Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 80~



Papa mengelus tangan Bianca dengan pelan, matanya memperhatikan wajah wanita yang sudah ia anggap anak sendiri itu dengan lembut.


Ia begitu menyayangi Bianca, anak itu terlalu baik, tidak pernah berulah atau membuat masalah. Baru kali ini, Bianca membuatnya tidak bisa berkutik.


“Nak… lama tak berjumpa, tapi kenapa Papa justru harus bertemu denganmu di sini…? Apa kau rindu dengan Papa, ingin Papa menemuimu heh??" Ucap Papa sedih.


"Kau cepatlah sadar nak, kita bisa makan dan pergi ke mana saja kau mau. Asalkan kau sadar dan kuat kembali... Papa menyayangimu Bianca... sangattttt sayang... Kau malaikat kecil Papa, sampai kapanpun tak akan tergantikan...," Ucap Papa kemudian mengecup kening Bianca yang masih belum sadar.


***


Tik tok tik tok...


Denting jarum jam terus berputar tanpa henti. Leon sedang duduk di kursi samping ranjang di mana Bianca terbaring. Ia belum tidur sejak semalam, terus terjaga tanpa membiarkan rasa kantuk dan lelah mengalahkannya.


Tangannya mengusap pelan tangan istrinya, memainkan jari-jari kecilnya dengan sayang.


Menjelang subuh tadi Bianca sempat tersadar sesaat, tapi kemudian kembali tertidur.


"Mr. Leon, Tuan Darwin masih ada di luar." Ujar Calvin yang baru datang lagi pagi hari ini.


Leon akhirnya keluar menemui Darwin yang sejak kemarin malam sudah berada di sana, tapi tidak ia hiraukan.


Darwin menunjukkan wajah bersalah, ada Madeline juga yang baru datang menemaninya di sana.


"Mr. Leon, bagaimana dengan Bianca? Aku ingin minta maaf padanya dan juga keluarganya. Aku... sudah melakukan hal yang tidak waras." Ucap Darwin bersungguh-sungguh.


"Kenapa kau menyakitinya? Dia salah apa padamu?" Tanya Leon dengan sorot mata marah.


"Aku kira dia menipuku..., padahal jelas-jelas dia bilang dia sedang hamil, tapi aku tidak percaya. Aku salah... Aku akan bertanggung jawab dan membayar biaya pengobatannya."


"Ini masalah nyawa, bukan biaya!" Bentak Leon geram.


"Leon jangan berlebihan..., Kakakku tidak tahu kalau Bianca sedang hamil, lagipula pasti perempuan itu yang merayu Darwin duluan." Bela Madeline.


"Hentikan Madeline, kau tidak tahu apa-apa!" Tegur Darwin.


"Hehh.., berlebihan kau bilang?! Kau ingin tahu siapa keluarganya?" Tanya Leon geram pada Madeline.


"Memang siapa keluarganya? Apa dia orang penting??" Tanya Madeline meremehkan.


"Coba kau tebak, jika anak yang dikandungnya adalah anakku..., maka siapa suaminya?"


"Apa???????" Tanya Darwin kaget.


"Jika anak yang dikandungnya adalah anakmu, maka suaminya seharusnya adalah ayah dari anak itu." Ucap Madeline berlagak pintar tapi belum menyadarinya.


"Kau dan Bianca adalah suami istri? Kenapa kami tidak tahu? Bagaimana mungkin, tapi perlakuanmu padanya...," Sambung Darwin masih dengan ketidakpercayaannya.


Mendengar ucapan Darwin, Madeline seketika menyadarinya.


"Apa??? Kau dan perempuan itu......?"


"Dan aku adalah ayah angkat Bianca...," Sela Papa yang muncul dari belakang mereka.


"Inii...." Ucap Darwin kebingungan.


"Aku tidak akan tinggal diam, kau sudah mencelakakan putri dan cucuku!" Ucap Papa geram dan marah.


"Tunggu dulu, bagaimana bisa dia adalah istrimu?" Tanya Madeline tidak terima dan tidak percaya.


Leon berdecih melihat tingkah Madeline yang sudah sangat memuakannya. Seorang pengacara menghampiri dan mendatangi mereka dan disambut oleh Calvin.


"Mr. Leon, Tuan Michael sudah tiba."


"Kebetulan sekali. Ini pengacaraku, aku akan menuntut kalian berdua."


"Berdua? Kenapa aku juga ikut terlibat? Aku tidak melakukan apapun pada wanita itu." Teriak Madeline yang kaget dan ketakutan.


"Pencemaran nama baik. Karena anda sudah mengaku-ngaku memiliki hubungan dengan Mr. Leon di depan publik." Jawab Calvin menjelaskan, ia ikut geram melihat tingkah Madeline yang sangat tidak tahu malu.


Darwin menarik tangan Madeline, berusaha menghentikan ocehan adiknya yang semakin membuat marah orang yang mendengarnya.


"Apa ada larangan dan kesalahan jika aku menikahi adik angkat ku sendiri. Aku menyukainya, tentu itu sangat mungkin. Yang menipu adalah dirimu sendiri, membuat berita aku memiliki hubungan, apalagi bermalam denganmu, cepat sadar dirilah." Jawab Leon tegas.


Madeline ternganga mendengarnya. Rasa malu menyerangnya.


Beberapa pria berseragam polisi datang menghampiri, Leon menyerahkan urusan itu pada Calvin dan ppengacaranya dengan bukti lengkap yang sudah dikumpulkan untuk menuntut dua Wilson bersaudara itu.


"Aku tidak akan melepaskan mereka." Ujar Leon saat melihat Darwin dan Madeline yang dibawa pergi oleh polisi.


"Bianca pasti tidak akan menyukai hal ini." Jawab Papa menghela nafas.


"Dia terlalu pemaaf bagi orang lain... ckck...," Leon memijat dahinya yang sedikit pusing karena kurang tidur.


"Kau pulanglah dulu untuk istirahat." Ucap Papa yang kasihan melihat penampilan Leon yang lelah dan kusut. Leon menggelengkan kepalanya.


"Paling tidak, tidurlah di dalam sebentar." Saran Papa lagi.


***


Bianca membuka matanya dengan perlahan, badannya terasa lemas dan masih nyeri di beberapa bagian.


Samar-samar Bianca melihat ke atap ruangan, ia masih di rumah sakit. Matanya menjelajahi seisi ruangan, ada Leon yang duduk memejamkan matanya di sofa tak jauh dari ranjangnya.


Pria itu baru saja terlelap setelah mandi dan berganti pakaian yang dibawakan Calvin untuknya.


Bianca menggerakan tangannya, mencoba menggapai tombol panggilan nurse call button.


"Enghhh...," Rintih Bianca yang berusaha mencari letak tombol.


"Kau sudah sadar... ada apa? Apa masih sakit?" Tanya Leon yang dengan cepat menghampiri begitu mendengar suara rintihan Bianca, ternyata dia belum tertidur.


"Aku lapar." Jawab Bianca dengan lemah.


Hari sudah siang, ia sudah terbaring tidur hampir 12 jam, sangat wajar jika ia lapar, apalagi setelah mengalami pendarahan.


Suster segera datang membawakan makan siang setelah Leon memanggil, Leon menata makanan itu dan membukanya satu persatu, dengan telaten dan sabar, Leon menyuapi dan merawat Bianca yang hanya bisa bergantung pada Leon saat itu.


Bianca ingin sekali berbicara banyak, tapi kepalanya masih pusing dan badannya masih tidak nyaman, terlalu malas untuk bertanya.


"Kenapa tidak mengatakannya padaku?" Tanya Leon sambil mengusap wajah Bianca dengan handuk basah setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Enghh?"


"Kau hamil. Kenapa tidak mau memberitahuku?" Tanya Leon dengan pelan tapi terdengar kekecewaan di sana.


Bianca diam sesaat. Ia bahkan belum tahu bagaimana nasib janinnya, ia sungguh merasa pasrah dan ikhlas setelah apa yang terjadi kemarin malam pada dirinya, ia masih sadar dan bangunpun sudah mukjizat baginya setelah melewati kritis semalam, membuatnya tidak berani berharap apapun.


"Apa... dia sela..mat?" Tanya Bianca ragu menatap mata Leon yang terlihat sendu dan sedih.


"Kau bahkan baru bertanya sekarang. Sepertinya kau sungguh tidak ingin hamil anakku. Huffhh...," Jawab Leon frustasi dan sedih.


Hati Bianca terasa campur aduk, ia merasa menyesal dan terenyuh melihat wajah kekecewaan Leon yang sangat mendalam, pria itu..., yang biasanya selalu meluap-luap, sekarang justru hanya pasrah dan tidak berdaya, belum pernah ia melihatnya begitu rapuh dan patah hati.


.


.


.


.


.


To Be Continue~