Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 46~



"Hmm, baiklah, kau sekamar dengan Bianca saja, biar aku yang bertiga dengan Jerry dan Alex."


"Tidak, lebih baik aku sekamar dengan mu."


Jawaban Leon berhasil membuat suasana yang tadinya menyenangkan berubah menjadi canggung.


Semua raut wajah tadinya tersenyum langsung menjadi datar, apalagi Bianca yang mukanya sudah berubah menjadi kesal.


Si*l, Leon mendepaknya di depan yang lain, tentu saja Bianca kesal dan harus menahan malu. Begitu terlihat jelas Leon tidak ingin dirinya ikut mereka berlibur.


"Apa??" Tanya Kimora kaget dan tidak percaya, jelas-jelas ia sudah membuka jalan untuk Leon dan Bianca, tapi pria itu malah menolaknya mentah-mentah. Ada apa dengan Leon, Kimora mendadak kesal padanya.


"Eheemm...," Suara yang lain berusaha mencairkan suasana, karena jawaban Leon terasa mengasingkan Bianca.


“Jangan menyesal memilih sekamar denganku.” Ancam Kimora memperingatkan.


“Siapa yang menyesal? Lagipula kita bukan pertama kalinya sekamar kan…,” Jawab Leon santai.


Bianca mengernyit kesal, pria ini sungguh brengs*k, entah berapa wanita sudah ia tiduri, dan si*lnya salah satunya adalah dirinya.


Wajah Kimora merah padam mendengarnya, tujuannya mendekatkan Bianca dengan Leon, kenapa malah Leon bertingkah sebaliknya dan membawa-bawa masa lalu mereka. Jika begini, bukannya ia menghilangkan kesempatannya sendiri untuk mendekati Bianca?


"Tidak apa Kimora, Bianca bisa sekamar dengan kami jika dia tidak keberatan." Jawab Jerry ingin menguji Leon.


"Aku tidak keberatan kok, justru aku senang karena kalian menerimaku." Jawab Bianca balas menyindir Leon dengan halus.


Air muka Leon seketika berubah menjadi tegang mendengarnya. Bianca malah menyerahkan diri untuk sekamar dengan Jerry dan Alex tanpa penolakan sama sekali.


Leon melihat Alex yang tersenyum menatap Bianca, teman baiknya itu terlihat jelas menyambut kehadiran Bianca di kamarnya.


Kimora yang membaca situasi dan suasana hati Leon dengan cepat memutuskan.


"Baiklah jika begitu, aku akan sekamar dengan Leon. Bianca juga lebih aman bersama Jerry dan Alex." Putus Kimora dengan yakin.


Leon mengernyitkan dahinya, sejuta protes terlihat di wajahnya tapi tak terucapkan di bibirnya.


"Ayoo, kita bereskan barang dulu." Ajak Jerry membubarkan perkumpulan setelah menerima kunci dari petugas hotel yang mengantarkan.


Leon masih berdiri di tempatnya, ia merasa kesal jawaban asalnya justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Matanya menatap Bianca dari kejauhan yang asyik berbincang dengan Alex menuju kamar mereka.


Pikirannya membayangkan Bianca tidur di kasur yang sama dengan Alex, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal.


Leon memasuki kamar penginapannya. Kimora sedang membuka kopernya di sana. Penginapan yang ia pesan itu, meski satu kamar tapi memiliki kasur perorangan dan terpisah.


Leon membantingkan koper yang ia bawa ke dalam kamar dan berkecak pinggang. Kimora terlonjak kaget mendengarnya, tapi ia tahu Leon sedang kesal.


“Ada apa denganmu? Tidak suka sekamar denganku? Kau tidak menyesalkan?” Tanya Kimora menyindir Leon.


Pria itu seperti terbakar jenggot, terlihat jelas di wajahnya yang kesal dan sesekali menggertakan gigi, perilakunya tampak gusar.


“Aku tidak menyesal, lagipula tidak akan terjadi apapun pada kita.” Jawab Leon tegas dan dingin.


“Baiklah, aku ganti baju dulu.” Jawab Kimora tidak peduli dan berlalu masuk ke kamar mandi.


Siang itu mereka akan makan siang bersama di tepi pantai. Sesuai dengan permintaan Kimora, pihak resort sudah menyediakan empat tikar di tepi pantai dengan payung besar di atasnya.


“Jerry, foto kami!” Teriak Max saat Jerry baru menghampiri mereka di salah satu tikar yang tergelar.


“Baiklah, bergayalah sepuasnya, akan aku foto dengan bagus.” Jawab Jerry sambil menerima kamera yang disodorkan oleh Max. Jack dan Max memasang gaya dan berganti pose sesuka hati dan sebanyak-banyaknya.


Meski terik matahari masih menyengat dengan tajam dan silaunya, tak menyurutkan keinginan mereka untuk berfoto ria dan dengan sabar Jerry meladeni mereka.


“Kau menungguku?” Tanya Bianca tersenyum.


“Iyah, ayo kita ke sana juga.” Tunjuk Alex ke arah teman-temannya yang sudah berkumpul.


Selain Jack, Max dan Jerry, juga sudah ada Leon di sana, duduk di satu tikar bersebelahan dengan Kimora yang menggunakan dress sabrina dengan model rok panjang terbelah berwarna kuning cerah. Gaun pantai itu membuat kedua bahunya tampak terbuka elegan dan menunjang kakinya yang jenjang, terlihat seksi dengan bentuk badan yang ideal.


Seketika Bianca menatap iri pada Kimora, wanita itu seperti memiliki segalanya, sempurna tanpa cela, tak heran jika Leon tergila-gila padanya. Berbeda dengannya yang biasa-biasa saja. Bianca meringis membandingkan dirinya dengan Kimora.


“Bianca, duduk di sini.” Ajak Alex menepuk-nepuk tikar yang baru saja ia duduki.


Leon yang menyadari kehadiran mereka tampak semakin kesal. Bianca tak sengaja bertatap mata dengannya saat akan mendudukan tubuhnya dan pria itu membuang muka tak suka melihatnya.


“Aku tak peduli…,” Batin Bianca cuek.


“Ahh, Alex ayo ke sana juga. Temani akuuu…” Kimora tiba-tiba menghampiri Alex dan dengan sengaja menarik tangan pria itu untuk berjalan ke pantai menghampiri yang lain. Ia sedang membuka peluang untuk Leon.


“Baiklah, pelan-pelan sedikit, nanti jatuh.” Jawab Alex meladeni Kimora. Tersisalah Leon dan Bianca yang duduk di tikar, membuat suasana mereka menjadi canggung dan kaku.


Bianca tak tahan duduk sendiri, ia dapat merasakan mata Leon yang sesekali menatapnya tajam. Bianca beranjak dari duduknya, ikut bergabung dengan teman-temannya.


“Bianca ayo foto bersama. Jerry foto kami juga…” Ajak Alex semangat dan dengan santai merangkul bahu Bianca.


“Heii, kami belum selesai…” Teriak Jack protes saat Jerry akan beralih memotret Alex dan Bianca.


Angin yang bertiup kencang membuat semua tertiup, rambut Bianca yang terurai bebas menutupi wajahnya.


"Tunggu dulu, hahahaa...," Tawa Alex gemas melihat Bianca dengan rambut kacau tertiup angin, tangannya turut membantu merapikan rambut itu dan menahannya.


"Apa begitu lucu?" Tanya Bianca memanyunkan bibirnya.


Dari lensa kameranya, Jerry dapat melihat Leon yang duduk sendiri dengan wajah marah menatap ke arah mereka. Sedangkan bibir Jerry tersenyum kecil menikmatinya.


Kimora kesal melihat kedekatan Alex dan Bianca, apalagi Leon hanya duduk di bawah payung tanpa melakukan apapun. Seperti patung hidup yang sedang cemberut. Sungguh, ia merasa niatnya mengadakan liburan itu akan sia-sia.


“Aku tidak tahu otak mu bisa memikirkan hal begini juga, kau sengaja kan membuat kami berkumpul demi memberi Leon kesempatan dengan Bianca?” Tebak Jerry saat berjalan bersebelahan dengan Kimora untuk berteduh.


“Aku sebal melihat mereka tarik ulur tidak jelas. Tapi siap sangka Leon akan bicara begitu, membuat semua orang salah paham pada kami. Dan sepertinya ini semua akan sia-sia." Gerutu Kimora yang masih kesal dengan pasrah.


“Oh ya, kenapa kau tidak bilang padaku kalau Alex juga menyukai Bianca?” Ucap Kimora bertanya pada Jerry dengan setengah berbisik.


Dengan sekali lihat saja, Kimora bisa menebak Alex memendam rasa pada Bianca, karena tatapan dan kelembutan Alex sangat beda memperlakukan gadis itu.


“Aku lupa memberitahumu, hehe…,” Kekeh Jerry.


“Dan kenapa kau mendukung Leon dengan Bianca, bukannya Alex lebih baik?”


“Aku tidak mendukung siapapun, aku hanya ingin Leon memperlakukan Bianca dengan baik. Sedangkan Alex, ia sudah ditolak oleh Bianca.”


“Apa? Pria sebaik Alex ditolak? Dan dia masih menyukainya? Wahh… gadis ini sungguh tidak main-main.” Ucap Kimora takjub dan kagum.


.


.


.


.


.


To Be Continue~