Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 79~



Leon memperhatikan paramedis yang bergerak cepat mengangkut tubuh Bianca ke dalam mobil ambulans. Wajahnya pucat pasi, terlihat jelas ia cemas dan sangat khawatir dengan keadaan Bianca. Leon menoleh ke sampingnya, tak jauh di mana Darwin berdiri dan merasa menyesal.


“Aku belum membuat perhitungan denganmu!” Ucap Leon memberi peringatan dengan mata menatap tajam seakan ingin membunuhnya saat itu juga.


Tadi Leon segera berlari meninggalkan konferensi pers saat Calvin memberitahunya mengenai kondisi Bianca yang tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan di kamar Darwin.


Leon segera merebut Bianca dari gendongan Darwin yang juga berusaha menyelamatkannya.


“Minggir kauu…! Cepattttt panggil ambulanssss! Calvin, dokter mana, cepatttt, helikopterrr, arrrghh, apapun itu…!” Teriak Leon yang panik melihat Bianca sudah terkulai lemas dan berlumuran darah.


“Ambulans sudah akan sampai sebentar lagi, kita bawa Bianca ke bawah dulu…,” Saran Calvin yang juga panik tapi masih bisa berpikir jernih.


Jerry sama kagetnya, ia baru saja kembali dari parkiran untuk mengambil handphonenya dan mendapati keramaian, ia keherenanan melihat Leon yang berlarian panik dan beberapa orang berteriak telah terjadi suatu kecelakaan di salah satu kamar hotel itu.


Kejadian itu langsung di liput wartawan yang berbondong-bondong menyerbu TKP dan lobby hotel.


Madeline menghampiri Darwin yang kebingungan tentang apa yang terjadi dan menatap heran dengan kehadiran Leon di sana.


Beberapa wartawan terlihat memanfaatkan kesempatan dengan mulai mengerumuni Madeline untuk menanyai mengenai apa yang Leon katakan di konferensi pers.


“Kenapa kau di sini, ayoo pergi..,” Ajak Madeline pada Darwin yang masih belum melepaskan tatapan matanya saat mobil ambulans sudah melaju pergi dari hotel.


“Aku tidak tahu, jangan tanya aku sekarang. Hentikan…, tolong jangan mengganggu…,” Jawab Madeline terburu-buru sambil menarik Darwin pergi dari lobby hotel di mana para wartawan terus menyoroti mereka.


***


Leon berjalan mondar mandir sambil menggengamkan tangannya. Wajah tampannya terlihat cemas dan khawatir, sesekali giginya bergeletukan menahan kekesalannya karena tidak bisa menjaga Bianca dengan baik.


Niatnya adalah mempermalukan kedua Wilson bersaudara yang mencari masalah dengannya dan Bianca, tapi justru sekarang Bianca yang menjadi korban kelalaiannya. Apalagi ia tahu dengan jelas Darwin Junior juga hadir di acara perlelangan itu, seharusnya ia sudah memperkirakan bahwa Darwin pasti masih mencari masalah dengannya.


Calvin dan Jerry duduk tak jauh dari sana, di depan ruang UGD, menunggu dokter yang memeriksa untuk mengabari kondisi dan keadaan Bianca.


“Apa yang sebenarnya sudah dilakukan si brengs*k itu kepada Bianca?? Arrghhhh!!” Umpat Leon kesal menggepalkan kedua tangannya.


Suara Leon yang nyaring membuat beberapa orang memperhatikan mereka.


“Darah inii, begitu banyak…,” Ucap Leon lirih menatap tangan dan bajunya yang berlumuran darah saat menggendong Bianca, pikirannya mulai kacau karena membayangkan yang tidak-tidak, bagaimana jika Bianca kritis karena kelalaiannya?


“Dia sedang hamil...” Ucap Jerry tiba-tiba yang tidak tahan melihat keresahan Leon.


“Apa kau bilang?” Tanya Leon menatap dengan kilatan tajam pada Jerry, Calvin yang mendengarnya sama terkejutnya, bagaimana jika sekarang Bianca keguguran, pasti sangat menyakitkan?


“Bianca sedang hamil…, dan sepertinya sekarang dia pendarahan karena itu.” Jelas Jerry lagi.


“Bagaimana kau tahu? Dan kenapa aku tidak tahu?” Tanya Leon kembali kesal dan geram karena tidak mengetahui kondisi kehamilan Bianca.


“Aku juga baru mengetahuinya saat kalian pulang dari Thailand. Dia muntah-muntah dan aku bertanya padanya apa dia hamil, dan dia belum siap memberitahumu, semua terlalu mendadak Leon. Aku bahkan saat itu baru tahu kalau kalian sudah menikah. Aku sudah ingin mengatakannya saat di Club, tapi ia menghentikanku." Jelas Jerry dengan terperinci karena tidak ingin Leon salah paham, ia bukan tidak mengenal bagaimana watak teman baiknya itu.


“ARGHHHHHHH!!! Sial*n!!! Brengs*k!!!! Shiii*t!!” Umpat Leon murka setelah mengetahui kebenarannya.


“Kenapa kau baru bilang sekarang? Kenapa kau ikut menutupinya? Bagaimana jika dia sekarang kritis dan keguguran? Itu anak ku Jerry Choi!!” Bentak Leon kesal dan menyalahkan Jerry.


"Tapi bagaimana bisa kau ikut-ikutan tidak memberitahuku? Ini tentang nyawa anakku!" Bentak Leon tidak terima.


“Mr. Leon, dokter sudah keluar.” Panggil Calvin menengahi kedua sahabat yang mulai membuat kegaduhan di lorong rumah sakit itu.


***


Papa dan Tante Bella tiba di Rumah Sakit setelah mendapatkan kabar, Papa melangkah dengan tergesa-gesa, panik jika sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Bianca.


“Leon, apa yang terjadi?” Tanya Papa saat sudah bertemu dengan Leon di lorong RS. Bianca baru saja dipindahkan ke ruang pasien VIP.


“Kauuuu…, pernikahan apa yang kau katakan heh? Kenapa kami tidak tahu apapun??” Tanya Tante Bella kesal pada Leon.


“Bisakah jangan membahas itu, sekarang yang penting adalah Bianca, bukan berita di media.” Jawab Papa yang kesal dengan istrinya.


“Kau selalu mendahulukan anak itu, aku semakin yakin dia adalah anakmu dengan wanita pelac*r itu!!”


“Maaa! Bianca bukan anak kandung Papa.” Jawab Leon setengah berteriak karena kesal, di saat genting begini Mama nya masih saja meributkan hal itu.


“Kau dan Papamu sama saja, apa hebatnya sih perempuan itu??”


“Ma, please Ma!! Bianca dan anak aku kritis Maa, anak aku Maaa!” Jerit Leon frustasi.


Mama terdiam mendengarnya, belum pernah melihat Leon menangis terisak dan patah hati seperti itu.


“Kalau Mama mau saham, harta atau apapun itu, ambil Ma. Leon bisa kasih semuanya ke Mama. Tapi Leon gak akan pernah ninggalin Bianca, Leon gak peduli itu semua, Leon cuma mau Bianca dan anak Leon selamat…”


Papa menepuk-nepuk pundak Leon, air mata Papa perlahan menetes. Leon memeluk Papa dan menangis terisak, Papa juga terenyuh, baru kali ini melihat Leon begitu lemah dan tidak percaya diri.


“Bagaimana keadaan Bianca Leon? Kita bisa kirimkan dokter dari luar jika perlu…,”


Leon menggelengkan kepalanya.


“Sudah Leon lakukan Pa. Dokter Smith sudah dalam perjalanan ke sini. Sementara dokter sudah menghentikan pendarahannya.”


“Bayi… bagaimana bayinya?” Tanya Papa dengan suara bergetar, tidak sanggup mendengar kabar buruk lebih dari sebelumnya.


“Janinnya selamat, tapi sangat lemah, kemungkinan bertahan sangat kecil. Harus menunggu respon tubuh dari Bianca setelah beberapa jam menerima transfusi darah.” Jawab Leon kembali terisak memikirkan nasib bayinya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~