Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 53~



Mendengar penjelasan Leon, pikiran mengenai masa lalu Bianca pun berputar dan berlintas di pikirannya, membuatnya merindukan masa bersama Papa dan Mama, seandainya mereka masih hidup, pasti ia dan Leon tidak akan bertemu dan membenci dengan cara seperti ini.


"Tunggu dulu..., jadi selama ini alasanmu menghina, mempermainkanku, termasuk balas dendammu?" Gertak Bianca di tengah pembicaraaan yang berlangsung dari hati ke hati itu.


"Aku ingin balas dendam, melampiaskan kekesalan dan kebencianku padamu, tapi siapa yang tahu, dalam prosesnya ternyata aku masih belum bisa menghilangkan ketertarikanku padamu. Aku yang tadinya ingin mengerjaimu, malah tidak sanggup berkutik saat menghadapimu." Leon menatap Bianca lekat-lekat, seakan mencari jawaban dari diri Bianca.


"Apa yang kau punya untuk menghipnotisku?" Tanya Leon lagi.


"Hahh! Mana ku tahu, seleramu saja yang rendah karena suka denganku."


"Bahkan Alex dan pria-pria itu juga menyukaimu. Ckck... tidak tahukah kamu betapa mereka semakin membuatku frustasi untuk mendapatkanmu, apalagi kau terus menolakku?" Leon memijat keningnya mengenang kembali pertengkarannya dengan Alex, sahabat baiknya sendiri hanya karena memperebutkan Bianca.


"Bagiku, sangat mengelikan bertengkar dengan teman baik sendiri hanya demi memperebutkan satu wanita."


"Kau bertengkar dengan Alex?" Tanya Bianca terkesiap terkejut. Leon menggangukkan kepalanya.


"Ya ampun! Kenapa kalian harus bertingkah tidak masuk akal seperti itu? Kau harus minta maaf padanya, dia adalah orang baik."


"Lihat, kamu membelanya di depanku. Ahh, sungguh aku tidak punya nilai di matamu. Jika bukan karena kau hamil anakku, aku yakin aku bahkan tidak punya kesempatan memilikimu." Ucap Leon memasang wajah sedih.


"Katakan aku bukan hamil anakmu, apa kamu juga akan menikahiku?" Tanya Bianca dengan cepat.


"Entahlah..., jujur aku benci jika itu bukan anakku, tapi aku masih ingin memilikimu."


Bianca meraup wajah Leon dalam dua tangkupan tangan kecilnya.


"Terima kasih sudah jujur padaku dan terlebih lagi terima kasih sudah menemuiku. Aku mungkin belum bisa menerimamu sepenuhnya, tapi... aku akan mencoba." Ucap Bianca berlapang dada. Ia rasa ia sudah harus membuka hatinya terhadap pria di hadapannya itu karena Leon sudah banyak berubah.


Leon menarik Bianca ke dekapannya dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Bianca tidak menolak, tapi juga tidak membalas. Tapi bagi Leon, itu sudah lebih dari cukup, setidaknya wanita itu tidak lagi menghindarinya. Ia masih bisa bersabar untuk memenangkan hati Bianca.


"Jadi, kamu sudah bersedia menikah denganku?" Tanya Leon tersenyum.


"Untuk itu, aku mohon..., beri aku waktu." Jawab Bianca menatap memohon.


"Baiklah, aku akan menunggu tapi jangan terlalu lama." Jawab Leon sambil kembali mencium leher Bianca.


Pria itu terlihat lebih santai setelah bercerita, mungkin separuh bebannya sudah terkeluarkan.


"Besok kita pulang ke rumah." Ajak Bianca tegas.


"Kau yakin?" Tanya Leon tidak menghentikan aktifitasnya, tanpa peduli tubuh Bianca sudah menegang dan bergidik mendapat tiap sentuhan halus dari Leon.


"Hmm, aku yakin." Jawab Bianca menggangukkan kepalanya.


Malam dingin pun berganti menjadi pagi yang hangat disinari sang surya, sesuai perjanjian Bianca dan Leon semalam, hari ini mereka akan pulang ke rumah untuk menemui Papa dan Mama.


Leon mengaitkan satu tangannya ke tangan Bianca untuk memberikan kekuatan dan ketenangan, karena sedari tadi di sepanjang perjalanan gadis itu terlihat gugup dan tidak tenang, sesekali ia juga menghela nafas.


Bianca memperhatikan tangan Leon yang memegang erat tangannya, dibandingkan dengannya, tangan pria itu terlihat sangat besar dengan urat yang menonjol di beberapa sisi. Bianca mengelus tangan itu dengan pelan, tersenyum manis dengan sorot mata terharu.


“Ada apa?” Tanya Leon tanpa mengalihkan pandangannya karena masih menyetir dengan satu tangannya.


“Aku hanya merasa terharu, karena tidak menyangka aku bisa memegang tanganmu. Tangan seorang kakak yang dulu pernah ku mimpikan untuk bisa menjadi temanku, pemberi contoh dan juga pelindungku.” Jawab Bianca jujur sambil masih memainkan tangan Leon.


“Apa nanti aku juga boleh memegang wajahmu sepuasku?” Tanya Bianca sengaja menggoda Leon. Pria itu terkekeh, tersenyum dengan lebar dan menarik tangan Bianca ke wajahnya.


“Lakukan sepuasmu selagi aku bersedia.”


Bianca mengusap halus pipi Leon, jarinya bergerak menyentuh bentuk rahang Leon yang menonjol. Memperhatikan alis dan bentuk mata kakak angkat yang sekarang bersedia menikahinya. Wajah itu, sangat sempurna dan tampan, bagaimana mungkin ia bisa bersanding dengannya? Apakah ia pantas?


Bianca menarik tangannya, tak lama lagi mereka akan sampai.


Bianca dan Leon memasuki rumah utama dengan perasaaan campur aduk. Leon pun sama, tidak bisa menutupi kegugupannya.


Papa dan Mama sudah menunggu di ruang keluarga, wajah mereka terlihat serius. Tangan Leon yang mengait di tangan Bianca menjadi sorotan kedua orang tuanya. Mama membuang muka melihat kehadiran mereka, sedangkan Papa hanya diam seribu bahasa, tidak tertebak.


Bianca memperhatikan kedua orang tua angkatnya, bagaimanapun kedua wajah itu, adalah wajah yang membantunya hidup selama ini. Bagaimana mungkin ia bukannya datang membalas budi tapi justru menambah permasalahan.


“Pa.. Ma..,” Panggil Leon pelan. Hening… tidak ada jawaban dari keduanya. Mama menyilangkan tangannya di dada, terlihat jelas tidak menyukai kehadiran mereka.


“Jelaskan pada kami, apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu mencium adikmu sendiri di lobby kantor Leon?” Tanya Papa akhirnya buka suara, terdengar jelas nada kecewa di sana.


Bianca menggigit bibir bawahnya, ia merasa bersalah membuat Papa kecewa dan marah.


“Aku mencintai Bianca dan akan menikahinya.” Jawab Leon dengan lantang, membuat Papa dan Mama menatap mereka marah dan kaget.


“APA??? Kamu ingin menikahi anak ini?? Apa yang salah dengan dirimu Leon? Tidak cukup kamu membuat kamu kaget dengan berita kemarin, sekarang… ini.. APA??” Teriak Mama marah.


“Tenang dulu Bella, kita dengarkan mereka dulu.” Ucap Papa berusaha berpikir dengan dingin.


“Kalian…, sudah berapa lama berpacaran di belakang kami?” Tanya Papa menyelidiki.


“Kami tidak berpacaran.” Jawab Leon, kali ini semakin membuat Papa dan Mama bingung.


“Lantas? Bagaimana kalian ingin menikah? Kalian sedang mengerjai kami?”


Leon menggelengkan kepalanya, ia menelan ludahnya dengan kasar sebelum menjawab. Bianca menarik tangan Leon saat pria itu sudah siap membuka mulut, membuat pria itu menoleh sesaat melihatnya.


Bianca menggelengkan kepalanya, matanya seakan memberitahu jika ia tidak siap, tidak ingin memberi tahu kedua orang tua angkatnya bahwa ia hamil anak Leon. Ia tidak bisa membayangkan betapa dalam terlukanya hati dan perasaan orang tuanya.


“Ada apa? Apa yang kalian sembunyikan dari kami?” Tanya Papa mulai cemas dan tidak sabaran.


“Bianca… sedang mengandung. Dan itu anakku.”


.


.


.


.


.


To Be Continue~