Stuck In Your Life Forever

Stuck In Your Life Forever
~Chapter 36~



Suasana di ruang kerja terasa makin dingin karena Leon dan Bianca saling diam dan tak banyak bicara kecuali membahas perihal pekerjaan. Leon masih kesal karena Bianca pulang dengan Alex hari itu, sedangkan Bianca, ia lebih memilih tidak berurusan lebih dengan Leon.


Sempat terlintas rasa penasaran di benak Bianca, karena sejak hari itu, Leon tidak pernah mencari atau mengusiknya lagi, mungkinkah Leon sudah cukup mempermainkannya?


Beberapa hari inipun saat makan siang, di mana biasanya Leon sering memaksa Bianca untuk makan bersama di kantor, sekarang ia justru lebih sering pergi keluar, meninggalkan Bianca tanpa sepatah katapun.


Hingga suatu hari, Leon baru datang ke kantor setelah jam makan siang, bersama Kimora dan Jerry. Mereka bertiga berjalan menuju ruang kerja Leon. Bianca terpesona saat melihat Leon masuk bersama Jerry dan seorang wanita cantik, rambutnya panjang lurus sepinggang, matanya indah dengan tampilan riasan natural pada wajahnya.


“Haii Bianca, kenalkan, ini Kimora. Kimora, ini Bianca.” Sapa Jerry ramah memperkenalkan keduanya. Bianca berdiri dan mengulurkan tangannya, wanita di depannya tersenyum anggun dan menyambut halus jabat tangannya.


“Kimora…, nice to meet you.” Ucap Kimora ramah.


“Bianca…,” Jawab Bianca canggung, seketika ia merasa minder dan membandingkan penampilan Kimora dan dirinya, tentu saja sangat berbeda jauh. Bentuk tubuh Kimora yang tinggi dan langsing, dipadu dengan setelan baju kerja yang rapi dan bermerk, menunjukkan dengan jelas jika ia memiliki kualitas.


Bianca memperhatikan Leon yang sedari tadi tidak peduli dengan dirinya dan hanya berfokus berbicara pada Kimora dan Jerry. Bianca bahkan merasa kehadirannya mungkin tidak terlihat di sana.


Tak lama saat mereka membicarakan pekerjaan, Jerry tiba-tiba pamit pada mereka karena ada urusan mendadak di kantornya, sehingga meninggalkan Leon, Kimora dan Bianca bertiga dalam ruangan itu.


Leon berdiri dan berjalan menghampiri Kimora, yang tadinya mereka duduk berhadapan, kini jadi saling bersebelahan. Leon sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Kimora, sambil masih membahas pekerjaan dan sesekali menunjuk bacaan yang terdapat di lembar dokumen di hadapan mereka.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya Leon terlihat senang berbicara dengan Kimora. Kimora tersenyum dengan manis, merasa tertarik dengan penawaran yang Leon berikan.


“Jerry bilang aku tidak akan rugi jika bekerja sama denganmu, sepertinya dia benar.” Jawab Kimora memuji.


“Jerry sangat jeli, sangat pintar memilih dan menilai bisnis, aku juga belajar banyak darinya.”


“Hmm, baiklah, tawaran mu ini aku akan bicarakan dengan orang ku di Jepang. Aku akan segera mengabarimu.”


“Tentu saja, take your time. Oh ya, bagaimana jika aku antar kau ke kembali, kebetulan Jerry juga sudah pergi.” Tawar Leon dengan lembut pada Kimora dan wanita itu tentu saja tidak menolak.


Bianca yang sedari tadi hening di balik layar komputernya hanya bisa menahan diri, ia merasa ada suatu rasa kesal dan tidak nyaman saat melihat Leon memperlakukan Kimora dengan sangat akrab. Membuatnya teringat dengan perlakuan Leon pada Rose, tapi kali ini terlihat lebih tulus dan penuh perasaan.


Sikap Kimora yang sopan dan elegan, sangat berbeda dengan Rose. Jika Rose terkesan manja dan seksi, Kimora justru terlihat lebih berkelas dengan penampilannya yang rapi, tutur bahasanya yang halus, sikapnya yang tegas dengan kecantikan yang menarik perhatian kau adam.


Melihat Leon dan Kimora berjalan meninggalkan ruangan bersamaan dan melenggang dengan anggun, membuat karyawan membisikkan dan mempertanyakan hubungan mereka, apalagi Leon terlihat senang dan akrab berbicara dengan Kimora, matanya selalu menatap wajah Kimora saat berbicara.


Isi chat di handphone Bianca seketika ramai karena forum gosip kantor yang bergerak dengan sangat cepat, orang-orang di kantor langsung memberikan julukan dan menyebut Leon dan Kimora sebagai “Pasangan Dewa Dewi”, karena kecantikan ketampanan mereka yang di atas rata-rata dan terlihat serasi.


Bianca memikirkannya sesaat, Kimora memang lebih cocok dan sepadan dengan Leon, mereka sama-sama pintar dan terlihat berambisi dalam hal pekerjaan. Semua orang yang melihat mereka, pasti akan berpikir yang sama.


Hari demi hari Bianca lewati dengan biasa, yang tidak biasa adalah sikap Leon yang berubah sangat dingin dan cuek padanya. Sesekali Kimora datang ke kantor untuk rapat dengan Leon dan melibatkan Calvin.


Sedangkan Bianca, hanya menjadi penghias di kantor itu. Pekerjaan Bianca yang tidak terlalu banyak, membuatnya banyak menggangur dan bosan. Leon bahkan tidak pernah menugaskannya apa-apa lagi.


Tiba-tiba Bianca merasa lesu dan sedih. Hati Bianca seharusnya merasa tenang dan lega karena Leon tidak pernah menggangunya lagi. Ia berpikir mungkin ini saatnya ia mengajukan pengunduran dirinya lagi, dan melihat dari hubungan Leon yang dekat dengan Kimora, bahkan tidak peduli padanya, seharusnya kali ini Leon akan melepaskannya.


"Leon, ayo cicipi, ini aku buat sendiri." Tawar Kimora yang hari itu datang ke kantor dan membawa makan siang.


Leon tersenyum sumringah dan menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


"Hmm... ini enak. Kamu memang luar biasa Kimora, serba bisa." Leon mengancungkan jempolnya pada Kimora.


"Oh ya? Baguslah jika kau suka." Ucap Kimora senang.


Selepas kepergian Bianca, raut wajah Leon yang tadinya tersenyum langsung berubah menjadi dingin dan jutek. Ia mendorong bekal makanan yang Kimora bawa.


"Kenapa?" Tanya Kimora heran.


"Rasanya keasinan. Kamu makanlah, aku juga sudah kenyang." Tolak Leon tiba-tiba membuat Kimora keheranan.


"Kau bilang tadi enak?" Protes Kimora.


"Iyah, mendadak asin." Jawab Leon asal.


Krekkk... Pintu ruangan terbuka lagi dan Bianca kembali.


"Tidak asin Leon, mulutmu saja yang keasinan." Gerutu Kimora tidak terima.


"Yaya, tidak asin Kimora..., baiklah nanti setelah ini aku habiskan ya....," Bujuk Leon mendadak lembut.


Bianca masuk ke ruangannya untuk mengambil dompetnya yang tertinggal dan pergi dengan cepat karena tidak ingin menggangu Leon dan Kimora yang sedang bermanja ria di dalam ruangan.


"Baiklah, aku tinggalkan di sini ya...," Ucap Kimora senang.


"Jangan, kamu bawa pulang saja." Perintah Leon tiba-tiba dingin lagi.


Kimora dibuat kesal karena perubahan sikap Leon yang labil, membuatnya teringat saat hari di mana Leon menawarkan untuk mengantarnya pulang dari kantor. Nyatanya, hari itu setiba di lobby, Leon memesan taksi untuk mengantarnya kembali.


"Aku antar sampai sini, aku masih ada kerjaan dan harus bertemu client." Ucap Leon waktu itu.


"Apa? Kamu tidak jadi mengantarku?" Tanya Kimora kaget dan sedikit kecewa.


"Tidak... aku sudah memesan taksi. Ahh, itu mobilnya, naiklah." Ucap Leon dengan cepat seperti mengusirnya.


Bianca menyusuri jalanan di sekitar kantornya, ada beberapa toko yang menjual makanan dan cemilan di sana. Bianca masuk dan membeli beberapa snack, hari itu ia sama sekali tidak semangat makan.


Pikirannya kembali mengenang sikap Leon yang lembut dan baik kepada Kimora, membuat Bianca merasa sedih dan ingin menangis. Perasaannya sungguh tidak bisa berbohong, saat melihat Leon dan Kimora bermesraan di depannya, ada rasa sakit dan kecewa dalam hatinya. Tiap kali Bianca menepis perasaan itu dengan berpura-pura untuk bersikap seakan tidak memperdulikan mereka.


Akhirnya Bianca memilih duduk di salah satu coffee shop dan memesan ice coffee rum latte, ia butuh yang manis-manis untuk menaikkan moodnya.


“Aku hanya kesal karena Leon berbahagia setelah mempermainkanku, itu saja! Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Batin Bianca memperingati dirinya sendiri sambil tersenyum.


.


.


.


.


.


To Be Continue~