Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 42~



Jerry sudah sedari tadi bolak balik menunggu Leon dan Bianca di depan pintu masuk ballroom tapi mereka tidak kelihatan sama sekali.


Drett.. Drettt…, handphonenya bergetar dan ia segera membuka pesan yang masuk, dari Leon.


Datang ke kamar 1206, sekarang juga!


-Leon-


Pesan singkat itu berhasil membuat Jerry panik, Leon pasti butuh bantuan. Jerry berlari menuju lobby menukarkan kartu identitasnya untuk mendapatkan akses naik lift menuju lantai 12.


Ia berusaha berlari secepat mungkin untuk tiba di kamar yang Leon sebutkan.


Setibanya di kamar 1206, pintu kamar sudah terbuka dan tampak Leon baru saja memukul Darren hingga terkapar.


~ ~ ~


Leon membawa Bianca ke kamarnya yang terletak di paling ujung sebelah kiri. Ruang hotel VIP yang memiliki kamar tidur luas, ruang tamu dan fasilitas mewah lainnya.


Sedangkan Darren sudah dibawa ke rumah sakit secara diam-diam.


"Aku akan mengajukan masalah ini ke jalur hukum." Ucap Jerry dengan tegas.


"Jangan," Jawab Bianca dengan cepat.


"Kenapa?" Tanya Leon dan Jerry berbarengan.


"Aku tidak mau masalah ini berlanjut."


"Tapi mereka sudah keterlaluan Bianca." Bujuk Jerry memperingatkan.


"Aku tahu, tapi aku tidak apa-apa, lebih baik selesaikan dengan damai." Tolak Bianca.


"Kau setuju atau tidak, aku akan tetap menuntut mereka." Tegas Leon kesal.


"Pleaseee... Ku mohon. Aku tidak mau Papa tahu dan masalah ini jadi terdengar keluar. Nanti akan berdampak pada nama baik keluarga Demaind dan hubungan bisnis dengan keluarga Wijaya." Ucap Bianca menjelaskan pemikirannya.


Leon dan Jerry menghela nafas kesal, apa yang Bianca ucapkan ada benarnya.


"Apa kau yakin tidak ingin menuntut?" Tanya Jerry lagi dan dijawab dengan anggukan kepala Bianca dengan yakin.


"Menurutmu, bagaimana Leon?" Tanya Jerry pada Leon sedang berpikir sambil memperhatikan Bianca.


"Baiklah, tutup masalah ini serapi mungkin, buat mereka menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut balik dan aku ingin bagian terbesar dari saham mereka." Ucap Leon dengan nada dingin, Jerry mengangguk mengerti.


"Satu lagi..., Papa ku pasti mencari Bianca dan menanyaimu, hal ini, aku mengandalkan mu. Dia tidak mungkin bertemu Papa dengan wajah begini." Lanjut Leon meringis melihat wajah Bianca yang tampak menjadi memar.


"Masalah ini serahkan padaku, sebagai bentuk tanggung jawab karena aku sudah lalai menjaga Bianca. Beruntungnya kau mengikuti mereka Leon. Aku sangat menyesal Bianca, maafkan aku." Ucap Jerry penuh penyesalan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Leon tidak datang ke kamar itu.


"Tidak Jerry, ini bukan salahmu, tapi salahku yang terlalu naif."


"Yahhh, memang benar! Lagipula untuk apa kau ikut ke kamarnya? Apa kau begitu senang berada bersama pria di dalam kamar hahh!! Kenapa menjaga diri sendiri saja tidak bisa, ckckck...," Bentak Leon melampiaskan kekesalannya.


"Leon... ," Tegur Jerry tak tega melihat Bianca akan menangis lagi.


"Apa kau tidak punya harga diri jadi dengan gampangnya menerima begitu saja perjodohan ini?!" Bentak Leon dengan kasar.


"Leon, ini bukan keinginan Bianca. Jangan memarahinya." Tegur Jerry tegas.


Bianca tak lagi menahan air matanya, ia menangis sekencang-kencangnya, ia sendiri merasa bodoh bisa terjebak oleh Darren karena dalam pikirannya pria yang dipilih Papanya itu berasal dari keluarga baik-baik.


Mendengar omelan Leon membuat Bianca semakin merasa tidak berguna ia hidup, kenapa ia bertemu dengan kesialan bertubi-tubi.


"Ahhhhhh.... auuuhhhahhhhh...," Tangis Bianca dengan nyaring.


Leon dan Jerry menggaruk kepala melihat Bianca yang tiba-tiba menangis meraung seperti anak kecil.


"Sudah ku bilang, jangan memarahinya lagi. Dia masih shock. Kau urusi dia ya, aku pergi dulu." Pamit Jerry dengan cepat berbalik dan melangkah pergi. Leon mendengus kesal melihat Jerry yang sengaja kabur.


"He'ii, sudah jangan menangis..."


"Auuuhhhhhh... aaahhhh... Aku mau pulang....Hikss... Hikss....," Teriak Bianca di sela tangisnya.


Leon melunak, sepertinya sikapnya tadi memang sudah terlalu kasar bagi Bianca yang baru saja menjadi korban pelecehan.


Leon mengusap kepala Bianca dengan lembut, mengusap air mata gadis itu, ia menyapu pipi Bianca yang meninggalkan bekas dengan hati-hati. Bianca meringis, tidak sakit, tapi masih menyisakan trauma untuknya.


"Kau sudah aman di sini. Aku obati lukamu dulu." Ucap Leon lalu beranjak mengambil es batu dan handuk halus.


"Sakit?" Tanya Leon lembut melihat Bianca meringis tiap kali ia menyentuh pipinya. Bianca menggeleng halus.


Leon memperhatikan Bianca, meski berantakan, gadis itu masih terlihat cantik dan menawan. Baju dan dandanannya begitu sesuai di tubuhnya. Sayang sekali, penampilan yang cantik itu malah hampir membuatnya mengalami hal yang buruk.


Bianca menahan tangan Leon yang mengompresnya.


"Tanganmu juga luka." Ucap Bianca pelan dan berbalik mengompres lembut tangan Leon yang kemerahan karena memukul Darren tadi.


"Terima kasih...," Desis Bianca pelan dengan wajah tertunduk.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku... Hiks..." Lanjut Bianca yang kembali meneteskan air mata. Leon berdecak kesal, kenapa gadis itu terus menangis.


"Sudah jangan menangis, matamu sudah sembab. Kau jelek kalau terus menangis... He'ii!" Tegur Leon sebal.


"Kenapa kau tidak mau menuntut Darren? Karena tidak mau Papa khawatir?" Tanya Leon penasaran.


"Enggg..., karena aku berhutang budi pada keluarga kalian. Dan, aku tidak ingin merepotkan kalian lagi, apalagi menambah masalah dan kesulitan yang merugikan kalian." Jawab Bianca dengan di sela isak tangisnya.


Leon tertegun mendengarnya, gadis ini terasa begitu polos dan tulus. Saat tersulitnya pun, dia tidak mau mengandalkan Papa yang pasti akan membantunya.


Seketika Leon merasa bersalah karena selama ini sepertinya ia sudah terlalu menggangap buruk tentang Bianca yang ia rasa sudah menerima 'kemudahan' karena diangkat Papanya.


Leon mencondongkan tubuhnya, tangan satunya menyentuh lembut leher Bianca, menahan tengkuknya agak tidak bergerak.


Bianca terdiam dan tidak berkutik saat Leon menempel lembut bibirnya. Ciuman itu terasa berbeda, tanpa paksaan dan terasa sangat tulus.


"Lebih baik kau mandi dulu, aku tidak suka ada aroma si gendut itu di tubuhmu." Ucap Leon saat melepaskan ciumannya.


Hidungnya yang sensitif terganggu dengan parfum Boss Hans yang menempel pada tubuh Bianca, membuatnya kembali teringat dan mengeram kesal.


"Adakah?? Ahh, pasti bau sekali.. ihhh.." Gerutu Bianca sambil mengendus-endus tubuhnya sendiri. Leon terkekeh melihatnya yang justru tampak lucu.


"Aku akan pulang dulu." Ucapnya tiba-tiba beranjak dari sofa.


"Pulang ke mana?" Tanya Leon kaget.


"Ke apartemenku lah, mau ke mana lagi." Jawab Bianca dan siap melangkah pergi. Leon dengan cepat menahan tangannya.


"No No No. Kau pulang dengan kondisi begini, Tidak!" Tolak Leon tegas.


"Malam ini, menginaplah dulu di sini." Lanjut Leon.


“Tapi..., aku tidak punya baju ganti.” Jawab Bianca tidak menolak, ia pun terlalu malas pulang. Malam itu, ia merasa Leon memberinya kenyamanan dan rasa aman.


“Kenapa mendadak jadi sungkan, kamu kan sudah terbiasa menggunakan bajuku.” Jawab Leon dengan nada menggoda membuat Bianca tersipu malu, ia langsung berlari menuju kamar mandi.


"Heii, apa mau ku bantu mandikan?" Teriak Leon menggoda Bianca yang kabur secepat kilat.


Kejadian malam itu, membuat Leon melihat Bianca seperti anak kecil yang baru saja terjatuh dan merengek cengeng, begitu menggemaskan di matanya. Jika tidak memikirkan Bianca yang masih trauma, Leon pasti tidak bisa menahan dirinya. 💖


.


.


.


.


.


To Be Continue~


Hai hai readers... 👐👐


Pertama-tama, Penulis mau ucapin terima kasih banyak untuk pembaca yang sudah mengikuti cerita ini dari Chapter 1 sampai sekarang. 🙏🙏


Terima kasih juga untuk support, like dan commentnya yang sangat mendukung.💖💖😘


Penulis juga mohon maaf, kalau masih banyak kekurangan dalam penulisan dan sedang penulis perbaiki juga. 🙏🙏 😊😊


Terakhir, Semoga ceritanya menghibur dan selamat membaca. 😘😘💋


Salam sehat selalu~ 🤗🤗