
Leon membuktikan ucapannya, sore itu ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Leon melonggarkan dasinya dan mengacak-acak rambutnya. Menggerak-gerakan lehernya yang terasa lelah dan penat.
Bianca tersenyum saat melihat Calvin masuk dengan membawa beberapa dokumen yang perlu Leon tandatangani. Dia baru menyadari, hari ini dia belum bertemu dengan Calvin.
"Ini dokumen revisi terakhir Mr. Leon. Saya permisi." Ucap Calvin dan memutar badannya keluar ruangan. Bianca mengikuti Calvin yang keluar ruangan Leon dan menepuk pundaknya.
"Heiii... apa kamu sibuk?" Tanya Bianca ceria.
"Tadinya lumayan, bagaimana keadaanmu? Sudah sembuh?" Tanya Calvin memperhatikan luka Bianca.
"Sudah jauh lebih baik. Apa kalian sedang sangat sibuk? Aku tidak melihatmu saat makan siang."
"Yahh, kamu tidak tahu betapa gilanya Mr. Leon kemarin, ia tiba-tiba saja meminta memajukan dateline dokumen dan kontrak untuk diselesaikan Jumat ini juga. Padahal biasa ia akan mengeceknya di hari Sabtu atau Minggu."
"Bukannya itu hal yang biasa, mengingat jam kerja kita memang Senin hingga Jumat?" Tanya Bianca.
"Benar, tapi minggu ini pekerjaan kami sedang banyak dan biasa ia akan sedikit bersantai dengan memberi kami waktu lebih. Dia bahkan tidak ada perjalanan bisnis ke luar, tidak tahu kenapa tiba-tiba meminta semua pekerjaannya dipercepat."
"Hmm, apa dia biasa akan ke kantor Sabtu Minggu?"
"Yahh, dia lebih banyak menginap di kantor dan akan bekerja akhir pekan. Kadang aku juga datang menemaninya." Jawab Calvin dengan tatapan lelah, terlihat mata panda melingkar hitam di bawah matanya.
"Apa sekarang kalian masih butuh bantuan, aku bisa membantu." Tawar Bianca prihatin.
"Tidak, pekerjaan kami sudah selesai, kamu lebih baik istriahat, luka mu baru sembuh juga." Jawab Calvin menenangkan. Bianca senang berbicara dengan Calvin karena pria itu selalu terlihat kompeten dan serba bisa. Sikapnya selalu tenang dan siap siaga setiap kali menghadapi masalah.
Mobil Leon berhenti di sebuah restaurant tak jauh dari kantor mereka. Restaurant yang menyajikan makanan barat itu sedikit ramai karena sudah menjelang akhir pekan.
"Ayo, kita makan dulu." Ajak Leon saat mobilnya sudah terparkir dengan rapi. Bianca ikut turun dari mobil dan berjalan mengikuti Leon.
Dukkk... Kepala Bianca baru saja menabrak punggung Leon yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Aduh... kenapa berhenti tiba-tiba?" Gerutu Bianca. Tangan Leon melingkari pinggang Bianca, membuatnya bergidik dan mendorong tubuh Leon agar tidak terlalu dekat.
"Kenapa memelukku? Lepaskan tanganmu." Tegur Bianca pelan sambil menepuk-nepuk tangan Leon yang makin mengencangkan pelukannya.
"Kita sudah di luar jam kerja. Jadi, jangan jalan mengekoriku. Ayo kita masuk." Leon pun menggiring Bianca memasuki restaurant dengan tatapan aneh terpancar jelas di wajah Bianca. Sepertinya Leon bukan Leon yang ia kenal.
Hampir semua mata tertuju pada kehadiran Leon dan Bianca. Semua karena ketampanan Leon selalu menarik untuk dinikmati, wajah tampan didukung badan yang proposional, terlebih lagi yang ia gunakan adalah semua barang bermerk, pasti menyilaukan mata yang melihatnya.
Beberapa terlihat berbisik membicarakan ketampanan Leon, adapula yang mengatai gadis di sebelahnya tidak sepadan dengan Leon. Bianca mengernyit risih menyadari tatapan tajam para kaum hawa yang tertuju padanya.
"Leon, apa kamu sakit? Apa kamu salah makan obat?" Tanya Bianca saat mereka sudah duduk di salah satu meja yang kosong.
"Tidak, aku baik-baik saja. Ada apa?" Tanya Leon sambil mengusap pipi Bianca yang tadi ia tarik untuk duduk di sebelahnya.
"Hmm, bisakah, lain kali saat di tempat umum, terlebih ramai begini, kita bersikap biasa saja?"
"Maksudku, aku bisa duduk di depanmu, dan tangan ini, berhenti menyentuh badanku." Lanjut Bianca sambil mendorong tangan Leon ragu-ragu, ia takut ucapannya memancing emosi Leon yang bisa meledak kapan saja.
"Hmm..., kita sudah bersikap sewajarnya. Ini bahkan hanya hal kecil yang dilakukan oleh pasangan. Jika di luar negri, kamu bisa menemukan orang berpelukan dan berciuman di pinggir jalan dan di depan umum. Bersyukurlah aku tidak melakukannya, karena saat ini aku sangat ingin menciummu." Jawab Leon dengan senyum manisnya dan berhasil membuat Bianca terpaku dan merona malu.
Demi apa, Bianca bisa mendengar Leon mengucapkan hal dan berprilaku manis padanya. Dan tadi dia menyebutkan pasangan. Bianca ingin melanjutkan pembicaraan itu tapi ia rasa bukan saat yang tepat untuk dibahas saat itu.
Jantung Bianca dibuat berdetak tak karuan saat makan malam, Leon sering kali mengusap kepalanya, mengelus pipinya dan memegang tangannya.
"Kenapa sedari tadi kamu makan pelan sekali, apakah tidak enak?" Tanya Leon memperhatikan. Bianca dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Leon membayar bill dengan kartunya menggengam tangan Bianca saat keluar dari restaurant. Perlakuan seperti ini, sama sekali tidak pernah Bianca bayangkan untuk didapatkan dari seorang Leon yang selama ini selalu memusuhinya.
Bianca dan Leon sudah kembali ke apartemen, Bianca terburu-buru menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam, ia takut Leon akan mencari modus. Leon terkekeh melihat Bianca yang seperti kabur ketakutan dan menjaga jarak darinya sejak kembali ke apartemen. Melihat tingkahnya, justru membuat Leon semakin gemas.
"Kemarilah..." Panggil Leon saat Bianca menyelesaikan mandinya dan keluar ke dapur untuk minum. Leon sendiri sedang duduk di sofa dan menonton televisi yang menampilan tayangan film action.
"Ada apa?" Tanya Bianca menghampiri dan menyodorkan segelas air putih untuk Leon.
"Terima kasih." Jawab Leon tersenyum dan meminum air di gelas itu dalam seteguk habis karena sedang kehausan.
"Apa lukamu masih sakit?" Tanya Leon memegang kedua tangan Bianca dan melihat-lihat lukanya yang sudah mulai mengering.
"Sudah tidak." Jawab Bianca singkat.
"Kalau begitu, bolehkan ku pinjam tanganmu untuk memijat badanku. Aku lelah sekali..." Ucap Leon sambil mengarahkan dan meletakkan tangan Bianca ke lehernya. Wajah Bianca langsung berubah menjadi masam kecut.
"Hehh...! Kalau tahu begitu aku akan jawab ini masih sangaaaaatttt sakit..." Gerutu Bianca sambil mengambil posisi nyaman duduk di samping Leon dan memijat leher dan pundak pria itu dengan kasar.
"Pelan-pelan sedikit... Ayolah, aku bener-benar sangat lelah. Kelelahanku ini juga demi bisa menemanimu weekend besok."
"Lagian siapa juga yang menyuruhmu mengejar dateline untukku? Aku tidak butuh kamu temani." Omel Bianca kesal tapi pijatannya mulai stabil dan terasa lebih nyaman di pundak Leon.
"Tapi aku butuh..." Jawab Leon lembut.
"Hehh! Kau bertingkah aneh akhir-akhir ini Leon. Aku sungguh tidak mengenalmu. Apa jangan-jangan ada roh manusia lain yang masuk ke badan mu???" Bianca bertanya histeris membayangkan saat ini jiwa Leon tertukar dengan jiwa orang lain seperti di drama-drama yang sering ia tonton.
"Kau terlalu banyak menonton drama... Haishhh!"
"Oh ya, kenapa kamu masih menggunakan kemeja ku? Kamu tidak suka dengan baju tidur yang ku siapkan kemarin?" Tanya Leon yang heran karena ia sudah memesan dan menyuruh orang untuk mengantarkan pakaian Bianca yang baru.
"Suka, tapi memakai kemeja ini lebih tertutup dan aman untuk ku."
"Aman???"
"Ehmm, aman dari pikiran kotor dan godaanmu."
"Hahaha, tidak tahu kah kamu, pria paling suka kalau wanita memakai pakaiannya? Ini justru membuat aku semakin tergoda, hmm, kamu malah terlihat... imut dan menggemaskan." Jawab Leon terlihat senang, pipi Bianca memanas dan merona merah mendengarnya.
"Kau pijat saja sendiri! Kalau tidak cari tempat pijat di sekitar. Aku malas memijatmu!" Gerutu Bianca kesal sambil mendorong punggung Leon.
"Heii, jangan bete..., pijatanmu lumayan enak... Ayo pijat aku lagiiiii...," Teriak Leon saat melihat Bianca yang melangkah kesal ke kamar.
.
.
.
.
.
To Be Continue~