
Bianca menatap Kimora tanpa menjawab, ia bingung harus berkata dan bagaimana menjelaskan apa yang terjadi padanya dan Leon.
"Aku sudah mendengar semuanya. Kau tidak hamil dan sempat ribut bahkan berusaha kabur dari Leon." Lanjut Kimora lagi.
Bianca melirik pada Jerry, siapa lagi yang menceritakannya jika bukan pria itu.
"Ehemm...," Jerry menjadi salah tingkah karena ditatap oleh Bianca yang tampak sedikit kesal.
"Kimora..., ini dokumen yang kau perlu untuk mendiskusikannya dengan Leon, dan bukankah kau harus segera ke kantornya?" Tanya Jerry mengalihkan pembicaraan kedua perempuan di hadapannya itu.
***
Calvin tergesa-gesa memasuki ruangan bossnya bahkan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Raut wajah Calvin terlihat serius dan sedikit panik. Melihat gelagat Calvin yang tidak tenang membuat Leon langsung menyadari ada yang tidak beres.
"Ada apa?" Tanya Leon cepat.
"Tuan muda Darwin Wilson Junior datang dan sedang menuju ke sini." Jawab Calvin cepat membuat Leon sedikit terkejut.
"Sudah lewat berapa hari, ia masih juga datang...,"
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Calvin panik.
"Sambut dia seperti biasa." Jawab Leon menegakkan bahunya.
Tak lama, orang yang mereka nantikan tiba. Pria brewok itu tampak rapi dengan stelan kemeja hitam dan berjalan angkuh menuju ke ruangan Leon.
Leon berpura-pura santai dan bersikap biasa saat pria itu dipersilahkan masuk oleh Calvin.
“Hello Tuan Darwin Jr…, silahkan duduk.” Ucap Leon tampak cuek.
“Kantormu bagus, terlihat simple, elegan tapi mewah.” Puji Darwin masih dengan mata memperhatikan sekeliling ruangannya dan duduk di kursi yang terletak di sebrang Leon.
“Kau ke sini untuk mengunjungi ku atau ingin bekerja sama?” Tanya Leon tanpa berbasa basi.
“Kau sangat to the point Mr. Leon, tapi aku menyukainya… Mana assisten mu, Bianca Sallen?” Tanya Darwin membuat Leon sedikit tersentak mendengar nama lengkap Bianca disebut.
“Bianca sedang tidak di sini. Ada apa kau mencarinya?"
Darwin menatap serius pada Leon, tampak ia tidak suka saat mendengar Bianca tidak berada di sana.
"Kau pasti sudah tahu, aku datang untuk apa. Kau pikir aku tertarik dengan perusahaanmu?" Sindir Darwin ketus.
"Sayang sekali... Dia tidak ada di sini."
Darwin memperhatikan sekelilingnya dan pandangannya berhenti pada meja di sudut di mana ia yakin itu adalah tempat kerja Bianca.
"Dia hanya asisten biasa. Apa kau tidak salah mencarinya?" Ucap Leon mengalihkan perhatian Darwin.
"Aku tidak peduli, aku mau mencarinya itu terserah padaku." Jawab Darwin lalu berdiri dan merapikan jasnya.
Kreekkk...
"Leon..., ayo kita bicarakan....," Kimora masuk tanpa aba-aba dan terdiam saat melihat di dalam ruangan itu juga ada Calvin dan Darwin.
Leon dan Calvin membelalakan mata, tersentak kaget, bukan karena kehadiran Kimora yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, tapi karena wanita yang sedang mereka tidak harapkan berada di situ saat ini, justru hadir di belakang Kimora, Bianca.
Darwin tersenyum sumringah melihat Bianca yang menatap kaget dan bingung padanya.
"Kau muncul juga akhirnya..," Ucap Darwin tersenyum senang.
"Hah? Kau? Aku?" Tanya Kimora yang kebingungan menunjuk dirinya sendiri, mengira Darwin sedang berbicara padanya.
"Hmm..., siapa wanita cantik ini Mr. Leon?" Tanya Darwin dengan nada menggoda namun sopan.
"Perkenalkan..., ini Kimora, mantan kekasihku dan sekarang adalah rekan bisnisku." Jawab Leon yang menekankan kata mantan kekasih membuat Bianca mencemoh dalam hati.
Sedangkan Kimora yang menjadi bahan pembicaraan mengerutkan dahinya keheranan, apa perlu Leon menjelaskan ia adalah mantan kekasihnya pada sosok pria di hadapannya ini?
"Sudah ku duga, dia memang tipemu. Perkenalkan, saya Darwin Wilson." Darwin mengulurkan tangannya dan disambut ramah oleh Kimora.
"Darwin Wilson? Pemilik perusahaan jam? Ternyata kau masih sangat muda."
"Ahh..., mungkin yang anda maksud adalah ayahku, Darwin Wilson. Kami memiliki nama yang sama, hanya saja saya versi Juniornya."
Kimora tersenyum mendengar penjelasan Darwin yang terdengar aneh dan lucu.
"Untuk apa kalian kemari?" Tanya Leon menunjukkan sorot mata protes pada Kimora dan Bianca.
Kimora yang melihatnya tentu saja tidak paham maksud dari sorot mata Leon dan ekspresi panik pada wajah Calvin. Sedang memainkan skenario drama apa kedua pria tampan ini?
"Aku kemari ingin membicarakan urusan bisnis kita dan sekalian membahas mengenai posisi Bianca." Jawab Kimora polos.
"Posisi? Apa kau memecatnya? Aku akan dengan senang hati menerima Bianca jika dia mau bekerja denganku." Sambung Darwin dengan cepat.
"Aku sedang menugaskan Bianca untuk mewakili perusahaan kami di kantor milik Jerry. Dia tidak dipecat dan itu tidak akan pernah terjadi." Jawab Leon dengan cepat dan tegas.
"Sayang sekali, padahal aku sedang butuh orang untuk membantu bisnisku."
"Mungkin kau tertarik bekerja sama dengan Kimora? Dia sangat andal memanage bisnis."
Kimora mengernyitkan keningnya, nama ia terus disebut oleh Leon sedari tadi, seakan Leon sengaja mendorongnya pada pria ini.
Darwin tersenyum miring dan kecut mendengarnya.
"Saran yang menarik. Tapi Mr. Leon..., sedari tadi sepertinya kau mencoba mengalihkan ku pada Kimora. Apa kau pikir aku ke sini akan puas jika bisa mendapatkan mantan mu?"
"Aku tahu, gosip di luaran mengatakan aku suka merebut milik orang lain. Sayang sekali, kali ini aku ke sini untuk menemui orang yang kusukai."
Semua tersentak mendengarnya. Terlebih Leon, ia tidak percaya Darwin menolak kecantikan Kimora.
Darwin menghampiri Bianca dan menatap lembut wajah wanita di depannya.
"Temani aku makan malam." Ajak Darwin tidak ingin dibantah dan mengulurkan tangannya menyentuh tangan Bianca yang masih terdiam kaget dan bingung.
"Tuan Darwin, Bianca hanya asisten biasa. Tidak ada apa-apa nya dibandingkan mantanku kan?" Tanya Leon tersenyum meremehkan.
Bianca menundukkan kepalanya. Lagi, Leon sedang memuji dan membandingkannya dengan Kimora.
"Mungkin di matamu, dia gadis biasa. Tapi, di mataku dia berbeda." Jawab Darwin tanpa mengalihkan tatapannya dari Bianca.
"Tuan Darwin, anda sungguh berbeda. Saya hanya tidak percaya jika anda sungguh memilih seorang asisten biasa. Bagaimana jika terdengar di luar bahwa...,"
"Mari kita makan malam Tuan Darwin." Potong Bianca dengan lantang.
Leon memicingkan matanya, menatap tajam pada Bianca yang menatap kesal padanya, terlihat jelas ia sedang membuat pertahanan dan penolakan pada Leon.
"Mr. Leon, Kimora, Calvin, saya permisi dulu untuk menemani Tuan muda Darwin. Tidak sopan jika saya menolak ajakan ajakan yang tidak semua gadis biasa bisa dapatkan ini." Ucap Bianca tersenyum manis dan melangkah pergi dari ruangan Leon diikuti oleh Darwin yang tersenyum puas.
.
.
.
.
.
To Be Continue~