Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 73~



Leon Calvin dan Bianca sudah berada di salah satu hotel kota P, Thailand. Seperti sebelumnya, mereka mendapatkan kamar masing-masing.


Bianca duduk terdiam di kloset sambil memperhatikan flek kecoklatan di **********. Sejak malam kemarin, ia merasa tidak nyaman pada perut bagian bawahnya dan paginya muncul sedikit flek darah.


"Bulanan? Tapi kenapa belum turun lagi?" Tanya Bianca cemas.


Bianca menarik nafas pelan lalu menghembuskannya, terasa sedikit menenangkan perutnya yang tidak nyaman.


Leon memulai rapatnya lebih awal hari itu, karena besok pagi mereka akan kembali ke Indonesia, tentu saja saat rapat Calvin yang mendampingi Leon, sedangkan Bianca hanya membantu membawakan tas dan dokumen.


"Fiuuuhhh...,"


"Kenapa kau sedari tadi menghela nafas?" Tanya Calvin yang heran melihat Bianca menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali sedari tadi.


"Hmm, maaf, perut ku sedang tidak enak."


"Apa kau salah makan? Mau ku bantu belikan obat?"


"Tidak, sekarang sudah membaik, mungkin aku tidak cocok dengan makanan di luar."


"Baiklah, kabari aku jika kau perlu sesuatu."


Bianca menggangukkan kepala, mengiyakan niat baik Calvin.


"Calv, seperti biasa, aku akan makan siang dengan client. Kalian bersantailah, besok kita sudah bisa kembali ke Indonesia." Pesan Leon pada Calvin sebelum berpisah di lobby kantor.


Calvin dan Bianca kembali ke hotel berdua, sedangkan Leon melanjutkan kegiatannya makan siang bersama rekan bisnisnya.


"Apa rencanamu setelah ini? Kita punya waktu sampai malam, kau mau jalan-jalan?" Tanya Calvin menawarkan.


"Tidak, aku akan tidur. Terima kasih ajakanmu." Tolak Bianca halus.


Bianca kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman. Ia merasa lemas dan lunglai, perutnya belum benar-benar membaik.


Bianca berbaring dan tertidur dengan cepat, sepertinya ia sangat butuh istirahat.


***


Terik matahari bersinar dengan terangnya, suhunya panas menusuk kulit. Leon dan Calvin segera sedang menuju pintu kedatangan di bandara, sedangkan Bianca yang duduk di kelas ekonomi jauh tertinggal di belakang mereka.


Bianca mengernyitkan keningnya yang terasa sedikit pusing dan mual.


"Kenapa dia lama sekali?" Leon sesekali mengecek jam tangannya dan menoleh ke belakang, Bianca belum terlihat sama sekali.


Bianca baru saja keluar dari toilet karena merasa perutnya tidak nyaman.Dengan langkah tergesa ia keluar menuju pintu keluar kedatangan di pintu bandara Terminal 3, matanya terbelalak saat melihat Leon dan Calvin memasuki mobil dan segera melaju.


Sedetik kemudian handphonenya berbunyi, Calvin is calling...


"Hallo, Calv...," Angkat Bianca dengan terburu-buru.


"Maaf Bianca, kami harus kembali ke kantor dulu karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Jawab Calvin.


"Tapi aku sudah berada di pintu depan sekarang...,"


"Ahh iyakah? Hmm, tapi kami tidak mungkin berputar lagi sekarang, kami sudah berada dekat pintu keluar. Maaf Bianca..." Jawab Calvin lagi dengan wajah tidak enak hati.


"Yaa.. baiklah...," Jawab Bianca lesu dan kesal karena ditinggalkan padahal hanya jeda beberapa menit.


***


Leon memijat tengkuknya yang terasa penat. Ia baru saja menyelesaikan meeting dan pekerjaannya setelah kembali dari Thailand.


Leon melirik jam dinding di ruangannya dan mengecek handphonenya.


Kreekkk...


Calvin masuk dengan membawa beberapa dokumen.


"Masih ada lagi?"


"Ini yang terakhir, tapi masih bisa dilanjutkan besok." Jawab Calvin.


"Besok saja, aku ingin pulang lebih awal. Kau juga, pulanglah."


"Baik Mr. Leon." Pamit Calvin lalu mengundurkan diri.


Leon menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang, ia ingin segera tiba di apartementnya dan menemui Bianca.


Leon membuka pintu apartment dengan kasar, perasaan khawatir yang sedari tadi ia tahan di kantor akhirnya bisa ia lepaskan saat melihat Bianca berbaring di sofa ruang tamunya.


"Dari mana saja kau?" Tanya Leon tanpa basa basi.


"Aku bisa ke mana selain di apartementmu?" Jawab Bianca ketus.


"Kau tidak ke kantor dan baru pulang sore hari, bahkan tidak mengangkat telfon, dari mana saja heh?" Tanya Leon lagi.


"Kenapa kau baru cemas sekarang? Tadi kau tidak seribut ini saat meninggalkan aku di bandara sendirian." Protes Bianca kesal.


"Ahh, jadi karena itu, kau marah padaku?" Tanya Leon menurunkan nada dan emosinya.


"Sudah, lupakan. Aku lelah."


"Ada pekerjaan yang harus segera kami selesaikan, lagipula apa yang kau lakukan di sana, kenapa lama sekali keluarnya?"


Bianca membalikkan badannya, menarik selimut dan menutupi hingga kepala. Leon hanya menghela nafas kesal, tapi ia juga terlalu lelah untuk ribut, setidaknya ia bisa melihat istrinya baik-baik saja dan hanya merajuk.


Tik tok tik tok...


Jam menunjukkan pukul 01.00, rasa lelah dan kantuk Bianca belum bisa membuatnya terlelap.


Bianca beranjak duduk di sofa, menarik keluar 2 testpack dan secarik kertas dari dalam tasnya.


Matanya menatap sendu ketiga benda di hadapannya. Meski hanya di sinari lampu meja remang-remang, tapi Bianca dapat melihat dengan jelas dua garis merah terang hasil pengecekannya pagi dan sore tadi.


Dari bandara Bianca langsung menuju ke rumah sakit karena sebelumnya telah menggunakan testpack yang Dr. Nick berikan padanya, untuk memastikan hasil testpack itu tidaklah benar. Tapi kenyataan tidak bisa ia elak, dokter pun telah melakukan pemeriksaan detail dan hasilnya ia positif hamil.


Bianca meneteskan air matanya, menangis terisak pelan karena takut Leon mendengarnya. Dengan tangan bergetar Bianca membuka contact panggilan di handphonenya, menggesernya ke atas dan ke bawah, tidak tahu harus berbicara dan meminta pertolongan dengan siapa.


Bianca mengetikkan pesan pada Lara, tapi baru beberapa huruf ia hapus kembali. Ia ragu bercerita pada teman baikknya itu, ia bahkan sudah Lama tidak berkomunikasi dengan Lara sejak kejadian Lara dan sepupunya, Romi yang membantunya justru terkena imbas dari kemarahan Leon. Meski biaya pengobatan Romi ditanggung oleh Leon, tapi Bianca tidak mungkin membiarkan Lara terlibat lagi.


Keesokan paginya...


Hoekkksss... Hoeeksss...


Leon terbangun disambut dengan suara muntahan terdengar di kamar mandi ruang tamunya. Leon mengetuk pintu kamar dan berusaha membukanya, tapi tidak berhasil.


"Bianca, kau baik-baik saja?" Tanya Leon cemas dan menggedor-gedorkan pintu.


"He'ii, jawab aku!!" Teriak Leon.


Dukkk... Dukk... Dukk...


Leon mengedor pintu dengan kuat dan paksa, seakan ingin mendobraknya.


Tak lama, pintu terbuka, Bianca menatap malas pada Leon yang sedang menatap cemas padanya.


"Kau kenapa? Sakit?" Tanya Leon cepat.


"Hanya masuk angin... Dan jangan menyentuhku!" Bianca segera menepis tangan Leon yang baru saja ingin menyentuh dahinya.


"Jangan keras kepala heh! Aku antar ke dokter." Perintah Leon kesal.


"Tidak usah, aku hanya butuh istirahat." Jawab Bianca lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamar tidur untuk mengambil pakaiannya dan mandi.


Bianca memang tidur di sofa ruang tamu, tapi pakaiannya masih tersimpan rapi di kamar tidur Leon, sehingga ia harus menunggu Leon bangun tidur baru memasuki kamar itu.


"Kau mau ke mana? Bukankah sakit?" Tanya Leon saat melihat Bianca sudah rapi dengan kemejanya.


"Tak usah mengurusiku, kau urusi saja Madeline mu itu!" Jawab Bianca ketus dan memilih berangkat terlebih dahulu.


"Madeline?" Tanya Leon keheranan.


.


.


.


.


.


To Be Continue~