Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 75~



Melihat Bianca yang terus menahan mual membuat Jerry menyuruh Bianca untuk segera pulang beristirahat. Rasanya ia tidak tega melihat Bianca menanggung semuanya sendirian, ia ikut kesal pada Leon yang tidak bisa menjaga Bianca dengan baik. Apa yang salah dengan pria itu, ia jelas-jelas menyukai Bianca tapi kenapa sulit sekali menaklukkan hati Bianca, dan lagi kenapa Leon sama sekali tidak mengalah demi kebaikan mereka berdua sendiri.


"Dasar pria pemaksa!" Gerutu Jerry.


Bianca pulang ke apartement dengan taksi, ia hampir saja pingsan saat menaiki lift. Rasa pusing dan mual yang menjadi satu membuatnya kehilangan keseimbangan.


“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya seorang wanita berusia 30 tahunan di sebelahnya yang kaget saat melihat Bianca hampir terjatuh dan berpegangan pada gagang lift.


“Yahh, aku baik-baik saja.” Jawab Bianca tersenyum manis berusaha meyakinkan wanita itu yang terlihat sedikit cemas padanya.


"Baiklah, hati-hati." Pesan wanita itu ramah.


"Terima kasih."


Bianca menyalakan kompor dan menghangatkan sop yang tadi ia beli dalam perjalanan pulang, membuka bungkusan nasi putih dan menuangkannya ke piring.


Perutnya terasa kosong, ia belum bisa makan apapun sedari pagi meski ia sudah berusaha memaksa menelannya, pasti perutnya akan mengeluarkannya kembali.


"Jika hamil begitu menyiksa, kenapa para wanita sangat ingin hamil? Apa karena aku hamil diluar keinginanku?" Lirih Bianca meratapi keadaannya.


Bianca perlahan menyendokkan sesuap nasi yang sudah ia lauki dengan sop hangat. Rasa enak begitu terasa di mulutnya saat perut dan tubuhnya akhirnya bisa menerima makanan siang itu. Bibirnya tersenyum lega dan senang.


"Akhh, akhirnya aku bisa makan, aku lapar sekali..." Ucap Bianca bersyukur.


***


Leon menyalakan lampu apartementnya yang sudah gelap gulita karena hari yang sudah malam. Bianca mengernyitkan matanya yang tiba-tiba terasa silau. Samar-samar ia bisa merasakan kehadiran Leon yang mendekat dan menyentuh dahinya.


Leon memperhatikan wajah Bianca yang pucat dan tertidur pulas. Mengusap lembut pipi Bianca dengan jempolnya. Alangkah indahnya jika mereka tidak saling bertengkar dan salah paham.


Leon meletakkan jas kerjanya di sofa, membuka beberapa kancing kemeja dan menggulung lengan kemeja ke atas supaya lebih leluasa bergerak.


Dengan lembut dan penuh hati-hati Leon menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya. Memasukkan tangannya dengan perlahan ke bawah leher dan lutut Bianca, begitu berhati-hati mengangkatnya karena takut membangunkan Bianca yang masih pulas.


Leon memindahkan Bianca ke kamar tidur supaya istrinya bisa beristirahat dengan nyaman dan nyenyak.


Bianca yang setengah sadar tidak peduli dengan apa yang Leon lalukan, ia terlalu malas jika harus bangun dan berontak, apalagi tubuhnya baru saja merasa baikan, toh memang lebih nyaman tidur di tempat tidur.


CIPPP... CIPPP CIPPP...


Sepasang burung berkicau di teras, seakan ingin membangunkan orang yang tertidur pulas di kamar itu. Bianca merentangkan kedua tangannya ke atas, rasanya begitu nyenyak dan nyaman.


Bianca mengerjapkan matanya yang masih belum puas tidur, ia melihat Leon yang sudah berpakaian rapi sedang bercermin mengikatkan dasinya.


Tanpa sadar Bianca memperhatikan gerak gerik Leon yang menarik perhatiannya.


Pria tinggi itu memiliki bahu yang lebar dan kokoh, lekuk tubuhnya menggoda untuk disentuh. Hanya dengan melihat punggungnya pun sudah membuat para kaum hawa penasaran dengannya.


Bianca menatap pantulan diri Leon di cermin, kulitnya putih, alis tebal, hidung yang mancung dengan bentuk rahang yang tegas, pahatan wajahnya terlalu sempurna. Bianca yakin, siapapun yang melihat Leon pasti akan berdegup kencang tidak karuan seperti yang sedang ia rasakan saat ini.


Tiba-tiba Bianca membayangkan dirinya memeluk Leon dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung suaminya dengan hangat.


“Apa kau sudah puas memuja ku?” Tanya Leon yang sadar dirinya sedang diperhatikan.


“Eheeem…, aku hanya sedang menilai dan tidak habis pikir apa yang membuat wanita-wanita begitu menyukai dan mendambakanmu.” Jawab Bianca ketus.


“Ketampananku yang didukung oleh kepintaran, kekayaan dan kekuasaanku.” Jawab Leon dengan penuh percaya diri.


“Sayangnya aku tidak terpengaruh.”


“Aku yakin kau sudah tertarik, hanya tidak ingin mengakuinya.” Jawab Leon menikmati pembicaraan mereka yang terasa seperti saling menggoda satu sama lain.


“Aku rasa kepercayaan dirimu perlu dikurangi sedikit.” Sindir Bianca sebal.


“Oh yaa…, aku akan mengadakan konferensi pers menjelaskan mengenai hubungan ku dengan Madeline. Aku harap kau tidak lagi salah paham.”


“Tidak, aku tidak salah paham, kau bebas memilih siapa wanitamu.”


Leon melotot mendengar jawaban Bianca, padahal ia baru saja merasa komunikasi mereka mulai membaik dan sekarang dengan cepatnya langsung berubah.


“Bianca, apa kau pikir aku tidak setia?”


“Aku tidak tahu…, kau egois, sesuka hatimu. Jadi aku tidak akan heran jika suatu hari kau membawa pulang perempuan lain atau bahkan tiba-tiba menceraikan aku.”


“Aku tidak akan menceraikanmu!” Tekan Leon dengan tegas.


“Kau bisa melakukan apapun yang kau mau dan apapun yang kau suka.”


“Aku tidak suka kau mengatakan kata cerai ataupun berpisah.” Tegur Leon mulai menaikkan nadanya.


“Nanti juga kau sendiri yang akan meminta cerai. Tenang saja..., kapanpun kau mau bercerai, aku akan siap.”


“Apa kau begitu ingin bercerai denganku?” Tanya Leon mulai serius.


“Jika aku bilang iya, apa kau akan langsung mengabulkannya?” Tanya Bianca enteng, tidak peduli dengan ekpresi Leon yang terluka mendengarnya.


“Kau sedang meminta cerai denganku? Seriously???” Tanya Leon tidak percaya.


“Yes…, mari kita bercerai. Dari awal kau yang memaksa menikah dan menjebakku, aku sama sekali tidak bersedia.”


“TIDAK AKAN!” Jawab Leon lalu segera melangkah pergi dari kamar tidur.


Ia tidak yakin jika ia masih berlama-lama di sana apa yang akan terjadi selanjutnya, karena tubuhnya mulai panas, emosinya pun mulai meluap saat mendengar Bianca dengan gampangnya menyebutkan ingin bercerai.


***


Leon yang sedang mengikat dasi di lehernya mengulaskan senyum kecil di bibirnya. Ia berterima kasih pada cermin di hadapannya karena saat itu ia bisa melihat Bianca yang sedang diam-diam memperhatikannya.


Leon awalnya menikmati obrolan mereka pagi itu, terasa begitu menyenangkan dan akrab. Hingga saat Bianca menyebutkan kata bercerai, sungguh melukai harga diri Leon.


Leon akui, dia menggunakan cara yang salah untuk menikahi Bianca, tapi semua ia lakukan untuk mendekati dan mendapatkan wanita itu.


Setiba di ruangan kantornya, Leon berdecih kesal, seakan menertawakan dirinya sendiri yang sekarang begitu ingin memiliki Bianca.


Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia begitu ingin menaklukkan wanita itu, dan semakin hari ia justru semakin menyukainya hingga menjebak Bianca menikahinya.


"Mr. Leon, saya ingin menyampaikan mengenai konferensi pers." Sapa Calvin yang dengan sopan mengalihkan perhatiaannya.


"Yaa?"


"Hari Sabtu ini, kebetulan sekali keluarga Wilson mengadakan lelang jam tangan di Hotel Star X. Mereka bahkan sudah menyewa ballroom dan kamar untuk menginap dua hari. Menurut info yang saya dapat, kedua kakak adik Wilson akan hadir di sana."


"Hmm..., bagus..., kita akan berikan mereka kejutan di sana." Jawab Leon tersenyum licik.


.


.


.


.


.


To Be Continue~