
Leon turun ke luar lobby hotel dan mengeluarkan rokoknya, menyulutkan api dan menghisap batang rokoknya dalam-dalam. Kepalanya terasa pusing, ia menghembuskan asap rokok dengan kencang, seakan hembusan itu seperti ikut menghembus keluar beban pikirannya saat ini.
Leon melihat sekelilingnya, matanya terpaku pada sosok pria yang tidak asing di matanya. Pria itu sedari tadi terlihat menunggu seseorang tiba dan tak lama sebuah mobil berhenti di depannya, dengan antusias dia menyambutnya.
"Ceweknya mayan cantik bro, putih mulus. Pasti loe suka." Samar-samar terdengar suara orang itu.
Pria yang disambut terlihat sudah memasuki umur 40 tahunan dan memiliki tubuh agak berisi, tersenyum terkekeh tidak tahan ingin melihat gadis yang dimaksud.
Leon terkesiap saat kedua orang itu baru saja melewatinya, Darren? Kenapa dia di sini, bukannya dia bersama Bianca?
Leon membuang rokoknya ke tong sampah dan mengikuti kedua laki-laki itu, mereka menuju lift umum, bukan lift menuju ballroom, berarti tujuannya bukan menghadiri pesta.
Oke, jiwa penasaran dan cemas Leon terasa menggebu-gebu, ia merasa ada yang tidak beres.
Darren dan pria itu masuk ke lift, menempelkan kartunya pada sensor lift dan menekan tombol lantai 12. Darren terkesiap saat menyadari Leon tiba-tiba ikut memasuki lift.
"Hai Mr. Leon, lift ke pesta di sebelah sana, apakah tidak salah naik?" Tegur Darren yang terlihat panik melihat Leon di sampingnya.
Leon mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menggoyangkannya di depan Darren, memamerkan kartu kamarnya yang juga berada di lantai 12.
Darren terkesiap, kebetulan macam apa ini? Pria itu terlihat berhati-hati dengan gerak gerik Leon.
Leon berjalan santai keluar lift saat berhenti di lantai 12, ia menuju kamarnya yang terletak di sisi sebelah kiri. Dengan hati-hati Leon mengintip Darren dan pria itu memasuki kamar nomor 1206.
Leon segera menguping di balik pintu, mencoba mendengar apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.
"Heii, trima kasih sudah membantuku menjaganya." Terdengar suara Darren.
"Hal kecil, dilihat-lihat gadis ini manis juga." Terdengar suara jawaban, dan suaranya seperti pria seumuran Darren.
"Kalo Boss Hans tidak mau, kita mau kok." Terdengar lagi suara yang berbeda.
Tunggu! Jadi ada berapa pria di dalam sana? Tiba-tiba kepala Leon serasa mau pecah memikirkan jika benar gadis itu adalah Bianca dan bersama dengan beberapa pria. Jantungnya berdegup kencang dan masih menajamkan telinganya.
"Tunggu, ini apa maksudmu Darren?" Tanya suara seorang perempuan dari dalam sana.
Suara itu, Ya! Dia kenal, dan itu suara Bianca!!!
"Maaf Nona, aku tahu keluarga kita ingin menjodohkan kita, tapi aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu."
"Jika tidak tertarik, kenapa membawaku ke sini?" Protes Bianca yang sedari awal memang tidak tenang dan sudah curiga.
Setelah pergi dari ballroom, Darren membawa Bianca ke salah satu kamar hotel dan memintanya menunggu di sana sembari ia menjemput temannya yang ternyata adalah Boss Hans. Bianca tidak menolak karena jika saat itu ia kembali ke ballroom dia akan bertemu lagi dengan Leon dan ia memilih menghindari pria emosian itu, tapi siapa menyangka ia keluar dari kandang singa dan masuk ke lubang buaya?
Saat tiba di dalam kamar itu, Bianca juga dikagetkan dengan adanya 2 orang pria di dalam kamar itu. Walaupun mereka tidak menyentuh dan mengusik Bianca, tapi sesekali tatapan mereka terlihat menikmati kulit polosnya yang terekspos, apalagi saat ia duduk belahan gaun terbelah memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
"Aku berhutang pada Boss Hans, dan berjanji padanya untuk melunasinya hari ini. Sebenarnya kau bukanlah targetku, tapi kebetulan kau datang di waktu yang tidak tepat. Jadi maafkan aku melibatkanmu." Ucap Darren tanpa rasa bersalah.
"Jika berhutang bayar saja, kenapa harus membawa wanita dalam masalah ini?" Protes Bianca kesal apalagi menyadari pria yang bernama Boss Hans itu sejak masuk sudah menatap tubuhnya dengan penuh *****.
"Justru itu, kau dari keluarga Demaind kan, tentu punya banyak uang, bantu aku membayarnya." Pinta Darren tidak tahu malu. Sikap sopan dan ramahnya saat di ballroom entah hilang ke mana.
"Aku tidak punya uang." Jawab Bianca mendengus kesal.
"Ayolahh... Hanya 500 juta. Tidak mungkin kau tidak punya. Apa aku harus memaksamu membayarnya dengan caraku?" Tanya Darren mengancam.
"Ini tidak ada hubungannya denganku, kenapa harus aku yang bertanggung jawab? Jangan konyol!" Bentak Bianca kesal.
"Heii Nona, turuti saja. Dia masih meminta dengan lembut, jangan sampai dia melakukan hal gila." Ucap salah satu teman Darren.
Bianca berusaha berpikir bagaimana menyelamatkan dirinya saat ini, dengan 4 pria di ruangan itu, jelas ia akan kalah.
"Jika dia tidak bisa membayar dengan uang, tidak apa. Aku menyukainya." Boss Hans yang sedari tadi senyam senyum melihat Bianca akhirnya buka suara.
"WOWW... Kalau begitu lebih mudah, kau temani Boss Hans hari ini, dan hutang itu bisa lunaskan?" Tanya Darren terdengar senang, ia seperti orang gila di mata Bianca.
"Tentu saja lunas asal wanita ini jadi milikku." Ucap Boss Hans dengan genit.
Shiiiittt!!!
Mendengar 500 juta saja membuat Bianca sakit kepala, dulu membayar Leon 50 juta saja dia sudah setengah mati dan harus mengorbankan tubuhnya. Ini, apa akan terulang lagi hal yang sama? Bianca meringis membayangkannya.
"Kau cari saja wanita lain, aku tidak sudi!" Teriak Bianca marah dan ingin melangkah pergi dan tentu saja dihalang dan ditarik oleh Darren.
"LEPASKAN!! Kau jangan macam-macam dengan keluarga Demaind!" Ancam Bianca terpaksa membawa nama kaya keluarga angkatnya walaupun ia tidak yakin berhasil.
"Kami tidak takut dan tidak peduli kau dari keluarga mana." Jawab Darren tertawa meremehkan.
"Arghhh...," Darren mendorong Bianca ke dalam pelukan Boss Hans dan tentu saja disambut dengan semangat oleh pria hidung belang itu.
"Lepaskan! Jangan pegang, jangan cium aku!!!" Teriak Bianca panik saat bibir berkumis Boss Hans menyosor di pipinya. Tubuhnya tidak bisa melawan karena dipeluk oleh pria berperut buncit itu. Sedangkan Darren dan kedua teman lainnya tertawa melihatnya seperti itu. Matanya berkaca-kaca, tidak sanggup menerima pelecehan itu lagi. Harga dirinya benar-benar tidak ada lagi.
DUAKKKK.... DUAKKKK DUAKKKK!!!
"BUKA!!!" Suara pukulan dan tendangan terdengar di depan pintu hotel.
"KALIAN CEPAT BUKA!" Terdengar suara pria yang sedang marah berteriak di luar sana.
"Siapa itu?" Tanya mereka bersamaan dan terlihat panik.
"Lepaskann!!" Teriak Bianca meronta berusaha melepaskan diri.
"Diam Kau!! Pyarrrr..." Darren menampar wajah Bianca dengan kuat, membuat gadis itu tersentak kaget dan melemas. Pipinya terasa berdenyut panas, kupingnya berdenging, dan kepalanya terasa makin sakit.
DUAKKK DUAKK DUAKK...
Salah satu teman Darren maju dan membuka pintu, mata mereka melotot kaget saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
LEON GERALD DEMAIND!
Raut wajahnya terlihat merah padam menahan marah, nafasnya menderu kesal, berdiri dengan kedua tangan siap menghajar siapa saja yang menghalanginya.
"Mr. Leon?" Desis Darren panik.
Leon melangkah masuk dan memperhatikan tubuh Bianca yang sedang dirangkul Boss Hans dengan wajah menunduk ke bawah. Pakaian yang Bianca kenakan juga merosot dari bahunya.
"LEPASKAN WANITA ITU!" Teriak Leon marah membuat semuanya terlonjak kaget.
"Mr. Leon, kami bisa jelaskan...," Nyali Darren menciut saat mendapat pelototan Leon.
"LEPASKAN SEKARANG JUGA!" Bentak Leon pada Boss Hans. Dengan rasa tidak ikhlas, Boss Hans melepaskan rangkulannya dan mendorong Bianca pada Leon.
Leon menangkap tubuh Bianca dengan cepat. Bianca meringis kesal, pipinya masih sakit dan ia didorong. Leon menyentuh dagunya dengan kencang tapi Bianca berusaha membuang mukanya, tidak ingin membiarkan Leon melihat wajahnya yang ia yakin berbentuk 5 jari berwarna merah.
"Siapa yang sudah membuatmu begini?" Tanya Leon dengan nada dingin. Bianca tidak sanggup menjawabnya, hanya air mata yang mengalir mewakili kesakitannya saat itu.
Leon tidak suka melihat gadis itu menangis, apalagi jika orang lain yang membuatnya menangis.
"Enggg.. Anuu.. Mr. Leon..., gadis ini...,"
BUKKKKK! Omongan Darren terhenti karena ia sudah tergeletak di lantai. Baru saja Leon sekuat tenaga melayangkan tinjunya. Kedua temannya tak bergeming, ketakutan melihat Leon yang terlihat garang tanpa ampun.
Leon menarik kemeja Darren yang sudah linglung.
"Itu pembalasan karena kau berani menjualnya." Ucap Leon masih dengan nada dinginnya.
Bukkk! Pukulan kedua yang sama kuatnya melayang lagi ke wajah Darren yang sudah tidak bisa melawan.
"Ini karena sudah menamparnya." Desis Leon tajam.
"Leon, hentikan, kau bisa membunuhnya." Panggil Bianca menghampirinya.
Kedua teman Darren dan Boss Hans hanya terdiam, jika mereka ikut melerai, pasti mereka juga akan dipukul, jadi mereka tidak berani berbuat banyak demi menyelamatkan diri masing-masing.
BUKKKK! Leon belum puas walaupun melihat Darren sudah hampir pingsan dan bibirnya berdarah dengan memar di wajahnya, ia masih melayangkan pukulan ketiganya.
"Leon... HENTIKAN!" Teriak Jerry yang baru datang, terlihat ia habis berlari dari nafasnya yang ngos-ngosan. Jerry langsung menarik Leon menjauh dari tubuh Darren, ia takut Leon benar-benar akan membunuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jerry marah, tapi Leon membalasnya dengan tatapan yang lebih marah.
"Lihat apa yang mereka lakukan padanya!" Teriak Leon kesal menunjuk Bianca yang terlihat lusuh dan kacau dengan mata memerah.
"Astaga Bianca, apa yang telah mereka lakukan padamu?" Tanya Jerry kaget setelah melihat pakaian Bianca yang agak berantakan dan wajahnya yang memar. Pantas saja Leon murka, Jerry yang melihatnya saja kesal.
Bianca berjalan menghampiri Boss Hans yang sudah berlipat tangan di bawah, menahan ketakutannya. Boss Hans meringkuk saat Bianca mendekatinya.
Pyarrrr!! Sebuah tamparan melayang mulus ke pipi Boss Hans yang terkesiap kaget.
"Kauu... Menamparku?" Tanya Boss Hans tidak terima.
"Iyahh! Untuk memperingati tangan dan mulutmu untuk tidak sembarangan menyentuh wanita!" Bentak Bianca membalas kekesalannya karena dilecehkan.
"Kau... Berani menamparku?" Bentak Boss Hans balik.
Leon baru akan melangkah siap memberi pelajaran pada Boss Hans tapi tertahan karena Jerry dengan cepat sudah memukulnya.
BUKKK!
"Kali ini biar aku yang membalasnya karena tidak menjaga Bianca dengan baik." Ucap Jerry sambil mengibaskan tangannya yang terasa sakit setelah memukul pipi gempal Boss Hans.
.
.
.
.
.
To Be Continue~