
Pesawat sudah lepas landas setengah jam yang lalu, Bianca duduk dengan gusar di salah satu kursi ekonomi, sedangkan Leon dan Calvin duduk di kursi bisnis.
"Mr. Leon, tidakkah kelewatan? Bagaimanapun Bianca adalah istri anda." Bisik Calvin pada Leon yang duduk bersandar di sampingnya.
"Biarkan saja, dia harus belajar bagaimana menjadi asisten yang cekatan dan bisa diandalkan."
"Tapi Mr. Leon...,"
"Calvin..., sejak kapan kau jadi suka mengurusi urusan pribadi orang lain?" Tegur Leon tidak suka, Calvin langsung terdiam merapatkan bibirnya.
Ia hanya merasa kasihan pada Bianca yang seharusnya duduk di kursi bisnis bersama dengan Leon dan dialah yang seharusnya duduk di kursi ekonomi, tapi malah sengaja ditukar oleh Leon.
Bianca sedang berada di toilet pesawat, wajahnya pucat pasi menahan mual dan keringat dingin.
Hoeeksss... hoekss...
"Sepertinya seorang wanita sedang muntah." Panggil penumpang lain yang juga mengantri di depan toilet.
"Tokk... Tokk Tok... Nona... apakah anda baik-baik saja?" Tanya seorang pramugari menghampiri dengan cepat.
Klekk... Pintu terbuka, menampilkan sosok Bianca yang berwajah pucat dan lemas. Pramugari itu langsung menyambutnya dan mengantarkan Bianca ke kursinya.
Seorang pramugari lain memasuki ruang penumpang kelas bisnis dan menghampiri seorang pria berumur 50 tahunan yang duduk di dekat jendela.
"Maaf mengganggu Dokter Nick, sepertinya kami membutuhkan bantuanmu." Ucap pramugari itu dengan ramah.
Pria yang dipanggil Dokter Nick itu segera berdiri, mengambil tas perlengkapan medisnya di kabin dan mengikuti langkah pramugari menuju kursi penumpang ekonomi.
"Silahkan Dokter."
"Ahh, tidak perlu diperiksa, aku baik-baik saja." Elak Bianca yang kaget dengan kedatangan dokter itu di hadapannya.
"Tidak apa-apa. Jangan sungkan. Bertemu dengan pasien darurat di pesawat sudah sangat biasa terjadi. Tidak perlu malu." Jawab Dokter itu menenangkan.
Bianca tidak menolak lagi saat Dokter Nick mulai melakukan pemeriksaannya.
"Apa anda sedang hamil?"
Bianca tersentak kaget lalu segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak..., " Elak Bianca cepat.
“Mungkin karena saya meminum jus jeruk tadi pagi, jadi perut saya tidak enak, ditambah dengan mabuk perjalanan. Sungguh, saya tidak apa-apa.” Jelas Bianca dengan cepat.
“Bagaimana dok?” Tanya pramugari itu memastikan.
“Sepertinya memang begitu…,” Jawab Dokter Nick tersenyum lembut dan ramah.
Bianca menghela nafas lega saat dokter dan pramugari itu kembali ke ruang kelas bisnis. Ia sudah menahan malu sedari tadi karena mendapat perhatian dan mengganggu penumpang lain.
“Terima kasih Dok, telah merepotkan anda.” Ucap pramugari itu mengantarkan Dokter Nick kembali ke kursinya.
“Hal kecil, bukankah sudah biasa…” Jawab Dokter Nick selalu dengan senyum khasnya yang ramah dan menenangkan.
Dokter Nick sering berpergian Indonesia-Singapore, jadi para pramugari sudah sangat mengenalnya dan sering meminta bantuannya jika ada pasien darurat di pesawat.
“Berikan ini pada wanita itu.” Ucap dokter sambil mengeluarkan sesuatu dari tas medisnya.
“Ini…,” Pramugari itu ragu menerimanya.
“Aku curiga dia hamil. Kau berikan saja padanya, ku rasa dia sudah paham.”
*
*
*
Bianca berdiri lunglai saat sedang menunggu cek in di hotel bersama Leon dan Calvin. Ia masih merasa sedikit lemas dan tidak bertenaga karena muntah dan belum bisa makan apapun sejak tadi di pesawat.
“Kau tampak pucat, apa baik-baik saja?” Tanya Calvin sedikit cemas.
Leon menoleh memperhatikan wajah istrinya yang baru ia sadari memang tampak pucat dan lesu.
“Tidak apa-apa, aku hanya belum makan dan kurang tidur.” Jawab Bianca mengelak.
“Nanti pesankan dia makanan Calv.” Perintah Leon pada Calvin.
“Baik Mr. Leon.”
“Kita tidak sekamar?” Tanya Bianca pada Leon.
“Tidak, apa kau ingin sekamar denganku?” Tanya Leon tersenyum kecil menggoda Bianca.
“Tidak, aku hanya heran.” Jawab Bianca jujur.
“Kita pergi untuk bekerja, kau di sini asisten, tidak lebih.” Jawab Leon tegas tapi terasa menyakitkan bagi Bianca.
“Baguslah, aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku naik dulu.” Jawab Bianca tanpa menunggu Leon dan Calvin yang masih berada di lobby hotel.
“Yayayaya, aku hanya asistenmu, lantas untuk apa menikahiku? Kau pikir ini lucu? Kemarin bilang cinta dan menyukaiku, sekarang bilang aku tidak lebih adalah asistennya. Aku sakit dan menderitapun kau tidak peduli. Hah! Kau pikir aku tidak bisa berdiri sendiri dan hanya akan bergantung pada kekayaan keluargamu? Aku bersabar demi Papa bukan demi dirimu! Aku yakin kau bahkan mengerjaiku dengan pernikahan palsu hanya untuk menyiksaku!” Celoteh Bianca setibanya di dalam kamar hotel.
Bianca melemparkan tasnya ke kursi dan melangkah menuju kamar mandi, ia harus membersihkan dirinya yang sama sekali belum menyentuh air sejak bangun tidur.
*
*
*
Tringgg… Tringgg…
Deringan terdengar dari telefon yang tersambung di kamar Leon.
Leon yang sedang membahas pekerjaan bersama dengan Calvin di kamarnya terpaksa melepaskan dokumennya dan melangkah menuju telefon yang terus berdering itu.
“What? Are you sure? Oke… Thank for your information.” Jawab Leon singkat dengan bahasa Inggris.
“Calvin, apa Bianca memberitahumu ke mana dia pergi?”
“Tidak, ada apa?” Tanya Calvin heran.
“Pelayan mengantar makanan ke kamarnya tapi tidak ada orang, dan mereka memastikan sepertinya Bianca keluar hotel sejak setengah jam yang lalu.” Jawab Leon dengan nada penuh selidik.
“Saya akan mencoba menghubunginya.” Jawab Calvin bergegas mencoba menghubungi Bianca tapi tidak terjawab.
“Percuma, nomornya pasti tidak aktif.” Tebak Leon pada Calvin.
"Kita tunggu saja." Sambung Leon lagi lalu kembali duduk dan mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan.
Bianca sedang berjalan mengitari sekitar hotel dan mencari bank untuk menukarkan uang. Ia tidak punya uang untuk berbelanja, bagaimana ia bisa makan dan tinggal di sana.
"Ahh.. itu dia." Bianca tersenyum senang melihat sebuah ATM, berharap ia bisa melakukan pertukaran uang di ATM itu.
"Yess..., sepertinya ini bisa. Hmm... Baiklah aku tukar satu juta, untuk makan saja. Seharusnya cukup kan." Ucal Bianca antusias.
"Apa dia belum terlihat?" Tanya Leon pada resepsionis lobby hotel.
"Belum, kami bahkan sudah mengecek CCTV." Jawab resepsionis itu sopan.
Leon tampak gusar berdiri dan tidak melepaskan matanya dari arah pintu masuk.
Tuk tuk tuk…
Langkah suara hak wanita terdengar nyaring melalui lobby hotel yang sepi. Wanita muda dan cantik dengan rambut ikal panjang terjuntai manis di punggungnya.
Wanita itu menggunakan dress ketat yang menampilkan lekukan tubuhnya, berhasil menarik perhatian pria-pria yang melihatnya di sana. Wanita itu berjalan menghampiri Leon yang sedang berdiri menunggu bersama Calvin di sampingnya.
“Hai Mr. Leon, kebetulan sekali bertemu di sini.”
“Hai…, maaf Madeline, kami sedang ada urusan.” Jawab Leon cuek dan tidak ingin diganggu.
“Ahh, maaf, baiklah, aku harus cek in dulu, nanti kita jumpa lagi.” Jawab Madeline tidak menyerah.
“Itu Bianca…!!" Seru Calvin tiba-tiba membuat semua menoleh ke arah pintu masuk lobby.
.
.
.
.
.
To Be Continue~