
Bianca kembali ke kantor setelah hampir 1 jam meninggalkan mejanya. Leon dan Kimora tidak ada di ruangan, mungkin sudah pergi, pikir Bianca.
Bianca seketika merasa sangat mual, ingin memuntahkan apa yang ada dalam perutnya. Bianca membuka pintu kamar tidur kantor, biasanya Leon tidak mempermasalahkan jika ia menggunakan kamar mandi kamar itu.
Bianca terkesiap dan kembali menutup pintu saat melihat ada orang di dalamnya. Leon dan Kimora ada di dalam sana, mereka sedang berdiri di tepian kaca.
Leon mengernyit heran melihat Bianca yang sekilas terlihat pucat. Leon membuka pintu dan Bianca sudah tidak ada di ruangannya.
"Hoekksss... Hoekksss...," Bianca memuntahkan semua isi perutnya di toilet karyawan. Seketika tubuhnya terasa panas dingin dan lemas.
"Hoekksss... hoekkks...," Muntahnya lagi, rasanya ingin ia menarik sendiri isi perutnya untuk keluar habis sehingga tidak memuntahkan apa-apa lagi.
"Bianca, apa kau baik-baik saja?" Tanya Tania, salah satu karyawan yang tahu Bianca sedang muntah di sana.
"Engg... Tolong ambilkan tas dan barangku, aku mau izin pulang, tidak kuat." Jawab Bianca sambil membuka pintu toilet.
"Baik, kamu tunggu di sini." Jawab Tania dengan cepat berlari dan mengetuk ruang kerja Leon, tapi karena tidak ada orang di dalamnya, ia langsung masuk dan mengambil tas Bianca.
"Mau ke rumah sakit?" Tanya Tania sambil menunggu taksi di lobby.
"Tidak, aku pulang saja. Terima kasih sudah membantuku." Jawab Bianca dengan sisa tenaganya.
"Kamu yakin pulang sendiri?"
"Tidak apa-apa." Jawab Bianca meyakinkan Tania.
Saat berada dalam taksi, Bianca menelfon Lara untuk membantunya membeli obat.
Suara ketukan pintu apartemennya membuat Bianca bangun dengan lemah, perutnya masih sakit dan terasa masih mual.
"Bianca..., apa kau baik-baik saja?" Tanya Alex saat pintu terbuka.
"Ahh, aku kira Lara."
"Dia menelfonku karena sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku sudah membeli beberapa obat untuk nyeri perutmu. Ini juga ada makanan. Ayo di makan dulu." Ucap Alex dengan cemas. Bianca menurut dan mematuhi apa yang Alex sarankan, ia juga tidak sanggup membantah, ia hanya ingin tidur karena badannya terasa sangat sakit dan lemas.
"Kenapa bisa sakit?" Tanya Alex prihatin.
"Sepertinya karena aku belum makan dan tadi aku minum kopi, jadi...,"
"Kenapa belum makan siang? Haisshh...," Omel Alex membuat Bianca manyun sedih.
"Maaf. Aku hanya kesal, nanti jangan diulangi lagi. Aku akan pergi setelah kamu tidur. Nanti sore aku akan ke sini lagi untuk mengecekmu."
"Tidak usah, aku sudah tidak apa-apa."
"Kali ini, tolong jangan menolak." Bujuk Alex lembut dan dijawab dengan anggukan kepala Bianca.
Leon terlihat gusar di ruangannya, sedangkan
Kimora sudah pergi setengah jam yang lalu dari kantor Leon. Ia sesekali melihat ke meja Bianca yang kosong.
Leon akhirnya keluar dan menuju ruangan Calvin, siapa tahu Bianca sedang berada di ruangannya.
"Ada apa Mr. Leon?" Tanya Calvin sigap. Leon melihat sekeliling, tidak ada Bianca di sana.
"Hmm, tidak, aku mencari Bianca, dia belum kembali sedari tadi."
"Bianca bukankah sudah pulang? Tadi Tania membantunya turun ke lobby." Jawab Calvin.
"Pulang?" Tanya Leon keheranan.
"Iyah, dia izin sakit. Saya kira Mr. Leon sudah tahu." Jawab Calvin.
"Sakit apa dia?" Tanya Leon mulai cemas.
"Yang saya tahu dia muntah-muntah di toilet tadi."
Mendengar jawaban Calvin, Leon langsung bergegas meninggalkan kantor dan mengendarai mobilnya menuju apartemen Bianca. Handphonenya berusaha menghubungi Bianca berkali-kali tapi tidak diangkat, sepertinya gadis itu sengaja mengabaikan telfonnya.
Leon berjalan cepat dan sesekali berlari menuju kamar apartemen Bianca, membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia punya. Matanya terkejut saat bertatapan dengan seorang pria yang juga terkejut dengan kedatangannya.
"Leon?"
"Alex? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Leon tidak senang.
"Mari bicara di luar." Ajak Alex dan Leon mengikutinya untuk keluar dari kamar. Wajah dan tatapan mata Leon masih sama, menunjukkan ia tidak suka Alex berada di sekitar Bianca.
"Bianca baru saja tertidur. Jangan menggangunya." Ucap Alex menasihati.
"Apa yang kau lakukan di sini? Di kamarnya?" Tanya Leon penuh selidik.
"Kau jangan salah paham. Bianca meminta Lara membelikannya obat, tapi Lara sedang sibuk dan meminta bantuanku, kebetulan pekerjaanku juga bisa ditinggal." Jelas Alex dengan jujur.
"Sepertinya kau sangat senggang hingga punya waktu mengurusinya." Sindir Leon sinis.
"Leon... Jangan kekanak-kanakan. Bianca dan aku tidak ada hubungan apapun. Aku membantunya sebagai teman." Alex berusaha menjelaskan untuk menghilangkan kesalahpahaman Leon pada Bianca, ia takut Leon akan mencari masalah lagi pada gadis yang sedang sakit itu.
"Aku masih bisa membedakan, tatapan mu yang memperlakukannya sebagai teman atau sebagai orang yang kamu sukai." Tegas Leon masih dengan nada sinisnya. Alex tersenyum kecil, meremehkan ucapan Leon yang baru saja ia dengar.
"Lalu, kau kira kami tidak bisa membedakan tatapanmu yang ingin memiliki dirinya? Setidaknya aku berani mengakui jika aku memang menyukainya dan memperlakukannya dengan baik." Aku Alex tanpa ragu.
"Maksudmu?" Tanya Leon yang mulai terpancing emosinya.
"Tanyakan saja pada dirimu sendiri, bagaimana perasaanmu dan apa yang sudah kau lakukan padanya. Jika kau tak sadar juga, maka, jangan harap kau bisa memilikinya!" Alex memperingati Leon dengan berani. Kilat matanya menunjukkan jika ia juga tidak takut menghadapi Leon. Mata Leon menyipit, menajamkan tatapannya pada Alex.
"Aku pergi dulu, ku harap kau tidak mengusiknya. Ia masih kesakitan." Ucap Alex memperingati dan berbalik bersiap melangkah pergi.
"Alex...," Panggil Leon dengan suara berat dan serius, Alex menghentikan langkahnya untuk mendengarkan.
"Gadis itu sudah *bekasku*. Apa kau masih tertarik?" Tanya Leon menekankan pertanyaannya, seakan ia butuh jawaban pasti.
"Aku tidak peduli ia bekasmu atau orang lain. Yang ku pedulikan adalah kebahagiaannya." Jawaban Alex yang di luar dugaan dan tidak peduli dengan masa lalu Bianca membuat Leon serasa semakin berang dan panas.
Leon menggertakkan giginya, kedua tangannya menggepal membentuk tinju. Ia tidak suka ada orang lain yang menginginkan Bianca.
"Apa yang sudah ia lakukan padamu hingga kau tergila-gila padanya? Apa dia juga sudah tidur denganmu, hehh?!!" Tanya Leon kesal.
"Bukan dia, tapi kau! Apa yang kau lakukan padanya, membuatku semakin ingin melindunginya."
"Katakan jika ia sudah tidur denganku, apa kau masih menginginkannya?" Lanjut Alex balik bertanya dan berhasil membuat Leon kaget mendengarnya.
"Tidak! Aku tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi bekasmu!" Jawab Leon cepat dan marah. Alex tersenyum mendengar jawaban Leon.
"Ku rasa sudah saatnya kau melepaskannya." Jawab Alex yang terdengar seperti menegaskan Bianca dan dirinya sudah tidur bersama.
Emosi Leon sudah berada di puncaknya, tak terbendung lagi, akhirnya ia melayangkan tinjunya ke wajah Alex, membuat sahabatnya terhuyung dan terjatuh ke belakang.
Alex yang terjatuh karena dipukul hanya terkekeh kecil, menertawakan sikap dan pikiran Leon yang terlihat bodoh di matanya.
.
.
.
.
.
To Be Continue~