Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 30~



Bianca pulang ke apartemennya untuk mengemas beberapa barang dan pakaiannya. Leon dengan sabar duduk menunggu walaupun sebelumnya sempat di buat kesal karena kejadian di rumah sakit.


Peter memarkirkan mobilnya dengan cepat dan segera berlari keluar menuju IGD.


"Pasien atas nama Bianca di mana sus?" Tanya Peter panik kepada suster yang sedang bertugas.


"Peter, kami di sini." Panggil Calvin dari salah satu bilik karena mendengar suara Peter yang menggema di ruangan itu.


"Bianca bagaimana keadaanmu?" Peter menghampiri dengan nafas terengah-engah dan meletakkan tangannya ke kedua sisi lengan Bianca, mengecek secara menyeluruh tubuh dan keadaan Bianca akibat kecelakaan itu.


"Aku baik-baik saja Peter, ini sedang menunggu untuk X-ray. Tapi secara keseluruhan, hasilnya tidak ada masalah." Jawab Bianca menenangkan Peter.


"Syukurlah, aku kaget sekali tadi, tapi masih harus mengurus sopir. Maaf aku baru tiba."


"Tenang saja Peter, ada saya yang membantu pengurusan di sini, semua terkendali." Sambung Calvin.


"Terima kasih Calv." Jawab Peter sopan.


"Jadi, bisakah sekarang kamu melepaskan tanganmu dari badannya?" Tegur Leon sinis sambil menatap tajam kepada Peter. Peter segera menurunkan tangannya dan menunduk merasa bersalah.


"Saya minta maaf Mr. Leon. Ini kesalahan dan kelalaian saya tidak menjaga Bianca dengan baik. Ke depannya tidak akan terjadi lagi. Saya akan menjaganya dengan lebih baik dan sebagai bentuk pertanggung jawaban, perusahaan kami akan menanggung biaya perawatan Bianca." Jawab Peter lugas yang berpikir Leon bersikap sinis pasti karena kelalaiannya tidak bisa menjaga assisten Mr. Leon saat di pabrik.


"Apa yang kamu maksud menjaganya lebih baik lagi? Tidak perlu! Saya tidak akan mengizinkan lagi Bianca turun ke lapangan manapun, jadi tidak perlu kamu repot menjaganya." Jawab Leon kesal.


“Maaf Mr. Leon.” Hanya itu yang bisa Peter ucapkan di depan Leon. Bianca baru saja akan menimpali tapi salah satu perawat mendekati mereka.


“Pasien atas nama Bianca Sallen, sudah bisa menuju ruang X-ray.”


“Baik Sus, terima kasih.” Jawab Bianca lalu siap beranjak dari tempat ranjangnya. Peter dengan sigap langsung memegang tangan Bianca untuk membantu wanita itu berdiri dan berjalan.


“Calvin, ambilkan kursi roda.” Perintah Leon dingin dan langsung dilaksanakan oleh Calvin.


“Tidak usah, aku masih bisa jalan.” Tolak Bianca.


“Duduk di kursi roda atau kau mau digendong?” Tanya Leon mengancam. Bianca memanyunkan bibirnya, dari tadi emosi Leon tidak baik dan sepertinya dia sedang marah. Ia pun terpaksa mengikuti perintah Leon untuk duduk di kursi roda dengan dibantu papah oleh Peter.


“Minggir!” Ucap Leon ketus pada Peter saat pria itu akan mendorong kursi roda Bianca. Peter yang mendapat sergahan itu tentu saja terkejut, diikuti dengan tatapan tanya dari Calvin dan Bianca yang mendesah kesal dengan tingkah Leon.


“Engg… Baik Mr. Leon.” Jawab Peter gagap.


“Kalian kembalilah ke kantor, aku bisa mengurusnya.” Ucap Leon sebelum mendorong Bianca menuju ruang X-ray kepada Calvin dan Peter.


~ ~ ~


Leon menyudahi pekerjaannya yang ia lakukan lewat handphone, ia mengalihkan pandangannya memperhatikan Bianca yang bergerak dengan lambat mengambil satu per satu barangnya, sudah hampir 1 jam tapi masih belum selesai juga,


“Apa yang akan kamu bawa? Kenapa lama sekali?” Omel Leon beranjak dari kursinya menghampiri Bianca yang memasukkan pakaiannya ke sebuah tas, kesabaran menunggunya sudah habis.


“Hmm, bagaimana jika aku tinggal di sini saja? Toh aku sudah tidak apa-apa. Begitu banyak yang harus aku bawa untuk seminggu, sepertinya ini akan merepotkan di tempatmu, yayayaya?” Bujuk Bianca dengan manis karena tahu suasana hati Leon sedang tidak baik.


“No No No!!! Sudah, cukup bawa dirimu dan barang penting lainnya. Untuk pakaianmu akan ku urus. Ayo kita jalan sekarang.” Ajak Leon yang terdengar memerintah.


Bianca terpaksa meninggalkan pakaiannya, karena Leon juga tidak mau membantu membawanya, sedangkan lukanya masih terlalu sakit untuk mengangkat tas berat. Syukurnya dari hasil X-Raynya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia hanya menderita luka ringan dan memar di beberapa bagian tubuh.


Setibanya di apartemen Leon, Bianca memperhatikan seisi ruangan. Terakhir kali ia datang dalam keadaan tidak sadar dan belum sempat melihat-lihat. Apartemen itu begitu luas dengan 3 kamar tidur, dapur dan ruang tamu.


“Hmm… jadi, aku boleh menggunakan kamar yang mana?” Tanya Bianca pelan.


“Kamar terakhir yang kamu tempati. Kamu tidak lupakan yang mana?” Tanya Leon menggoda dengan setengah berbisik di belakang kuping Bianca. Gadis itu bergidik geli dan menjauhkan kepalanya.


“Baiklah, jika tidak salah yang itu.”Jawab Bianca menunjuk kamar paling ujung sebelah kanannya yang memiliki balkon dan bergegas kabur ke kamar itu.


“Bukannya kakimu sakit? Kenapa jalannya cepat sekali?” Tanya Leon yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Ada apa kamu ke sini?” Tanya Bianca terperanjat kaget.


“Ini kamarku, tentu saja aku ke sini.” Jawab Leon dengan santai.


“Oke, aku pakai kamar sebelah.” Jawab Bianca cepat dan ingin melangkah keluar, tapi tangan Leon menahan tangannya.


“Kamar sebelah adalah ruang kerjaku.”


“Kalau begitu aku pakai kamar satu laginya.” Jawab Bianca berusaha kabur.


“Yang itu aku jadikan gudang.”


“Aku akan tidur di sofa.” Jawab Bianca dengan cepat. Leon menarik dan mendorong Bianca ke dinding di sebelahnya, menggurung gadis yang dari tadi ingin menghindarinya itu dengan kedua tangannya yang berotot dan berurat.


“Kita tidur bersama. Kau sedang terluka, jadi tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu.” Bianca membelalakkan matanya mendengar ucapan terus terang dari Leon.


Menyentuhmu, apa maksudnya?


Ada suatu perasaan kesal dan kecewa dalam hati Bianca, yang benar saja Leon ingin menjadikan dirinya sebagai salah satu wanita di tempat tidurnya.


“Aku akan mandi. Kau punya pakaian ganti?” Tanya Bianca mengalihkan pembicaraan dan berusaha tidak terpengaruh dengan ucapan Leon.


“Ada beberapa pakaian wanita di lemari, coba kau lihat sendiri apakah ada yang cocok. Untuk malam itu pakailah seadaanya dulu, besok akan ada orang yang mengantar pakaian baru.” Jawab Leon menurunkan tangannya.


Bianca mengecek lemari baju besar di kamar itu, pintu sebelah kanan berisikan pakaian Leon, pintu tengah pakaian yang digantung, ada kemeja dan jas pria, tapi ada juga beberapa gaun wanita dan sisi kiri ada beberapa pakaian tidur wanita. Tapi entah layak disebut pakaian tidur atau tidak, sepertinya lebih cocok disebut linger*e karena sangat minim bahan.


Bianca menahan kesal melihatnya, bagaimana bisa ia menggunakan pakaian tidur seperti itu, terlebih lagi sudah bekas wanita Leon yang sebelumnya. Bianca mengambil kemeja Leon yang berlengan panjang dan juga celana rumahannya dan berjalan menuju kamar mandi.


“Kau bisa mandi sendiri? Apa perlu ku bantu mandikan?” Tanya Leon yang sedari tadi memperhatikan Bianca membuka-buka lemarinya.


“Ya ampun Leon, aku tidak patah tulang. Terima kasih untuk niat baik mu yang bermodus.” Jawab Bianca kesal dan segera memasuki kamar mandi, Leon tersenyum mendengarnya, ia merasa senang bisa menggoda adik angkatnya itu.


Bianca keluar dari kamar mandi setelah hampir 30 menit berkutat membersihkan dirinya, karena luka dan memar ia tidak bisa leluasa mengusap tubuhnya.


“Kau sudah selesai? Bukannya lebih cepat jika aku yang membantumu?” Tanya Leon berjalan menghampiri sembari melepaskan kemejanya, memamerkan dadanya yang bidang dan bahunya yang berotot.


Bianca segera menundukkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Leon. Ini bukan pertama kalinya Bianca melihat Leon tanpa atasan, tapi tetap saja ia belum terbiasa.


“Lain kali kau duluan saja yang mandi, jadi kau tidak terus terusan mengomentari ku yang lama lama dan lama.” Jawab Bianca berjalan menghindari Leon yang berusaha mendekatinya.


“Kenapa dari tadi kau menghindariku?” Tanya Leon tersenyum menggoda Bianca yang terlihat selalu menjaga jarak dengannya. Bianca menggeleng kepalanya dengan pelan.


Leon menyentuh dagu Bianca, menarik wajah polos itu dan menatap mata Bianca yang indah. Sedetik kemudian ia mengecup lembut bibir mungil di depannya. Bianca yang terkejut refleks mendorong dan melepaskan kecupan Leon. Wajah Bianca merona memerah dengan ekspresi panik.


"Ahh, manis sekali. Jika bukan karena lukamu, kau pasti sudah aku......, ah, lebih baik aku cepat mandi." Ucap Leon mengusap bibir Bianca dengan jempolnya sebelum memasuki kamar mandi.


.


.


.


.


.


To Be Continue~