Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 64~



Bianca serasa mati kutu, saat ini ia masih berdiri di tengah tatapan para tamu undangan yang menatap heran dengan kehadirannya.


Darwin Junior membawa Bianca berjalan menuju meja Leon.


"Leon..., lama tak berjumpa." Sapa Darwin menyapa Leon. Leon berdiri tegak menghadapnya, tersenyum dengan ramah namun sorot matanya terlihat jelas ia sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


"Hallo tuan muda Darwin..., bagaimana kalian bisa...?" Tanya Leon tanpa basa basi dan tampak heran melihat Bianca muncul bersama dengan Darwin.


"Saya bertemu dengan Bianca di depan, dia terlihat memohon pada penjaga dan menyebut nama anda, jadi saya pikir ia mungkin partner anda malam ini."


Bianca menatap Leon yang melirik padanya, pria itu terlihat menahan kesal dan tidak suka. Melalui tatapan matanya Bianca seakan berusaha berbicara menjelaskan pada Leon bahwa ini bukan seperti yang ia pikirkan.


"Ya benar, dia adalah assisten saya. Saya berhutang karena dia sudah merepotkan anda." Jawab Leon berusaha bersikap tenang.


"Saya lihat Madeline sudah menemani anda, mungkin kita bisa bertukar dengan asisten anda menjadi partner saya malam ini." Jawab Darwin dengan tenang, namun justru membuat yang mendengarnya terdiam kaget.


Leon mengepalkan kedua tangannya, menatap tajam dan marah pada Bianca seakan meminta penjelasan. Jerry yang melihatnya segera berdiri dan menghampiri.


"Tuan Darwin, sepertinya ada kesalahpahaman di sini, Bianca hanyalah assisten Leon dan kebetulan malam ini dia adalah partner saya." Ucap Jerry menyela.


"Ahh Jerry, kalau begitu lebih mudah lagi jika denganmu. Aku ingin gadis cantik ini untuk menemaniku malam ini, kau tidak keberatan kan?" Tanya Darwin tersenyum ramah.


Jerry terperangah kaget mendengarnya, ia ingin membantu menengahi justru membuat keadaan terpancing lebih jauh.


"Hmm..., maaf Tuan Darwin, tapi saya rasa saya tidak bisa...," Ucap Bianca terpotong.


"Baiklah, malam ini anda bisa mengambilnya menjadi partner anda." Putus Leon dengan tegas memotong ucapan Bianca.


Jerry dan Calvin menoleh kaget pada Leon, sedangkan Bianca terasa mendapatkan tusukan tajam bertubi-tubi mendengarnya.


Cukup Leon tidak mengakuinya sebagai istri di depan umum, tapi bagaimana bisa ia membiarkan dirinya menjadi pendamping pria lain?


Karena Leon sudah membiarkannya bersama dengan Darwin, Bianca terpaksa mengikuti ke mana pria brewok itu duduk.


"Kau duduk lah di sini." Ucap Darwin sambil mempersilahkan Bianca duduk di salah satu kursi yang mejanya bersebelahan dengan Leon.


"Santai aja, nikmati makan malamnya." Ucap Darwin lagi sambil menepuk kedua pundak Bianca saat ia sudah duduk, membuatnya bergidik kaget. Tentu saja hal itu tidak luput dari pengawasan Leon, Calvin dan Jerry yang menatap cemas dan kesal.


Bianca memperhatikan meja sebelahnya, meneliti dengan seksama wanita yang menggunakan gaun merah cherry yang sedang duduk di samping Leon, tadi mereka menyebutnya Madeline. Wanita itu terlihat senang saat Leon menyetujui untuk bertukar pasangan, jelas wanita seksi itu menyukai Leon, apalagi gelagat wanita itu yang selalu ingin mendekatkan tubuhnya ke Leon, pantas saja jika Leon mendepak dirinya kepada Darwin.


"Leon, apa kau suka dengan menu malam ini?" Tanya Madeline berusaha menarik perhatian Leon.


"Lumayan." Jawab Leon singkat.


"Hmm..., jika kau suka, kita bisa pesankan lagi." Rayu Madeline dengan nada suara yang manja dan mendekatkan tubuhnya ke arah Leon, sekaan sengaja ingin memamerkan belahan dadanya yang berisi dibalik gaunnya yang ketat.


Bianca berdecih melihatnya. Ia menatap balik dengan tajam setiap kali Leon menatapnya. Tadinya Bianca masih ingin memikirkan dan menjaga perasaan Leon sebagai suaminya. Tapi melihat apa yang sudah Leon lakukan, sepertinya ia tidak perlu terlalu memikirkannya.


"Ini, minumlah, ayoooo..." Bujuk Darwin menyodorkan segelas wine pada Bianca.


"Maaf Tuan Darwin, saya sudah katakan sejak tadi saya tidak bisa minum." Tolak Bianca menaikkan nadanya, ia mulai gerah karena pria itu sedari tadi terus memaksanya ini dan itu.


"Cmonnnn... No drink no party," Darwin menyodorkan gelas ke arah mulut Bianca, membuat ia kesal dan terpaksa menerima gelas itu.


"Cheersss...," Ajak Darwin bersulang dengan Bianca dan memastikan wanita itu meminum wine nya.


Tak sampai di situ, Darwin juga berulah dengan terus mengambil beberapa makanan ke piring Bianca tiap kali wanita itu mengosongkan piringnya.


"Ahh cukup Tuan Darwin. Saya bisa mengambilnya sendiri." Tolak Bianca ramah menahan kesal.


"Anda partner saya malam ini, jadi saya akan memperlakukan anda dengan baik." Jawab Darwin mencondongkan badannya ke arah Bianca.


"Tapi ini terlalu berlebihan..."


"Kau hanya seorang karyawan, tidak punya hak menolak, kau hanya perlu melakukan apa yang bos mu perintahkan!" Sindir Darwin yang tidak suka mendapat penolakan dari Bianca.


"Saya mohon, hentikan...," Pinta Bianca ikut menaikan nadanya.


"Tuan Darwin, ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Yang anda lakukan adalah pemaksaan." Protes Bianca dengan berani.


Beberapa orang di sekitar mereka yang menyadari perdebatan mereka pun ikut memperhatikan mereka.


Bianca melihat sekelilingnya, orang-orang seperti menatap aneh padanya karena berani berdebat dengan anak pemilik perusahaan yang kaya raya ini.


"Kau sangat tidak tahu berterima kasih. Begitu banyak orang ingin duduk di sampingku, tapi kau justru tidak menghargainya."


“Maaf, sepertinya saya sudah merusak suasana makan malam anda. Saya rasa saya lebih baik undur diri dari sini.” Ucap Bianca kemudian berdiri akan melangkah pergi tapi terhentikan karena tangannya ditahan oleh Darwin.


“Ada apa? Kau tidak suka menjadi partner ku?” Tanya Darwin merasa tidak suka dan ikut berdiri, sehingga menarik perhatian yang lain.


“Suatu kehormatan saya bisa menjadi partner anda Tuan Darwin, tapi saya rasa saya tidaklah pantas."


"Satu lagi, saya merasa muak mendengar kata PARTNER yang anda ucap berulang, berkali-kali sejak tadi! Saya permisi…” Jawab Bianca kesal dan kali ini melangkah dengan tegas melintasi ballroom menuju pintu keluar.


Bianca sempat melihat ke Leon yang melihat perdebatan dia dan Darwin, tapi dia tidak peduli. Dia sudah tidak tahan dengan anak orang kaya yang pemaksa itu dan lagi ia merasa kehadirannya tidak diperlukan di sana.


Gaun rosegold berkilaunya terlihat begitu indah di tubuhnya yang berkulit putih bersih. Ujung gaunnya bergoyang mengikuti tiap langkah kakinya, membuat semua yang di sana menatap kagum padanya.


Jerry mengikuti Bianca yang berjalan keluar ballroom, sedangkan Leon mengalihkan tatapannya pada Darwin yang ternyata juga sedang melihatnya.


“Assistenmu…, aku menyukainya.” Ucap Darwin tanpa suara dan menggunakan gerakan tangan pada Leon membuat Leon mengeraskan rahangnya marah.


“Bianca, tunggu…,” Panggil Jerry pada Bianca yang terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.


“Bianca…," Hadang Jerry menghentikan langkah Bianca tepat tiba di luar pintu ballroom.


"Apa aku barang yang seenaknya di tukar? Apa aku alat barter hahh??!" Omel Bianca kesal.


"Kamu tidak paham? Darwin sedang mempermalukan Leon karena tidak bisa mengajari karyawannya untuk tepat waktu.


Dan dia sedang menghukummu."


"Menghukumku?" Tanya Bianca bingung.


"Dia tidak mengizinkan mu makan di kursi yang seharusnya, karena kau terlambat, dia ingin kau tahu kesempatanmu untuk makan bersama dengan orang yang kamu ingini sudah diambil orang lain."


"Apa? Ini pesta, bukan rebutan sembako!"


"Tidak peduli apa itu, ini adalah aturan keluarga Darwin Willson. Kau jangan salah paham pada Leon. Aku yakin dia tidak ingin kau terlantar jadi ia memilih kau duduk bersama Darwin. Lagipula, kau sudah berdandan secantik ini, sayang jika tidak dipamerkan kan?"


"Aku lebih baik pulang daripada makan bersama si brewok itu."


"Apa dia melakukan sesuatu padamu?"


"Sudahlah, aku kesal, aku mau pulang."


"Tunggu, aku akan memesan orang untuk mengantarmu pulang."


"Tidak usah Jerry, dia pulang bersamaku." Ucap Leon yang tiba-tiba sudah berada di samping Bianca dan merangkul pinggang istrinya, Jerry membelalakan matanya keheranan.


.


.


.


.


.


To Be Continue~