Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 08~



Posisi Leon yang hanya beberapa centi darinya membuat Bianca bisa mencium aroma tubuh pria itu. Wewangian parfum yang sudah bercampur dengan keringat masih terasa manis di indera penciuman Bianca.


Tangan Leon terangkat akan mengapai sesuatu. Bianca spontan mendorong tubuh Leon dengan keras membuat pria itu sedikit terdorong kembali ke posisi awalnya.


"Kau mau apa hah? Kau sudah gila? Jangan kurang ajar." Teriak Bianca ketakutan.


"Responmu berlebihan, aku hanya ingin membantumu menggunakan seatbelt."


"Tidak perlu kau bantu, aku bisa sendiri." Oceh Bianca dengan wajah merona merah menahan malu, Bianca meletakkan tasnya dengan rapi kemudian menggunakan seatbelt yang tadi menjadi kepanikannya.


Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah restaurant yang berjarak tak terlalu jauh dari kantornya. Setiba di sana, Bianca turut mengangkut semua barang bawaannya turun, membuat Leon menoleh dan mengernyitkan kening.


"Untuk apa kau bawa mereka semua? Kita akan dinner, bukan kerja." Tanya Leon heran.


"Bukan begitu. Setelah makan aku akan langsung pulang, supaya tidak repot bolak balik ke mobilmu."


"Letakkan kembali."


"Apa?" Tanya Bianca kaget.


"Barang-barangmu, taruh kembali ke dalam mobil. Jangan membuatku mengulangi terus." Jawab Leon tidak sabaran.


Bianca kembali menuruti perkataan Leon dengan perasaan kesal. Perutnya sudah sangat lapar karena belum makan sedari siang, ditambah hari ini dia harus extra sabar menghadapi Leon yang ternyata sifatnya seangkuh itu.


Saat Leon dan Bianca memasuki restaurant, seorang pelayan pria sudah menunggunya dan segera menunjukkan meja makan khusus dua orang, suasana restaurant itu sangat menenangkan dengan suasana lampu kuning temaram yang menambah kesan romantis dan nyaman.


Meja yang mereka duduki sudah tertera tulisan Reserved by Mr. Leon, yang berarti Leon entah kapan sudah membookingnya. Bianca menebak, kali saja Leon tadinya berniat berkencan dengan kekasihnya, sehingga khusus membooking meja.


Pelayan tadi menyodorkan buku menu, Bianca membukanya dengan perlahan dan membaca setiap menu yang bertuliskan bahasa Inggris, tapi tak semuanya ia pahami, dan lagi menu itu tanpa tampilan foto. Bianca bingung harus memilih yang mana, ia melihat Leon hanya membuka sekilas dan sudah menyebutkan pesanannya pada pelayan.


"Kau, pesan apa?" Tanya Leon tidak sabaran. Bianca mengingat pesanan yang Leon sebutkan, jika ia tak salah dengar tadi Leon menyebutkan kata beef yang seharusnya ia tidak masalah dengan menu itu.


"Makanan dan minuman samakan saja dengan dia." Jawab Bianca canggung pada pelayan itu. Leon mengernyitkan keningnya heran.


"Makan apa yang kau ingin makan, jangan mengikuti ku." Ucapnya tegas.


"Kebetulan aku ingin makan apa yang kau ingin makan." Jawab Bianca asal dan membuat Leon memutar bola matanya tidak suka.


Bianca memonyongkan bibirnya kesal melihat reaksi Leon, jika ia tidak suka, kenapa justru mengajak makan bersama, Bianca merasa ia benar-benar sial harus bekerja bersama Leon. Ini baru beberapa jam, bagaimana jika nanti sudah satu harian? Bianca menghela nafasnya kasar berusaha menepis pikirannya membayangkan drama-drama buruk yang harus ia lewati.


Leon dan Bianca makan dalam diam, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Bianca berusaha meneguk minumannya yang terasa sangat pahit, salahkan dirinya sendiri yang memesan menu yang sama dengan Leon.


"Kau tidak bisa minum kopi pahit, kenapa memesannya?" Tanya Leon yang risih melihat ekspresi wajah Bianca yang kepahitan.


"Bisa, hanya saja kopi ini lebih pahit dari biasanya." Elak Bianca gengsi mengakui kelemahannya. Bianca terburu-buru menyelesaikan makannya, berniat untuk segera pulang.


"Mr. Leon, maaf merepotkan, bisakah kau membuka mobilmu sebentar? Saya hanya ingin mengambil barang-barang." Ucap Bianca sopan.


"Kau sudah mau pulang?" Tanya Leon santai. Biancapun mengiyakan dan Leon menyuruh Bianca untuk menunggu di parkiran mobilnya selagi ia membayar bill.


"Ayo." Ajak Leon sambil membuka pintu mobil. Bianca segera mengambil barang-barangnya, mengangkut dan menutup pintu.


"Apa lagi yang kau lakukan?" Tanya Leon terperangah.


"Mengambil barangku. Apa lagi?" Tanya Bianca yang bingung dengan maksud Leon.


"Aku akan mengantarmu, masuk." Perintah Leon tegas.


"Apa?"


"Apa lagi? Ternyata kau lemot sekali. Ckck."


"Tidak, maksudku, untuk apa kau mengantarku? Aku bisa naik taksi atau ojek online lainnya. Terima kasih untuk kebaikanmu." Tolak Bianca dengan sopan dan bersiap-siap melangkah pergi.


Tinn... Tinn...!!!


Bunyi klakson menggagetkannya, Leon terlihat sedikit emosi dan tidak sabar, Bianca pun dengan segera memasuki mobil dan lagi-lagi mengalah menuruti kehendak Leon.


Kali ini Leon mengemudi dengan sedikit cepat, membuat Bianca mengengam erat seatbeltnya, ditambah jalanan yang mulai lenggang membuat Leon lebih leluasa menambah kecepatan.


Tak butuh waktu lama, mobil Leon sudah tiba di lobby apartemen Bianca. Bianca tak banyak bicara dan bergegas turun.


"Terima kasih sudah repot mengantarku." Pamit Bianca dengan kesal sambil membawa keluar barang-barangnya, dia menutup pintu dengan sedikit kencang, membuat Leon mengernyit tidak suka, apalagi Bianca langsung berbalik pergi tanpa menunggunya melaju.


~ ~ ~


Bianca sudah tiba di kantor sejak pukul 8 pagi, tapi matanya terasa sangat mengantuk karena efek minum kopi dan tidak bisa tidur semalaman.


Bagaimana bisa tidur, siapa suruh dia bodoh mengikuti Leon yang memesan long black sangat pahit?


Bianca masih kesal dengan pertemuannya dengan Leon kemarin, rasanya ia ingin mengamuk dan mencaci maki kakak angkatnya yang ternyata sangat menyebalkan itu.


Hari itu Bianca akan menghabiskan waktu paginya melakukan interview dengan beberapa calon penggantinya. Dengan mata mengantuk dan terus menguap Bianca berusaha memfokuskan diri, dia baru tertidur pukul 3 pagi dan sudah terbangun pukul 5 pagi, masih berusaha melanjutkan tidurnya tapi justru dia terbangun tanpa kantuk sedikitpun.


"Bianca, kandidat sudah tiba." Ucap Handi, karyawan bagian HRD.


"Baik. Ahh.. tunggu sebentar, saya terima telfon dulu." Ucap Bianca saat melihat handphonenya bergetar, satu panggilan masuk dari Calvin membuat Bianca enggan mengangkatnya.


"Ya, ada apa Calv? Apa? Ke sana? Lagi? Sekarang???" Tanya Bianca kaget berturut-turut. Handi menunjukkan ekspresi heran melihat Bianca yang tiba-tiba terlihat lemas.


"Ada apa Bianca?"


"Boss baru, Mr. Leon..."


"Kenapa dia? Batal kerjasama?" Tanya Handi ikut khawatir. Bianca menggeleng pelan.


"Bukan, tapi saya mesti pindah kerja ke sana." Jawab Bianca lesu.


"Wah, itu justru bagus, mereka perusahaan besar, kamu beruntung masuk dan kerja di sana." Dukung Handi memberi semangat.


"Yang terlihat sih seperti itu, kenyataannya..., harus dirasakan sendiri."


"Semangat, kamu fokus dengan pekerjaanmu, urusan penganti assisten Pak Toni, biar saya saja yang urus." Ucap Handi lalu melenggang pergi.


Dalam satu jam, setelah memastikan meja kerjanya sudah bersih, rapi dan tidak ada yang tertinggal, Bianca segera berangkat menuju kantor Leon.


Dengan lesu ia berjalan ke lantai 45 menuju ruangan Leon dengan membawa beberapa barang dan dokumen yang diperlukan. Calvin yang menyambut dan menuntutnya memasuki ruang kerja Leon.


"Di mana Mr. Leon?" Tanya Bianca yang tidak melihat Leon di sana.


"Nanti kau akan bertemu dengannya, duduklah, ini mejamu." Tunjuk Calvin pada meja yang terletak di pojok sisi sebelah kanan meja Leon.


"Apa?" Tanya Bianca terkejut.


.


.


.


.


.


To be Continue~