
Jack berdecak heran mendapati Leon yang mendatangi Clubnya sebagai pengunjung pertama sore itu. Masih jam 5 sore, terlalu pagi untuk minum.
“Heii, ada apa denganmu?”
“Hanya merasa suntuk.” Jawab Leon melonggarkan ikatan tali dasinya.
“Apa kau bangkrut??? Jika iya kerja saja di sini. Aku bisa memanfaatkan visualmu untuk menarik pengunjung wanita.” Jawab Jack terkekeh bercanda.
“Bayaranku sangat mahal, kau tidak akan sanggup membayarnya.” Jawab Leon sombong.
Tuk tuk tuk…
Seorang wanita muda menggunakan heels tinggi menghampiri meja bar.
“Jackkkieeee…, 1 shott.. takk,” Wanita muda berkulit putih itu duduk di samping tak jauh dari kursi Leon.
“Apa kau sudah makan? Makanlah dulu, jangan minum terus.” Jawab Jack memberi nasihat pada wanita itu.
“Kau penjualnya, kenapa menghalangi orang membeli, huhh…,” Jawab wanita itu kemudian merajuk karena Jack hanya memberikannya segelas jus orange.
“Kau bercanda? Orang akan menertawaiku hanya minum ini? Hmm…, untung saja belum ramai.” Wanita itu akhirnya menegukkan jus orangenya setelah melihat sekelilinya yang masih sepi, dia terpaku saat melihat Leon yang duduk di sebelah sisi kirinya.
Wanita itu berjalan menghampiri Leon yang terlihat suntuk dan kesepian.
“Kenapa aku baru menyadari ada pria setampan ini di sini…,” Ucap wanita itu tanpa malu.
Leon yang merasa ia menjadi objek pembicaraanpun menoleh.
Leon memperhatikan wanita itu, wajahnya cantik, manis dan auranya menarik, usianya mungkin baru sekitar 25 tahun, sebuah senyum merekah di bibir Leon, tiba-tiba ia merasa bersemangat.
“Dia Chelsea, primadona baru di sini…,” Jelas Jack pada Leon yang sepertinya terpesona dengan keluguan wanita itu.
“Chelsea, nama yang cantik,” Jawab Leon memuji. Jack mendelik kaget mendengar Leon yang terasa berbeda.
Leon jarang memuji nama wanita kecuali dia benar-benar merasa tertarik, dan dari sorot mata Leon ia bisa merasakan temannya itu sedang menikmati pemandangan cantik nan seksi di hadapannya.
“Ruangan di atas masih kosong, mau pindah ke atas?” Ajak Leon tersenyum ramah, tentu saja disambut dengan sumringah oleh Chelsea yang tangannya sudah bergerak menyentuh bahu Leon.
“Tentu saja…,” Bisik Chelsea sengaja menghembuskan nafasnya di dekat telinga Leon.
“Gawatttt…!!” Ucap Jack menyesal seakan dia yang mempertemukan kedua pasang manusia itu, ia tidak menyangka Leon akan merespon Chelsea, sepertinya jiwa playboy Leon yang tadinya sudah dipadamkan oleh Bianca sekarang sudah hidup kembali.
***
"Apa yg dilakukan si brings*k itu? APA?? Tahan dia, jangan biarkan dia pergi dengan wanita itu. Aku akan segera ke sana." Jawab Jerry terburu-buru dan panik pada orang yang menghubunginya.
"Apa yang sudah kau katakan atau lakukan pada Leon?" Tanya Jerry pada Bianca setelah menutup telfonnya.
"Apa?" Tanya Bianca bingung.
"Apa kau membuatnya marah?"
"Ahh, sepertinya yang kau maksud itu...," Jawab Bianca ragu-ragu.
"Itu?"
"Tadi pagi, aku hanya asal berbicara meminta cerai dan dia tidak suka."
"Ckck..., kau... Saat keadaan hamil begini kau masih memikirkan itu, kali ini kau sedikit kelewatan Bianca." Tegur Jerry menyayangkan sikap Bianca.
“Lagipula dia yang memaksakan pernikahan itu terjadi.” Omel Bianca membela diri.
“Kau… sudah sekian lama tinggal di keluarga Demaind, apa masih tidak mengerti?” Jerry menggelengkan kepalanya halus, seperti sedang dengan sabarnya mengajari anak kecil belajar sesuatu.
“Apa?” Tanya Bianca tidak mengerti.
“Sejak dulu, bagi pria di keluarga Demaind, memutuskan bercerai adalah kegagalan terbesar. Dan itu yang sedang Leon terapkan pada pernikahan kalian.”
“Tidak, selama ia masih sanggup menahannya. Karena ini adalah masalah harga diri seorang pria keluarga Demaind.”
Bianca hanya terdiam mendengarnya, apa harapan bercerainya dan jauh dari Leon sungguh sudah pupus? Mana mungkin dia terus menjalani kehidupan seperti ini?
“Aku pergi dulu, kau pulanglah.”
“Apa terjadi sesuatu pada Leon??” Tanya Bianca keheranan melihat Jerry seperti terburu-buru harus pergi apalagi terdengar telah terjadi sesuatu dari pembicaraan telfon yang ia dengar.
“Tidak, dia hanya sedikit… mabuk.” Jawab Jerry berusaha menenangkan Bianca.
***
Sebuah taksi berhenti di depan Jacks club. Pintunya terbuka dan keluarlah seorang wanita yang masih dengan pakaian kantor rapinya melangkah masuk ke dalam club. Bianca mengikuti ke mana mobil Jerry melaju, ia penasaran apa yang sudah Leon lakukan dengan wanita yang dimaksud.
Bianca menjepit hidungnya, berusaha menutup pernafasannya supaya tidak menghirup udara rokok yang mengudara di dalam club karena ulah beberapa pengunjung yang dengan leluasanya menghembuskan asap rokok ke udara di ruangan tertutup itu, ia ingat itu tidak baik untuk janinnya.
Langkahnya terhenti di depan pintu ruang VIP di lantai 2, Jerry baru saja memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa dan raut wajah geram.
Bianca mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup dengan rapat, tampak di sana ada Jack yang duduk minum dengan wajah tak tenang menatap kehadiran Jerry yang kesal melihat keadaan Leon di sana.
Tidak banyak orang di dalam ruangan itu, hanya Leon, seorang wanita dan Jack yang duduk tak jauh dari mereka sambil mengawasi perilaku Leon.
Suaminya itu sedang merokok, sedangkan tangan satunya sibuk memegang pinggang seorang wanita yang asik duduk di pangkuannya. Wanita itu menggunakan dress ketat berwarna maroon, lekuk tubuhnya seksi dengan potongan dada rendah dan paha yang terlihat jelas menggoda untuk dijamah, tangan wanita itu tidak segan merangkul mesra pada tubuh Leon, sepertinya sudah sangat akrab dan begitu menikmati aktifitas mereka sebelumnya.
Bianca meringis kecewa melihat apa yang ia lihat. Hatinya terasa panas, sepertinya benar ide bercerai yang ia lontarkan tadi pagi adalah solusi yang terbaik untuk mereka.
"Heii Jerry, ayo gabung di sini." Ajak Leon saat melihat kehadiran Jerry.
"Maaf Nona, boleh pergi sebentar?" Tanya Jerry dengan sopan tanpa menggubris pertanyaan Leon.
"Kenapa kau mengusirnya? Dia milikku. Dan Namanya Chelsea. " Ucap Leon tidak suka dan malah semakin memeluk kencang pinggang Chelsea, wanita itu sengaja semakin merapatkan tubuhnya pada Leon.
Bianca berdecih melihatnya, ingin rasanya ia cakar wajah Leon sekarang.
"Leon, apa kau sadar apa yang kau lakukan sekarang?"
Leon menghirup rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya.
“Kau sudah bertindak di luar batas Leon! Apa yang sudah kau lakukan saat ini tidaklah pantas. Apa yang meracau di pikiranmu heh??” Tegur Jerry dengan tegas.
“Aku hanya sedang menikmati hidup…,” Jawab Leon seenaknya, Jack dan Jerry hanya menggelengkan kepala, semakin geram dengan tingkah Leon yang tanpa rasa bersalah.
“Bagaimana dengan Bianca? Apa rencanamu terhadapnya?”
“Kenapa kau membawa-bawa namanya? Aku ke sini untuk melupakannya, dan sekarang kau sudah merusak moodku!” Leon balas memprotes, tanpa menyadari ucapan yang ia katakan telah menyayat hati orang yang mendengarnya. Bianca mengepalkan tangannya, ingin ia berteriak marah dan menampar Leon habis-habisan.
“Apa kau tahu saat ini Bianca sedang meng...,"
"Biarkan saja dia Jerry...!!" Semua melihat ke sumber suara yang memotong ucapan Jerry.
Bianca tiba-tiba masuk dengan wajah tersenyum lebar dan mata menantang, menahan rasa sakit hatinya terasa terlalu sakit untuk ia tahan.
.
.
.
.
.
To Be Continue~