Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 26~



Wanita baruku...


Kosong...


Bianca bukanlah wanita polos yang tidak bisa menebak arah pikiran Leon. Pria itu memiliki kuasa, apa yang ia inginkan, pasti akan ia dapatkan, apalagi wanita, ia hanya melihatnya sebagai barang.


Bianca juga bukanlah tidak tahu, sebelum Leon bertemu dengan Rose, ia sudah sering mendengar desas desus kakak angkatnya itu sering berganti perempuan dan menjadi beban pikiran Papa. Singkat cerita, Leon adalah playboy yang dilengkapi paras tampan, tubuh atletis, otak pintar, kuasa dan kekayaan.


Bianca berusaha memutar otaknya berkali-kali. Tapi ia tidak menemukan solusi apapun. Jika ia melaporkan Leon ke polisi, ia sudah pasti kalah, dan lagi ia tidak punya uang lagi untuk membayar pengacara. Jika ia melaporkan ke Papa, ia tidak setega itu membuat Papa menderita, sedih dan marah kepada Leon.


Bianca memijit keningnya yang pusing, ditambah ia merasa sangat lapar.


"Jadi apa maumu?" Tanya Bianca lagi, suaranya terdengar pasrah dan melemas dengan harapan kali ini Leon melepaskannya.


"Dirimu." Jawab Leon pelan dan tersenyum menggoda. Bianca mendesis mendengarnya, ia merasa sangat jijik dan miris. Ia tidak punya keluarga, uang, bahkan harga dirinya pun harus hilang. Dalam hati Bianca mengutuk dirinya sendiri yang terlahir menyedihkan.


Otaknya tak sanggup mencerna dan berpikir lagi, semakin ia bertahan, ia hanya akan merasa semakin sulit dan menyedihkan.


"Baiklah, jika itu bisa membuatmu puas dan melepaskanku." Ucap Bianca pasrah, membuat Leon mengernyit heran, ke mana Bianca yang biasanya selalu membantahnya, kenapa wanita di hadapannya tiba-tiba menjadi penurut dan mengaku kalah begini?


Tangan Leon bergerak menyentuh bahu dan lengan atas Bianca yang putih mulus.


"Kau memilih keputusan yang tepat." Jawab Leon puas. Bianca hanya diam, memejamkan matanya erat-erat dan mengepalkan tangannya dengan kencang. Ingin rasanya ia meninju Leon saat itu juga. Tapi ia sungguh tidak punya kemampuan untuk melawan.


Tangan Leon semakin bergerak bebas menyentuh wajah, leher dan bahu Bianca. Pria itu seakan lupa mereka masih di jam kerja, ia menggendorkan dasinya, melemparnya ke sembarang arah dan membuka kancing bajunya yang mulai terasa sesak karena tubuhnya yang memanas.


Tubuh Bianca menegang saat bibir Leon mengecup lembut lehernya, turun menjelajahi ruas bahunya. Leon berhenti sesaat, memperhatikan wanita yang sedang ia nikmati itu terus menutup matanya dengan rapat.


Wajah manis Bianca yang ketakutan, membuat Leon justru semakin menginginkannya.


"Imut sekali." Batin Leon gemas. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Leon dengan ganas ******* bibir pink Bianca.


Bianca terkesiap dengan perlakuan tiba-tiba dari Leon. Ia berusaha mendorong dan menghentikan Leon, tapi tubuh Leon terlalu sulit dilawan.


"Leon, henti.... hmmm...ahh.. hppppffff...," Usaha Bianca untuk berbicara justru membuat Leon mendapatkan akses bermain semakin dalam di bibir dan mulutnya. Bianca tidak bisa bernafas mengimbangi Leon.


"Kau, tidak pernah berciuman?" Tanya Leon berhenti sesaat membiarkan Bianca untuk bernafas meraup oksigen. Bianca tersipu dan menggeleng halus memberi jawaban yang justru semakin memancing ***** Leon. Leon mendorong pelan tubuh Bianca ke kasur. Menarik turun tali bahu baju Bianca, mengecup dengan lembut dan meninggalkan bekas kemerahan di bahu dan sekitar dada adik angkatnya itu.


Tok... tok... tok...


Tok... tok... tok...


Ketukan di pintu kamar membuyarkan Leon. Ia menggeram kesal karena kegiatannya diganggu.


"Ada apa?" Tanya Leon kesal saat membuka pintu.


"Maaf Mr. Leon. Miss Rose mencoba menghubungi anda, tapi tidak diangkat. Dia menginfokan akan tiba ke kantor sebentar lagi." Jawab Calvin sopan. Tanpa curiga, Calvin mengira Leon sedang istirahat di kamarnya dan tidak menyadari Bianca bersembunyi di balik pintu yang ia ketuk.


"Baiklah, kembalilah ke ruanganmu." Jawab Leon merapikan kancing bajunya dan mengecek handphone yang ia tinggalkan di meja kerja.


Bianca mengintip dari balik pintu, Leon sedang mengambil kunci mobilnya dan melangkah keluar dari ruang kantornya. Kecewa dan sakit mendadak terasa di hatinya saat melihat Leon pergi tanpa pamit, dan terlebih ia langsung pergi untuk menemui Rose.


"Aku seperti wanita murahan, sangat kotor dan tak lagi ada harga diri." Batin Bianca tersenyum menertawakan kebodohannya sendiri.




Bianca memutuskan kembali ke kantor, ia pikir, seharusnya Leon tidak lagi mencari masalah pinalti dan foto jika ia kembali masuk bekerja. Ia ingin memulihkan harga dirinya yang hilang. Tapi sejak siang itu, justru Leon menghilang, ia tidak masuk kantor dan hanya menghubungi Calvin untuk mengurus pekerjaannya.



Bianca hanya melongo saat Calvin keluar masuk ruangannya untuk mengambil ataupun meletakkan dokumen tanpa menyertakan dirinya untuk mengerjakan sesuatu apapun.



"*Mungkin Leon sedang menghindariku, tidak ingin bertemu denganku, apa dia sudah sadar dan menyesal, bahkan merasa jijik* *denganku? Baguslah, akhirnya dia kembali waras*." Batin Bianca kesal.



Malam minggu pun tiba, hari itu Bianca berhasil untuk mempertemukan Alex dan Lara. Pertemuan mereka berjalan dengan lancar, setelah makan malam bersama Alex mengajak Bianca dan Lara ke club milik Jack.



Malam itu kedua wanita itu sudah berdandan cantik dan rapi, tapi kali ini tampilan pakaian mereka lebih terbuka dari biasanya.



"Ayokk masuk, mumpung belum terlalu ramai jam segini." Ajak Alex saat tiba dan turun dari mobil.



"Benarkan kata ku, untung aja kita pake baju begini, bakal ketemu banyak cowok kan..." Teriak Lara histeris saat memasuki ruang gelap dengan kelap kelip lampu.



Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi benar kata Alex, tempat itu belum terlalu ramai. Mereka duduk di depan meja bartender di mana Jack dan Max sedang mencampurkan beberapa minuman.



"Yooo, Alex! Kenalin broo..." Seru Jack.



"Ini Lara, temannya Bianca." Teriak Alex berusaha. mengalahkan suara musik yang kencang.



"Haiii, Lara gue Jack, ini Max. Bianca, hari ini have fun yaaa..." Seru Jack pada Lara dan Bianca. Kedua wanita itu hanya menggangukkan kepala, pelan-pelan mereka mulai terbiasa dengan musik yang memekakan telinga dan aroma rokok yang berterbangan di mana-mana.



"Mau coba minum ini?" Tanya Jack sambil menyodorkan dua gelas kecil berisikan air berwarna biru kemerahan pada Bianca dan Lara.




"Coba aja, gak mabok kok." Bujuk Jack lagi.



"Ayukkk.. coba aja." Ajak Lara dengan semangatnya langsung meneguk habis satu gelas kecil itu.



"Ughhh, pahit, tapi ujungnya manis. Enak juga." Jawab Lara lalu menyodorkan gelas Bianca mengajak temannya itu menikmati malam minggu mereka. Bianca dengan ragu meminum dan menelannya, terasa pahit dan panas di tenggorokan, tapi rasa manis pada ujungnya membuat dia ketagihan.



"Jack, nanti mabok gimana? Udah gelas ke tiga." Tegur Max pada Jack. Jack tersenyum licik dan berbisik di telinga Max.



"Sengaja, biar bantuin Alex cek in malam ini."



"Sama siapa? Lara?" Tanya Max keheranan.



"Bianca lah, masa Lara. Loe gak lihat, Alex dari tadi lihatin dia mulu, udah netes kali tuh liurnya." Ledek Jack tanpa disadari Alex.



"Gila loeee, Leon bisa bunuh kita kali." Tegur Max panik.



"Dia mana peduli, loe gak inget terakhir dia perlakuin Bianca kayak apa?" Ucap Jack sambil lanjut menyodorkan beberapa minuman lain pada kedua wanita itu yang terlihat sudah mulai panas.



"Udahhh, nanti mereka mabok, gue yang repot. Ganti jus jeruk Jack." Tegur Alex mulai cemas melihat wajah Bianca yang memerah. Sedangkan Lara, ternyata memiliki daya tahan lebih kuat terhadap alkohol, ia masih terlihat stabil dan tidak terpengaruh sama sekali.



Jantung Bianca berdebar dengan cepat, tubuhnya mulai panas dan gerah, ia mengipasi wajahnya dengan tangan, menghirup dan menghela nafas untuk menetralkan jantungnya.



"Lex, bawa Bianca ke atas gihh." Ucap Jack saat merasa taktiknya berhasil. Alex pun berjalan mendekati Bianca yang terlihat sedikit oleng.



"Bianca, are you ok?" Teriak Lara.



"Ayo, aku bawa ke ruangan atas." Ajak Alex sambil merangkul Bianca supaya berdiri dengan tegak. Tapi tangan Alex dihempas oleh Bianca.



"Argghh, panas...," Seru Bianca kemudian melepaskan jaket kulit yang ia pakai, memperlihatkan kulit polosnya yang tertutup tank top putih. Alex melongo melihat Bianca yang sudah mulai hilang kendali. Tangannya dengan cepat mengambil jaket tadi dan menutup tubuh Bianca.



"Apa yang kalian lakukan padanya?" Sebuah suara tegas dan marah menegur mereka, membuat mereka semua mendongak kaget.



"Leon? Kenapa bisa di sini?" Tanya Jack heran.



"Gue yang lapor ke Jerry tentang ide busuk loe, ternyata di kabarin ke Leon." Jawab Max polos.



"Jiahh.. mampus guee!!" Seru Jack kesal pada Max.



"Lepaskan dia!" Ucap Leon dengan nada tinggi. Alex tahu Leon tidak suka dibantah, ia pun membiarkan Leon mengambil alih tubuh Bianca. Pria bertubuh tinggi itu merangkul dan memapah Bianca dengan kuat melewati kerumunan orang yang semakin malam semakin ramai memadati club itu.



"Yahh, aku gimana?" Tanya Lara manyun melihat dirinya ditinggal sendirian.



"Aku akan antar pulang." Jawab Alex bertanggung jawab.


.


.


.


.


.


.


To be Continue~