darren seketika menjadi kikuk dan tidak nyaman.
“Apa mau berkeliling? Aku bisa membawamu.” Ajak Darren tiba-tiba yang terdengar lembut.
“Sana nak, keliling sambil ngobrol…,” Dukung Papa sambil mendorong halus, Bianca tak enak menolak Papanya, ia pun berjalan beriringan dengan Darren menuju pintu keluar.
Settttsssss… Seseorang menarik dan menahan tangan Bianca saat ia melewati kerumunan tamu. Dengan perasaan kaget Bianca mendongak dan melihat siapa pelakunya.
Leon?
Kenapa dia bisa di sini?
Bukannya dia keluar kota?
Kapan dia kembali?
Pertanyaan itu seketika terlintas di kepala Bianca, wajahnya tampak gugup dan kaku.
.
.
.
.
.
To Be Continue~