Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 56~



Leon baru saja tiba di apartemennya, ia melihat sekeliling apartementnya yang tampak kosong, tidak ada suasana kehidupan di sana. Bianca yang ia nantikan sudah berada di sana saat ia kembali juga tidak berada di sana. Hatinya yang tadi menggebu-gebu terasa lesu. Wanita itu belum juga bersedia menikah dengannya.


Ting Tong... Ting Tong... Ting Tong...


Suara bell yang ditekan dengan kasar menggagetkan lamunannya dan saat ia membuka pintu Mama sudah berdiri di sana dengan wajah dinginnya.


"Ma... Ada apa?"


"Mama sudah menunggumu kembali dan ingin menagih perkataanmu, kapan kamu akan membereskan anak tidak tahu diri itu?" Jawab Mama sembari masuk ke apartemen Leon.


"Bersabarlah Ma, aku baru sampai."


"Kamu sendiri sudah janji! Dan apa kamu tahu, saham Papa kamu yang seharusnya jadi milikmu sekarang sedang di urus untuk jadi hadiah pernikahan untuk anak itu!" Teriak Mama kesal.


"Kamu bilang ini untuk balas dendam, membantu mama melampiaskan kekesalan Mama kepada keluarga wanita j*l@ng itu, tapi kenapa Mama merasa justru kamu yang benar-benar jatuh hati pada anak har*m itu dan mengulur-ulur waktu?!”


"Maa... beri Leon waktu. Leon akan mengurus semuanya setelah ini, saham itu nanti akan jadi milik anak Leon juga Ma." Mohon Leon meminta pengertian Mamanya.


"Anak kamu?? Sampai kapanpun, Mama gak akan pernah sudi menerima perempuan itu dan anaknya!!"


“Ma… Leon janji, akan melakukan apa yang Mama mau. Leon harus menikahi Bianca dulu, supaya saham itu bisa kembali. Bersabarlah Maa…,” Jawab Leon terdengar memohon dan putus asa.


Ia masih sedih karena Bianca belum mau menikah dengannya, dan sekarang Mama sudah menuntutnya.


“Mama kasih kamu waktu tiga bulan.” Jawab Mama lalu melangkah pergi dari apartemen Leon.


Leon memijat kepalanya, membuka pintu kamarnya, ia butuh istirahat. Matanya melotot kaget, jantungnya hampir berhenti berdetak mendapati kamarnya penuh dengan balon dan hiasan yang bertuliskan I WILL MARRY YOU.


Seulas senyum merekah di wajahnya, akhirnya Bianca bersedia menikah dengannya, tapi sedetik kemudian...


Hatinya seketika remuk, mendapati wanita yang membuat hiasan itu sedang duduk di ujung ranjangnya dengan mata berkaca-kaca menatapnya kecewa.


"Biancaa....," Lirih Leon dengan pelan, tak tahu harus berkata apa. Ia yakin wanita yang ingin ia nikahi itu sudah mendengar semua pembicaraanya dengan Mama.


“Bagus sekali, kau sungguh tidak berubah… Semua ini, hanyalah salah satu permainanmu.” Ucap Bianca dengan sorot mata kecewa dan terluka.


Leon terdiam, bibirnya bergetar tak menyangka Bianca mendengar apa yang ia dan Mama bicarakan tadi. Ia tidak bisa membela diri lagi.


“Bianca…,” Panggil Leon ingin menjelaskan, tapi ia sendiri tidak tahu harus berkata apa.


“Mari kita selesaikan di sini.” Ucap Bianca dengan tersenyum getir.


“Aku akan keluar dari kantor, aku tidak akan menerima saham dari Papa dan aku akan pergi dari keluarga ini! Aku akan pergi dari kehidupan kalian! APA KAU PUAS?” Tanya Bianca dengan menahan air matanya yang sudah sedari tadi membasahi pelupuk matanya.


“Tidak Bianca. Kamu sedang hamil.” Mohon Leon takut kehilangan.


“Ah iya, kebetulan kau mengungkitnya. Kamu tenang saja, aku tidak hamil. Aku sudah memastikannya ke dokter, jadi kau tidak usah berpura-pura bertanggung jawab lagi.” Jawab Bianca dengan tegas dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, melemparkan kertas itu ke dada bidang Leon.


Leon dengan cepat memeriksa isi kertas itu, tertera nama Bianca Sallen dan hasil pemeriksaan yang menyatakan ia tidak hamil. Leon tersentak, Bianca tidak hamil? Ada apa ini?


Jika begini, ia bahkan tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan Bianca di sisinya. Seharusnya ia merasa lega jika Bianca tidak hamil, tapi kenapa rasanya ia begitu sakit dan kecewa.


“Kebohongan apa lagi yang kau katakan? Satu demi satu kebohongan yang keluar dari mulutmu, aku bahkan tidak tahu mana wujud aslimu? Semua terasa palsu Leon.” Jawab Bianca terisak tangis.


“Tolong berhentilah menyakiti dan mempermainkanku. Aku juga punya hati, perasaan dan hidupku sendiri. Jika hanya demi balas dendammu, kamu sudah menang Leon dan aku sudah kalah. Aku bahkan dengan bodohnya percaya kalau kamu benar-benar mencintaiku dan ingin menikahiku dengan tulus. Dengan bodohnya melakukan ini semua dan bersedia menikah denganmu. Kau menang Leon, kau sudah menang menghancurkan harga diriku, hatiku dan hidupku.” Lanjut Bianca melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya.


Bianca merasa dunianya hancur, saat ia bersedia memulai hidup baru dengan Leon dari awal, tanpa paksaan dan kehamilan, ia justru dihadapi dengan kenyataan pahit. Seharusnya dari awal ia sadar, Leon tidak akan pernah dengan tulus menerimanya, apalagi mencintainya.


“Bianca, aku mencintaimu, sungguh aku benar-benar mencintaimu.” Tekan Leon dengan mata memohon.


“Lalu kau pikir aku akan percaya? Hentikan omong kosongmu Leon, aku tidak ingin menjadi mainanmu.” Jawab Bianca lalu melangkah pergi. Leon menarik dan menahan tangan Bianca dengan kencang, rahang pria itu mengeras, wajahnya terlihat merah padam menahan marah.


“Kau boleh kecewa dan membenci ku, tapi aku tidak akan melepaskanmu.” Ucap Leon lalu menarik Bianca ke dalam pelukannya, menahan tengkuk leher wanita itu dan mencium bibirnya dengan kasar. Bianca berusaha meronta dan mendorong Leon tapi percuma, ia kalah jauh.


Bianca membuka mulutnya saat Leon memaksa, dan dengan sengaja menggigit bibir Leon hingga membuat pria itu menjerit dan melepaskan ciumannya.


“Akhhh…” Jerit Leon saat merasakan sakit dan bibirnya yang berdarah.


“Rasakan, itu tidak seberapa dengan sakit yang kau lakukan.” Bentak Bianca dan berusaha menghempaskan cengkraman Leon. Tapi semakin ia berontak, semakin kencang cengkraman Leon.


Pria yang beberapa waktu lalu berubah lembut itu, malam itu seketika berubah menjadi dirinya yang dulu, emosian dan kasar.


Leon menarik dan mendorong Bianca ke ranjangnya, tangan satunya mencengkram tangan Bianca ke atas, sedangkan tangan satunya sibuk membuka kancing kemejanya sendiri.


Leon melepaskan Bianca sesaat dan dengan cepat melepaskan kemejanya. Melemparkannya ke sembarang arah. Kedua kakinya bertumpu di kasur dan mengapit pinggang Bianca supaya wanita itu tidak kabur.


Leon memaksa Bianca menerima ciumannya, dengan kuat menahan kedua tangan Bianca yang terus memukul, mencakar dan menampar Leon. Kakinya yang meronta hanya terasa menendang angin, tidak bisa berbuat banyak karena diduduki oleh Leon.


“Hentikan Leon. Apa yang kau lakukan brings*k!” Umpat Bianca terus memberontak.


Rok yang Bianca gunakan sudah tersingkap ke atas, memudahkan Leon untuk menyentuh bagian sensitif wanita yang terkungkung di bawahnya itu. Bianca terkesiap dan menegang saat Leon memainkan jarinya di sana.


“Heiii…., hentikan…,” Bentak Bianca mulai melemas dan tidak kuat melawan.


Leon tersenyum saat Bianca melekukkan tubuhnya, wanita itu mulai menikmati permainannya. Leon memainkan l*dahnya dan Bianca tanpa sadar melenguh.


“Jika kau belum hamil, maka akan ku buat kau hamil sekarang.” Bisik Leon di telinga Bianca memberikan penekanan.


“Kau brings*k Leon!” Umpat Bianca meneteskan air matanya, ia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan kenikmatan yang Leon mainkan dengan perasaan terluka dan sakit hati.


.


.


.


.


.


To Be Continue~