
"Bianca… sedang mengandung. Dan itu anakku.”
Bagai petir di siang bolong, jawaban Leon sangat menggagetkan Mama dan Papa. Jika mereka punya penyakit jantung, mungkin sekarang sudah kumat mendengarnya.
“APAAAAA…??” Teriak Mama dan Papa bersamaan.
“Kauuuuuuu….., berani sekali menggoda anakku!!” Mama berjalan menghampiri Bianca dan siap melayangkan tamparan ke wajah gadis itu.
Pyarrrrr…
Tamparan itu mendarat mulus dan menyakitkan, tapi di wajah Leon karena tadi dengan cepat ia menghalangi tamparan yang akan ditujukan ke Bianca.
“Leon! Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu melindunginya? Hahh!! Mama memintamu cepat menikah, tapi bukan dengan wanita jal*ng ini! Kenapa kalian ayah dan anak sama saja, ayahnya terpikat dengan ibunya, sekarang anaknya terpikat anaknya… Apa yang sudah kalian lakukan pada keluargaku Haahhhhhhh!!” Teriak Mama histeris.
“Ma, tenanglahh…”
“Selama ini Mama pikir kamu jarang pulang karena sibuk, ternyata sibuk dengan pelac*r ini… Kamu mengecewakan Mama Leon!” Ucap Mama dengan murka kemudian berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
“Maa… , Leon minta maaf…. Maaa…..,” Teriak Leon memohon, matanya menyorotkan kepedihan melihat Mamanya marah.
Bianca terisak tangis, lagi, ia membuat satu keluarga itu ribut dan bertengkar.
“Papa memang pernah berpikir ingin kalian akur, bahkan jika berjodoh Papa ingin kalian menikah, tapi bukan dengan cara seperti ini.” Ucap Papa dengan sorot mata kecewa.
“Bianca…, apa yang terjadi, kenapa selama ini tidak pernah mengatakannya pada Papa?”
“Paaa… Maaf…. Hiksss…, Maafin Bianca Pa… ,” Tangis Bianca tidak bisa menjawab lebih karena sudah menyakiti orang yang selama ini selalu bersikap baik padanya.
“Bianca sudah mengecewakan Papa…,” Lirih Bianca menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat tatapan kecewa Papanya.
“Ini salah Leon Pa. Leon yang salah dan akan bertanggung jawab.”
“Ini bukan sekedar bertanggung jawab Leon. Selama ini Papa sudah memperingatkanmu untuk tidak bergonta ganti pacar, sekarang bahkan adikmu sendiri kau…,” Papa tidak sanggup melanjuti perkataannya, rasa kecewanya terlalu besar.
“Aku melakukannya dengan sadar dan aku mencintai Bianca Pa.” Jawab Leon berusaha meyakinkan Papa.
“Cinta? Apa kamu pikir Papa bisa percaya? Selama ini, bagaimana kamu memperlakukan Bianca? Itu n**su bukan cinta Leon!”
“Anak itu, sudah berapa bulan?” Tanya Papa lagi.
“Kami belum memeriksanya, jika tidak salah sudah masuk minggu ke 6.” Jawab Leon dan ia baru teringat belum pernah memeriksa kehamilan Bianca.
“Bagaimanapun juga, kalian harus menikah sebelum anak itu lahir. Kapan kalian akan menikah?”
“Belum kami putuskan, Bianca masih memerlukan waktu untuk menerimaku.” Jawab Leon dengan jujur dan kembali membuat Papa kaget.
“Jadi…, Bianca masih belum bersedia?” Tanya Papa kaget.
“Bianca…, meminta sedikit waktu Pa, untuk siap menikah dan mengenal Leon lebih baik lagi.” Papa merasa kepalanya semakin sakit mendengar pernyataan kedua anaknya ini. Ia merasa ia telah gagal membesarkan Leon menjadi pria yang baik.
"Apa yang terjadi dengan kalian, Papa sudah lalai mengawasi kalian." Ucap Papa terdengar menyakitkan.
Bianca tidak tahan terus menyakiti dan menghancurkan keluarga itu, ia rasa sudah saatnya ia mengutarakan pilihan dan pendapatnya.
"Paaa..., Bianca sudah mempermalukan keluarga ini. Kalau Papa tidak keberatan, Bianca ingin melepaskan status Bianca sebagai anak angkat Papa. Bianca juga bersedia meninggalkan keluarga ini."
"APAAA?!!" Kali ini Leon juga dibuat kaget dengan pernyataan yang dilontarkan Bianca, apa maksudnya, dengan susah payah mereka jujur dan gadis ini ingin mundur?
"Apa maksud kamu Bianca?" Tanya Papa tidak suka.
"Bianca rasa, lebih baik Bianca tidak hadir di tengah keluarga ini. Bianca selalu membuat kalian bertengkar."
"Apa yang kamu katakan?" Tanya Leon ikut kesal.
"Bianca, bagaimana mungkin Papa melepaskanmu, apalagi saat kamu mengandung cucuku." Jawab Papa tidak setuju. Tangis Bianca pun pecah, membuat Papa dan Leon melunak.
"Hentikan omong kosongmu Bianca!" Bentak Leon kesal, kemudian menarik Bianca ke dalam pelukannya karena gadis itu sudah terisak menangis kecegukan.
"Sampai kapanpun, Papa tidak akan melepaskanmu Bianca. Meskipun kamu menikah dengan Leon, kamu tetap anak Papa." Ucap Papa dengan tegas dan menatap dengan penuh kasih sayang.
Setelah pembicaraan itu, Leon mengantarkan Bianca ke kamarnya, mereka masih berada di rumah utama.
"Kenapa tadi kamu berbicara seperti itu?" Tanya Leon masih kesal. Bianca diam tidak menjawab.
"Apa yang kamu pikirkan?" Gerutu Leon.
"Aku hanya tidak ingin membebani kalian. Aku bisa membesarkan anak ini sendiri... Hikss.."
"Lalu, kau pikir aku sebrengs*k itu dan tidak bisa bertanggung jawab padamu?" Tanya Leon kesal.
"Apa kau marah?" Tanya Bianca dengan pelan.
"Menurutmu? Tentu saja aku kesal, aku marah. Kenapa sejak awal kamu selalu tidak melibatkanku pada masalahmu." Gerutu Leon.
"Setiap masalah, pasti bisa diselesaikan. Kamu tidak bisa mundur begitu saja seperti ini." Lanjutnya menjelaskan.
"Tapi Papa... Tante Bella... mereka pasti sakit jika kita meneruskan pernikahan ini."
"Papa pasti akan setuju dalam waktu dekat. Mama, biarkan aku yang berbicara dengannya, mereka hanya butuh waktu." Bujuk Leon menenangkan Bianca, mengusap kedua lengan gadis itu yang sudah mulai terlihat tenang.
~ ~ ~
Semenjak hari itu, perlahan kehidupan Bianca mulai berubah. Leon sudah mengumumkan kepada karyawan kantor bahwa Bianca adalah kekasihnya. Sedangkan Mama, meskipun wajahnya tidak senang tapi menerima pernikahan mereka. Bianca sendiri bingung, bagaimana cara Leon membujuknya.
Hari demi hari Bianca lalui seperti biasa, dia masih belum memutuskan untuk siap menikah. Hanya saja demi nama baik bersama, Papa memindahtugaskan Bianca ke kantor yang lain. Membuat kedua anaknya semakin jarang bertemu, apalagi Leon masih sibuk dengan pekerjaannya dan akan keluar negri.
"Kita belum mengecek kandunganmu. Aku akan cari waktu minggu ini untuk menemanimu." Ajak Leon lewat telepon.
"Tidak perlu, aku bisa mengeceknya sendiri, aku tahu kamu sibuk. Lagian selama ini aku tidak ada keluhan apapun, aku juga belum siap bertemu dengan anak ini." Jawab Bianca menolak.
"Kabari aku segera saat kamu siap." Pinta Leon lembut.
"Baiklah, aku harus bekerja dulu. Di sini berbeda dengan tempatmu, pekerjaannya lebih banyak."
"Ahhh, seandainya kamu di sini, aku bisa menciummu sepuasku. Cepatlah menikah denganku." Rayu Leon tersenyum.
"Nononono..., aku belum siap Leon. Meski hamilpun, aku tidak ingin terburu-buru menikah." Jawab Bianca meminta pengertian Leon.
"Tidak ada yang siap Bianca, aku pun tidak, tapi itu demi status anak kita." Jawab Leon dengan bijak sebelum mengakhiri telfonnya.
"Well.... beginilah jika sedang dimabuk cintaaaa... ," Sindir Kimora yang sedang berada di kantor Leon bersama dengan Jerry. Mereka semua sudah mengetahui kabar kehamilan dan rencana pernikahan Leon.
"Siapa sangka, akhirnya kamu luluh dan menjadi budak cinta setelah cinta satu malam." Ejek Jerry menimpali.
"Aku hanya menjadi pria yang bertanggung jawab."
"Tanggung jawab yang didasari dengan cinta, tentu saja tidak terasa berat."
"Aku tidak menyangka kamu menggunakan cara busuk untuk mendapatkan Bianca. Pantas saja kamu terlihat cuek selama ini, karena kamu sudah menginvestkan sp*rm@ mu di rahimnnya." Celetuk Kimora terdengar kasar.
"Husshhh...! Itu panen yang tidak sengaja berbuah." Jawab Leon menanggapi dan terkekeh.
Di tengah tawa canda mereka, tiba-tiba Jerry mengangkat tangannya setelah membaca email di handphonenya.
"Heii, hentikan dulu obrolan kita, karena aku rasa kita harus bergegas. Mr. Zen memajukan jadwal meetingnya di Jepang karena dia akan pergi berlibur."
"Apa?" Tanya Kimora dan Leon bersamaan yang mendadak serius saat mendengarnya.
"Kapan jadwalnya? Aku masih harus ke beberapa negara dalam waktu dekat." Tanya Leon tampak gusar karena harus memajukan jadwal dinasnya.
Yang membuatnya khawatir bukan pekerjaan, melainkan ia harus meninggalkan Bianca sendirian.
"Mr. Zen meminta minggu ini...," Jawab Jerry prihatin dengan Leon.
"Ahh, gila... mendadak sekali!" Gerutu Leon kesal.
"Aku siap berangkat kapanpun, bagaimana dengan kalian?" Tanya Kimora.
"Aku juga siap, kau Leon?" Tanya Jerry ragu.
"Mana mungkin aku siap, tapi ini investasi besar, aku juga gila jika melepaskannya." Omel Leon kesal.
Leon biasanya tidak mempermasalahkan pergi keluar kapan pun, tapi sekarang statusnya sudah berubah. Ia sudah punya wanita, hati dan hubungan yang harus ia jaga.
.
.
.
.
.
To Be Continue~