
Kleeekk... Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka. Bianca segera beranjak dari kasur setelah menghabiskan waktu dengan berbaring. Calvin masuk ke dalam kamar menghampirinya.
"Ada apa kau ke sini?" Tanya Bianca heran kenapa Calvin yang masuk bukannya Leon.
"Mr. Leon sedang rapat keluar, dia memintaku membukakan pintu untukmu."
"Ahh akhirnya... Aku bisa keluar..." Teriak Bianca bahagia.
"Jadi selama ini kamu adalah pacar Mr. Leon?" Tanya Calvin tersenyum menggoda Bianca.
"TIDAK! Aku mana tahu pria gila itu tiba-tiba menciumku." Gerutu Bianca kembali kesal dan menahan malu, wajahnya tersipu teringat kejadian di lobby.
"Tidak apa, akui saja. Aku sudah lama menduganya..."
"Sudah lama??"
"Emm.., terlihat jelas ada sesuatu di antara kalian."
"Sungguh, tidak ada apaun yang terjadi di antara kami." Sanggah Bianca dengan tegas.
"Jangan panik, aku tidak akan berpikir macam-macam." Ucap Calvin menenangkan.
“Sepertinya bossmu sedang kerasukan, kau lihat saja tingkahnya sangat aneh, tidak jelas dan berubah-ubah.”
“Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi aku bisa melihat dia peduli padamu.”
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya halus, mendengar apa yang Calvin katakan adalah hal yang mustahil.
“Dia bossmu, tentu saja kau membelanya.” Ucap Bianca memanyunkan bibirnya.
~ ~ ~
Malam harinya, Leon tidak pulang ke apartemen atau ke rumahnya. Bianca kaget saat mendengar pintu kamarnya dibuka seseorang, itu adalah Leon yang membuka pintu apartemennya tanpa izin. Gadis itu baru saja akan menikmati makan malamnya. Ia segera berdiri dari meja makan.
“Kenapa kau ke sini?” Tanya Bianca tampak kesal.
Leon melangkah menghampirinya, wajah pria itu terlihat dingin dan lelah, matanya menyorotkan kerinduan dan juga kepedihan.
“Ada apa? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?” Tanya Bianca yang menyadari Leon seperti sedang memiliki beban pikiran.
Leon menundukkan kepalanya, memperhatikan wanita di hadapannya yang menggunakan baju tidur terusan dengan rambut digulung ke atas, membuatnya terlihat sangat sederhana dan manis.
Leon mengusap pipi Bianca dengan jempolnya, Bianca bergidik merasakan usapan itu serasa menghantarkan aliran listrik, tubuhnya menegang. Leon memeluk Bianca dalam satu raupan tangannya.
“Heii… kau kenapa?” Tanya Bianca kebingungan dan berusaha mendorong Leon dari badannya.
“Begini…, sebentar saja, please…” Pinta Leon.
Bianca tidak menolak, dia pikir Leon mungkin sedang butuh ketenangan dan ia tidak berontak saat Leon membenamkan kepalanya ke lehernya yang sudah menjadi area kesukaan Leon.
Terciumnya aroma wewangian sabun bercampur aroma tubuh alami dari gadis itu, membuat Leon tak tahan untuk mengecup lembut dan menyisir pundak Bianca dengan jarinya.
“Leon…,” Panggil Bianca berniat memperingati pria itu untuk tidak melewati batas.
“Engg…,” Jawab Leon sambil terus melanjutkan kecupannya.
“Tidak boleh begini…,” Tegur Bianca menjauhkan tubuhnya dari bibir Leon.
“Kenapa tidak boleh? Lagipula kita akan segera menikah.” Jawab Leon terdengar santai.
Bianca menghela nafas kasar, lagi-lagi pria ini membicarakan pernikahan.
“Berita di kantor sudah menyebar ke mana-mana, Papa dan Mamamu mungkin sebentar lagi akan tahu. Kita harus menjelaskan kepada mereka sebelum mereka salah paham.” Usul Bianca.
“Papa dan Mama sudah menelfonku, secepatnya kita akan menemui mereka. Mengenai berita di kantor, tidak usah dipikirkan, aku sudah meminta beberapa temanku untuk menurunkan berita dari media sosial, paling cepat 24 jam.”
“Baguslah, jadi semua tidak salah paham tentang hubungan kita.” Jawab Bianca tersenyum lega.
Leon mengernyitkan keningnya, seulas senyum juga merekah di bibirnya.
“Siapa yang mau menikah denganmu? Berhenti membicarakan pernikahan karena itu sangat mustahil untuk kita!” Tolak Bianca kesal. Wajah Leon yang tadinya tersenyum berubah menjadi bingung.
“Ku kira tadi kau bilang orang tidak akan salah paham dengan kita karena kau sudah setuju menikah denganku.” Protes Leon. Bianca menaikkan bahunya.
“Kamu hanya menikahi ku karena rasa tanggung jawab, tapi tidak sungguh-sungguh menyukaiku. Dan kau sedang kalut, lihatlah, bahkan sekarang wajahmu terlihat lusuh meskipun kamu menggunakan jas mahal.”
Leon menghela nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya.
“Aku bahkan memutuskan menikahimu, meskipun aku tidak tahu, janin itu benar anakku atau bukan, tidakkah itu masih kurang membuatmu percaya?”
Mendengarnya seketika membuat Bianca menoleh memelototi Leon.
“Maksudmu? Kamu mau bilang kalau aku mungkin hamil anak orang lain??” Tanya Bianca berang.
“Yahhh… aku tidak tahu, mungkin kau dan Alex atau malam itu dengan Darren sudah…,”
“Astaga Leon! Kau pikir aku wanita seperti apa? Aku tidak sepertimu yang suka tidur dan bergonta ganti wanita! Aku sudah tahu ini hanya akan menambah masalah dan membuat kalian menghina harga diriku, karena itu aku putuskan aku akan menanggung semua ini sendiri tanpa melibatkan mu!” Tegas Bianca dengan marah.
“Tenang Bianca, jika benar itu memang anakku, tentu aku juga akan sangat senang.”
“Bagaimana kau bisa membicarakan pernikahan jika dari awal sudah meragukan ku? Untuk apa Leon? Berhentilah bermain dengan hidupku.” Pinta Bianca masih diliputi rasa marah.
“Bianca…,” Panggil Leon ingin berbicara tapi wanita itu sudah terlanjut kesal dan membuang muka.
“Jangan ganggu aku, pergilah, aku mau makan!” Bentak Bianca dan duduk dengan kasar di kursinya, menyuapkan sop ayam dan nasi yang tadi ia buat sendiri.
“Hmm…, apa kenyang hanya makan ini?” Tanya Leon melembut, berusaha mencairkan suasana.
“Aku juga lapar, aku akan pesan yang lain supaya kita bisa makan bersama.” Lanjut Leon sambil mengeluarkan handphonenya.
“Pesan ke tempatmu! Jangan makan di tempatku!” Bentak Bianca mengusir Leon.
“Bianca, hari ini aku sudah banyak beban pikiran, ku mohon jangan usir aku.” Pinta Leon tiba-tiba memelas.
Bianca menoleh melihatnya, memang pria ini jarang sekali terlihat lusuh dan tidak berdaya, sebenarnya ada apa dengannya malam ini?
“Ada apa denganmu?” Tanya Bianca penasaran, tapi Leon diam tak menjawab, seperti ragu untuk membuka mulutnya.
“Kau bisa cerita jika mau.”
Leon menarik kursi dan ikut duduk di meja makan. Bianca beranjak mengambil piring dan nasi untuk Leon.
“Lauknya tidak banyak, tapi seharusnya cukup.” Ucap Bianca menyodorkan piring berisi nasi kepada Leon, pria itu tersenyum senang, setidaknya ia mendapat sedikit perhatian dari wanita itu.
“Mama marah besar padaku…,” Ucap Leon lirih. Bianca baru akan menyuapkan nasi ke mulutnya dan terhenti mendengar ucapan Leon.
“Karena masalah di lobby?” Tanya Bianca ragu-ragu dan Leon mengganguk mengiyakan.
“Sudah ku bilang, apalagi jika kita menikah, itu akan membuat banyak masalah untuk keluargamu.”
“Aku akan membujuk Mama.” Jawab Leon tidak menyerah. Bianca menggelengkan kepalanya.
“Jangan memaksa keadaan Leon. Kau makanlah dulu. Nanti kita bicarakan.” Ucap Bianca mengakhiri.
Ia kasihan melihat Leon yang tidak bersemangat dan tampak tak berdaya menghadapi Mamanya, ia mengerti, Leon sangat menyayangi Mamanya dan ia tidak ingin membuat Mamanya kecewa.
.
.
.
.
.
To Be Continue~