
Leon baru saja tiba sore itu dan dari bandara ia langsung menuju hotel, bahkan ia membuka satu kamar di hotel itu untuk beristirahat dan menghemat waktu. Ia ingin dan harus menghadiri acara perayaan Tuan Wijaya untuk bertemu para pengusaha dan memperluas koneksinya, ia juga mengajak Kimora untuk menemaninya.
Mata Leon menyipit saat memasuki ballroom dan melihat sosok yang ia kenal, meski pakaian dan riasannya berbeda, tapi ia masih mengenali tubuh dan gaya jalan gadis itu.
Rahang Leon mengeras saat menyadari Bianca berjalan bersampingan dengan seorang pria. Leon sengaja melangkahkan kakinya untuk menghadang Bianca dan Darren yang sedang berjalan menuju pintu keluar.
“Mau ke mana Leon?” Tanya Kimora menyadari Leon yang tiba-tiba berjalan ke arah lain, tapi diabaikan oleh pria yang dengan cepat sudah melangkah jauh itu.
Setttss… Tangannya dengan kencang mencengkram pergelangan tangan Bianca, sorot mata marah dan kesal terpancar dengan jelas. Ia masih lelah dan belum sempat tidur sekembalinya dari luar kota, dan sekarang ia harus menahan kesal melihat Bianca bersama pria lain.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Leon dingin. Bianca menatap mata itu dengan takut dan menunduk.
“Bukan urusanmu.” Jawabnya pelan.
“Siapa dia?” Tanya Leon lagi menuntut jawaban.
“Diaa…,”
“Ada apa Bianca?” Tanya Darren yang juga terhenti dan heran melihat Leon memegang tangan gadis itu.
“Anda…, Mr. Leon kan?” Tanya Darren yang terlihat senang mengenali Leon.
“Darren, ayo kita pergi.” Ucap Bianca dengan cepat menghempaskan tangan Leon dan menarik tangan Darren untuk pergi dari sana. Leon ingin mengejar tapi tertahan oleh Jerry yang seketika sudah di hadapannya.
“Ayo kita bicara di luar.” Ajak Jerry berusaha menenangkan.
Leon mengikuti Jerry yang berjalan mencari tempat sepi di luar ballroom. Sorot matanya masih menunjukkan ia tidak senang dan kesal karena Bianca pergi begitu saja.
“Siapa pria itu?” Tanya Leon dengan geram.
“Namanya Darren, keponakan Tuan Wijaya. Yang ku tahu dia sangat bisa diandalkan dan memegang kendali di beberapa perusahaan mereka. Bisa dibilang dia termasuk orang kepercayaan Tuan Wijaya.”
“Bagaimana Bianca bisa mengenalnya?” Tanya Leon masih kesal.
“Aku yang membawa Bianca ke sini.” Jawab Jerry dan mendapat tatapan tidak suka dari Leon.
“Papa mu, meminta ku membawa Bianca ke sini, dia ingin menjodohkan Bianca dengan Darren.”
“Apa? Jadi, sekarang pria tua itu mau menjadi mak comblang? Dia sudah bosan hidup, hehh..,” Keluh Leon kesal pada Papanya.
“Apa Papa juga memberitahumu kalau Bianca…,” Lanjut Leon bertanya memastikan dengan suara pelan.
“Belum, dia tidak mengatakannya apapun, dia mengakui Bianca adalah keponakannya.” Jawab Jerry cepat dan mengerti apa yang ingin Leon tanyakan.
“Baguslah, dia masih sadar untuk tidak mengakuinya, karena dia sangat ingin anak itu diakui di depan umum. Kau juga, aku memintamu membantu di perusahaan Papa, bukan mengurusi urusan pribadinya.” Sindir Leon sinis karena tidak suka melihat Jerry yang juga adalah rekan kerjasama Papanya, malah sibuk mengurusi perjodohan Bianca. Jerry hanya tersenyum kecil menanggapi emosi Leon.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Kimora yang berjalan menghampiri mereka.
“Kalian bicaralah, aku turun dulu, mau merokok.” Pamit Leon meninggalkan Jerry dan Kimora.
“Apa-apaan dia!” Gerutu Kimora yang kesal melihat Leon pergi saat ia baru saja menghampiri.
“Oh ya, aku ingin bertanya padamu tentang Leon.” Lanjut Kimora bertanya pada Jerry.
“Ada apa? Aku akan jawab jika aku boleh menjawabnya."
“Ishhh…, apa sekarang para pria juga punya rahasia seperti wanita, kenapa kalian penuh misteri begini.” Keluh Kimora sebal, Jerry terkekeh mendengarnya.
“Gadis mungil yang tadi, yang ada di ruang kerja Leon, ahh, aku lupa siapa namanya…,” Ucap Kimora sambil memikirkan nama yang ia maksud.
“Bianca…” Jawab Jerry dengan cepat.
“Ahh, Yaa…! Apa benar Leon menyukainya?”
“Dia mengatakannya padamu?” Tanya Jerry cepat, serasa tertarik membahas percintaan Leon.
“Tidak, aku hanya menebaknya. Sikap Leon selalu aneh saat ada gadis itu.”
“Maksudmu?”
“Ya, dia selalu bersikap dingin saat sedang berdua denganku, tapi sebaliknya, ia akan berpura-pura sangat ramah dan manis padaku saat ada gadis itu, seperti… ingin menarik perhatian dan membuatnya cemburu."
"Ku pikir kedatanganmu bisa membuat dia berubah pikiran atau mengalihkan perasaannya." Ucap Jerry terus terang dan merasa heran.
"Aku datang karena pekerjaan, bukan untuk berbalikan dengan Leon. Hubungan kami sudah lama menjadi teman. Aku tidak bodoh, aku juga tahu dan bisa merasakannya, Leon tidak menyukaiku lagi." Jelas Kimora menekankan jika hubungan dia dan Leon memang sudah berakhir sejak lama, dia juga tidak suka jika orang lain salah paham saat melihat keakrabannya dengan Leon.
"Dan tadi juga, kau lihat kan, dia tiba-tiba kesal dan marah melihat gadis itu, ku tebak dia cemburu melihatnya dengan pria lain.” Lanjut Kimora mengutarakan pemikiran pada Jerry dan tanpa merasa cemburu.
“Haha..., Leon gengsi untuk mengakui perasaannya. Aku kasihan pada Bianca, anak itu sungguh tidak bersalah.”
“Maksudmu?” Tanya Kimora keheranan. Sebelum menjawab, Jerry memperhatikan sekelilingnya yang sepi dan jauh dari orang lain, memastikan obrolan mereka tidak ada yang mendengarnya.
“Aku tidak seharusnya menceritakannya padamu, tapi ku rasa kau bisa menjaga rahasia. Bianca adalah anak yang diangkat Mr. Leo.” Jawab Jerry dengan suara pelan dan setengah berbisik di telinga Kimora. Mata Kimora membulat mendengarnya.
Jerry sendiri berani mengatakannya pada Kimora karena selama mengenal Kimora, wanita pekerja keras itu adalah orang yang bisa dipercaya dan tidak suka membicarakan orang lain apalagi menyebarkan gosip sembarangan.
“Apa??? Itu artinya bisa dibilang mereka adalah saudara…?” Tanya Kimora kaget. Jerry menggangukkan kepalanya mengiyakan.
“Leon salah paham padanya. Hubungan orangtua Leon sudah lama tidak harmonis, jauh sebelum Mr. Leo mengangkat Bianca. Tapi yang tertanam dalam otak dan memori Leon, kedua orangtuanya ribut karena kehadiran Susan, Mama dari Bianca. Saat Susan meninggal, Papa Leon mengangkat Bianca dan membuat Tante Bella dan Leon semakin membenci Bianca, dan akhirnya sering melampiaskan kesalahan padanya. Selama ini Bianca diperlakukan tidak adil dan selalu menjadi kambing hitam dalam keributan keluarga Demaind.”
“Bagaimana kamu bisa tahu dengan begitu jelas? Kenapa tidak mengatakan pada Leon kebenarannya supaya dia tidak salah paham dan terus menyalahkan gadis itu?” Tanya Kimora seakan ingin menuntut keadilan.
“Aku juga baru tahu saat mencari latar belakang Bianca. Aku rasa percuma memberitahu Leon sekarang, kau lihat sendiri, betapa keras dan tinggi egonya tidak mau mengalah dan mengakui perasaannya." Jawab Jerry kesal mengenang sikap Leon yang keras kepala.
“Kau benar, ini akan rumit. Leon tidak mungkin dengan gampang mengakui karena pikiran dan perasaannya membenci kehadiran gadis itu dalam keluarganya, apalagi dia adalah anak angkat Papanya dan pasti sulit menerima kenyataan itu, tapi..., satu sisi lain dia juga menyukai dan ingin memilikinya. Hmm...” Ucap Kimora ikut memikirkan nasib percintaan Leon yang tidak mudah.
“Iya..., karena itu aku ingin Leon merasakan sendiri prosesnya untuk menghargai Bianca, karena perasaan itu tidak bisa dipaksa.”
“Wahhh…!! Pantas saja Leon begitu menghormatimu, ternyata selain ahli dan bijak dalam pekerjaan, kamu juga ahli dalam hal cinta.” Puji Kimora takjub dengan ucapan Jerry yang terdengar bijaksana di telinganya sambil memberikan tepuk tangan pelan membuat pria itu tersenyum malu.
.
.
.
.
.
To Be Continue~