Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 82: Stuck in your life forever, the ending!~



"Papa... Ayo buru... Sebentar lagi mau acara." Panggil Mama Bella menarik tangan Papa yang masih merapikan lengan jasnya untuk keluar kamar.


"Tunggu Ma..." Jawab Papa terburu-buru dengan tangan sibuk merapikan dasinya.


Tamu undangan ramai mendatangi rumah keluarga Demaind. Malam ini akhirnya dilaksanakanlah perayaan pernikahan Leon dan Bianca yang tertunda. Tadinya sesuai dengan permintaan Bianca, acara pernikahan mereka akan diadakan tertutup dan hanya orang terdekat.


Tapi Mama Bella sangat menyukai pesta, dan juga mustahil jika ia membiarkan pesta pernikahan anak satu-satunya dilakukan dengan sederhana.


Pesta dengan tema sederhana dan simple pun menjadi pesta yang ramai dan meriah. Ruang tamu, halaman depan, belakang, kolam renang dan taman, semua disulap untuk area pesta.


"Apa kau lelah?" Tanya Leon pada Bianca yang duduk di sampingnya, mencemaskan kondisi sang istri yang baru pulih sebulan yang lalu dan tidak ingin membuatnya kelelahan.


"Tidak, selama kalian senang." Jawab Bianca tersenyum tulus.


"Aku benci keramaian ini, membuang waktu saja. Rasanya ingin segera membawamu ke kamar...," Bisik Leon menggoda Bianca.


"Ishh... Jangan macam-macam. Ingat kata dokter..." Tolak Bianca tersipu malu.


"Aku tidak macam-macam, hanya ingin tidur berpelukan denganmu...," Jawab Leon menatap tulus dan tak hentinya terpesona dengan kecantikan Bianca malam itu.


Gaun putih lengan pendek di samping dengan leher bentuk V sedikit membelah dada, berhasil membuat Bianca tampak cantik seksi dan elegan malam itu.


"Seharusnya aku melarangmu menggunakan gaun ini."


"Apa jelek dan memalukan?"


"Tidak..., justru terlalu menggoda." Jawab Leon tampak risih dan tidak suka beberapa bagian tubuh Bianca yang terbuka dilihat pria lain.


"Kau yang terlalu protektif... Lagipula siapa yang mau dengan ibu hamil...,"


"Kau lupa heh?" Jawab Leon meringis mendengar ucapan Bianca, teringat kejadian di hotel waktu itu, yang membuat Bianca hampir keguguran, tapi karena itu pula hubungan mereka menjadi baik dan akur.


"Senang sekali melihat kalian akhirnya menikah. Setelah perjalanan panjang dan penyiksaan yang Bianca alami...," Sela Jerry menghampiri.


"Penyiksaan apa heh? Aku tidak menyiksanya, dia saja yang tidak mau menurut padaku." Elak Leon tersenyum bahagia.


"Dia tidak pernah seproktetif seperti ini sebelumnya, kau harus memanfaatkannya dengan baik Bianca...," Pesan Kimora yang menggandeng mesra tangan Jerry menggedipkan matanya pada Bianca.


"Jangan sampai kau salah bersikap lagi dan mendekati wanita lain, kali ini, kau akan habis." Peringat Jerry pada Leon bersungguh-sungguh.


"Heiii, jangan mengungkit kesalahan masa laluku. Itu juga terjadi karena kesalahpahaman dan emosi ku yang meluap-luap." Bela Leon.


"Tenang saja, dia boleh memiliki banyak wanita, tapi, kartunya ada di tangan ku...," Jawab Bianca terkekeh meyakinkan Jerry, ia tahu Jerry yang sudah menyayanginya sebagai adik sendiri, tentu saja dalam hati terdalamnya memiliki kecemasan melepaskannya ke tangan pria lain.


Sorak bahagia terdengar begitu meriah dan antusias saat Bianca melakukan pelemparan buket bunga. Sangat tidak disangka, Kimora yang mendapatkannya.


"Jerry Jerry Jerryy....., Ayo Jerry Choi, SEGERA MENIKAHI KIMORAAAA!!!" Teriak Alex, Jack dan Max bersamaan.


Jerry tersipu malu mendengar namanya disorak dan menjadi tontonan tamu lain.


"Hahhahaa..." Tawa Bianca senang sambil memegang perutnya, takut membuat terlalu banyak goyangan.


Leon tersenyum melihat Bianca yang tertawa lepas, semakin jatuh cinta setiap mengenal sisi lain pribadinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Apa kau begitu senang?" Tanya Leon.


"Tentu saja..., aku harap mereka segera menikah..., mereka terlihat sangat cocok..." Jawab Bianca jujur.


"Apa kau senang menikah denganku?" Tanya Leon lagi.


Bianca menatap Leon sebelum menjawab, memicingkan matanya.


"Apa harus ku jawab?" Bianca balik bertanya dengan senyum menggoda manis di bibirnya.


"Seharusnya aku menikahimu sejak awal...," Sesal Leon pelan.


"Hmm, benarkah kau ingin menikahiku? Kau bahkan tidak memberikan aku cincin saat kita menikah di catatan sipil...," Sindir Bianca halus sambil melihat cincin pernikahannya yang terpasang manis di jari manisnya.


"Karena aku tahu kau akan menolaknya..., aku menunggu kau menerimaku, dengan segala ketulusan dan kesiapan hatimu, lalu merayakan pernikahan kita dengan bahagia berdua, tanpa paksaan...,"


"Hah? Tapi kau menipu dan memaksa menikahiku." Protes Bianca lagi.


"Aku tak ingin kau pergi dan diambil orang lain. Hanya itu cara yang ku punya..."


Leon berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.


"Maaf untuk semua yang telah menyakitimu..., tapi sungguh, aku menyukai dan mencintaimu. Maaf jika aku menggunakan cara yang salah...," Ucap Leon bersungguh-sungguh menatap wajah dan mata cantik Bianca yang mulai berkaca-kaca karena tersentuh.


Leon mengusap air mata Bianca yang menetes bahagia, mengelus pipinya yang mulai berisi, merangkul pinggangnya, mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan bibir istrinya dengan penuh cinta dan sayang...


"Terima kasih..., sudah memberikan ku kesempatan memilikimu, one..., the only one... and forever..." Ucap Leon dengan mata turut berkaca-kaca, kemudian kembali mengecup mesra bibir Bianca yang tersenyum manis.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


***


Sinar matahari bersinar cerah menyinari, Bianca sedang berdiri dengan mata mencari-cari sesuatu di taman yang masih asri dengan pepohonan dan bunga.


"Ethannnn..."Teriak Bianca pada seorang anak berusia 3 tahun yang berlari padanya.


"Anaaaa...," Jawab anak laki-laki itu dengan imut menunjuk ke arah belakangnya. Hidungnya mancung, bibir kecilnya tampak merah alami dengan pipi chubby menggemaskan. Kulit putih susunya terlihat memerah karena diterpa sinar matahari pagi yang menyegarkan.


"Dia semakin aktif dan lincah, berlarian ke sana kemari...," Ucap Leon yang baru saja muncul setelah berlarian bersama Ethan, menghampiri dan memeluk Bianca yang menatapnya dengan sayang.


"Anak satu saja kau sudah kewalahan, bagaimana jika adiknya lahir?" Sindir Bianca sambil mengusap perutnya yang membuncit, Bianca sedang mengandung 5 bulan.


"Kau mau berapa anakpun, aku sanggup...," Jawab Leon tersenyum genit dan mengusap hidungnya ke hidung Bianca.


"Kau nakal...," Geram Bianca tersipu malu.


"Ethan... sinii... Biar nenek yang mandiin kamu...," Ucap Mama yang berjalan dengan Papa, memanggil cucunya.


"Aku mau sama mamiiiii...," Tolak Ethan manja.


"Aiyooo, coba lihat perut Mamimu... sedang mengendong adikmu, sangat berattttt... kasihan Mami mu..., sama nenek ya...," Rayu Bella dengan lembut.


Ethan yang penurut dengan mudah akhirnya menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri neneknya.


"Syukurlah keras kepalamu tidak menurun pada Ethan, Leon." Ucap Bella tersenyum bersyukur.


"Hahaha..., Mama senang punya banyak cucu?" Tanya Leon.


"Tentu saja senang." Jawab Bella sumringah.


"Mau beritahu Mama Papa sekarang?" Tanya Leon berbisik pada Bianca yang tersenyum mengiyakan.


"Kalian merahasiakan sesuatu?" Tanya Papa menatap curiga pada kedua anaknya, tawa bahagia Leon dan Bianca pecah melihat kedua orang tuanya penasaran.


"Apaaa? Ayo cepat katakan...," Pinta Mama tidak sabar.


Leon mengulum senyumnya, menarik nafas dalam, jantungnya berdebar tidak sabar mengumumkan kabar baik yang ingin ia sampaikan.


"Kalian akan punya dua cucu lagi..., kali ini laki-laki dan perempuan."


Hening sesaat... Kedua kakek nenek itu sedang mencerna maksud ucapan Leon.


"Apa?" Tanya Papa kaget bahagia.


"Kembar??? Bianca hamil kembar??" Sorak Mama tidak menyangka, terkesiap menutup mulutnya yang menganga kaget.


Leon dan Bianca tersenyum lebar menganggukkan kepala mengiyakan.


"Arghhhh... ini kabar baik Leon. Kabar sangat baik...," Ucap Papa terharu.


"Pestaaaa... kita harus adakan pesta...," Sorak Mama tidak bisa menutupi kebahagiaannya.


Leon dan Bianca tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya. Leon mengecup mesra kening Bianca, merasa sangat bersyukur ia menikahi wanita yang dibawa pulang Papanya itu.


"You are stuck in my life..., forever...," Bisik Leon pada Bianca.


"Yes, and you too...," Jawab Bianca menatap Leon dengan penuh cinta. πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


.


.


.


.


.




**Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada para pembaca yang sudah setia membaca dan mendukung Chapter 1 hingga akhir. πŸ™πŸ™**



**Stuck In Your Life Forever Happy Ending yeayhhh**!!



**Tetap di favorite kan ya, karena nanti akan penulis revisi dan tambahkan episode bonus \+ gambar visualnya... lagi hunting² karakter yang cocok.. 🀩🀩😍😍**



**Semoga pembaca suka dengan karya penulis yang masih banyak kekurangan dan perlu diperbaiki ini**...



**Dukung dan baca juga karya penulis yang lain** **yaahh**... πŸ’–πŸ’–



**Terima kasih dan salam sehat selalu... 😘😘**