
Siang itu berlalu dengan cepat, semua menikmati waktu santai mereka, saat menjelang sore tak lupa mereka menikmati dan mengabadikan matahari tenggelam yang sangat indah dengan warna orange kemerahan.
“Ahhh, keren sekali…,” Seru Jack yang terlihat paling semangat dengan liburan mereka.
“Kita makan dulu, setelah itu baru kembali ke penginapan. Aku sudah memesan makanan yang enak di restaurant hotel.” Ujar Kimora dengan semangat.
“Let’s goooooo….,” Teriak mereka berbarengan.
Perut yang sudah keroncongan sejak tadi akhirnya bisa mendapatkan asupannya saat mereka tiba di restaurant hotel. Sebuah meja bulat dengan sepuluh tempat duduk melingkar sudah tertata rapi, di atasnya sudah terdapat beberapa menu makanan khas laut.
Bianca duduk di antara Jerry dan Alex, sedangkan Leon entah sengaja atau kebetulan memilih tempat duduk di tepat di sebrangnya.
Wangi makanan laut yang menggiurkan, sudah membuat mereka tidak sabar mencicipinya, tapi berbeda dengan yang dirasakan Bianca. Sejak duduk di kursinya, ia merasa mual dan ingin muntah, bahkan wajahnya menjadi pucat pasi.
Leon yang memperhatikan dari seberang tahu ada yang tidak beres dengan wanita itu, mulutnya ingin bertanya tapi rasa kesal dan gengsi menahannya.
“Makanlah ini,” Alex mengambil beberapa udang ke piring Bianca. Sejak tiba di sana, sikap Alex secara terang-terangan menunjukkan ia peduli pada gadis itu.
“Terima kasih.” Jawab Bianca berusaha tersenyum.
“Leon, kau tidak makan?” Tanya Jerry yang melihat piring Leon masih kosong karena sibuk memperhatikan sejak tadi. Leon hanya memberikan tatapan malas pada Jerry.
“Hmm… hukk… hukk..,” Bianca tidak lagi bisa menahan mualnya saat mencoba menyuapkan nasi dan udang ke mulutnya. Wangi makanan laut itu justru membuatnya semakin ingin muntah.
“Kau sak…,” Ucap Leon baru akan bertanya.
“Ada apa? Kau sakit?” Tanya Alex lebih cepat.
Pertanyaan Leon menggantung karena sudah terpotong oleh Alex yang dengan cepat menyadari Bianca tidak baik-baik saja. Wajah Leon berubah menjadi kesal, tapi tersirat kekhawatiran di matanya.
Bianca menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menahan mualnya.
“Sepertinya aku masuk angin.” Jawab Bianca tidak ingin membuat yang lain khawatir.
“Salah sendiri menggunakan pakaian kurang bahan seperti itu? Lihat kan, akhirnya kau sakit dan merepotkan banyak orang.” Omel Leon dengan nada tinggi.
Semua terdiam mendengarnya, Bianca tidak kuat membalas, ia hanya berfokus untuk menahan mualnya.
“Leon, kau merusak suasana.” Jawab Kimora yang sejak tadi sudah kesal dengan sikap emosian Leon.
“Aku merusak suasana? Tidakkah kau lihat siapa sekarang yang sedang merusak mood makan malam kita?” Tanya Leon dengan kesal. Ia tidak suka melihat Alex dan Bianca yang memamerkan keakraban mereka.
Bianca tidak sanggup menjawab dan menahan mualnya, ia bangkit dan berjalan keluar ruangan untuk mencari toilet. Alex ikut berlari mengikutinya.
“Kalian makanlah dulu.” Ucap Jerry dan ikut bangkit dari kursinya.
“Jerry Choi, kau mau ke mana?” Tanya Max.
“Anak itu aku yang membawanya, jadi aku yang akan mengurusnya.” Jawab Jerry bertanggung jawab kemudian melangkah pergi.
“Leon, tidak bisa kah kau tidak cemburuan seperti ini? Jika kau peduli tunjukkan, jangan marah-marah tidak jelas.” Protes Kimora kesal pada Leon.
“Aku cemburu? Untuk apa? Heh..!” Elak Leon.
“Aku mantan pacarmu dan aku sangat mengenal sikapmu Leon.” Jawab Kimora menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir kenapa Leon sangat keras kepala.
“Terserah apa katamu, aku akan tidur di hotel malam ini.” Putus Leon dengan kesal. Mata Kimora terbelalak mendengarnya, pria ini seperti anak kecil yang merajuk.
“Terserah apa maumu tapi kau bayar sendiri!” Jawab Kimora yang tidak mau rugi karena sudah mengeluarkan uangnya untuk membayar liburan itu.
Suasana makan malam yang menyisakan empat orang di sana seketika menjadi hilang semangat dan tidak *****, Jack dan Max menjadi kaku dan tidak berani banyak berkutik.
Bianca dibawa kembali ke penginapan oleh Alex setelah memuntahkan isi perutnya di toilet restaurant. Wajahnya masih pucat dan lemas.
“Apa lagi yang sakit?” Tanya Alex saat membaringkan Bianca ke kasurnya. Bianca menggelengkan kepalanya.
“Hanya mual dan aku lapar.” Jawab Bianca lemah.
“Tunggu..., aku akan membungkuskan mu makanan dari restaurant.” Jawab Alex cepat.
“Aku juga membeli beberapa untuk kita.” Lanjut Jerry.
“Thanks Jerry.” Ucap Alex tersenyum tenang.
Jerry membukakan bungkusan yang berisi bubur dan memberikannya pada Bianca. Dengan tangan sedikit gemetar Bianca menyuapkan bubur itu, berusaha menelannya dengan masih menahan mualnya.
“Awas, aku mau muntah.” Ucap Bianca tiba-tiba pada Alex dan Jerry yang berdiri di depannya dan dengan cepat kabur ke kamar mandi untuk memuntahkan satu suap bubur yang belum sempat turun ke perutnya.
Alex akan masuk ke kamar mandi, tapi ditahan oleh Bianca.
“Tolong, jangan masuk…,” Mohonnya.
“Kenapa dia muntah terus?” Tanya Alex dengan cemas pada Jerry yang juga terlihat gusar dengan pemikirannya.
Bianca keluar dari kamar mandi setelah merasa agak tenang, ia bersandar di pintu dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
“Aku tidak tahu, sepertinya udang di bubur membuat ku muntah, sama dengan di restaurant tadi, mencium baunya saja aku mual.” Jawab Bianca lemah, keringat dingin keluar di sekujur tubuhnya.
“Apa kau alergi?” Tanya Jerry dengan cepat ingin memastikan.
“Biasanya tidak, aku bisa makan apapun.”
Mendengar jawaban Bianca, Alex segera menatap Jerry yang juga menatapnya, seakan mata dan pikiran mereka sedang membicarakan hal yang sama.
“Sepertinya kita harus kembali malam ini dan ke rumah sakit.” Ucap Jerry dengan tegas dan cepat pada Bianca.
“Aku akan bantu mengemas barangmu.” Lanjut Alex cepat.
“Tidak perlu, aku sudah mulai tenang.” Tolak Bianca tidak ingin merepotkan kedua pria itu, apalagi mereka sedang berlibur, ia tidak ingin menjadi perusak suasana.
“Kau harus ke rumah sakit Bianca.” Bujuk Alex terdengar frustasi.
“Tidak, sungguh aku tidak apa-apa.” Tolak Bianca lagi.
“Bianca…, maaf sebelumnya…,” Ucap Jerry yang terlihat serius, sorot matanya menunjukkan keprihatinan dan cemas.
“Kenapa, ada apa?” Tanya Bianca menjadi panik melihat ekspresi Jerry dan Alex yang sama-sama menatapnya dengan tatapan seperti ada sesuatu.
“Sepertinya kamu sedang hamil…,” Ucap Jerry dengan pelan tapi terdengar begitu tajam di telinga Bianca. Badannya terdiam kaku, kakinya melemas. Cobaan apa lagi ini???
“Tidak, tidak mungkin.” Jawab Bianca menertawakan ucapan Jerry.
“Kapan bulanan terakhirmu?” Tanya Jerry lagi.
Bianca terlihat berpikir dan menghitung dengan cemas, dia baru menyadarinya, ia belum mendapatkan bulanannya lagi sejak malam itu dan ia pikir karena ia meminum obatnya.
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak bisa menjawab pertanyaan Jerry. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia sendiri tidak yakin jika ia tidak sedang hamil.
“Tidak, aku tidak mau ke dokter.” Tolak Bianca, air matanya menetes, rasa panik dan takut menguasai dirinya.
“Tenanglah, kami akan membantumu, dan tidak akan memberitahu yang lain.” Ucap Alex berusaha menenangkan Bianca yang sudah terisak tangis, padahal ia sendiri sedang menahan kekecewaannya, tapi ia juga merasa kasihan pada gadis itu.
“Aku akan menyiapkan mobil dan memberitahu yang lain kita akan pulang malam ini. Alex, aku titip barangku juga.” Pesan Jerry dan melangkah pergi dari penginapan dengan cepat, wajahnya terlihat sama khawatirnya dengan Alex.
.
.
.
.
.
To Be Continue~
**