
“Itu Bianca…,” Seru Calvin pada Leon yang langsung mencari sosok yang ia tunggu sedari tadi.
Leon dan Calvin yang sudah menunggunya dari beberapa jam yang lalu akhirnya bisa menghela nafas lega saat melihat Bianca melangkah memasuki lobby hotel dengan tersenyum bahagia sambil menenteng beberapa paper bag dan makanan, terlihat jelas ia baru saja selesai berbelanja.
Langkah Bianca melambat saat melihat Leon dan Calvin ada di lobby hotel dan juga ada Madeline, adik Darwin Junior di sana.
“Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Bianca kebingungan saat Leon menghampirinya dengan tatapan kesal.
“Kita bicara di atas.” Perintah Leon dan menarik tangan Bianca mengikutinya, membawa Bianca ke kamar hotelnya.
“Kau dari mana saja heh? Apa kau tahu kami dari tadi mencarimu?” Marah Leon melampiaskan kekhawatirannya.
“Aku pergi ke mana, apa pedulimu?”
“Kau pergi begitu lama, dan membeli banyak barang? Apa kau sedang liburan?”
“Dan pakaian apa yang kau gunakan, apa kau bercanda?” Tanya Leon yang tidak suka melihat Bianca menggunakan celana pendek dan atasan tanpa lengan yang mengekspos kulit putihnya.
“Aku hanya membeli keperluanku, apa aku salah? Kau bahkan tidak tahu betapa jauh aku berjalan untuk menukarkan uang kan, ketakutan sendirian di tengah jalan, tidak tahu mungkin tersesat atau tidak!"
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Jika kau tahu, apakah kau akan membantuku? Kau bahkan tidak peduli, karena aku hanya karyawanmu!"
"Aku wajib tahu ke mana karyawanku pergi."
"Urus saja urusanmu, urusi saja wanitamu tadi, tidak usah mengurusi ku!" Gertak Bianca kesal melangkah pergi dari kamar Leon.
Leon mengepalkan tangannya, wanita itu selalu bisa mengalihkan perhatiannya, membuatnnya marah, khawatir dan sekarang bahkan membuat diri dan kekayaannya serasa tidak berguna di mata istrinya sendiri.
Leon kesal memikirkan Bianca yang berjalan-jalan dengan pakaian minim itu dan mungkin saja sudah menggoda pria lain.
“Wanita ini benar-benar…,” Leon menuju pintu dan ingin segera menyusul Bianca, tapi yang ia dapati adalah Madeline di depan pintu kamarnya.
“Mr. Leon, apa kau menyambut kedatanganku? Aku bahkan belum menekan bell.” Goda Madeline tersenyum manis.
“Kenapa kau ada di sini?”
“Aku selantai denganmu, bahkan kamar ku di sebelah sana,” Jawab Madeline menunjuk pada kamar yang terletak di sebelah kiri kamar Leon.
Leon mengernyitkan keningnya, mengacakkan rambutnya ke atas, kepalanya terasa penat, ada apa dengan keluarga Darwin Wilson, kenapa adik dan kakaknya sama saja, suka menggoda dan mendekati orang.
"Hmm... maaf, aku sungguh sedang sibuk." Ucap Leon cepat lalu segera menutup kembali pintunya, membiarkan Madeline yang melongo kaget karena baru saja diabaikan.
Bianca kembali ke kamarnya dengan penuh emosi, padahal ia baru saja berjalan-jalan menenangkan dirinya.
“Dasar pria brings*k!! Dia sendiri membawa wanita ke sini, kerja apanya?? Bukannya dia sendiri sedang berlibur? Hari ini aku terus mengomel dan mengumpat, benar-benar sial sekali. Hufffhh….” Lampias Bianca tidak bisa menahan kekesalannya.
“Arrghhhh… semakin diingat semakin panas, rasanya ingin ku tenggelamkan dia ke kutub utara. Ehh, kenapa aku tidak berenang saja?” Ucap Bianca tiba-tiba bersemangat dan mengeluarkan beberapa baju yang ia bawa, tapi tidak mendapatkan pakaian yang cocok untuk berenang, apalagi baju yang ia bawa adalah hasil asal ambil.
Bianca melintasi restaurant dan berjalan menuju kolam renang, terlihat tidak banyak orang yang berenang di sana karena sudah menjelang makan malam.
Bianca memperhatikan sekelilingnya, kolam renang itu terlihat indah dan keren dengan pemandangan kota malam.
Bianca duduk di tepi kolam setelah meletakkan handuknya di salah satu kursi renang, terasa air yang dingin membuat kakinya kedinginan ditambah dengan angin malam yang bertiup menerpa kulitnya.
“Brrrrr… ini dingin.” Ujar Bianca kedinginan.
“Maaf Miss, jika ingin berenang tolong gunakan pakaian renang.” Tegur salah satu petugas pria yang sejak tadi berjaga di sekitar kolam renang dengan bahasa Inggris.
Petugas itu segera berbalik dan pergi saat Bianca akan membuka atasannya.
“Bagaimana ini, aku lanjut atau tidak? Airnya dingin sekali, tapi jika aku pergi sekarang pasti ditertawakan petugas itu.” Pikir Bianca menggigit bibirnya kebingungan dan melihat ke arah petugas pria tadi yang sudah kembali ke posisi ia berjaga sambil masih sesekali melihat ke arah Bianca.
“Ahh lupakan, tohh dia pasti sudah biasa melihat tubuh wanita lain.” Putus Bianca lalu membuka atasan dan celananya, melangkah perlahan dan menuruni tangga kolam, menenggelamkan tubuhnya yang putih dan kedinginan.
“Argghh, tadi tidak sedingin ini.” Ucap Bianca sambil memeluk dirinya sendiri. Dengan bermodalkan nekad, Bianca menenggelamkan kepalanya dan mulai berenang kecil di sekitar tepi kolam.
Bianca memperhatikan sekitarnya, beberapa pria dan wanita yang berenang terlihat santai dan keren saat berenang, kenapa ia justru sangat kedinginan dan terlihat memalukan dirinya sendiri.
“Mungkin aku belum terbiasa, coba lagi saja.” Batin Bianca lalu menarik nafas panjang dan kembali menenggelamkan tubuhnya, mencoba melakukan gerakan renang yang lebih bersemangat untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa semakin dingin.
Duuukkk...
Kepala Bianca terasa menabrak sesuatu yang kokoh tapi lembut. Ia segera menegakkan tubuhnya, mengusap rambutnya ke belakang, melihat ada apa di hadapannya dan apa yang ia tabrak.
“Apa kau bodoh?”
“Apa?” Tanya Bianca kaget, ternyata ia menabrak tubuh Leon yang sedang berdiri di dalam kolam.
Bianca terperangah kaget dan terpesona melihat wajah dan tubuh Leon yang basah oleh air.
Ya Tuhan, ia begitu menggoda…, Hei Bianca sadarlah, bukankah kau sudah melihat semuanya! Kenapa masih tergiur dan tergoda begitu?!
“Kenapa kau ada di sini?” Tanya Bianca kaget.
“Aku melihatmu dari atas.” Jawab Leon menunjuk ke arah kamarnya yang terdapat teras menghadap pemandangan kolam renang.
“Hmm…, baiklah, kau lanjutkanlah.” Jawab Bianca lalu langsung menenggelamkan tubuhnya, berniat melanjutkan berenangnya.
Byurrr… Srettt Srettt…
“Uhukkk… Uhukkk…, kau gila, kenapa tiba-tiba menarik ku?” Protes Bianca yang tersedak air karena Leon tiba-tiba menahan dan menariknya kembali.
“Mana mungkin aku melepaskan santap malamku yang begitu menggiurkan?” Tanya Leon dengan senyum menggoda dan melihat ke arah tubuh Bianca.
“Ahh?” Tanya Bianca polos, tiba-tiba lambat tidak menyadari maksud dari Leon dan mengikuti arah mata Leon yang menatap dadanya. Tangan Bianca dengan cepat menutup tubuh atasnya.
“Dasar mes*m!” Omel Bianca kesal dan langsung mendapat ciuman dari Leon.
“Hmm… Hmm…,” Bianca berusaha mendorong dan menolak Leon, tapi seperti biasa, Leon akan terus memaksa dan menekannya, mendekapnya semakin kencang dan tidak melepaskannya.
Ciuman panas di kolam renang yang dingin sangat sulit ia tolak, semakin lama semakin terasa nyaman dan menenangkan. Jantung dan tubuh Bianca berdesir saat jari Leon menyusuri punggungnya yang kedinginan di dalam kolam. Tentu saja Leon tidak berhenti hanya di situ. 💖💖
.
.
.
.
.
To Be Continue~