Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 25~



Pukul 06.00 pagi, bunyi alarm membangunkan Bianca dari tidur nyenyaknya.


"Hoaammm... ahh, ngantor lagi ngantor lagi." Keluh Bianca beranjak dari kasurnya dengan malas-malasan. Ia membasuh wajahnya dengan air di wastafel.


"Hmm, ngapain ke kantor, kan udah keluar dari kantor Leon." Ucap Bianca yang seketika sadar kalau ia sudah pengangguran. Bianca tersenyum menuju kasurnya kembali.


"Yeayyy, bisa lanjut tidur..., " Teriaknya kegirangan dan membantingkan badannya ke kasur.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11, Leon terlihat gusar dan sesekali mengecek jam tangannya. Ia berjalan dan duduk di meja kerja Bianca yang kosong. Tangannya dengan cepat mengklik-klik tombol mouse, matanya menyipit saat melihat tampilan yang muncul di layar komputer.


Tampilan website salah satu aplikasi lowongan kerja terpampang dengan jelas, Leon membuka riwayat browsing komputer itu dan ternyata penuh dengan riwayat mencari pekerjaan.


"What? Yang ia lakukan selama ini adalah ini?" Protes Leon kesal menemukan fakta Bianca sudah berusaha ingin pindah kerja sejak pertama kali masuk ke kantornya.


Leon meminta Calvin mengantarkan dokumen yang dimasukkan ke dalam amplop coklat kepada Bianca. "Antarkan sekarang juga." Perintah Leon tegas. Dengan kecepatan penuh, Calvin melaksanakan tugasnya.


"Apa ini?" Tanya Bianca bingung saat sudah menerima amplop yang baru saja ia terima dari Calvin. Ia pun membuka amplop itu, mengeluarkan isi yang terdapat di dalamnya. Mata Bianca seakan ingin keluar dari tempatnya.


"Apa-apaan ini?" Tanya Bianca panik.


"Lima puluh juta? Dan foto ini...?" Tangan Bianca bergetar memegang selembar kertas keterangan jumlah pinaltinya dan selembar foto di mana ia yang sedang tertidur di kamar Leon.


Yang membuat dia tak habis pikir adalah posisi tidur di dalam foto tersebut, terlihat ia memeluk lengan seorang pria, dengan beberapa kancing kemejanya terbuka. Bianca membalikkan foto itu dan terdapat pesan yang tertulis,


"Coba bayangkan jika foto ini tersebar ke tangan Papa atau... media?"


Jelas-jelas Leon sedang mengancamnya dan berusaha menekannya. Ia yakin orang di foto itu adalah Leon sendiri yang entah kapan tanpa ia sadari telah mencuri kesempatan.


"Arghhhh! Leon brengs*k brengs*k!!" Teriak Bianca marah. Leon pintar sekali memainkan taktiknya. Dalam foto itu ia bahkan hanya menyisakan lengannya, sehingga membuat orang yang melihatnya pasti bertanya-tanya dengan siapa Bianca tidur.


Kepalanya tiba-tiba terasa sakit dan berdenyut. Tangannya mengapai handphone dan menghubungi Leon. Tidak terjawab. Ia memanggil lagi. Tidak terjawab lagi. Dan Bianca menghubunginya 5 kali tapi tidak Leon angkat bahkan di decline olehnya. Itu artiny Bianca harus datang dan menghadap Leon langsung.


Bianca segera mengganti pakaiannya, tangannya dengan asal mengambil sebuah minidress navy tanpa lengan dan sependek lutut. Rambutnya ia kuncir kuda. Tak lupa Bianca mengecek buku tabungannya dan dengan terburu-buru menaiki taksi menuju kantor.


Tak butuh waktu lama, Bianca sudah berada di lift menuju kantor Leon berada. Tangannya memegang erat amplop yang tadi ia terima. Bianca segera melenggang masuk ke kantor tanpa menyadari penampilannya yang terlihat berbeda dan terbuka saat itu menarik perhatian karyawan lain.


“Bianca, ada apa datang ke sini?” Halang Calvin yang kebetulan melihatnya datang.


“Aku ingin bertemu Leon untuk membahas ini.” Jawab Bianca terus berjalan tanpa memperdulikan Calvin yang berusaha menghadangnya.


“Jangan sekarang Bianca, Leon sedang…” Terlambat, peringatan Calvin terhentikan karena Bianca tanpa permisi sudah membuka pintu ruang kerja Leon.


“Leon, apa maksudmu…” Serbu Bianca yang kemudian terkesiap malu karena ternyata Leon sedang bersama dengan dua pria bule.


Leon dan kedua tamunya terkejut melihat kelancangan Bianca di tengah obrolan mereka, tapi mereka lebih tertarik dengan penampilan Bianca yang terlihat manis dan polos saat itu. Leon meneguk ludahnya melihat bahu dan kaki putih Bianca yang banyak terekspos.


“Sorry…,’’ Pamit Bianca pelan dan merasa tidak sopan.


“Tidak apa-apa, masuklah.” Jawab salah satu bule itu tersenyum manis.


“Masuklah dan duduk di mejamu.” Perintah Leon berusaha bersikap tenang.


Biancapun menurut dan duduk di mejanya. Ia kira pertemuan itu tidak akan lama lagi, ternyata ia masih harus menunggu selama setengah jam, sesekali Bianca menguap, memainkan handphonenya dan ia merasa lapar karena belum sempat makan siang.


"Bodoh sekali, seharusnya tadi aku makan dulu." Batinnya dalam hati.


"Leon, seharusnya kau memperkenalkan kami jika punya kenalan semanis ini." Ucap bule yang tadi mempersilahkan Bianca masuk. Wajahnya manis dengan brewok halus keemasan, senada dengan warna rambutnya yang alami.


"Tidak, dia wanita baruku. Kau tidak boleh mengenalnya, bahkan menyentuhnya." Jawab Leon tenang sambil tersenyum. Bianca mengernyit, memastikan dirinya tidak salah dengar.


"Wanita baruku?? Siapa? Aku? Hoeksss... rasanya ingin muntah." Batin Bianca kesal.


"Sayang sekali, padahal dia tipeku. Hubungi aku jika dia kosong." Jawab bule itu tersenyum menggoda Leon. Leon balas tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya halus.


Leon segera kembali ke ruangannya setelah mengantar kedua rekan kerja bulenya pergi dari kantornya. Wajahnya terlihat dingin dan kesal, mata ramah yang ia tampilkan di depan temannya tadi telah berubah menjadi hitam kelam dan menusuk.


"Ikut aku!!" Leon menarik paksa tangan Bianca membawanya ke kamar tidur di kantornya.


"Lepaskan! Sakit Leon." Teriak Bianca kesal.


"Apa maumu? Menggoda pria-pria heh?" Tanya Leon kesal.


"Apa maksudmu? Aku datang ke sini untuk mempertanyakan ini padamu." Bianca mengeluarkan isi amplop yang ia genggam sedari tadi.


"Dengan pakaian seperti ini? Kau pasti sengaja kan, ingin menggoda pria-pria dan membuat mereka menginginkanmu?"


"Apa yang salah dengan pakaianku? Dan siapa yang mau dengan orang jelek sepertiku?" Gertak Bianca menaikkan nadanya.


"Ben! Orang tadi itu. Dia sangat menyukaimu. Tidak kah kau menyadarinya?" Tanya Leon marah. Bianca menghela nafas kesal malas meladeni ocehan Leon yang menurut dia tidak penting.


"Leon, aku datang ke sini untuk membahas, pinalti dan foto ini, bukan untuk menggoda Ben Bon Ban Bin siapalah namanya itu." Tegas Bianca.


"Kau seharusnya berterima kasih karena sudah kuselamatkan."


"Selamatkan apa? Aku ulangi dan tegasi. Ini! Aku akan membayar pinalti 50 juta, dan tolong, foto ini berikan file aslinya padaku." Bianca menatap tegas wajah Leon yang terlihat frustasi.


"Kau punya uang sebanyak itu?" Sindir Leon meremehkan.


"Aku punya." Jawab Bianca tegas walaupun mungkin setelah ini dia akan benar-benar jatuh miskin. Tapi demi harga diri dan terbebas dari Leon, ia terpaksa membuang 50 jutanya secara sia-sia.


"Baiklah, tapi kau harus tahu, uang tidak menyelesaikan foto ini." Leon tersenyum licik.


"Maksudmu?" Tanya Bianca kaget.


"Pinalti dan foto adalah dua hal yang berbeda. Kau bisa saja pergi dari kantor ini, tapi, saat foto ini tersebar, maka karir mu akan hancur. Kau tidak mungkin tidak tahu betapa hebatnya ucapan dari seorang Leon Gerald Demaind kan? Apa perlu ku buktikan?" Ancam Leon dengan santai, bibirnya tersenyum puas melihat Bianca yang terpatung kehabisan ide melawannya.


Bianca memutar otaknya, ia pasti kalah telak. Leon sedang mengancam dan menekannya. Bisa ia tebak, jika ia keluar dari kantor ini, detik itu juga, foto ini pasti sudah ada di berita media sosial dan di mana-mana membicarakannya. Ia sangat tahu kuasa Leon, laki-laki itu bisa membayar berapapun uang untuk membuat berita palsu dan menjatuhkannya.


"Apa maumu?" Tanya Bianca berharap bisa bernegosiasi. Jika ia terpaksa harus kembali ke kantor itu demi menghentikan ancaman Leon, ia mau tidak mau menuruti karena ia memang tidak punya siapapun yang bisa membantunya keluar dari masalah itu.


"Kau masih tidak tahu apa mauku? Wanita baruku? Yang tidak akan pernah ku biarkan kosong." Desis Leon di telinga Bianca, membuat bulu kuduknya meremang dan bergidik ngeri.


.


.


.


.


.


to be Continue~