Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 77~



“Apa kau tahu saat ini Bianca sedang meng...,"


"Biarkan saja dia Jerry...!!" Ucap Bianca sengaja, tidak ingin Jerry menyebutkan kehamilannya.


"Bianca... Bagaimana bisa kau di sini?" Tanya Jerry kaget, Leon dan Jack sama kagetnya. Leon refleks dan spontan mendorong wanita di pangkuannnya untuk menjauh, seperti reaksi seorang suami yang baru saja kepergok berselingkuh. Chelsea terlihat kesal dan pindah duduk di sebelahnya.


“Aku mengikutimu.” Jawab Bianca berusaha tenang, meski bibirnya sedikit bergetar dan mata menahan tangis.


“Cepat keluar, tidak baik kau berada di sini.” Tegur Jerry panik.


"Dia bebas melakukan apapun yang ia mau. Kau tidak perlu melarangnya. Aku justru senang, ia memiliki bantuan untuk memuaskan hasratnya yang tidak ia dapatkan dari istrinya."


Jack tersentak kaget mendengar Bianca mengucapkan kata istri. Apa dia tidak salah dengar? Itu artinya Leon sudah menikah?? Jack menoleh ke kanan dan kiri melihat Leon dan Bianca, menebak-nebak apa Bianca istrinya atau ada wanita lain?


“Kau keluarlah dulu, asap rokoknya tidak baik.” Pinta Jerry dengan sabar meski Bianca tidak menggubris arahannya.


"Dan satu lagi, Jerry, aku minta bantuanmu untuk mengurus surat perceraian kami secepatnya."


Jack kembali dibuat kaget mendengar ucapan Bianca barusan, perceraian kami…, artinya, Leon menikah dengan Bianca..., sejak kapan??? Pikiran Jack menerka-nerka menyimpulkan apa yang sudah ia lewatkan dari kehidupan temannya itu, ia bahkan tidak tahu Leon sudah menikah. Dan perilaku Leon saat ini bukannya termasuk sedang berselingkuh???


“Dia istrimu??” Tanya Chelsea tidak percaya Leon bisa memperistri seseorang seperti Bianca yang terlihat biasa saja di matanya.


"Tapi Bianca kau kan sedang...." Jerry yang menjadi panik berusaha membujuk dengan menggunakan kehamilan Bianca sebagai pertimbangan.


"Keputusanku sudah bulat." Jawab Bianca tegas tak ingin dibantah.


"Baik...! Kau yang meminta, kau akan menyesal." Ancam Leon marah, ia tidak suka mendengarnya. Dengan gampang sekali istrinya mengucapkan kata perceraian sejak pagi tadi, ia seakan sama sekali tidak berharga di mata Bianca.


"Menyesal??? Tidak akan!" Ucap Bianca lalu berbalik pergi meninggalkan mereka.


"Cihh... Sombong sekali dia, mentang-mentang menjadi istriku..." Gerutu Leon meremehkan.


"Kau yang akan menyesal Leon." Ucap Jerry dengan suara penuh kekecewaan memperingatkan Leon yang terpaku mendengarnya.


Ia biasanya mempercayai insting Jerry yang jarang salah. Jika Jerry mengatakan ia yang akan menyesal, maka kemungkinan besar itu benar.


Leon segera pulang tak lama setelah Bianca keluar dari club milik Jack. Bajunya acak-acakan, ia tidak mabuk, tapi bau alkohol dan asap rokok menyeruak dengan sangat tajam saat pria itu memasuki kamar tidurnya.


Bianca baru saja menyelesaikan mandinya, sekalian menumpahkan tangisannya di sana. Ia mengusap-usap rambutnya yang setengah basah dengan handuk.


Melihat Bianca yang sudah menggunakan pakaian tidur satin, membuat Leon yang di bawah pengaruh alkohol mudah terpancing.


Pria itu menarik tangan Bianca dan berusaha menciumnya.


"Apa yang kau lakukan Leon?" Teriak Bianca kaget dan membuang mukanya.


Leon menahan tubuhnya, membuat Bianca tidak leluasa bergerak. Pria itu menatap dengan semangat, seakan Bianca adalah santapan makan malamnya yang lezat.


“Aku akan anggap hari ini tidak terjadi apapun…,” Ucap Leon ingin berbaikan, ia tentu saja tidak sanggup kehilangan Bianca, dengan susah payah ia menikahi dan mengikatnya untuk selalu berada di sisinya, mana mungkin ia akan langsung melepaskannya begitu saja.


Leon menghirup aroma tengkuk Bianca yang sangat wangi. Mengecup pelan dan lembut. Bianca mengalihkan wajahnya saat Leon kembali berusaha mencium bibirnya.


Pria itu menggeram saat merasakan penolakan, lagi!


"Hentikan!" Desis Bianca.


“Kau menolakku?” Tanya Leon dengan suara berat. Bianca sedikit terbatuk saat dirinya tak sengaja menghirup aroma alkohol dan asap rokok dari tubuh Leon.


"Kau lupa? Kau baru saja mencumbu wanita lain, bahkan kau belum… mencuci dirimu." Jawab Bianca melihat Leon dari atas ke bawah, seakan menilai penampilan kacau Leon yang baru saja berselingkuh di depan matanya.


“Hmm…, baiklah aku akan mandi dulu.”


“Percuma, aku akan tetap jijik padamu.” Jawab Bianca tegas dan berani.


Rahang leon mengeras seketika, matanya menatap tajam mematikan. Bianca sudah memancing emosinya.


“Arghhhh!! Kenapa kau sama sekali tidak menurut padaku? Kenapa susah sekali berbicara baik-baik denganmu? Apa aku sama sekali tidak berharga di matamu??” Teriak leon kesal.


Bianca beringus kaget sesaat melihat Leon berteriak. Dia langsung mendorong Leon untuk menjaga jarak dengannya.


“Tentu saja bukan begitu…, justru akulah yang tidak berharga dan tidak pantas di matamu.” Jawab Bianca sengaja merendahkan dirinya sendiri lalu terburu-buru mengambil langkah menuju pintu.


Leon dengan cepat menahan tangannya.


“Tidur.”


“Aku belum selesai.” Ucap Leon masih dengan penuh kekesalan.


“Kau belum lelah?Apa tadi tidak puas dilayani wanita milikmu, si Chelsea itu?” Sindir Bianca kesal.


Leon tiba-tiba tersenyum, Bianca mengerut kening melihatnya, ada apa dengan pria ini, apa ia sudah mabuk???


“Kau cemburu?” Tanya Leon percaya diri.


“Kau tidak bisa bedakan? Sikapku saat ini cemburu atau merasa jijik?” Jawab Bianca penuh penekanan di kata jijik dan segera melangkah pergi dari kamar itu sebelum Leon kembali marah dan berteriak.


Leon menatap kepergian Bianca dengan murka, ia membuka kasar kemejanya dan menguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin di bawah shower. Ia butuh ketenangan dan mendinginkan kepalanya.


***


Setelah kejadian kemarin di Club, perubahan sikap Bianca semakin dingin, ia bahkan malas melihat dan bertatap wajah dengan Leon. Bianca memilih berpura-pura tidur saat Leon melintasi ruang tamu.


Leon menatap kesal seisi ruangan apartementnya yang kosong, tidak mendapati Bianca yang sudah berangkat bekerja sebelum ia bangun. Leon tahu Bianca sedang menghindarinya.


Leon mengingat kejadian kemarin, masih terlintas dengan jelas bagaimana raut wajah kecewa Bianca saat melihatnya memangku Chelsea.


“Sial*n!!,” Umpat Leon memarahi dirinya sendiri, tidak seharusnya ia melepaskan penatnya ke Club kemarin, apalagi hingga terayu dengan wanita lain, meskipun ia masih sadar dengan batasannya.


Leon mengacak-acakkan rambutnya, imagenya di mata Bianca sudah cukup buruk dan dia sedang menambah keburukannya sendiri.


Leon melangkah melewati ruangan kantor karyawan, wajahnya terlihat suram meski pagi itu matahari bersinar hangat dan menyegarkan.


“Mr. Leon, saya sudah aturkan jadwal anda Sabtu ini, sekitar pukul 7 malam di Hotel StarX.” Lapor Calvin saat Leon sudah memasuki ruangannya.


“Hmm…, minta Bianca untuk hadir juga, dan urus dandanan dia dengan cantik dan wah, aku akan mengumumkan pernikahan kami, gosip di luar sudah terlalu sembarangan.” Jawab Leon dengan tegas, ia sudah memikirkannya dengan matang, ia akan mengakui keberadaan Bianca di depan umum meskipun wanita itu pasti menolak dan marah.


“Baik Mr. Leon.” Jawab Calvin kemudian pamit kembali ke ruangannya.


***


“Kau baik-baik saja?” Tanya Jerry pada Bianca yang sesekali menguap, mata wanita itu terlihat sedikit sembab.


“Aku baik-baik saja. Oh ya, jadi kira-kira kapan kau bisa memberikan surat pengajuan perceraian kami?”


“Bianca…, bukan begini cara menyelesaikan masalahnya. Aku yakin Leon hanya stress dan kehilangan kendalinya untuk sesaat.”


“Heyy…, kau lihat dia kemarin, dia tidak terlihat seperti kehilangan kendalinya untuk sesaat. He enjoyed it!!” Jawab Bianca kekeh dengan keinginannya untuk bercerai.


“Dia tahu batasannya, dia tidak akan macam-macam. Buktinya dia tidak mengusir Jack yang ikut berada dalam 1 ruangan dengan mereka di sana. Percaya padaku kalau saat ini dia sedang menyesalinya.” Nasihat Jerry berusaha bijak meski dalam hatinya sedang mengutuk perbuatan Leon. Pria itu sudah bertindak di luar nalar.


“Satu lagi, tadi Leon menelfonku, dia meminta kau kembali ke kantornya.”


“Tidak mau, aku lebih nyaman dan leluasa di sini. Kau bisa memperkerjakanku, aku bisa bekerja sebagai apa saja.”


“Ayolahhh…, kau seperti ini hanya karena sedang marah. Jika begini kalian tidak bisa menyelesaikan masalah kalian.”


“Coba kau sebutkan, masalah kami yang mana yang benar-benar terselesaikan? Tidak ada! Yang ada hanya menambah masalah terus.”


“Jangan begitu…, beri dia kesempatan. Hmmm…, jika kau masih belum mau pindah tidak apa-apa. Sabtu ini ku dengar dia akan mengadakan konferensi pers, paling tidak hadirlah…,”


“Tidak mau, tidak ada urusannya denganku.” Jawab Bianca sebal karena Jerry berpihak pada Leon.


“Aku akan mengantar dan menemanimu ke sana, bagaimana?” Tawar Jerry berusaha membujuk.


.


.


.


.


.


To Be Continue~