Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 66~



Bianca menatap heran saat Leon menghampirinya dengan terburu-buru, pria itu tiba-tiba saja menyerangnya dengan cepat dan kuat, membuatnya tidak sempat memberi pertahanan.


"Apa kau menggodaku?" Tanya Leon berbisik di telinga Bianca, membuat tubuhnya meremang.


"Tidak..., " Jawab Bianca yang tidak mengerti. Jelas-jelas ia hanya meminta izin Leon untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, sama sekali tidak bermaksud menggoda pria yang belum genap satu hari menjadi suaminya itu.


"Kita mandi bersama...," Ucap Leon menarik Bianca masuk ke dalam kamar dengan cepat.


Di dalam kamar, Leon bergerak melepaskan pakaiannya terlebih dahulu, satu per satu ia lepaskan di hadapan Bianca.


Wajah Bianca mulai tersipu dan terasa panas saat Leon membuka satu per satu kancing kemejanya, sedikit demi sedikit menampilkan otot dadanya yang kencang.


Leon menatap gemas, baru kali ini Bianca tersipu malu saat bersamanya.


Mata Bianca tak berpaling pada tubuh Leon yang entah sejak kapan kini menarik perhatiannya. Ingin rasanya ia menyentuh otot-otot yang menonjol dan mencakarnya.


"Hmm, kau mandi dulu." Alih Bianca berusaha kembali ke alam sadarnya dan berniat pergi keluar kamar tapi tentu saja ditahan oleh Leon.


"Apa kebiasaanmu adalah kabur??"


"Aku tidak... mmm...," Oke, Leon melanjutkan serangannya lagi, tapi kali ini Bianca merasa lebih tenang, seperti dirinya sendiri menginginkan ciuman itu dan menginginkan lebih dan lebih.


Jari-jari Bianca mulai berani bergerak menyentuh dada bidang Leon, menyentuh lekukan roti sobeknya.


Leon tersenyum kecil di sela ciumannya, "Kau mulai nakal sekarang..." Goda Leon senang.


Bianca merasa tubuhnya memanas dan gerah di balik gaun panjang yang ia gunakan, jantungnya berdetak semakin cepat dan nafasnya memburu.


Leon membalikkan tubuh Bianca membelakanginya, menarik ke bawah dengan cepat resleting gaun indah itu. Dalam sekejap, Bianca hanya tersisa atasan dan bawahannya saja.


"Ahhh," Bianca terkesiap, spontan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Leon menarik Bianca ke dalam kamar mandi, membawanya ke bawah shower dan menyalakannya.


"Errrr... dingin.... " Bianca kembali terkesiap saat pancuran air yang dingin turun membasahi tubuhnya, dengan cepat Leon menggesernya ke mode air hangat.


Leon menatap Bianca yang kedinginan, istri kecilnya itu gemetaran, Leonpun mendekap tubuh Bianca, membiarkan air membasahi mereka berdua. Tubuh Leon yang lebih hangat dan besar membuat Bianca merasa lebih tenang, dan lagi suhu air yang perlahan-lahan mulai hangat, menambah kenyamanan bagi mereka berdua untuk melanjutkan ciuman dan hal tertunda tadi.


Bianca tidak melawan saat Leon membuka pengait br@nya. Wajahnya memerah karena malu, dan justru membuat Leon menyukainya.


"Kau cantik." Bisik Leon di sela ciumannya dan menikmati keindahan tubuh istrinya.


Malam bergulir, kedua pasangan suami istri itu masih belum rela untuk saling melepaskan, saling berpelukan di bawah selimut tanpa sehelai benangpun. Kulit mereka yang saling bersentuhan dan bergesek lembut seakan menjadi candu bagi keduanya dan tidak ingin melepaskan.


Bianca tersadar dari tidur nyenyaknya dengan sebuah tangan berat merangkul erat di pinggangnya. Kepalanya terasa berat dan sedikit sakit.


"Hemmm...., sudah bangun?" Tanya suara di sampingnya. Bianca menoleh dan menarik selimutnya.


"Apa yang kau tutupi? Aku sudah melihat semuanya." Goda Leon mengelus punggung Bianca dengan jarinya.


Tubuh Bianca menegang merasakan sensasi dari jari Leon.


"Maaf, semalam aku rasa aku diluar kendali."


"Aku menyukainya."


"Maksudku..., aku mabuk. Darwin terus memaksaku meminum wine."


Leon mengernyitkan keningnya tidak suka.


"Lalu kau ingin menjelaskan kalau semalam...,"


"Aku hanya terbawa suasana dan tidak sadar dengan apa yang ku lakukan." Ucap Bianca lalu beranjak dari kasurnya dan terburu-buru mengambil sehelai kain apa saja di sekitar situ.


Senyum Leon yang tadinya mengembang dengan bahagia seketika lenyap mendengar apa yang Bianca katakan. Istrinya berusaha menjelaskan bahwa apa yang semalam mereka berdua lakukan adalah kesalahan.


"Apa kau perlu memperjelasnya? Kita sudah menikah."


"Perlu." Jawab Bianca dengan cepat dan panik.


"Kau... tidak bersedia?" Tanya Leon tercengang kaget dan kecewa.


Bianca menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Mana mungkin ada yang bersedia menikah terpaksa?"


"Hentikan! Mulai minggu depan kau akan pindah ke kantor Jerry." Ucap Leon dengan cepat sambil memijat kepalanya yang terasa berat tiba-tiba.


"Heh? Maksudmu?"


Leon tidak menjawab pertanyaan Bianca, ia menggunakan celananya dan membuka laci di sebelahnya, mengambil sekotak rokok dan pematik api dari sana.


Leon berjalan cuek dan dingin ke balkon kamarnya mulai menyulutkan rokoknya dan menghisap dalam.


Fiuhhhh..., gumpalan asap tebal dan banyak dihembuskan keluar dari mulut dan hidung Leon.


Bianca menatap heran pada Leon yang seketika menjadi dingin dan terlihat frustasi.


Tunggu, lagipula apa yang Bianca harapkan dari hubungan ia dan Leon?


***


Seminggu sudah Bianca bekerja di kantor Jerry sebagai assistennya. Jerry merasa sungkan memperkerjakan Bianca sebagai karyawannya, sehingga tidak memberi Bianca terlalu banyak pekerjaan berat, hanya pekerjaan kecil dan ringan.


"Dokumen ini sudah aku fotokopi, apa ada yang saya bantu lainnya?" Tanya Bianca tanpa ragu.


"Tidak. Kau bisa beristirahat saja."


"Aku tidak mengerjakan apapun, selama seminggu ini kau sama sekali tidak memberiku pekerjaan."


"Santai saja, kau di sini untuk menghindari Darwin, bukan untuk benar-benar bekerja."


"Kebetulan kau mengungkitnya. Darwin sama sekali tidak mencariku di kantor."


"Itu kabar bagus. Lalu kapan kau boleh kembali ke kantor Leon?"


"Entahlah, aku belum berbicara dengannya baru-baru ini." Jawab Bianca yang kembali teringat terakhir kali ia bertemu dengan Leon setelah kejadian pagi itu adalah kemarin, saat Leon pulang dengan keadaan mabuk dan langsung tertidur di kamarnya.


"Heii...apa yang kalian bicarakan? Dan, sejak kapan kau di sini?" Sapa sebuah suara menyadarkan mereka, Kimora.


"Hei Kim, akhirnya kau kembali. Bagaimana Jepang? Sedang dingin heh?" Tanya Jerry santai menyambut Kimora yang langsung duduk di Salah satu kursi di ruangannya.


"Yeah, salju mulai turun di mana-mana, aku bahkan sudah dua kali menunda penerbanganku karena salju lebat. Ini..., aku baru pergi beberapa minggu, apa yang aku lewatkan?" Kimora melirik pada Bianca yang masih berada di ruangan Jerry.


"Panjang kisahnya, nanti ku ceritakan. Yang pasti, sementara dia mengamankan diri di kantorku."


"Apa Leon memecatmu? Mengusirmu?" Tanya Kimora penasaran.


"Aku akan sangat senang jika benar begitu." Jawab Bianca sambil memutar bola matanya.


"Jika ada waktu, kita berbicara lebih dalam. Bagaimanapun aku adalah mantan Leon, aku cukup mengenal dia orang seperti apa. Aku merasa kau memiliki kesalahpahaman padanya."


Bianca terdiam sesaat mendengar ucapan terus terang Kimora yang membuat dia terpusat pada kata mantan. Tebersit rasa cemburu, ia merasa dirinya dan Leon sangat jauh, sedangkan Kimora terasa sangat mengenal dan mengerti Leon.


Heii Bianca, sadarlah! Bukankah kau ingin segera bercerai dan pergi jauh dari pria itu!!!


.


.


.


.


.


To Be Continue~