
Leon memanggil Jerry ke kediaman Alex. Jerry menggelengkan kepalanya melihat kedua wajah temannya yang sama-sama memar dan babak belur. Mereka terlihat sangat kacau.
"Jadi, kenapa kalian memanggilku ke sini? Aku baru ingin melanjutkan tidurku." Tanya Jerry dengan wajah sebal.
Leon dan Alex pun menjelaskan apa yang terjadi pada mereka sebelumnya.
"Kami hanya melakukannya sekali, kemungkinan hamil sangat kecil apalagi setelah dia minum obat itu." Ucap Leon mengutarakan pendapatnya.
"Jadi menurut penilaianmu, seharusnya ia bukan hamil anakmu? Hmm..., Aku mengerti. Bianca juga mengatakan hal yang sama, dia bilang dia sudah meminum obat itu dengan rutin, bagaimana mungkin dia bisa hamil." Tutur Jerry.
"Tunggu... Apa malam Tuan Wijaya berulang tahun...," Jerry tersentak teringat sesuatu.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Alex yang tidak tahu apapun.
"Yaa, singkat cerita, Bianca mengalami pelecehan di kamar hotel. Tapi aku datang terlambat, saat itu Leon yang datang terlebih dahulu, tidak tahu apakah sudah terjadi sesuatu pada gadis itu." Jelas Jerry sambil menatap Leon menunggu penjelasan yang lebih jelas.
"Aku baru datang saat mengikuti Darren dan Boss Hans memasuki kamar, dan sebelumnya..., ada dua teman Darren di sana bersama dengan Bianca di dalam kamar itu. Apa sebelum itu, Darren dan kedua temannya...," Penjelasan Leon terhenti, ia tidak bisa membayangkannya lebih lanjut.
Jerry dan Alex yang mendengarnya sama kesal dan frustasinya.
"Apa Bianca rutin meminumnya karena hal itu? Karena telah terjadi sesuatu padanya." Tebak Jerry.
"Darren... Aku tidak akan memaafkannya!!" Ucap Leon dengan dingin dan marah.
"Tunggu Leon, kita harus memastikannya dulu di kedua pihak. Aku akan mencoba membujuk Bianca agar mau membuka mulut menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
"Jerry benar. Beri aku info tentang Darren, aku akan menemuinya." Usul Alex.
Tak butuh waktu lama, dalam satu hari Alex berhasil mengumpulkan rekaman video di hotel dan keberadaan Darren serta teman-temannya.
Darren sedang berada di luar negri, tapi teman-temannya menyatakan mereka tidak melakukan apapun pada Bianca malam itu.
Sedangkan Bianca belum banyak bicara, tapi ia juga mengatakan hal yang sama saat Jerry menemuinya lagi untuk bertanya tentang kejadian di pesta malam itu, membuat Jerry, Alex dan Leon mau tidak mau mempercayai apa yang teman Darren katakan, apalagi tidak banyak bukti yang mereka dapatkan dari video hotel.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Alex pada Jerry dan Leon.
"Aku akan terus menyelidiki sebisaku, untuk memastikan apakah anak itu milik Leon atau bukan. Jika iya, kau harus siap menghadapi ibumu." Jawab Jerry tertuju pada Leon yang hanya diam larut dengan pemikirannya sendiri.
~ ~ ~
Beberapa hari berlalu, Bianca merasakan pusing di kepalanya, beberapa hari ini ia kurang tidur dan banyak pikiran. Leon menghampiri mejanya dan memberikan sebuah paper bag.
"Apa ini?" Tanya Bianca ketus.
"Makanan untukmu." Jawab Leon berusaha tidak terpancing emosi karena mendengar Bianca yang ketus padanya.
"Aku tidak butuh. Ambillah." Jawab Bianca mendorongkan paper bag itu kembali ke Leon.
"Apa begitu sulit menerima makanan pemberianku?" Tanya Leon lagi, ia berusaha bersabar.
"Engg, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi." Jawab Bianca kesal.
"Lalu? Kau ingin berurusan dengan siapa? Alex? Jerry?
"Hmm lebih baik dengan mereka, daripada dengan mu."
Leon menghela nafasnya kasar, sabar... sabar... Ia tidak boleh marah, Ia sedang menghadapi ibu hamil dengan hormon dan mood yang tidak stabil.
"Tumben sekali menggunakan dress, apa ingin terlihat cantik di depan pria lain?" Tanya Leon seketika mendapat pelototan dari Bianca.
Salahkan Leon yang cemburuan dan mulutnya tidak bisa berbicara dengan baik-baik.
"Hentikan Leon, aku sedang lelah, apa maumu?" Tanya Bianca kesal.
"Jika lelah untuk apa bekerja, kau bisa pulang dan tidur." Celetuk Leon lagi.
"Wahh... Dengan senang hati. Apa boleh?" Tanya Bianca sumringah.
Bianca tersenyum senang mendengarnya. Ia sudah sangat lama ingin angkat kaki dari kantor itu.
"Terima kasih sudah melepaskanku." Jawab Bianca dan segera merapikan barang-barangnya.
"Mau ke mana kamu?" Tanya Leon panik.
"Pergi dari kantor ini sejauhhhh mungkin." Jawab Bianca senang.
Leon marah mendengarnya, ia hanya bermaksud menggertak, ternyata disambut serius oleh Bianca dan justru gadis itu merasa senang.
"Kau tidak akan pernah lepas dan bisa pergi dariku Bianca!" Tekan Leon dengan tajam dan menahan lengannya.
"Aww... Sakit. Lepaskan Leon!" Bentak Bianca kesal.
"Aku tidak peduli, kau bukan pemilik jiwa dan ragaku." Tegas Bianca dengan kesal.
"Aku sudah bilang padamu, kau tidak akan lepas dari ku sebelum aku melepaskanmu!" Tekan Leon dengan sorot marah.
Bianca mengabaikan ucapan Leon, membawa barangnya turun dan pergi dari kantor meninggalkan Leon yang terdiam kesal di ruangannya.
Tiba-tiba Leon teringat bagaimana jika Bianca benar hamil anaknya dan bagaimana jika Bianca menggugurkan janin itu atau membuang anaknya pada orang lain. Ia tidak ingin kehilangan anaknya. Pikiran itu membuat Leon panik dan seketika keluar mengejar Bianca.
Perasaan tanggung jawabnya sebagai ayah tiba-tiba meronta ingin menyelamatkan anaknya, ia harus mendapatkan Bianca dan anaknya.
Semua karyawan yang melihat Boss mereka panik sesaat setelah Bianca keluar dari kantor bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Tahan dia, jangan biarkan pergi!" Perintah Leon pada Calvin yang juga sebelumnya melihat Bianca keluar dari kantor. Leon berlari menuju lift dengan cepat.
"Hallo, lobby utama, tolong tahan dan jangan izinkan seorang wanita atas nama Bianca Sallen yang baru saja turun dari lantai 45 dan menggunakan dress biru muda keluar dari gedung. Terima kasih." Ucap Calvin yang segera menghubungi security di lobby untuk menahan Bianca dan kemudian ikut menyusul turun.
Bianca terbengong saat melihat dirinya tidak bisa keluar dari gedung dan ditahan oleh dua orang security yang berjaga di pintu lobby. Apa lagi ini?
"Kenapa saya tidak boleh pergi? Tolong jelaskan!" Jawab Bianca yang sudah marah.
"Maaf, anda tidak boleh pergi. Mohon tunggu sebentar." Jawab security itu merasa tidak enak hati, ia sendiri tidak tahu kenapa harus menahan wanita di depannya ini.
Pintu lift terbuka dan Leon berlari dengan cepat menghampiri gadisnya.
"Bianca, jangan pergi." Ucap Leon yang tiba-tiba muncul dan menahan tangannya.
"LEPASKAN Leon! Aku membencimu!" Bianca berusaha mengelak genggaman Leon, tapi Leon berhasil menahannya dan menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya.
"Wahhh... Ada apa ini? Itukan Mr. Leon? Mereka berpacaran?" Tanya bisikan dan desas desus karyawan lain yang melihat keributan itu.
"LEPASKAN LEON, kau cari mati hah!!" Bentak Bianca kesal sambil mendorong dan berusaha lepas dari pelukan Leon, tapi semakin ia melawan pelukan itu malah terasa semakin sempit dan kencang.
Tanpa aba-aba Leon mencium bibir yang sedang manyun marah itu di lobby, di depan orang-orang!
Calvin yang baru tiba pun terperangah melihatnya, apalagi Bianca yang mendapat serangan mendadak, membelalakan mata kaget mematung.
Dua bapak security menunduk dan mengalihkan pandangannya, tersenyum malu, berpura-pura tidak melihat, jadi mereka disuruh menahan perempuan ini untuk hal ini. Ahh, anak muda jaman now memang beda.
Beberapa kamera handphone para karyawan sempat mengabadikan moment itu dan langsung tersebar di forum kantor.
.
.
.
.
.
To Be Continue~