
Chapter 54
setelah kepulangannya dari rumah sakit seminggu yang lalu keadaan Jesi sudah membaik hanya luka di dahinya masih tertempel plester begitu pun dengan hubungannya dengan Dave yang sudah mulai membaik dan Dave juga sekarang tinggal di rumah Jesi..
pagi-pagi sekali Jesi sudah dapat telepon dari rumah sakit mengabarkan kalo pasien yang dulu dia tangani sekarang lagi kritis dan rumah sakit yang sekarang menangani pasien Jesi yang dulu dokternya gak mau ngambil resiko..
Jesi pun segera mengemas pakaiannya ke dalam koper dan peralatan lainnya dia pun tak lupa tas kerjanya keadaan yang sangat urgen sampai-sampai Jesi lupa kalo Dave masih ada di rumahnya..
Jesi pun berjalan ke bawah sambil menggeret kopernya ternyata Raisa sudah bangun dan sedang duduk di ruang tamu sepertinya dia juga mendapat telepon yang urgen..
" loh Jes mau kemana bawa koper segala lagi " tanya Raisa heran
" eh Sa dah bangun aku ada kerjaan di luar kota pasien yang dulu aku tangani lagi kritis aku harus ngecek langsung " ucap Jesi
" loh emang disana gak ada dokter bedah sampai-sampai kamu harus terjun langsung " tanya Raisa
" ada cuma kan dulu aku yang operasi dia dan sekarang pasien itu sedang kritis gara-gara penyakit yang lain aku sih dah prekdiksi sih kalo ini akan terjadi karena waktu itu pas aku operasi pasien itu ada dua penyakit yang sedang dia derita tapi penyakit itu gak bisa di operasi bersamaan karena resikonya terlalu bahaya mangkanya aku harus yang turun tangan lagi karena dokter disana angkat tangan karena dari awal dia adalah pasienku " ucap Jesi panjang lebar
" oh gitu terus Daniel gimana " tanya Raisa
" aku titip kalian ya aku tadi dah liat dia tapi dia masih tidur aku gak tega banguninnya " ucap Jesi
" lalu bayi besarmu gimana " tanya Raisa
" maksud kamu Dave " ucap Jesi
" iya " ucap Raisa singkat
" biar aku yang kabarin nanti soalnya ini udah mepet banget waktunya soalnya aku dah pesen tiket " ucap Jesi
" naik apa kesana " tanya Raisa
" kereta " ucap Jesi
" emang kemana sih " tanya Raisa
" ke wuhan " ucap Jesi
" wuhan " ucap Raisa mengulang
" iya " ucap Jesi singkat
" tapi Jes disana lagi ada wabah " ucap Raisa
" iya aku tau mangkanya aku harus kesana selain aku harus bertanggung jawab untuk pasienku aku juga akan menjadi rewalan sementara disana " ucap Jesi
" berapa lama " ucap Raisa
" satu minggu mungkin aku gak bisa memprediksi soalnya akan ada pembatasan buat orang yang datang dari kota " ucap Jesi
Raisa hanya menghela nafas panjang begini banget nasib sahabatnya sekali nya dah bertemu dengan orang yang di cintainya sekarang malah harus berpisah lagi...
" ya udah ya aku harus pergi sekarang takut ketinggalan kereta aku titip Daniel dan bilangin maaf sama Jino dan Dave aku gak pamitan langsung " ucap Jesi
" ya udah hati-hati ya kalo sudah sampai kabarin Daniel pasti nangis kalo Mommy nya gak ada dan Dave pasti akan murka banget " ucap Raisa
" iya aku pamit ya bye " ucap Jesi sambil melambaikan tangannya dan di balas oleh Raisa dengan lamabaian..
saat dirinya sibuk memasak terdengar suara kaki melangkah dan Raisa menoleh ke arah belakang ternyata Jino..
" pagi Jin " ucap Raisa
" pagi juga tumben kamu yang masak kemana Ana " tanya Jino
" dia sudah berangkat kerja " ucap Raisa
" emang dia udah pulih benar " tanya Jino
" iya buktinya dia sudah berangkat keluar kota " ucap Raisa
" APA " teriak seseorang yang berarti bukan Jino yang berteriak melainkan Dave yang baru saja turun sambil menggendong Daniel..
" gak usah teriak-teriak ini bukan hutan " ucap Jino ketus
Dave tak mengindahkan ucapan Jino dia lebih kaget dengan apa yang dia dengar sedangkan Jino yang tak dapat respon dari Dave hanya mencebikan bibirnya sehingga Daniel yang melihat itu hanya tertawa lucu..
" kapan Jesica berangkat " tanya Dave datar
" tadi pagi-pagi sekali dia ada pasien yang sangat urgen jadi dia harus pergi pagi-pagi sekali " ucap Raisa
" kenapa dia gak bangunin dan kenapa dia gak pamitan juga " gumam Dave
" hello emang situ siapa sampai-sampai Ana harus pamit segala " ucap Jino datar
" aku.. " ucap Dave tak bisa melanjutkan ucapannya karena Raisa sudah menengahi perdebatan mereka..
" Jesi tadi buru-buru banget dan dia juga takut ketinggalan kereta dia cuma berpesan buat nitip Daniel dan maaf buat kalian berdua karena pergi tanpa pamit " ucap Raisa
" ya udah lah ya ini kan bukan pertama kalinya dia keluar kota emang Ana keluar kota mana " tanya Jino
" wuhan " ucap Raisa
" APA wuhan bukannya kota itu lagi dalam zona merah kenapa Ana nekad pergi kesana " ucap Jino cemas
" emang ada apa dengan wuhan bukannya kota itu sangat bagus dan menjadi salah satu tujuan turis buat berkunjung " ucap Dave
" gini nih kalo otak sudah di penuhi sama koleksi tubuh manusia mangkannya baca berita disana lagi ada wabah penyakit sebagian orang tidak boleh pergi ke kota itu kecuali ada tugas mendadak atau relawan " ucap Jino
" lalu Jesi apa dia dapat tugas dari rumah sakit untuk menjadi salah satu dokter disana " tanya Dave
" tidak tapi pasien yang dulu Jesi tangani lagi kritis dan butuh penanganan khusus karena Jesi dokter yang bertanggung jawab atas pasien itu dan soal isolasi itu dia cuma bilang akan sekalian jadi rewalan disana " ucap Raisa
" berapa lama " tanya Dave
" dia bilang seminggu itu juga mungkin lebih " ucap Raisa
Dave yang mendengar itu hanya menghela nafas kasar sedangkan Daniel sudah terbiasa akan Mommy nya yang selalu pergi keluar kota dan meninggalkannya bersama mami dan papi angkatnya tapi sekarang Daniel lebih bahagia karena Daddy nya juga ada bersamanya..
thanks jangan lupa like and komen jangan lupa juga tambahin ke favorite 😉😉
Happy reading guys 😉😉
maafkeun kalo lama 😁😁🙏🙏