
Finally, Tiba di Chapter 50. 🥳🥳
Ciuman dadakan yang dilakukan Leon membuat Bianca kaku tak bergerak. Ada apa dengan Leon, apa dia sudah tidak waras berani menciumnya di depan umum. Bianca mendorong tubuh Leon dengan kuat, membuat pria itu kaget dan terdorong beberapa centi.
"Apa yang kau lakukan? Yang benar saja Leon, ini kantor." Ucap Bianca kesal, ia melihat sekelilingnya, semua orang sedang tertuju pada mereka, memotret dan merekam mereka.
"Jika bukan di kantor, apa aku bisa menciummu?" Tanya Leon yang justru menggoda Bianca.
"Kau gila Leon!"
Mendengar umpatan gadis yang sedang merona malu di depannya, membuat Leon terkekeh. Ada suatu perasaan lega yang ia rasakan.
Rasa lega dan rasa ingin bertanggung jawab terasa merasukinya. Pikiran dan tubuhnya, ingin berada di dekatnya dan memiliki gadis itu secara utuh.
"Aku akan menikahimu." Ucap Leon di tengah kebingungan Bianca belum usai.
Mata Bianca terbelalak mendengarnya.
"Apa??! Sepertinya kau benar-benar... entahlah..., percuma bicara denganmu." Jawab Bianca tidak habis pikir.
"Hmm..., maaf Mr. Leon, apa boleh pembicaraannya dilanjutkan di atas atau tempat lain? Saya rasa ini tidak baik untuk reputasi anda." Ucap Calvin mendekati mereka untuk memperingatkan jika mereka sedang di lobby kantor dengan banyak pasang mata memperhatikan, bahkan foto dan video mereka sudah tersebar di luar kantor.
"Ikut aku ke atas." Perintah Leon dan berbalik bersiap melangkah pergi menuju lift. Sebaliknya, Bianca berbalik melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu keluar.
Leon yang menyadarinya memasang wajah kesal.
"He'ii, ikut aku!" Teriak Leon sebal.
"Tidak mau!" Teriak Bianca menolak sambil terus berjalan.
"Tahan dia!" Perintah Leon pada security penjaga pintu keluar lobby dan dengan sigap mereka langsung membentuk gerakan menahan kepergian Bianca.
Kembali mendapat pencegatan membuat Bianca berang, ia pun berbalik menghadap Leon.
"Aku sudah resign dari kantormu." Hardik Bianca menaikkan suaranya.
"Aku belum menyetujuinya. Kembali sekarang!" Ucap Leon dengan dingin, ia sedang berusaha bersabar.
Adegan keributan mereka kembali menjadi tontonan.
"Aku bilang tidak mauuu... Kau tidak bisa memaksaku... bwekkk...🤪" Bianca menjulurkan lidahnya pada Leon, membuat pria itu tertantang dan dengan cepat melangkah lebar menghampirinya.
"Siapa bilang aku tidak bisa memaksamu?" Ucapnya sembari berjalan dan dengan sigap menggendong Bianca ke pelukannya.
"Aghhh, lepaskan Leon! Turunkan aku... Heiii, berhentilah berulah!!" Teriak Bianca panik. Tangannya memukul dada Leon yang bidang dan berotot.
"Jika masih teriak akan ku cium." Tegur Leon dengan dingin, membuat Bianca mengatup bibirnya dengan rapat. Akan ia simpan omelannya saat sudah berada di atas.
Calvin menunduk dan mengulum senyumnya, ikut tersipu melihat tingkah Bossnya yang belum pernah ia lihat selama ini.
Leon membawa Bianca berjalan menuju ke lift. Gadis itu hanya menunduk malu berusaha menutupi wajahnya dan pasrah menerima tatapan tajam dan tidak menyenangkan karyawan lain.
Yang benar saja, seorang pimpinan besar seperti Leon secara terang-terangan menciumnya di lobby kantor. Bagaimana mungkin ia bisa menghadapi semuanya, apalagi jika berita itu keluar ke media bisnis, bagaimana dengan reputasi bisnis keluarga Demaind?
"Bisa kau melepaskan ku sekarang Leon?" Tanya Bianca saat berada dalam lift.
"Berjanji tidak pergi, oke?" Tawar Leon lembut.
"Tidak, aku mau pulang." Tolak Bianca dengan jujur, dan Leon tidak menggubris permintaannya.
Leon menggendong Bianca masuk ke ruang kerjanya, membuat riuh seisi kantor. Beberapa karyawan di luar ruangan mereka sengaja mengintip dan menguping dari celah-celah kaca.
"Turunkan aku." Pinta Bianca saat mereka sudah tiba di dalam ruangan kerja Leon.
Leon menurunkan Bianca dengan hati-hati, kemudian membuka pintu ruangannya dengan tiba-tiba, membuat yang karyawan kaget dan langsung berhamburan kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Calv, tolong catat siapa yang menguping dan mengintip, gajinya akan dipotong, jika perlu dipecat." Ancam Leon yang didengar semua karyawan.
Leon menarik dan membawa Bianca ke kamar tidur di dalam ruang kantornya.
"Jadi, kau ingin kapan kita menikah?" Tanya Leon tanpa basa basi menatap Bianca.
"Siapa yang mau menikah denganmu?" Tanya Bianca keheranan kenapa Leon tiba-tiba ingin menikah, terlebih lagi pasangannya adalah dirinya...
"Kita harus cepat, aku harus membahasnya dengan Papa. Dan lagi bulan depan aku harus dinas ke beberapa negara dan mungkin jarang berada di sini." Jawab Leon berusaha menjelaskan pemikirannya.
"Leon...," Panggil Bianca lembut tapi ada keputusasaan di sana.
"Ya...," Jawab Leon menanti perkataan lanjutan yang akan Bianca utarakan, berharap wanita itu akan menyetujuinya.
"Ku mohon... sadarlahhh...!! Kenapa tiba-tiba hari ini kau menciumku, menggendongku, memintaku kembali dan ingin menikah denganku??? Kita bahkan saling membenci dan tidak menyukai satu sama lain." Tegas Bianca.
“Aku menyukaimu.” Ucap Leon dengan cepat, ada perasaan kesal dalam hatinya saat mendengar Bianca mengatakan mereka tidak menyukai satu sama lain. Tapi ia tidak ingin kehilangan anaknya, ia harus mengalah.
“No, aku mencintaimu.” Lanjut Leon menatap lembut mata Bianca. Bianca tertegun dengan pengakuan Leon.
“Tidak! Kita saudara.” Tegas Bianca.
“Angkat, bukan sedarah, dan kau juga sedang hamil, tentunya anakku.” Bianca membulatkan matanya lagi, bagaimana Leon tahu bahwa dia hamil? Apakah ada yang mengatakannya?
“Tidak, ini anakku.” Tolak Bianca tidak mengakui.
“Anak kita.” Bianca hampir saja luluh dengan jawaban Leon yang terdengar tulus, tapi pikirannya tersadarkan. Apa Leon ingin menikahinya karena tahu ia sedang hamil anaknnya? Bianca meringis kesal. Pria itu hanya ingin bertanggung jawab, mereka tidak mungkin menikah tanpa cinta dan tanpa rasa suka.
"Terserah apa katamu, aku akan tetap resign dan tidak ingin melihatmu.” Jawab Bianca kekeh dan menatap tajam mata Leon, ia tidak ingin goyah.
"Baik, aku izinkan kau resign tapi dengan syarat menikah denganku."
"Tidak!"
"Kenapa kau keras kepala?" Tanya Leon mulai kesal.
"Kamu tenang saja, aku tidak menuntut pertanggung jawaban. Sudah ku bilang, malam itu aku mabuk dan itu kesalahan. Jadi..., jangan merasa bersalah. Aku baik-baik saja dengan mengandung sendirian anak ini." Jawab Bianca dengan santai, tapi justru membuat Leon kecewa dan terluka harga dirinya.
Ia sudah mencoba menurunkan egonya dan beritikad baik, tapi masih direndahkan oleh Bianca.
“Kau boleh tidak menyukaiku. Tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Ucap Leon lalu melangkah pergi meninggalkan Bianca sendiri di kamar itu, mungkin Bianca butuh waktu untuk menenangkan diri, apalagi saat ini dia sedang hamil dan tentu hormon dan emosinya semakin tidak stabil.
Leon mengunci kamar itu dari luar, tidak membiarkan gadisnya kabur lagi.
"He'ii, apa kau mengunciku?? He'ii...!! Keluarkan aku, kenapa dikunci?? Leon, gilaaa... brengs*k!" Teriak Bianca mengumpat kesal dan panik sambil berusaha membuka gagang pintu di hadapannya.
"Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih." Jawab Leon dengan dingin dan tidak memperdulikan gedoran pintu dan teriakan Bianca.
Bianca menggedor pintu dengan kencang dan berteriak keras hingga terdengar keluar. Calvin dengan panik mendobrak masuk ke ruangan atasannya.
"Mr...., apa yang terjadi?" Tanya Calvin cemas.
"Tidak apa-apa. Emosinya sedang tidak stabil, aku hanya menguncinya dan menyuruhnya merenung. Kembalilah bekerja." Jawab Leon dengan santai.
"Hmm..., baiklah." Jawab Calvin tidak berani membantah karena melihat wajah atasannya yang juga terlihat sedikit kesal dengan teriakan dan gedoran Bianca.
.
.
.
.
.
To Be Continue~