Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 57~



Subuh menjelang dan Bianca terbangun. Tiba-tiba dia teringat pergulatannya dengan Leon semalam, ia hanya bisa pasrah dan tidak kuat melawan saat Leon menyalurkan hasratnya.


Bianca bergegas bangun tanpa membuat banyak pergerakan, ia menggunakan pakaiannya dengan cepat, dan menyusup keluar. Leon yang memang sudah kelelahan karena perjalanan jauh tertidur pulas dan tak terusik sedikitpun.


Setiba di apartementnya, Bianca berdecih kesal pada dirinya sendiri. Hati dan pikirannya menolak, tapi tubuhnya justru bekerja sama mengikuti irama Leon semalam.


"Sial*n, bagaimana jika aku hamil?" Batin Bianca kesal. Ia kemudian mencari obat pencegah kehamilan yang sebelumnya pernah ia gunakan.


"Kenapa tidak ada?? Biasanya ada di laci." Omel Bianca kesal setelah cukup lama mencari dan tidak menemukan obat itu.


Bianca mengecek jam di dinding, sudah menjelang jam 4 pagi, ia pun menoleh ke arah balkon yang terdengar rintisan hujan.


Bianca menyampirkan gorden dan memperhatikan langit yang gelap disertai hujan yang baru turun dan semakin deras.


"Ahh..., bagaimana ini? Apa aku tunda pagi saja baru beli obatnya?" Tanya Bianca kesal dan berpikir sejenak.


Gadis itu lalu berjalan ke arah lemari bajunya, mengeluarkan koper dan tasnya, mengambil semua bajunya dan memasukkan dengan cepat ke dalam koper dan tasnya. Ia butuh ketenangan untuk sementara waktu.


~ ~ ~


Leon baru bangun saat handphonenya berbunyi. Panggilan dari Calvin tertera di layar handphonenya. Dengan mata mengantuk Leon menggapai handphonenya dan menjawab panggilan itu.


“Hallo, ada apa Calv?” Tanya Leon.


“Maaf mengganggu Mr. Leon, apa hari ini anda tidak ke kantor?” Tanya Calvin dengan sopan.


“Memang sudah pukul berapa sekarang?” Tanya Leon yang masih merasa lelah dan mengantuk.


“Ini sudah hampir pukul 1 siang. Jika anda masih lelah, saya akan ke apartemen anda, ada beberapa dokumen yang tertunda dan harus ditangani.” Jawab Calvin.


Leon seketika beranjak dari tidurnya, yang benar saja, sudah pukul 1 siang dan ia baru terbangun. Potongan kenikmatan semalam terlintas di pikirannya. Leon memperhatikan sekelilingnya, tidak ada tanda-tanda Bianca di sana, sepertinya gadis itu sudah pergi.


“Aku akan ke kantor sore, tinggalkan saja di mejaku.” Jawab Leon dan dengan cepat menuju kamar mandi.


Setelah berpakaian rapi, Leon bersiap untuk keluar dan ia teringat sesuatu. Ia melangkah dan membuka salah satu laci di rak ruang tamunya. Mengeluarkan kotak dan strips obat.


"Seharusnya dia tidak menggunakan cara yang sama kan?" Ucap Leon sambil menatap butiran obat putih di tangannya. Itu adalah obat pencegah kehamilan yang sebelumnya diambil Leon dari tempat Bianca tanpa sepengetahuan wanita itu.


Leon mengendarai mobilnya ke kantor, dan mengurusi segala urusan pekerjaannya yang tertunda. Setelah itu Leon bergegas menuju apartement Bianca.


Leon membukakan pintu kamar apartment dan keadaan kamar sangat gelap. Leon menyalakan saklar dan mengerutkan keningnya. Matanya melihat sekeliling ruangan. Barang-barang yang biasa ada di sana mendadak berubah dan tidak pada tempatnya.


"Kenapa kosong?" Tanya Leon lalu menuju rak baju Bianca dan membukanya dengan kasar. Rak baju itu juga kosong.


"Shiiiittt! Lari ke mana dia??" Umpat Leon panik dan segera menghubungi Jerry. Wajahnya menjadi tegang dan kesal.


"Aku butuh orangmu untuk mencari Bianca. Dia pergi dari apartemenya dan tidak tahu ada di mana sekarang." Perintah Leon dengan cepat saat Jerry menerima panggilan itu.


"Apa?? Baik, aku akan mengirim orangku. Kamu tunggu kabar dariku." Jawab Jerry dari sebrang sana.


Leon menggengam kencang handphonenya, serasa ingin meremukkannya.


Yang benar saja, gadis yang baru saja ia tiduri semalam kabur begitu saja.


Leon menghubungi Papa yang biasany tahu di mana keberadaan Bianca.


"Hallo Pa..., apa hari ini Bianca ada menghubungi Papa?" Tanya Leon berusaha tenang saat panggilannya sudah terhubung.


"Tidak, ada apa Leon? Apa sesuatu terjadi padanya?" Tanya Papa curiga di sebrang sana.


"Ahh tidak, Leon ke apartemen Bianca tapi dia tidak ada, mungkin pergi ke tempat temannya." Bohong Leon tidak ingin membuat Papa cemas.


Tiba-tiba Leon teringat, mungkin Bianca pergi ke tempat Lara. Ke mana lagi wanita itu bisa pergi, apalagi tanpa memberitahu Papa? Bianca tidak akan tega meninggalkan Papa dalam kekhawatiran, Leon yakin akan hal itu karena hubungan Papa dan Bianca sudah seperti ayah dan anak kandung.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Leon dan Alex sedang duduk di sebuah ruang tamu bernuansa putih.


Di luar sebuah mobil sedan baru saja terparkir dengan rapi, Lara turun dengan menenteng tas laptopnya.


"Alex, ada apa kau menelfon dan ke sini?" Tanya Lara melangkah dengan cepat memasuki rumah yang panik mendengar Alex dan Leon datang ke rumahnya.


Alex tertegun sesaat, memperhatikan penampilan Lara yang agak berantakan karena sibuk bekerja, rambutnya terurai bebas dengan kacamata tebal membingkai kedua mata cantiknya.


Lara yang bekerja sebagai arsitek interior itu terlihat menggunakan kemeja dan rok, membuatnya tampak elegan walaupun wajah dan matanya terlihat kelelahan.


"Maaf Lara, apa Bianca di tempatmu?" Tanya Leon tanpa basa basi.


"Tidak, aku sudah lama tidak bertemu dan contact dengannya. Ada apa dengannya?" Jawab Lara heran.


"Apa kamu yakin? Dia tidak menghubungimu hari ini?" Tanya Leon tapi terdengar seperti mencurigai.


"Dia tidak mencariku. Jika tidak percaya, kamu bisa cek handphoneku." Tantang Lara kesal dan mengeluarkan handphonenya.


"Tidak perlu Lara. Leon, kita cari tempat lain." Ajak Alex percaya dengan pernyataan Lara.


Leon memperhatikan sekelilingnya, seakan memeriksa sekali lagi, memastikan tidak ada jejak Bianca di sana.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Lara balik bertanya dan curiga.


"Bianca tidak ada di apartmentnya, barang-barangnya juga di bawa semua." Jawab Alex menjelaskan.


"Apa??? Dia hilang?" Teriak Lara kaget.


"Dia kabur." Koreksi Leon.


"Apa bedanya? Ini pasti karena ulahmu." Gertak Lara pada Leon, menyorot tajam pada pria yang menjulang tinggi di depannya itu.


"Tentu saja itu namanya kabur, karena itu keinginannya sendiri untuk pergi dan menghilang dari orang-orang." Jawab Leon emosi.


"Ckck... Apa penting kalian membahas hilang dan kabur sekarang??" Tegur Alex kesal.


"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa dia bisa pergi begini?" Tanya Lara penuh selidik pada Leon.


"Hal yang terjadi di antara kami, bukanlah urusanmu. Kau tidak perlu tahu." Jawab Leon ketus.


"Yang benar saja! Pantas saja Bianca pergi. Aku doakan dia pergi jauh darimu dan kau tidak pernah bertemu lagi dengannya." Jawab Lara kesal.


"Kau...," Geram Leon marah. Dia merasa datang ke rumah Lara adalah hal sia-sia, hanya menambah kesal dan masalah baginya.


Leon melangkah keluar dari rumah itu dan mengeluarkan rokoknya, mengambil sebatang, dengan cepat menyalakan api dan menghirupnya dalam-dalam.


"Aku minta maaf, Leon sedang marah karena Bianca menghilang dan tidak bisa dihubungi. Jika kamu punya info tentangnya, tolong segera kabari kami." Ucap Alex sopan dan tidak enak hati pada Lara.


"Aku tahu." Jawab Lara singkat dan mengerti.


.


.


.


.


.


To Be Continue~