Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 31~



Bianca dengan cepat memoleskan obat ke lukanya, kemudian masuk dan meringkuk ke dalam selimut sebelum Leon selesai mandi.


Matanya terpejam sambil sesekali mengintip Leon yang mengibas-kibaskan rambutnya. Mata Bianca terpejam dengan rapat saat menyadari Leon membuka kimono mandinya dan menggunakan pakaian di dalam kamar.


"Ahh, godaan macam apa ini?" Batin Bianca berusaha mengatur detak jantungnya yang mulai tidak karuan.


"Satu domba, dua domba, tiga domba...," Pikirnya dalam hati berusaha mengalihkan pikirannya dari tubuh Leon yang terngiang di kepalanya.


Setelah menggunakan pakaian, Leon keluar dari kamar. Waktu masih pukul 9 malam, mungkin Leon masih melanjutkan pekerjaannya, pikir Bianca.


Bianca baru saja membukakan matanya dan menghela nafas lega saat mendengar pintu kamar kembali dibuka.


Krekk... Leon kembali ke kamar setelah memastikan pintu apartemen terkunci dan mematikan semua lampu hingga hanya menyisakan lampu kuning keremangan di kamar tidurnya.


Kasur terasa bergoyang saat Leon ikut berbaring. Pria itu bertumpu pada sikunya, memperhatikan wajah Bianca yang berpura-pura tidur.


"Kamu belum tidurkan? Baiklah kalau kamu tidak mau bangun, lagian kamu pasti lelah." Ucap Leon tanpa menerima jawaban dari Bianca. Tangan Leon terulur mengusap rambut Bianca.


“Tidurlah... Oh ya, by the way..., aku suka kamu menggunakan bajuku.” Bisik Leon dan mengecup kening Bianca, gadis itu masih menutup rapat matanya, berpura-pura tertidur dengan jantung yang kembali berdegup kencang dan menahan nafas.


Bianca bernafas lega saat Leon berbaring dan ikut memejamkan mata. Akhirnya dia benar-benar bisa tidur.



"Hoammm...," Bianca menguap sambil menyeduh teh paginya. Hari ini dia tidak masuk kantor dan akan istirahat seharian, lukanya sudah mulai mengering tapi badannya masih terasa pegal dan memar.



Leon sedang memerintahkan seorang petugas kebersihan apartemen untuk membersihkan kamarnya. Petugas kebersihan wanita itu keluar membawa gaun dan baju tidur yang semalam Bianca lihat di dalam lemari.



"Mau dibawa ke mana? Mau dibuang?" Tanya Bianca heran karena gaun dan baju itu dimasukkan ke kantong sampah.



"Iyah, aku sudah membersihkan semuanya." Jawab Leon tersenyum puas.



"Tapi kenapa? Bukannya ini milik wanitamu?"



"Karena kamu tidak menyukainya." Jawab Leon singkat tapi berhasil menyentuh hati Bianca. Ia tidak menyangka Leon akan memperhatikan hal sekecil itu, terlebih lagi mengenai perasaannya.



"Yahh, aku memang tidak menyukai bajunya, tapi aku tidak menyuruhmu membuangnya, itu milik orang lain."



"Itu milik Rose. Dia meninggalkannya karena sudah overload." Jawab Leon menjelaskan.



"Ohhh..."



"Apa kamu sudah senang sekarang?" Tanya Leon tiba-tiba berbalik dan melingkarkan tangannya ke pinggang Bianca. Bianca mengernyitkan keningnya bingung.



"Kenapa aku harus merasa senang?" Tanyanya polos.



"Tentu saja kamu pasti senang sekarang, hanya malu mengakuinya." Ucap Leon narsis, tangannya bergerak menyelipkan rambut Bianca ke belakang telinga.



"Aku justru merasa sayang sekali jika baju itu dibuang, lebih baik dijual atau diberikan pada orang lain." Gerutu Bianca kesal melihat Leon terlihat terlalu percaya diri.



"Hmm..., ternyata itu yang kamu maksud. Baiklah...," Leon tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.




"Leon, aku rasa kamu salah paham. Aku sama sekali tidak meminta uangmu."



"Tidak apa-apa. Ini cara ku menyenangkan wanitaku." Ucap Leon di telinga Bianca sambil meletakkan kartu itu ke dalam genggaman tangan Bianca.



*Wanitaku*...



Lagi! Dia menyebut Bianca sebagai wanitanya, apakah ia menggangap Bianca wanita yang bisa ia gunakan saat ia mau, dan bisa dibuang seenaknya jika sudah bosan?



"Aku bilang tidak butuh, yah tidak butuh!" Ucap Bianca tegas dan mengangkat kartu itu, melemparkannya ke atas meja ruang tamu yang terdapat di sisi kanannya.



Bianca berjalan meninggalkan Leon yang keheranan, baru kali ini ada wanita yang menolak kartu unlimitednya.



"Kamu yakin tidak ingin memakai kartuku?" Tanya Leon lagi dan dibalas dengan bantingan pintu oleh Bianca.



Leon sudah berangkat ke kantor satu jam yang lalu, Bianca yang sendirian merasa bosan. Bianca melihat sekelilingnya, ruang kerja milik Leon pasti ada banyak buku. Ia bisa meminjam dan membaca buku.


Ruang kerja itu tidak terkunci, Bianca bisa dengan leluasa masuk dan melihat-lihat. Bianca terperangah melihat rak buku yang membentang terisi penuh dengan buku-buku bisnis dan bahasa, Leon pasti berusaha sangat keras untuk bisa memimpin perusahaan.


Bianca melihat meja kerja Leon yang rapi dengan beberapa foto semasa ia kuliah terpajang di sana. Bianca mengambil sebuah amplop di atas meja yang menggangu pandangannya karena ada beberapa kertas yang keluar.


Berniat merapikannya, matanya malah melihat ada nama orang tuanya di sana. Bianca menarik keluar isi amplop itu untuk melihat dengan jelas. Semua data pribadi dan bahkan tentang orang tuanya, semua tertera di sana. Mata Bianca berkaca-kaca menahan getir, jadi selama ini Leon menyeledikinya.


Bianca keluar dari ruangan itu dan akan mengganggap ia tidak melihat apapun.


Malam itu, Leon pulang saat sudah sangat larut malam, Biancapun sudah tertidur dengan sangat terlelap. Dan keesokkan paginya, Leon sudah berangkat ke kantor sebelum Bianca bangun.


“Sepertinya dia tidak pulang semalam, hmm…” Batin Bianca. Pagi itu Bianca merasa badannya sudah lebih segar dan membaik, ia pun memutuskan untuk masuk bekerja.


“Aku sudah mengajukan izin sakit untukmu selama 2 hari, kenapa sudah masuk?” Tanya Leon saat melihat Bianca memasuki ruang kerjanya.


“Aku sudah tidak apa-apa, oh ya, semalam kau tidak pulang?” Tanya Bianca penasaran.


“Kenapa? Kamu merindukan tidur dengan ku?” Tanya Leon menggoda.


“Siapa yang merindukanmu? Aku mau pulang ke apartemenku." Jawab Bianca dengan lantang.


"Hmm, katamu seminggu. Tunggu, apa kamu sedang merajuk karena tidak tidur denganku semalam?" Tanya Leon tersenyum usil.


"Leon, seriuslah sedikit. Aku bosan berada di tempatmu dan lagi untuk apa aku di sana? Aku bilang akan menginap di tempatmu seminggu hanya demi membujukmu di rumah sakit." Jawab Bianca mulai kesal dengan tingkah Leon.


"Tenanglah, malam ini aku sudah bisa menemanimu. Jangan ganggu aku dulu, kamu tidak tahu betapa sibuknya aku dari kemarin demi bisa menghabiskan weekend denganmu." Jawab Leon santai tapi terdengar aneh di telinga Bianca.


Perubahan sikap Leon terhadapnya sangat drastis dan lagi apa yang diucapkannya. Bianca mengernyitkan keningnya, memikirkan kata-kata Leon barusan. Jadi dari kemarin pria ini sibuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya, demi menghabiskan akhir pekan dengannya. Heh?? Memang dia siapanya Leon?


Yang benar adalah dia yang diperbud*k dan harus menemani Leon. Bianca memanyunkan bibirnya, malas memikirkan akhir pekan berada di apartemen Leon yang berarti akan seharian bersama dengan pria itu terus.


.


.


.


.


.


To be Continue~