
Tingg…
Pintu lift terbuka, Bianca melangkahkan kakinya keluar menuju ke ruang kerja Jerry, meletakkan tasnya di sofa dan duduk di sana. Selama Bianca di sana, ia memang duduk di sofa yang terletak di ruang kerja milik Jerry, karena ia hanya menumpang sesaat.
“Haiii Bianca…, ke mana saja kamu kemarin? Leon sibuk menelfonku dan menanyaimu.” Sapa Jerry yang senang melihat kehadiran Bianca.
“Hmm, kemarin aku hanya jalan-jalan sebentar di luar."
“Kau pasti kesal dengan Leon kan, di luar negri pun dia masih sibuk bekerja. Dia memang tidak asik, terlalu kaku dan keras, semua harus tepat waktu dan taat peraturan, tapi itu adalah salah satu kunci kesuksesannya sekarang, kau harus maklumi, dia adalah bossnya.”
"Yaa...," Jawab Bianca singkat lalu pergi ke pantry kantor untuk menyiapkan kopi pagi milik Jerry, wajahnya yang pucat bertekuk lesu. Perutnya sudah terasa tak enak selama perjalanan dari apartement ke kantor.
“Oh ya, apa kau sudah melihat berita tentang Madeline?” Tanya Jerry saat Bianca meletakkan secangkir kopi hitam ke mejanya.
“Ng, sudah…,” Jawab Bianca pelan sambil menahan rasa mualnya yang tiba-tiba bergejolak.
“Ya kan…, entah apa niat dan maksud kakak beradik itu. Bisa-bisanya keduanya mencari masalah dengan kalian. Untuk apa dia membuat dan menyebarkan gosip seperti itu?” Celoteh Jerry yang mendadak kesal saat membahas tentang Madeline.
“Unggg… Woekk…,” Suara Bianca menahan mualnya.
“Bianca, kau kenapa?” Teriak Jerry yang kaget tapi Bianca tak lagi bisa menjawabnya karena ia sudah segera berlari menuju toilet.
Jerry menunggu dengan cemas, ia tanpa sadar menggoyang-goyangkan kakinya menunggu Bianca yang tak kunjung kembali dari toilet. Matanya sesekali melirik ke luar ruangan, pikirannya pun tidak fokus memulai pekerjaan.
“Kau akhirnya kembalii…,” Ucap Jerry sedikit lega tapi juga cemas karena melihat wajah Bianca yang pucat sekembalinya dari toilet.
Bianca mengambil beberapa strips obat dari dalam tasnya dan segera meneguknya.
“Kau sakit?”
Bianca menggelengkan kepalanya pelan.
“Lalu? Jika bukan sakit, tidak mungkin kau hamilkan?” Ucap Jerry asal bertanya.
Bianca tersentak diam mendengarnya, kenapa Jerry langsung bisa menebaknya.
“Hei…, apa itu benar?" Tanya Jerry curiga melihat ekspresi Bianca yang terdiam bingung harus menjawab apa.
"Aku hanya memalsukan surat kehamilanmu, tapi ternyata kau benar-benar hamil???" Tanya Jerry tidak percaya.
Jerry kembali panik dan berjalan mondar mandir, ia tentu saja senang Bianca hamil, tapi ia juga cemas melihat hubungan Leon dan Bianca yang tidak akur, ditambah jika mereka mempunyai anak, dan kali ini sungguhan setelah sebelumnya sudah heboh dengan kebodohan mereka yang mengira Bianca sudah hamil.
"Apa Leon sudah tahu?" Tanya Jerry terdengar ketegasan dalam suaranya.
Bianca menggeleng pelan dan lemah menjawab pertanyaan Jerry.
"Kalian harus segera menikah, dia harus segera tahu." Ucap Jerry lalu mengambil handphonenya dari atas meja.
"Kami sudah menikah." Jawab Bianca cepat, menghentikan gerakan tangan Jerry yang terperangah kaget, apalagi ini???
"Whatttt? Kalian sudah menikah? Sejak kapan?" Tanya Jerry kaget dan sedikit kesal karena ia tidak mengetahui apapun mengenai keputusan besar yang diambil Leon itu.
"Baru beberapa minggu yang lalu. Kami hanya menikah di catatan sipil." Jawab Bianca lesu.
"Gilaaa! Gilaaaa! Pria itu menikahimu di sana dan tanpa perayaan apapun?" Protes Jerry tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Papa tahu?"
"Papa belum tahu..., hanya aku, Leon dan Calvin yang tahu tentang pernikahan itu."
"Ini tidak bisa dibenarkan. Ayo temui Leon sekarang." Ajak Jerry geram.
"Jangan....," Ucap Bianca menahan tangan Jerry.
"Aku belum siap...," Jawab Bianca lirih.
Jerry menatap lembut kedua mata Bianca yang sendu dan sembab, terlihat jelas wanita itu sudah menangis semalaman, kurang tidur, bahkan sekarang semakin lesu karena tampak pucat.
Jerry mengulurkan tangannya, menarik Bianca ke dalam pelukannya, memeluk dengan hangat dan prihatin.
"Kau pasti kaget menerima semua ini sendirian. Jika kau perlu bantuanku, katakan saja, yaa?" Hibur Jerry dengan bijak, Bianca mengganguk mengiyakan di dalam pelukan Jerry yang selama ini sudah melindunginya seperti kakaknya sendiri, tanpa sungkan Bianca meneteskan air matanya dan menangis di dalam pelukan Jerry.
***
Leon membantingkan dokumen ke mejanya dengan kasar. Calvin memejamkan mata sesaat serasa baru saja mendapat tamparan dari Leon melihat Bossnya kesal dan marah.
Leon jarang sekali marah besar dalam urusan pekerjaan, tapi ia tidak bisa mengendalikan emosinya saat itu berhubungan di luar masalah pekerjaan.
"Apa mau mereka heh? Membuat berita tidak karuan seperti ini. Membuang waktu kerjaku saja!" Omel Leon kesal.
Leon menatap kesal layar handphonenya yang menampilkan berita mengenai dirinya bermalam dengan Madeline di sebuah hotel di Singapore, tertulis judulnya dengan jelas:
LEON GD & MADELINE WILSON MENGHABISKAN MALAM BERSAMA DI HOTEL 🔥🔥
Tampak juga beberapa foto yang ditampilkan saat dirinya dan Madeline sedang bertemu di lobby hotel dan berbincang di depan pintu kamarnya.
Sudut pengambilan foto pun sepertinya sengaja, karena membuat kesan seakan mereka terlihat sangat akrab dalam foto-foto itu.
Yang membuat Leon geram adalah pernyataan Madeline yang menyatakan dan membenarkan hubungan mereka berdua, bahkan mengakui mereka menginap dalam satu kamar yang sama, membuat keadaan dan opini publik yang semakin runyam.
"Calvin, tolong block semua foto dan berita yang beredar di semua media. Maaf merepotkanmu, tapi aku hanya bisa mengandalkanmu." Perintah Leon terlihat jelas wajahnya sedang kesal dan merasa dirugikan.
"Baik." Jawab Calvin sigap dan langsung menghubungi tim IT dan humas kantor mereka.
Saat itu juga semua yang bertugas bergerak dengan cepat menanggani dan menggunakan segala cara untuk memblock penyebaran berita yang terus tersebar di luar.
"Kepada siapapun yang baru saja menyebarluaskan foto dan artikel mengenai Mr. Leon dan Madeline yang tersebar di berita, harap segera menghapus dan menghentikan isu yang tersebar. Jika masih ditemukan, penyebar akan dikenakan sanksi, dituntut dan dipecat. Terima kasih." Ucap Calvin dengan tegas membuat pengumuman penting melalui speaker kantornya.
Mendengar pengumuman itu, membuat para karyawan segera menghapus pesan yang sempat terkirim ataupun akan dikirim, tapi ancaman itu tidak menghentikan gosip yang tersebar lewat mulut ke mulut.
“Jadi, Mr. Leon benar ada hubungan dengan Madeline?”
“Sudah lama Bianca tidak masuk, apakah sungguh dipecat? Kasihan sekali, habis manis sepah dibuang.”
“Lagipula mana mungkin Mr. Leon naksir dengan Bianca?”
“Ciuman di lobby pasti hanya keisengan dan drama…”
“Wahh, aku rasa Bianca terlalu percaya diri mengira Mr. Leon menyukainya, apa dia yang menggoda Mr. Leon, mereka kan seruangan, pasti yang mulai duluan si ceweknya, kecentilan, Mr. Leon kan ganteng bangetttt, siapa sih yang gak mau sama dia??”
“Aneh juga, kenapa Mr. Leon menempatkannya di satu ruangan yang sama, dan pekerjaannya apa? Assisten? Tapi kenapa jarang melihat dia bekerja, hanya membuntuti Mr. Leon dan Calvin…”
Calvin yang sedang melintasi kantornya hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar desas desus dan obrolan para karyawan yang tersebar di sekelilingnya. Ia membayangkan, betapa kagetnya reaksi para karyawan jika tahu pihak yang jatuh cinta dan mengejar duluan adalah boss mereka, apalagi jika tahu Mr. Leon menggunakan trik untuk menikahi Bianca, mereka pasti tidak akan mempercayainya.
.
.
.
.
To Be Continue~